The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Extra Chapter: Faith


__ADS_3

Untuk dapat memahami sesuatu, mari kita mundur sejenak dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain.


Neraka selalu gelap dan memiliki aura yang mengerikan. Tanah merahnya menyembunyikan banyak gua, di balik gunung, di bawah lembah, atau di bawah tanah. Biasanya lubang-lubang itu selalu diisi oleh iblis atau hantu, jarang ada lubang yang kosong. Maka dari itu, Neraka bukan sebuah tempat bersembunyi yang bagus. Apalagi jika berhadapan dengan makhluk Neraka yang sejatinya paling mengenal tanah tempatnya berada, maka tidak mungkin untuk bersembunyi.


Frasa ini bisa berlaku untuk kedua makhluk yang sedang berada di dalam sebuah gua secara bersamaan. Makhluk pertama tubuhnya tertanam ke dalam batu di dinding gua. Wujudnya mirip sosok manusia laki-laki dengan tubuh kekar dan mata mencolok. Jika saja kondisinya saat ini tidak sedang tertanam di batu, maka ia akan terlihat gagah. Tetapi ia tidak lebih dari mengenaskan, tubuhnya bersimbah darah dan luka, dan meskipun wajahnya agak menarik, debu dan tanah menutupi hampir sebagian besar wajahnya. Makhluk yang satu lagi berbaju merah mencolok. Rambut hitamnya yang sengaja diurai berkibar seolah ditiup angin dengan bergelora. Tidak ada cacat apapun di tubuhnya seperti pada makhluk lainnya.


"Berbahagialah. Aku menemukan tempat kosong untukmu sehingga kau tidak harus menanggung malu seumur hidup apabila seseorang menemukanmu." Pria berbaju merah berkata. Dia tidak lain adalah Sang Roh Merah. Rupanya dia yang berhasil mematahkan frasa di atas.


Pria di hadapannya tampak marah, tetapi dia tidak bisa bergerak karena tubuhnya tertanam di batu. "Aku akan membunuhmu setelah ini."


Sang Roh Merah bersiul. "Semua iblis dan hantu bilang begitu. Tapi apa? Aku masih hidup."


"Monster kotor!" Pria itu kemudian menggeram marah.


Roh Merah berdiri dengan cara yang santai sambil melipat tangannya di depan dadanya. "Aku mungkin monster yang kotor, tapi aku lebih kuat darimu. Kau sudah makan besar, harusnya kekuatan yang kau dapat cukup untuk bertahan hidup lama dan berkuasa atas wilayah yang lebih besar. Melihat dirimu dikalahkan olehku saja sudah sangat memalukan, tuan Fitnah."


Mendengar namanya disebut, si pria tampak tidak nyaman. Dia sendiri rupanya tahu betul siapa diriya; Tuan Fitnah, iblis yang dibiarkan lolos ke Bumi oleh Surga untuk memberikan teror bagi manusia. Dia adalah sosok yang kuat, dia yakin Surga tahu itu ketika memutuskan untuk melepaskannya. Dia sudah makan besar saat di Bumi, meskipun tidak sebanyak Bencana, yang berpesta paling banyak, namun hasil pestanya juga cukup untuk melakukan invasi ke tanah lain. Namun apa yang terjadi padanya sekarang adalah di luar bayangannya, dan dia sangat jengkel.


"Apa maumu?" Fitnah berkata beberapa saat kemudian. "Aku bisa memberimu apa yang kau mau, sebagai gantinya kau harus melepaskanku."


Sang Roh Merah tampak berkata 'oh' dan menganggukkan kepalanya lambat-lambat. Gerakannya lebih terlihat sebagai rasa terhibur. "Kau berani menantangku? Apa kau tahu berapa banyak taruhan yang sudah kumenangkan dari iblis-iblis? Kau mau melawan keberuntunganku?"


