
Faith mencapai kota saat sinar matahari mulai meredup oranye. Dia berjalan melalui puing-puing bangunan dan jalan rusak yang berserakan dengan berbahaya. Di sana sini mencuat potongan besi dan serpihan kaca. Mobil-mobil yang remuk dan gosong bisa dia temukan di mana-mana. Bangunan-bangunan yang sudah tidak berkaca, runtuh di beberapa bagian, sampai betul-betul rata dengan tanah mewarnai kiri kanannya. Ini adalah pemandangan yang belum dia lihat di kota sebelumnya. Benar bahwa kota-kota yang sebelumnya ia lewati juga hancur, tetapi dengan padatnya bangunan dan jalanan di ibukota, pemandangan ini jauh lebih kacau.
Dia belum menemukan satu manusia pun sejak kakinya menyentuh ibukota. Ibukota ini tidak terasa seperti ibukota dengan kesunyiannya yang mencekam. Meskipun begitu, dia percaya bahwa dia akan menemukan kumpulan korban selamat di suatu tempat. Setelah beberapa lama berjalan, dia akhirnya mencium keberadaan manusia. Tidak, bukan mencium, tetapi mendengar.
Suara seorang wanita lemah terdengar minta tolong dari sekitarnya. Awalnya ia ragu dari mana suara itu berasal, tetapi setelah ia menghentikan langkahnya untuk menghilangkan gangguan suara lainnya, dia yakin suara itu berasal dari belakangnya. Dia berpegangan pada tali tasnya dengan erat. Suara itu terdengar mendekat, dan dia yakin suara itu benar-benar nyata. Tetapi, setelah terpaku beberapa saat mendengarkan suara itu, gadis itu tiba-tiba mempercepat langkahnya menjauh dari sana. Ketika pada suatu titik suara itu tidak juga menghilang, dia berlari. Dia masuk ke salah satu bangunan yang runtuh sebagian di perempatan jalan. Dia naik memanjat reruntuhan ke lantai dua bangunan. Beruntungnya lantai dua bangunan itu tidak sepenuhnya rusak. Ada bagian segitiga kecil yang bisa ia tempati. Dia masuk ke dalam dan berdiri jauh dari jendela tak berkaca, untuk sementara masih memunggungi jendela. Dia mengatur nafasnya cepat-cepat, lalu menoleh dengan cepat ke jendela.
Suara itu menghilang begitu saja. Dengan berani dia maju satu langkah ke arah jendela, tetapi kemudian dia menghentikan langkahnya. Tidak, dia bukannya mengurungkan niatnya karena takut bahaya akan datang. Dia sedang berusaha menepati janjinya. Jadi, dia memutuskan untuk duduk dan meletakkan tasnya menjauh dari jendela. Dia akan beristirahat di situ.
Setelah menggelar selimutnya dan memakan sedikit perbekalannya, dia mengeluarkan peralatan yang dia bawa dari hasil perjalanan sebelumnya dan mulai menyibukkan diri. Dia membalut sepatunya dengan lakban, mengganti kaus lengan panjangnya dengan turtleneck warna gelap, membalut tangannya dengan kain kasa, lalu menyembunyikan rambut panjangnya di dalam kupluk hijau lumut. Selama ini dia tidak pernah mempersiapkan dirinya seperti ini karena ia selalu bersama Tuan Arwah dan payungnya. Kini ketika ia sudah sendiri, dia harus melindungi dirinya lebih baik.
Gadis itu bersandar ke tembok sambil menatap langit yang mulai mengelabu di luar. Dia lalu sadar bahwa selama ini, langit tidak pernah menampilkan bintang. Sudah sejak lama sekali dia tidak melihat bintang. Dia merasakan dinginnya malam mulai merebak ke tulangnya, dan ia segera mengenakan jaket beserta selimutnya. Tak lama, kegelapan yang ganjil mulai mewarnai bumi. Satu-satunya cahaya yang bisa dia lihat adalah cahaya bulan, meskipun dia tidak tahu di mana bulan saat itu.
Di luar, si gadis mendengar suara anjing melolong dengan suara yang terdengar kesakitan. Dia menatap ke luar jendela tanpa bergerak sedikitpun. Bagaimanapun, suara itu terdengar ganjil, dia tidak ingin melihatnya meskipun sebagian dari dirinya penasaran. Jadi dia memilih untuk bergulung di dalam selimut, memunggungi jendela. Malam itu, entah berapa lama dia memejamkan mata hingga dia benar-benar tidur.
