
Sederhananya, ini bukan sebuah cerita yang sederhana.
Dan kisah ini tidak dimulai sejak hari ini.
Adalah ketika Hari Penghakiman, dimana Surga menurunkan bencana hebat yang memusnahkan hampir separuh umat manusia, kisah ini baru mencuat di antara belukar kekacauan. Seorang Gadis muda berdiri di tengah-tengah lautan mayat dan darah, dibelai oleh angin panas dari gunung berapi besar yang meletus, begitu jauh di hadapannya namun terasa amat dekat hingga bau belerang dan panasnya menyeruak ke seluruh indera di tubuhnya.
“Aku tidak takut.” Hatinya berseru ketika berhadapan dengan horor yang menyelimutinya. Berselimut kain kotor dan sobek sebagai perisainya, dia memeluk tubuhnya sendiri. Dia sendirian. Panasnya lahar gunung berapi tidak bisa mengalahkan hatinya yang berkobar dingin.
Surga sudah marah kepada manusia. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selama ribuan tahun manusia menempati bumi, mereka sudah merusak seluruh anugerah Surga habis-habisan. Tempat tinggal mereka dibangun di atas ketidakadilan, kesejahteraan mereka berdiri di atas fondasi terkorupsi yang bobrok, keharmonisan mereka terjalin di atas tipu muslihat. Diri mereka sendiri, yang dulunya adalah ciptaan yang paling mulia dengan segala anugerah kebaikan dan kebajikan, keindahan dan kehormatan, telah digerogoti kejahatan dan keacuhan, rasa egois dan barbaritas. Sebagian orang sadar mereka telah terjerumus, sebagian lagi tidak, sebagian lainnya memilih untuk pura-pura acuh meskipun mereka telah jatuh.
Tidak heran jika Surga marah dan memutuskan untuk menghukum para manusia. Siapapun tidak bisa menyalahkan Surga. Nyatanya, pantaslah jika Surga yang telah menganugerahkan manusia banyak rejeki dan kelimpahan ini menumpahkan amarahnya.
“Tapi aku tidak takut.” Hati gadis muda itu berseru lagi dengan suara yang jernih, namun terdengar bingung. Kebingungan ini semata-mata karena bisikan hati kecilnya yang tiba-tiba berseru “Kenapa aku tidak takut?” di antara cekung kesadarannya.
Gunung berapi di hadapannya kembali meletuskan lahar panas dan serpihan batuan, mengembalikan kesadarannya kepada realita yang berbahaya. Dia menyadari bahwa semua orang sudah mati, dan segera, seluruh daerah ini akan dikepung sungai lahar panas. Dia tidak bisa meminta pertolongan pada siapapun atau apapun, maka dia harus membuat keputusan.
“Aku tidak takut, tetapi jika aku terus berada di sini aku akan mati konyol,” begitu keputusan yang dibuatnya di dalam hati. Dia memutar tubuhnya, tidak menghabiskan lebih banyak waktu untuk meratapi duka yang menyelimuti sekelilingnya. Tidak, dia bahkan belum boleh berduka. Siapa yang tahu hukuman Surga sudah selesai atau belum? Jika belum, dia masih harus mencari keselamatannya. Hanya ketika rentetan bencana ini sudah selesailah dia boleh hanyut dalam emosinya.
Langkah pertamanya terhenti dan matanya menatap lurus ke depan. Keheranan mewarnai raut wajahnya. Pemandangan yang kontras terjadi di hadapannya.
Itu adalah seorang pria yang tinggi, jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri, dia yakin itu meskipun jarak mereka masih berjauhan. Si gadis memang tidak begitu tinggi, namun tingginya normal untuk ukuran perempuan, dan dia yakin pria itu sungguh sangat tinggi bahkan untuk ukuran laki-laki. Pria itu mengenakan baju merah terang, terlihat seperti mantel panjang (atau bahkan jubah mandi) yang menjuntai sampai batas lututnya. Dia tidak tahu apakah mantel itu tebal atau tipis, tetapi dia bisa melihat tubuh ramping dan jenjang pria itu menunjukkan garis otot dan bentuk tubuhnya dari balik mantel. Dia menduga mungkin bahan mantel itu bagus. Kancing emasnya berkilau seolah memantulkan cahaya dari lahar merah. Celana hitamnya tampak bersih dengan warna hitam yang sangat gelap dan cemerlang. Di lehernya, melingkar sebuah selendang emas tipis berkilau. Dia mengenakan penutup mata warna hitam di mata kirinya.