Fitnah mencibir. "Kau sudah punya banyak hal, kenapa kau masih memerlukann sesuatu dariku adalah di luar pemahamanku."


"Oh, itu," Sang Roh Merah berseru. "Aku ingin meminta sedikit kemampuanmu. Kau yang terdekat yag bisa kucapai, jadi aku mendatangimu. Sayang sekali aku tidak menemukan energi Surgawi beberapa waktu ke belakang ini, jadi aku harus memanfaatkan energi iblis kalian. Kebetulan hanya kau yang kutahu mempunyai kemampuan yang kubutuhkan, jadi aku datang padamu. Apakah kau bersedia?"


Fitnah tertawa mendengar ini. "Kemampuan apa yang Sang Roh Merah cari dariku? Kau sudah sangat disegani di seluruh Neraka, kau sudah mencuri banyak kekuatan dari iblis-iblis dan hantu. Apa lagi yang kau butuhkan?"


Senyum kecil menghiasi wajah Sang Roh Merah ketika ia menjawab demikian, "Aku ingin meminta kemampuan berubah wujudmu."


Tawa seketika menghilang dari mulut Fitnah dan dia tersedak. Wajahnya memucat dan matanya membelalak. Bahkan selama beberapa saat tubuhnya kaku. "Apakah kau kehilangan akal sehatmu?"


"Tidak. Kenapa aku harus kehilangan akal sehatku jika aku menginginkan kekuatamu?" Sang Roh Merah balas bertaya. "Begini, aku harus turun ke Bumi untuk melakukan sesuatu. Tetapi aku sungguh seorang monster, manusia hanya akan berakhir tidak bisa melihatku sama sekali, atau melihatku dalam wujud asliku. Urusanku mengharuskanku menggunakan wujud yang bisa berinteraksi dengan mereka, namun dengan wujudku, bagaimana orang bisa percaya? Kemampuanmu sangat berguna wahai tuan Fitnah, aku menyaksikannya sendiri pada saat Hari Penghakiman. Aku membutuhkan kekuatan itu. Jika kau mau memberikannya padaku, aku akan sangat berterima kasih dan aku berjanji akan melepaskanmu. Dan itu belum semuanya."


Sang Roh Merah berhenti sejenak untuk memberikan kesan dramatis. "Kau tahu Gunung di utara tempat seorang jenderal hantu tinggal? Dia memiliki pasukan yang cukup besar untuk seorang hantu, dan anak buahnya setia pada pemimpinnya. Aku menaklukkan tempat itu beberapa waktu lalu. Jika kau bersedia, aku akan memberimu gunung itu sebagai ganti kekuatanmu."


Pertaruhan antar iblis sering terjadi di tanah Neraka, memperebutkan wilayah, makanan, atau kekuasaan. Beberapa iblis yang tersohor sangat senang bertaruh dan berkelahi untuk mengagungkan namanya. Karena sejatinya mereka adalah kaum yang bergerak dalam ilmu kegelapan, para iblis melakukan pertaruhan yang penuh dengan strategi. Siapapun tidak bisa dengan mudah mempercayai janji atau hadiah yang diberikan oleh iblis, karena iblis dipenuhi oleh kecerdikkan, mereka tidak akan mau merugi, dan jika mereka adalah jenis iblis yang merupakan penipu ulung maka semua janji dan hadiah mereka adalah palsu. Ini ada di dalam insting alami para iblis.


Tuan Fitnah tahu dia harus berhati-hati, namun dia juga yakin bahwa dirinya masih mampu menaklukan berbagai wilayah Neraka meskipun tanpa kemampuan berubah wujudnya. Kekuatannya tidak hanya itu, dan sekalipun ia kehilangan kemampuan berubah wujudnya, ia tetaplah tuan Fitnah, salah satu dari 4 malapetaka besar yang menghancurkan Bumi. Dia tetap ditakuti dan tersohor.


"Bagaimana dengan sang jenderal hantu?" Fitnah berkata beberapa saat kemudian.