Ketika bangun keesokan harinya, hari itu adalah hari ke delapan dalam rentetan 11 hari Hari Penghakiman. Faith melanjutkan perjalanan ke kota di daerah pesisir sesuai dengan instruksi si pria. Artinya, dia harus mengarah ke daerah pinggir ibukota yang berbatasan langsung dengan kota pesisir. Kemungkinan besar dia tidak akan melewati pusat ibukota, tetapi melipir mengitarinya. Dia membawa peta dari perjalanan sebelumnya dan dia akan melakukan perjalanan mengikuti peta. Dia sudah membacanya tadi malam dan mengingatnya, jadi dia tidak lagi membaca peta itu.
Setelah melompat turun ke jalanan, dia berjalan di tengah-tengah jalanan yang sepi selama beberapa lama. Tidak peduli apapun yang dia lakukan hari itu, dia harus berhati-hati. Setelah lewat tengah hari, dia mencapai daerah yang gedung pencakar langitnya lebih banyak dari pada daerah tempatnya bermalam sebelumnya. Dia sedang berjalan dengan langkah cepat sambil memperhatikan kekacauan di sekitarnya saat tiba-tiba sosok seorang remaja laki-laki dengan rambut cepak muncul beberapa puluh meter di hadapannya.
Gadis itu berhenti, begitupun si remaja yang tampak sedang menuju ke suatu tempat. Keduanya saling tatap dari kejauhan, tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
“Apakah kamu manusia?” pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Faith mengejutkan dirinya sendiri. Apakah karena ia terlalu lama bersama si pria bukan manusia sehingga dia mulai ragu jika semua orang yang ditemuinya bukanlah manusia?
“Apa kau manusia?” si remaja balas bertanya.
“Iya, aku manusia,” jawab si gadis.
Remaja itu mengangguk. “Bagus. Ke mana kau akan pergi?”
Faith meragu sejenak. “Aku menuju ke pusat kota. Aku dengar ada bantuan di sana.”
Remaja itu tampak mengeluh. “Aw, kau jangan berharap. Dua hari yang lalu pusat ibukota hancur. Satu-satunya tempat bertahan yang ada saat ini adalah sekitarmu. Tidak ada lagi yang akan membantumu.”
“Oh…” Faith mendesah. “Apakah kau tahu di mana orang-orang yang selamat?”
“Ya, aku menuju ke sana. Kau mau ikut?” ajak si remaja. Gadis itu menyetujuinya dan dia mengikuti si remaja. “Dari mana kau berasal?” tanya si remaja.
“Aku berjalan sejauh tiga kota untuk mencapai tempat ini.”
Remaja itu tampak terkejut. “Dan kau selamat?”
“Tampaknya begitu,” jawab Faith.
“Bagaimana dengan gempa dan kabut beracun? Atau hujan es? Atau tanah amblas dan luapan api? Atau penculikan setiap malam? Kau tidak mengalaminya?”
Gadis itu menimbang perkataannya. Dia tidak pernah mengalami semua bencana dengan nama-nama yang luar biasa itu. Tapi dia tidak tahu bagaimana cara menjawab si remaja tanpa menimbulkan kecurigaan, jadi dia memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Aku mengalami gempa, gas beracun, dan gunung meletus. Aku selalu beristirahat di dalam bangunan kosong setiap malam jadi aku tidak tahu apa yang terjadi selama malam. Tetapi semua orang seolah-olah menghilang dari setiap kota yang aku lewati. Dan setiap malam ada hawa dingin yang tidak wajar.”
__ADS_1
“Oh, aku mengerti. Aku ingat sekarang. Mungkin bencana di masing-masing kota berbeda. Aku melihat tiga hari lalu kota pesisir dilanda tsunami besar dan seluruh kotanya hancur. Airnya tidak mencapai ke sini, tetapi sebagian wilayah perbatasan ibukota dengan kota pesisir rusak. Mungkin sekarang airnya sudah surut, tapi aku belum melihatnya lagi sejak tiga hari lalu. Jika kau mau melihat, aku punya teropong bagus dan kita bisa pergi ke H Tower. Gedung tinggi yang belum selesai dibangun itu masih berdiri meskipun di beberapa tempat sudah rusak.”