Dibalut dengan aura misteri, dia berjalan sambil membuka payung berwarna merah di tangan kirinya. Payungnya besar dan lebar, namun tidak melengkung, dan gaganya lurus agak panjang. Saat itu tidak hujan, jika pria itu berjalan di tengah kota metropolitan, semua orang mungkin akan mengiranya sedang mengikuti pameran peragaan busana, dan dia adalah modelnya. Rambut hitam panjangnya beristirahat di pundaknya yang datar dengan halus.
Pertanyaan-pertanyaan seperti: siapa dia? Mau apa dia di sini? Datang dari mana dia? Kenapa penampilannya seperti itu? Dan sebagainya melintas di kepala si gadis. Tetapi satu hal menyeruak di antara kebisingan di kepalanya, “dia tidak pantas berada di sini.”
Semakin dekat pria itu dengannya, semakin jelas dia bisa melihatnya. Kulit pria itu pucat, bibirnya juga agak pucat, membuatnya terlihat agak sakit. Tetapi melihat buku matanya yang panjang, alis yang tegas, dan hidung yang tinggi, rahang yang ramping, pria itu masuk kualifikasi di atas rata-rata. Dia lebih terlihat seperti model yang didandani dengan gaya serba pucat. Ketika pria itu berhenti di hadapannya, gadis itu mengamati bahwa mata hitamnya memiliki kilau keunguan.
Pria itu menyodorkan payungnya, sehingga kini mereka berdua berada di balik bayangan payung merah besar itu. “Mau ke mana?” pria itu membuka mulutnya. Suaranya berat dan halus. Ini adalah kalimat pertama yang mengalir di tempat ini sejak si gadis berdiri menatap gunung berapi.
“Oh,” si gadis bersuara. Suara pertamanya sejak dia tiba di sini. “Pergi dari sini,” katanya. Dia tidak mengusir si pria, melainkan menyatakan keinginannya untuk pergi. Tidak mendengar atau melihat respons dari si pria, dia melanjutkan, katanya, “Kau?” pertanyaan ini muncul lebih sederhana dari bayangannya. Si gadis membayangkan bahwa ia tengah meracau dan bertanya banyak hal tentang si pria. Kau siapa? Sedang apa kau di sini? Mau ke mana kau? Kenapa kau datang ke tempat ini dan bertemu denganku? Ada urusan denganku?
“Aku akan pergi ke manapun kamu pergi.”
Oh. Gadis ini membuka mulutnya sedikit, bingung. Alisnya juga terangkat sedikit. Tetapi beberapa detik kemudian dia menutup mulutnya, dan wajahnya kembali kosong emosi. “Apa kau sudah menemukan tempat aman? Aku kira kau berasal dari sana, melihat penampilanmu.”
“Jika kamu mau pergi ke sana, aku bisa mengantarmu,” jawab pria itu.
__ADS_1
Si gadis menggumam sebentar. “Aku hanya ingin mencari tempat di mana para dewa tidak akan melimpahkan amarah mereka. Satu tempat yang tidak akan pernah mereka hancurkan. Adakah tempat seperti itu di dunia fana ini? Terdengar kontras.”
Pria berbalut merah itu tersenyum. Senyumnya terlihat mencibir, mungkin ia tidak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut si gadis. “Para dewa,” dia memulai. Dengan satu kata saja, si gadis mengganti hipotesanya. Pria ini bukannya mencibir perkataannya, tetapi ia tengah mengolok para dewa. “Akan melimpahkan lautan amarah mereka kepada dunia dan manusia, tetapi mereka akan berusaha setengah mati untuk merebut hati manusianya kembali. Setelah melepaskan hukumannya pada manusia, mereka akan memberi kelonggaran sehingga manusia kembali menyembah mereka. Jika itu saja benar, maka perkataan kontrasmu tadi tidaklah mustahil.”