"Sang jenderal? Kau menginginkannya? Tentu saja, kau boleh mengambil sang jenderal hantu."


Fitnah diam sejenak. Dia tergoda, namun dia masih mempertimbangkan dalam kepalanya. "Untuk apa kau butuh kekuatanku?"


"Aku sudah menjelaskan padamu, tapi aku tidak bisa berkata lebih jauh. Sederhananya, aku perlu kekuatanmu untuk turun ke Bumi dan berinteraksi dengan manusia," jawab Sang Roh Merah.


"Kau bilang kau mencari energi iblis karena tidak bisa menemukan energi Surga. Apakah kau bermaksud melakukan hal yang sama yang kau lakukan padaku jika kau menemukan satupun penghuni Surga?" Fitnah kembali bertanya.

__ADS_1


"Ya. Tapi dengan Surga, aku tidak perlu membuat penawaran seperti yang kuberikan padamu. Mereka jauh lebih sederhana," jawab Sang Roh Merah.


Fitnah kembali terdiam lagi selama beberapa saat. "Aku tidak mengerti. Sebenarnya ada di pihak mana kau ini? Dan apa kau ini? Mengapa kau berani menantang dan membuat kekacauan di dua dunia? Bukankah itu kau monster yang berhasil naik ke Surga dan kembali hidup-hidup? Kami para iblis berlevel tinggi berkali-kali dibuat kebingungan oleh tindakanmu. Kau memangsa iblis dan hantu, namun juga membantai pasukan Surga dan menjebol tembok itu. Aku tidak bisa menebak, dan kami para iblis tidak punya suara yang sama. Jadi kami tidak bisa menggambarkan relasimu dengan Neraka atau iblis secara jelas."


Sang Roh Merah tampak tertegun mendengar perkataan Fitnah, juga terlarut dalam pikirannya sebelum menjawab. "Aku bukan bagian dari dunia manapun, tapi anggaplah bahwa aku lebih nyaman tinggal di Neraka daripada di Surga. Kalian para iblis adalah sumber makananku, dan Neraka adalah tempat tinggalku. Surga adalah tempat yang tidak sejalan denganku, dan penghuni Surga membuatku muak. Jadi di sinilah aku."


"Apakau kau secara personal membenci Surga sehingga memutuskan untuk menetap di Neraka?"


"Hubunganku dengan Surga sangat rumit," kata Sang Roh Merah. "Bagi Surga, aku adalah simbol kesesatan. Surga tidak akan menerima itu, jadi untuk apa aku mengunjunginya jika bukan untuk mengacau? Setidaknya untuk saat ini, aku tidak punya alasan untuk mengunjungi Surga."


"Bukankah kita semua sesat?" Kata Fitnah.


"Oh ya, tetapi aku berbeda. Aku menyembah seorang dewa."


Mata Fitnah melebar. "Kau menyembah dewa? Kalau begitu kenapa kau tidak lari ke Surga? Mereka tentu akan menerimamu!"


Sang Roh Merah menggeleng sambil tersenyum. "Itulah yang tidak bisa mereka terima. Untuk menyembah dewa lain selain yang mereka sebut Allfather adalah tindakan paling tidak terpuji. Dewaku adalah satu dari sekian banyak dewa di Surga. Bagiku, tiada dewa lain selain dewaku. Kau tahu bagaimana respons Surga dan para dewa? Mereka cemburu. Padaku yang menyembah seorang dewa, yang bukan dirinya sendiri atau Allfather mereka, para dewa cemburu dan Surga marah. Aku adalah simbol rasa cemburu para dewa yang tidak bisa lagi disembah dan telah kehilangan pengikut-pengikut mereka demi Allfather mereka. Aku adalah penghinaan terhadap para dewa. Bagaimana bisa seorang monster menyembah dewa? Itu sangat memalukan bagi Surga, jadi bagaimanapun aku dan Surga akan selalu bermusuhan. Tetapi aku dan dewaku tidak sama dengan hubunganku dan Surga."