Gadis ini membuka mulutnya ketika si remaja bicara. Dia mengatakan bahwa kota pesisir dilanda tsunami dan telah hancur. Lalu bagaimana caranya dia akan menuju ke sana? Kekalutan dan rasa bimbang muncul di hatinya untuk sesaat. “Aku… turut berduka cita untuk semuanya,” si gadis kemudian bicara.
“Aku juga,” sahut si remaja. “Tidak ada penjelasan dari siapapun bencana apa yang sedang terjadi atas bumi. Kurasa ini hari kiamat.”
Mendengarnya, Faith memberinya pandangan iba sekilas sambil tersenyum. “Aku juga berpikir demikian. Tapi kau bilang masih ada yang selamat, kan? Bukannya itu bagus?”
“Siapa tahu ini belum berakhir,” si remaja menjawab. Wajahnya tidak menunjukkan kesedihan, hanya menyatakan sesuatu yang bisa dia pikirkan saat itu. “Kau bilang kau mau ke kota pesisir, kan? Jika kau benar-benar akan ke sana, berhati-hatilah. Aku akan memeriksa dengan teropong lagi nanti.”
Gadis itu tersenyum. “Kau tidak usah merepotkan dirimu sendiri.”
“Yah, pada saat ini kita benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi selain sesama. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup dan membantu sesama.”
Senyum yang menghiasi wajah Faith melebar. Remaja laki-laki ini masih muda tetapi pikirannya sudah luas. Diam-diam si gadis mengagumi semangat remaja itu.
Mereka tiba di sebuah bangunan bertingkat 6 yang dulunya jelas di cat warna putih. Bangunan itu sudah rusak di beberapa sisi, namun masih layak ditempati. Si remaja berkata jujur ketika dia bilang akan membawanya ke tempat orang-orang yang selamat. Belasan orang tampak beraktifitas di luar bangunan itu, kebanyakan tengah mengangkut dus-dus berisi makanan kaleng atau minuman dari kereta dorong. Sisanya ada yang membawa barang-barang yang tampak masih bagus meskipun sudah kotor atau lecet. Ada juga yang membawa baju-baju di dalam kereta dorong.
Itu adalah kali pertama Faith melihat manusia sebanyak ini. Dia sempat terpana dan menatap orang-orang yang sibuk itu dengan mata melebar, tetapi si remaja mengajaknya masuk ke dalam bangunan dan dia harus segera mengikutinya. Mereka naik ke lantai tiga. Di setiap lantai, terdapat kumpulan orang-orang yang berkumpul di tengah-tengah sesuatu yang mirip seperti bekas api unggun. Beberapa di antaranya masih menyala dan sisanya mati. Beberapa orang sibuk mengotak-atik barang, memilih baju, membuka kardus makanan, memasak sesuatu di atas api unggun, dan beberapa lagi tidur. Pemandangan yang sama ada di lantai tempat si remaja membawa si gadis. Mereka duduk di bagian ujung ruangan yang paling jauh dari jendela, di bawah tangga. Di sana tergeletak beberapa barang seperti selimut, bantal, baju-baju, bahkan alat makan. Bekas api unggun kecil yang membakar lantai ada di dekat kaki mereka.
“Duduklah, kau bisa beristirahat di sini.” Si remaja berkata sambil menunjuk salah satu sisi. Dia kemudian berdiri di seberang si gadis. “Kami tidak punya banyak di sini, dan kami berusaha bertahan secukupnya. Ada kesadaran pada masing-masing orang bahwa mereka ingin bertahan hidup, tetapi mereka tidak bisa tamak. Sayang sekali barusan makan siang sudah selesai. Aku akan mencari sisa makanan untukmu. Jika hari sudah gelap, kami akan makan lagi tapi aku yakin kau pasti lapar sekarang.” Baru saja si remaja berbalik badan, dia bertemu seorang pria lainnya dengan rambut pirang. “Oh, bro.”
“Ben kau menemukan yang kau cari?” laki-laki itu bertanya.
Si gadis dan Daniel berjabat tangan sementara si remaja pergi. Daniel duduk di dekatnya, wajahnya ramah namun ia tampak lelah. “Siapa namamu?” tanya Daniel.
“Faith. Tapi kau bebas memanggilku apa saja, terserah.”
Daniel membelalak dengan jujur. “Apa saja?” dia berhenti sejenak, dan si gadis mengangguk. “Baiklah Faith, senang bertemu denganmu. Apakah kau benar-benar berjalan sejauh tiga kota?”