Si gadis tertegun. Dia bertanya sebelumnya hanya sebagai ungkapan retoris, ditambah sedikit keinginan untuk menjahili pria itu. Tetapi jawaban si pria membuatnya berpikir ulang. “Tempat seperti itu sungguh ada?” si gadis kembali bertanya.
“Ada…” pria itu berhenti. Kini ia menatap gunung berapi yang mulai memuntahkan lahar dan batu secara masif.
Si gadis, tidak bisa menebak apa yang sedang pria itu lakukan atau pikirkan, kembali bertanya, “Kau tahu di mana itu?”
“Aku tahu. Jika kamu ingin ke sana, izinkan aku ikut denganmu.” Dia mengembalikan pandangannya pada si gadis.
Si gadis mengerenyit. “Kau yang akan mengantarku ke sana, bukan? Aku yang harusnya meminta izinmu untuk mengantarku.”
Pria itu kembali tersenyum. Kali ini senyumannya bukan olokan, tetapi lebih lembut. “Apakah kamu keberatan untuk berjalan denganku?” tanyanya.
“Tidak. Ini akan menjadi perjalanan kita berdua,” jawab si gadis.
Mendengar ini, si pria tersenyum lebih lebar. “Ayo kita pergi. Aku akan memayungimu sepanjang jalan, jadi jangan jauh-jauh dariku.”
Keduanya mulai berjalan beriringan di bawah naungan payung merah itu, dan si gadis tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. “Untuk apa kau memayungiku?”
Si gadis mengangguk dalam kepalanya, mengerti bahwa sepuitis apapun perkataan pria itu di telinganya, dia hanya berusaha membuat pengandaian. Gambarannya mengenai dewa dan manusia bisa si gadis setujui. Jadi, bukan masalah besar jika pria itu nantinya meracau lebih banyak kalimat-kalimat puitis tentang dewa dan manusia. Dia terus melanjutkan perjalanan dalam diam, berdampingan dengan si pria misterius.
Mereka keluar dari dalam bagian hutan dan menemukan jalanan utama beraspal. Itu adalah jalan penghubung antara kota yang biasa ia tinggali dengan kota lainnya. Kedua kota itu memang dipisahkan oleh area perhutanan yang agak luas, dan sebuah gunung berdiri di tengah-tengah 3 kota yang mengelilinginya. Gunung itulah yang sedang meletus sekarang. Ngomong-ngomong soal gunung, si gadis menoleh ke belakangnya dan menyadari bahwa gunung itu masih meletus hebat, namun abu halus tidak lagi jatuh ke kepalanya. Dia mendongak dan berterima kasih dalam hati kepada payung lebar si pria yang menutupi mereka.
Namun bagaimanapun ia mencoba untuk berpikir positif, dia hanya bisa mendesah ketika kembali menatap ke jalan di hadapannya. Beberapa saat lalu sebelum gunung meletus, terjadi sebuah gempa yang agak besar. Rupanya gempa itu merusak jalanan dan membuatnya longsor di beberapa bagian. Apakah mereka bisa melewati jalan itu?
“Ikuti saja aku dan jangan jauh-jauh dari sebelahku.” Seolah menjawab pertanyaan di dalam hati kecil si gadis, pria itu berkata dengan lantang. Ia maju dengan langkah yakin menyusuri pepohonan di sekitar mereka. Jalur yang mereka lalui sangat dekat dengan jalan beraspal, tetapi pria itu masih melipir di sekitar hutan. Agak jauh dari langkah awal mereka, akhirnya mereka tiba di jalur beraspal yang masih dapat dilewati. Ada retak dan bolong di sana-sini, tetapi si gadis yakin bahwa mereka bisa melewati jalan itu. Benarlah, pria itu membawanya ke jalanan beraspal.
Tetapi, gadis ini masih dipenuhi rasa ganjil bahkan sejak matanya pertama kali menatap si pria misterius. Tidak, dia tidak takut, melainkan bingung. Jika ada satu hal yang selalu dikejar oleh si gadis, itu adalah rasa ingin tahu. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk mencari tahu sesuatu dan banyak hal. Seringnya, nantinya rasa ingin tahunya dapat membantunya ketika situasi sedang tidak menguntungkan untungnya.