Untuk sesaat Fitnah mengkerutkan keningnya dan larut dalam pikirannya. Dia lama terdiam dan tampak sangat kerasan mempertimbangkan sesuatu. Kemudian dia berkata, "Begitu. Tadinya kukira kau adalah makhluk yang punya maksud menguasai salah satu atau kedua dunia. Rupanya kau sama saja seperti kami semua. Aku mengerti sekarang. Kau memang adalah sumber kesesatan."


Sang Roh Merah masih menatapnya dengan santai dan melipat tanganya di depan dadanya. "Jadi, setelah kau tahu siapa aku, apakah kau menerima tawaranku?"


Fitnah kembali memejamkan matanya lalu mendesah pelan. "Baiklah. Lakukan yang kau inginkan dan tepati janjimu."


Sang Roh Merah tampak tersenyum puas. Dia melakukan apa yang ia inginkan, lalu melepaskan Fitnah dan mengarahkannya ke gunung di utara, sesuai dengan janjinya. Dengan demikian dia turun ke Bumi.


Percakapannya dengan Fitnah sebelumnya membuatnya tersenyum sepanjang jalan. Dia memang bukan sosok yang senang membicarakan tentang dirinya, namun dia akan menjawab segala sesuatu yang ada dalam batasnya. Dia tidak keberatan menceritakan sesuatu selama itu adalah hal yang ia ketahui, dan sejauh kapasitas yang ia bisa katakan. Dia juga tidak keberatan bercerita kepada siapa saja, selama seseorang itu bertanya, baik itu penghuni Surga, Neraka, atau Bumi, semuanya akan dia jawab. Hanya saja selama ini, tidak ada yang berani bertanya kepadanya, jadi dia tidak pernah berkata apa-apa. Dia juga lebih senang melakukan segala sesuatunya sendiri, jadi dia memiliki kesan misterius yang mencolok.


Seorang monster seperti dirinya memang sosok yang diwarnai kekelaman, tapi dia punya keistimewaan. Seperti yang dia katakan sebelumnya, dia menyembah sesosok dewa. Iblis atau hantu di Neraka juga menyembah seorang pemimpin dan mereka akan mengikuti pemimpin itu dengan setia. Namun mereka adalah sama-sama makhluk dari Neraka, berbeda dengan Sang Roh Merah yang menyembah sosok dewa di Surga. Mereka berbeda dunia, berbeda sifat dasar, sesuatu yang secara hakikatnya memang berbeda. Meskipun demikian, itu tidak menghentikannya untuk menyembah sang dewa.


Itulah kenapa Surga membencinya. Surga tidak bisa menerima keberadaan sosok dewa lain selain Allfather, dan mereka sudah memusnahkan semua bukti tentang kisah para dewa pada masa kejayaannya. Setidaknya, mereka sudah berusaha keras. Surga tidak mengizinkan seorang dewa disembah, selain Allfather. Namun ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang menyembah seorang dewa, dewa itu tidak salah.


Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara seseorang atau sekelompok orang tersebut menemukan keberadaan dewa tersebut. Jika bisa dikatakan, Surga dan para dewa sendiri punya peran di sini, karena kemungkinan besar mereka tidak berhasil memusnahkan semua bukti tentang kisah para dewa, sehingga sesuatu atau seseorang menemukannya, dan menjadikannya sosok dewa yang disembah. Namun tetap saja, seseorang atau sekelompok orang ini juga bersalah karena menduakan kepercayaan mereka kepada Allfather. Maka dari itu sekalipun wujud dewa yang mereka sembah benar adanya, mereka tetap akan menerima hukuman dari Surga.