“Ya.”
“Dan kau selamat?”
“Ben menanyakan hal yang sama. Iya. Untungnya aku selamat, dan bencana yang menimpa kota sebelumnya berbeda dengan bencana yang terjadi di sini. Entah kenapa aku selamat, tetapi di sinilah aku,” jawab Faith.
“Apakah kau datang ke ibukota untuk mencari bantuan? Sejujurnya, pada hari pertama ketika gempa besar disusul kabut selama sehari penuh muncul, aku mendengar beberapa orang menghubungi kerabatnya. Mereka meminta para kerabatnya untuk datang ke ibukota karena di sini pada saat itu pemerintah dan dinas-dinas sosial masih membantu. Kami masih punya listrik, air, dan gas waktu itu. Tetapi sekarang semua itu sudah tidak ada,” kata Daniel.
Gadis itu mengangguk. “Aku paham. Aku akan melanjutkan perjalanan ke kota pesisir.”
Kali ini Daniel sedikit mengerenyit. “Apakah Ben memberitahumu bahwa kota pesisir diterjang tsunami?”
“Iya, tapi aku akan tetap kesana. Kurasa, aku semacam berjanji akan kesana…”
Daniel menganggukkan kepalanya dan berkata, “Tidak apa-apa, tidak usah memaksa dirimu jika memang kau tidak bisa mengatakannya. Ngomong-ngomong, kau sendiri? Adakah keluarga atau kerabatmu di sini?”
__ADS_1
“Tidak, aku sendiri. Apakah Ben adikmu?”
“Oh tidak, kami bertemu di sini. Dia adalah bocah yang pemberani. Dia tidak tahu keluarganya selamat atau tidak, karena pada saat itu dia sedang berada di pusat kota bersama bibinya. Bibinya juga tidak selamat. Dia tidak bisa kembali ke rumahnya karena jalur ke sana terputus, jadi dia memutuskan untuk berkelana di sini sampai dia tiba di sini.”
Desahan kecil keluar dari mulut Faith, matanya mengiba. “Dan apakah kau sendiri?”
“Ya, aku tinggal dan bekerja di sini sendiri, semua keluargaku tinggal di kota lain. Aku juga terjebak di sini bersama Ben. Tapi lihatlah, meskipun semua orang di sini kehilangan, mereka menemukan keluarga yang baru di sini,” ujar Daniel.
Si gadis tersenyum. Dia baru bertemu 2 manusia lagi sejak si nenek, dan dia sudah menemukan orang-orang baik yang mau mengajarinya banyak nilai positif. Dia merasa beruntung. “Apa pekerjaanmu sebelumnya?”
“Aku seorang psikiater,” jawab Daniel. “Dan kau?”
“Aku sesekali menjadi asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Intinya pekerja serabutan.”
Karena si gadis tersenyum, Daniel tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum juga. “Tapi kau punya semangat juang yang tinggi,” pujinya. “Maafkan aku, tapi aku ingin beristirahat sebelum hari menjadi gelap. Aku harus berjaga malam hari ini. Jika Ben kembali, bisa tolong kau beritahu dia untuk membangunkanku sebelum jam jagaku mulai?”
Faith banyak terdiam selama Daniel tertidur. Dia merasa tidak enak hati ketika harus bersikap misterius sementara lawan bicaranya tidak menunjukkan ancaman. Tetapi bukannya ia bermaksud jahat dan menaruh curiga pada orang-orang, ia hanya tidak terbiasa. Bertemu dengan orang-orang baru dan benar-benar berbicara dengan mereka membuka cakrawala baru untuknya, hanya untuk itu saja dia sangat bersyukur.