Jadi, dia memutuskan untuk bicara. “Maafkan aku jika aku lancang, tapi aku tidak bisa menahan mulutku. Aku benar-benar ingin tahu, apakah kau manusia?”
Kebanyakan orang akan bingung mendengar pertanyaan seperti ini dan menganggapnya kelakar. Tetapi gadis ini tidak bercanda. Rasa hausnya akan jawaban membuat pikiran dan hatinya terasa gatal. Beruntung baginya, pria ini tidak tertawa mencemooh pertanyaannya, atau merasa tersinggung, setidaknya itu gambar yang didapatkan si gadis. Pria itu diam sejenak dengan wajah tanpa emosi dan tatapan lurus, kemudian setelah sampir setengah menit terdiam, dia menatap si gadis. Senyum menghiasi wajahnya.
“Bukan.”
__ADS_1
Si gadis terdiam, tanpa sadar menghentikan langkahnya dan si pria pun melakukan hal yang sama. Keduanya bertatapan dalam diam di bawah bayangan payung. Masih sambil terpaku di posisinya, si gadis kembali bertanya, “Lalu kenapa kau datang kepadaku? Untuk menolongku?”
“Aku datang untuk mengambil jiwamu.”
Mata si gadis membelalak, alisnya mengangkat dan matanya kemudian berkedip beberapa kali. Dia tidak percaya! Tapi bukannya dia tidak percaya kata-kata si pria, melainkan ia tidak percaya bahwa sesuatu benar-benar mendatanginya untuk membunuhnya.
“Kau datang untuk membunuhku?”
Kali ini pria itu tertawa kecil. “Mengambil jiwamu tidak sama dengan membunuhmu. Apakah kamu masih mau berjalan denganku? Aku janji akan menjelaskannya padamu jika kamu bersedia mendengarkan.”
Dia baru saja selamat dari pembantaian masal oleh gempa dan gunung berapi, dan kini dihadapkan dengan sesuatu yang bermaksud membunuhnya. Apakah ini tandanya bahwa dia harus mati dalam waktu dekat? Memang semua manusia akan mati pada akhirnya, namun mendapati peristiwa-peristiwa semacam ini dalam waktu yang berderetan, gadis itu mulai menduga bahwa ia mungkin akan mati dalam waktu dekat, atau bahkan seharusnya ia sudah mati dalam peristiwa mengenaskan sebelumnya dan kini kematian datang menghantuinya.
Ia tahu betul bahwa seluruh alam semesta ini bekerja dengan sangat baik, dan segala sesuatu ditakdirkan untuk terjadi dengan maksud tertentu. Menerima kematiannya adalah salah satu yang harus ia lakukan, semua manusia lakukan, dan dia harus rela melepaskan kehidupannya di alam fana. Dia membulatkan tekadnya sekali lagi dan mengambil nafas keberanian, lalu kembali berjalan di sisi pria itu. Pria itu mengikuti langkahnya, sambil dengan setia memayungi keduanya.
“Aku tidak akan membunuhmu, tetapi ketika kamu mati, aku akan mengambil jiwamu. Bukan aku yang akan menyebabkan kematianmu,” si pria berkata pelan-pelan supaya si gadis dapat mencerna perkataannya. “Pada Hari Penghakiman, banyak manusia akan mati dan pada akhirnya jiwa-jiwa mereka akan terambil. Aku akan mengambil jiwamu.”
Meski dengan kata-kata yang begitu jelas, gadis itu tidak bisa menyingkirkan pikiran bahwa pria inilah yang akan berurusan dengan kematiannya. Baginya, agak sulit untuk mengabaikan kemungkinan bahwa pria ini berhubungan dengan kematiannya. Bahkan dia kesulitan membedakan pengertian ‘membunuh’ dan ‘mengambil jiwa’ dari sudut pandang si pria, maka dari itu dia menyimpan keyakinannya dalam hatinya dan menguncinya.
“Berapa lama lagi? Apakah aku akan mati selama Hari Penghakiman?”