Kemudian, yang membuat segala sesuatunya menjadi rumit adalah bahwa sosok yang menyembah dewa ini adalah seorang monster. Bagaimana bisa seorang monster menyembah seorang dewa? Surga dan Neraka amat bertentangan, penghuninya pun bermusuhan, lalu apa yang membuat makhluk Neraka menyembah dewa di Surga?


Selanjutnya, karena hal ini tidak bisa dimaafkan Surga, mereka ingin menghukum monster ini. Namun monster sejatinya adalah makhluk Neraka, Surga tidak bisa menghukumnya seperti mereka menghukum jiwa manusia. Yang bisa Surga lakukan adalah berhadapan langsung dengan monster tersebut dan membunuhnya atau melukainya. Tetapi Sang Roh Merah ini, dia adalah monster yang kuat. Siapa yang tidak mengenal namanya? Dia menggegerkan dua dunia. Dan baru saja terjadi, Sang Roh Merah mengalahkan tuan Fitnah, satu dari empat malapetaka besar yang dijatuhkan ke atas manusia. Bukankah itu membuktikan bahwa dia sebenarnya sangat kuat?


Sang Roh Merah tahu salah satu alasan mengapa, meskipun dia kuat, dia tidak ditunjuk oleh Surga untuk menjadi malapetaka yag turun ke atas Bumi. Dia yakin meskipun dia tidak memiliki bukti, bahwa Surga menganggap dirinya terlalu sulit diatur, tidak seperti iblis lainnya yang mudah diberi iming-iming dan diatur, karena Surga yakin seberapa kuatnya pun seorang iblis mereka tetap lebih inferior daripada Surga. Tidak dengan Sang Roh Merah yang memiliki caranya sendiri, sehingga Surga tidak bisa berharap dapat 'menggunakannya' seperti iblis lainnya. Setidaknya itu yang dia tahu. Alasan lainnya, dia bisa menduga bahwa Surga sudah terlalu jijik dengannya dan menolak berurusan dengannya, tetapi dia hanya bisa menduga.


Bicara soal dirinya yang tidak ditunjuk sebagai malapetaka yang turun ke Bumi oleh Surga, bukan berarti dia tidak bisa pergi ke Bumi. Toh dari awal dia tidak punya urusan dengan Bumi, jadi dia datang dengan sesuka hatinya tanpa membuat kekacauan. Berbekal kekuatan yang ia peroleh dari Fitnah sebelumnya, ketika kakinya menginjak bumi dia segera mengambil sosok seorang pria tua kebapakan.


Dia berjalan di salah satu sudut kota. Pada waktu itu, beberapa tahun lamanya sudah lewat sejak Hari Penghakiman, dan manusia sudah mulai membangun dunianya lagi. Roh Merah masuk ke dalam toko alat tulis. Bangunannya tidak begitu besar, namun barang dagangannya banyak. Dia segera menuju ke meja kasir.


"Apa kalian punya kertas wajik warna merah?" Roh Merah bertanya.


Penjaga kasir yang berdiri di balik meja adalah seorang anak laki-laki kurus dengan kulit coklat dan hidung panjang, mungkin remaja. "Ya. Berapa banyak yang Anda butuhkan, pak?"


"Berapa banyak yang kalian punya?"

__ADS_1


"Um, saya akan periksa sebentar," laki-laki itu permisi dari hadapannya. Ketika dia kembali, dia berkata, "Kami punya banyak. Warna merah sendiri ada tiga kardus. Berapa banyak yang Anda butuhkan?"


"Tiga kardus."


Seketika remaja itu melongo. "Maksudya tiga gulung?" Dia mengerjapkan matanya.


"Tidak, tiga kardus."


Si remaja tampak bimbang sejenak. "Um... baiklah, saya akan ambilkan. Apakah um, Anda perlu saya mengantarkannya?"


"Tidak usah, terima kasih."


"Uh, baiklah." Laki-laki itu menghilang lagi lalu kembali dengan kardus-kardus dan tali. Dia mengikat kardus-kardus sehingga bisa dibawa seperti tas.