Dia tidak memiliki cahaya, atau keteguhan yang dilihatnya dari Daniel atau Ben. Dia hanya melakukan apa yang ada di hadapannya dan dia bisa lakukan. Dia besar di panti asuhan, sosok bayinya ditinggal di depan pintu panti asuhan tanpa identitas orangtua atau barang pengingat akan orangtuanya. Hanya dengan itu di pikirannya, dia berpikir bahwa dia tidak diinginkan. Ketika beranjak remaja, panti asuhan mereka mengalami kesulitan dana, dan anak-anak yang sudah lebih tua harus bekerja untuk menyokong hidup mereka sendiri. Dia bekerja sejak umurnya 10 tahun, menjalani berbagai macam pekerjaan serabutan. Beberapa tahun kemudian dia keluar dari panti asuhan supaya kamarnya bisa digunakan anak-anak lain, lalu dia hidup menggelandang. Secara rutin dia mengunjungi panti asuhan tempatnya besar sambil memberikan uang hasil jerih payahnya semampunya. Dua tahun kemudian dia diajak ke kota lain untuk mencari pekerjaan, jadi dia kesana. Dia sempat bekerja di beberapa tempat selama beberapa tahun, mendapat keuntungan untuk tinggal di basement, gudang, atau loteng tempatnya bekerja. Dia tidak ingat hari apa persisnya, tetapi dia ingat suatu hari dia diculik. Tinggal di basement dan hanya dibiarkan menerima sinar matahari setiap beberapa hari sekali, dia mencoba melakukan kalkulasi, dan menyimpulkan dia sudah diculik selama sebulan lebih. Hari saat dia berhasil kabur dari basement adalah ketika gempa terjadi. Ketika dia berhasil merangkak keluar, dia sudah tiba di hari kiamat.
Itu bukan sesuatu yang bisa dia ceritakan, setidaknya kepada orang lain yang tidak dia kenal. Tetapi kemudian, dia selalu menjalani hidup seperti ini sendiri. Bukannya dia tidak punya teman, dia punya beberapa mantan gelandangan dan mantan teman seprofesinya yang dia anggap teman dekat. Dia bercerita kepada mereka banyak hal, namun hal itu juga membutuhkan waktu. Sekarang ketika dia sudah jauh dari panti asuhan dan kawan satu pantinya, berkelana ke kota lain, diculik sebulan dan tidak pernah lagi bertemu orang-orang yang dia kenal, lalu kemudian tiba hari kiamat dan orang-orang sudah mati, dia tidak punya siapa-siapa lagi.
Kebanyakan orang akan bersimpati pada hidupnya dan memuji keberaniannya serta semangat hidupnya untuk tetap berjuang sampai hari ini. Sebenarnya, itu semua berlebihan baginya. Baginya, semua itu semata-mata karena ia tidak punya pilihan. Ia harus menjalani apa yang ada di hadapannya, atau dia mati. Dia lebih baik berjuang daripada mati sia-sia. Dia sudah bersyukur orangtuanya mau melahirkannya, dan tidak langsung membunuhnya ketika ia lahir. Dia berpikir bahwa sekalipun dia tidak diinginkan, diberi kesempatan untuk mengecap dunia saja sudah merupakan anugerah. Keberaniannya dipicu karena ia tidak mau menyia-nyiakan kehidupan yang telah diberikan padanya, oleh karena itu keberaniannya teguh. Tetapi itu bukan sesuatu yang agung seperti yang pahlawan atau sosok pelopor lakukan, melainkan sesuatu yang menjadi keharusan baginya.
Tapi kemudian ketika dia bertemu orang-orang yang selamat ini, dia merasa bahwa semua orang memiliki keberaniannya masing-masing. Ben, yang kehilangan keluarganya dan tidak bisa kembali ke tempat keluarganya memilih untuk bertahan dan mencari perlindungan. Daniel, yang tadinya psikiater yang berpraktik di ibukota, pastinya dengan gaji tinggi dan hidup sangat berkecukupan, tidak mengeluh atau kehilangan semangat positifnya ketika ia harus hidup kesulitan bersama orang lain, mungkin sangat jauh berbeda dengan gaya hidupnya yang dulu. Dia melihat cahaya di dalam diri masing-masing orang, dan meskipun si gadis merasa dia tidak memiliki cahaya yang sama, kehangatan dalam masing-masing cahaya itu mewujud menjadi hal yang sama.
Ketika malam tiba dan Faith menemani Daniel pada jam jaga malamnya, dia berkesempatan untuk menanyakan hal yang selalu menjadi tanda tanya baginya.
“Apa yang terjadi selama malam hari?”