Pria itu menjawab, “Hari Penghakiman berlangsung selama sebelas hari. Pada rentang masa itu berbagai musibah dan kesialan akan turun di atas bumi dan melenyapkan banyak dari dunia fana. Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti, namun kita harus sama-sama menunggu hingga sepuluh hari ke depan.”
“Bukannya kematian adalah hal yang pasti? Jika aku ditakdirkan untuk mati hari ini, maka aku akan mati hari ini.”
Pria itu tersenyum lembut dan menggeleng pelan. “Itu benar, tetapi tidak sesederhana itu. Bahkan ketika para dewa sudah menyiapkan takdir untukmu, berkat rasa kasih dari para dewa yang lain, kalian manusia masih punya hak kebebasan atas hidup kalian masing-masing. Jika kalian berusaha membuat jalan kalian, berupaya dan berhasil menghindari kegelapan yang menggerogoti hati manusia, menyesali perbuatan jahat kalian, dan berusaha menjadi individu yang lebih baik, para dewa bisa memberi kasih sayang mereka pada manusianya, bahkan mengampuninya dari nasib buruk. Jika kamu sudah melakukannya, meskipun kamu ditakdirkan mati hari ini, kamu bisa hidup sampai besok, sepuluh tahun lagi atau lebih, tergantung kasih sayang pemberian para dewa.”
Jadi bahkan ketika para dewa sungguh-sungguh marah pada manusianya, mereka masih memiliki kasih sayang kepada manusianya. Tidak ada yang benar-benar hitam atau benar-benar putih. Semuanya adalah kesatuan yang kompleks dari berbagai macam sifat dan karakter. Ada yang berlagak putih tetapi hatinya kotor sehitam jelaga. Ada juga yang putih tetapi memilih jalan yang gelap. Tidak ada yang bisa dinilai sekelebat bulu mata.
Keduanya kembali terdiam sepanjang perjalanan, karena setelah si pria berbicara si gadis tidak lagi menjawabnya. Keduanya larut dalam keheningan sampai pada suatu titik, si pria kembali membuka mulutnya.
“Apakah kamu takut padaku? Setelah kamu tahu aku datang untuk mengambil jiwamu, hampir seperti menunggu dan membiarkanmu mati sendiri lalu merampokmu, apakah kamu masih mau berjalan denganku?”
“Aku tidak takut.” Muncul suara tegar gadis itu. Suara yang sedari tadi bergaung di hatinya kini mengalir dari mulutnya. “Kau akan mengantarku sampai ke tempat yang tidak terjamah amarah dewa. Jika aku mati di tengah jalan, maka aku berterima kasih kau sudah mau menemaniku dalam perjalanan ini. Malah, aku kasihan kau harus kembali sendiri untuk menemukan jiwa lainnya yang akan kau ambil. Tapi sebelum itu terjadi, aku menantikan kita sampai di tujuan, tempat yang tak terjamah amarah dewa. Jika itu benar ada, aku ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.” Dia berhenti sejenak, lalu menatap si pria tanpa berhenti berjalan. “Kau tetap akan mengantarku ke sana, kan?”
Sambil menatap wajah si gadis muda, pria itu tersenyum takjub. Senyumnya begitu menawan dan misterius, karena ia sejatinya adalah sang pria misterius yang memancarkan aura misterius. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan emosi dalam wajahnya ketika ia menatap si gadis dan tersenyum, selain ‘terpesona’.
“Iya. Aku akan mengantarmu melihat dengan mata kepalamu sendiri, tempat yang tidak terjamah amarah dewa.”
__ADS_1
Jawaban ini sangat cukup bagi si gadis untuk mendorongnya kembali berjalan tanpa banyak berkata-kata. Tampaknya, si gadis sangat menggugah pria serba merah itu, sehingga belum lama sejak keduanya kembali diam, si pria mengangkat lagi suaranya. "Siapa namamu?"
Kilatan yang unik muncul secara alami dari mata si gadis. Selama dia hidup, dia tidak pernah melihat bagaimana cara orang lain memandangnya, jadi dia tidak tahu bahwa matanya berkilat. Dia menatap si pria ketika dia menjawab, "Faith."