"Bagaimana penjualan di toko ini?"


"Uh, saya rasa baik. Saya baru bekerja paruh waktu di sini sejak tiga hari lalu, jadi saya kurang tahu tepatnya. Tetapi setiap hari ada saja pembeli yang datang," jawab si remaja.


Roh Merah tersenyum. "Apakah kau pernah bertemu seseorang yang membeli sesuatu sebanyak ini?"


Remaja itu menggeleng kuat dengan mata membelalak. "Saya tidak pernah bertemu pembeli seperti Anda, pak. Saya pernah melayani orang-orang yang membeli berbagai macam barang seperti kebutuhan sekolah, alat gambar, atau beberapa rim kertas, tapi saya tidak pernah bertemu seseorang yang membeli sesuatu dalam jumlah banyak seperti ini. Jika saya boleh tahu, apa yang akan Anda lakukan dengan kertas wajik merah sebanyak ini, pak?" Dia bertanya.


"Oh aku sedang mempersiapkan kejutan," jawab Roh Merah.


"Oh, untuk istri Anda?"


"Apakah itu caramu menyebut cinta seumur hidupmu? Istri?"


"Oh, um... maksud saya, jika itu laki-laki maka..."


"Oh tidak, tidak, tidak, dia seorang perempuan." Sang Roh Merah segera memotong si remaja yang tampak kikuk karena merasa bersalah.


Remaja itu mendesah lega pelan-pelan. "Kalau begitu iya saya rasa, istri, atau kekasih. Atau mungkin anak? Saya dengar ada ayah yang sangat menyayangi putrinya dan menganggap mereka sebagai cinta seumur hidupnya."


Roh Merah bergumam sejenak sambil mengangguk-angguk. "Yang jelas dia bukan anakku," katanya kemudian.


"Kalau begitu mungkin istri atau kekasih Anda," kata si remaja.


"Kenapa kau tidak memanggilnya dewa? Jika kau sangat mencintainya dan hanya dia satu-satunya dalam hidupmu?" Roh Merah berkata beberapa detik kemudian.


Remaja itu tampak bimbang sebentar. Dia bahkan berhenti mengikat talinya. "Um... saya rasa cinta kepada dewa dan manusia sangat berbeda. Dewa menciptakan kita, maka kita harus menghormati dewa dengan melakukan segala sesuatu untuk memuliakanNya. Tidak begitu dengan manusia, kita tidak bisa menyembah atau memuliakan manusia." Remaja itu berhenti sejenak. "Setidaknya itu yang orangtua saya ajarkan."


"Kalau begitu dia adalah dewa untukku," jawab Sang Roh Merah.


Remaja itu memberikannya seyum sekilas. Senyumnya hangat dan kekanak-kanakkan. "Anda pasti sangat mencintainya," katanya.


"Benar sekali. Aku bahkan yakin perasaan kami berbalas."


Remaja itu selesai dengan mengikat kardusnya. Dia memproses transaksi dan Sang Roh Merah mengeluarkan uang dari saku jaketnya dengan jumlah yang pas sesuai tagihannya. Si remaja memberikan kardusnya, 1 kardus sendiri dan 2 kardus diikat jadi 1. Dia berterima kasih, lalu Roh Merah berjalan meninggalkan kasir.

__ADS_1


"Oh, pak, boleh aku bertanya sesuatu?" Si remaja tiba-tiba berkata. Roh Merah menghentikan langkahnya dan menoleh sambil tersenyum. "Jika dia benar-benar seorang dewa bagi Anda, bagaimana Anda begitu yakin jika dia juga mencintai Anda?"


Senyum di wajah Roh Merah melebar. "Kenapa kau bertanya padaku? Jawabannya ada di dalam dirimu sendiri. Itu namanya keyakinan." Setelah menjawab demikian, dia berjalan keluar toko.


__ADS_2