Daniel, yang duduk di sebelah si gadis menatap ke dalam api dari api unggun kecil di hadapannya. “Kami tidak tahu pada awalnya apa yang terjadi, awalnya kami hanya berkumpul di sini bersama sejak hari kedua. Keesokan harinya, banyak dari kami yang menghilang dan tidak satupun tahu kenapa. Percayalah, jumlah kami lebih banyak saat itu, tetapi tidak ada satupun yang melihat sesuatu terjadi. Kami berkelana, lalu kami menyadari bahwa tubuh-tubuh mereka yang meninggal, yang sempat kami kumpulkan untuk kami kubur, juga menghilang. Tidak ada tanda-tanda seperti jejak kaki, bercak darah, atau benda-benda tertentu, jadi kami tidak mengerti. Pada malam harinya, beberapa dari kami berjaga karena ingin mengetahui apa yang terjadi, tetapi mereka juga menghilang keesokan harinya. Pada titik ini, kami tahu sesuatu terjadi di malam hari di pemukaan tanah, karena mereka yang tinggal di lantai dua dan seterusnya masih ada di tempatnya masing-masing. Apakah Ben memberitahumu insiden ini?”
“Dia menyebutnya penculikan di malam hari,” jawab si gadis.
“Ya, kami menyebutnya begitu karena ini hanya terjadi pada malam hari. Setelah itu, kami menetapkan jaga malam, tetapi tidak ada yang boleh turun ke lantai satu atau keluar bangunan. Kami ingin tahu apa yang terjadi, apa yang membawa pergi orang-orang, bahkan mayat orang-orang. Malam itu, kami tahu, aku tahu karena aku ikut berjaga semalaman, dan setelahnya aku bahkan kesulitan tidur. Setiap malam, sebuah kabut muncul di atas permukaan tanah, kami yakin warnanya agak kelabu. Kabut itu menggantung rendah di atas permukaan jalan. Kemudian, muncul kabut lainnya yang mengalir layaknya ular di sela-sela kabut kelabu. Mereka bergerak datang dan pergi, seperti ratusan ekor ular hitam yang berjalan bersama. Kemudian kami mendengar suara desis bagai bisikan yang datang bersama kabut hitam. Lambat laun suara itu bertambah banyak, dan memekakkan telinga. Kami menutup telinga, tetapi suara itu menembus telinga. Suara itu tidak kunjung hilang jadi kami berusaha membiasakan diri sambil mengintip dan melihat apa yang sedang terjadi. Di situ, adalah kengerian tersendiri.”
Daniel berhenti tampak mengambil nafas. “Dari sela-sela kabut hitam, kami bisa melihat kerangka manusia dan hewan bergeletakkan mewarnai jalan. Tidak, itu lebih seperti sisa dari mayat yang sedang digerogoti. Tubuh-tubuh mati yang pucat dan busuk digerogoti di sana-sini, menunjukkan tulang-tulang mereka di sana-sini. Kadang ada bagian tubuh yang masih utuh, kadang ada yang sudah habis seluruhnya tinggal tulang. Ada mayat yang utuh bagian kakinya, tapi dadanya sudah berlubang besar, ada yang kepalanya utuh tetapi seluruh badannya menghilang, ada yang tubuhnya terpelintir dan patah di sana-sini, ada yang hanya sebagian tubuhnya saja. Itu adalah horor terbesar dalam hidupku. Mayat-mayat itu tampak sangat mengerikan, memberi kami semua mimpi buruk dan ketakutan untuk menutup mata. Pemandangan dan suara itu berlangsung sepanjang malam dan hanya berhenti ketika sinar matahari muncul. Tapi, ketika kami sadar bahwa tidak ada orang lain yang terganggu dengan suara mencekik sepanjang malam itu, kami bertanya dan mereka bilang mereka sama sekali tidak mendengar apa-apa! Apakah mereka tidur begitu lelap hingga melewatkan suara yang sebegitu mengerikannya?”
Faith tertegun mendengarkan cerita Daniel. Inilah yang disebut ‘monster’ oleh nenek yang tinggal di kota sebelumnya. Inilah yang Tuan Arwah ingin ia hindari. Itu bukan bentuk bencana alam seperti yang ia bayangkan, tetapi merupakan teror mistis yang tidak bisa dijelaskan dan dipahami oleh manusia.
“Kau akan berjaga malam ini?” si gadis bertanya setelah mendengarkan cerita Daniel dengan seksama.
Daniel mengangguk pelan. “Supaya tidak ada yang keluar dari gedung untuk urusan apapun. Tentu saja aku tidak mau turun ke bawah sana atau mencaritahu apa sebenarnya kabut misterius itu. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi kau beruntung bisa selamat sendiri sampai sejauh ini.”
Ini juga pertanyaan yang layak diutarakan semua orang. Jadi, bagaimana cara si gadis selamat?
__ADS_1