The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Chapter 7


__ADS_3

Matahari sudah berdiri di atas kepala mereka ketika mereka berjalan di sebuah perumahan yang dibangun dikelilingi bukit batu coklat gersang.


“Dengan melewati jalur tol, kita bisa mencapai ibukota kemungkinan besok, atau seandainya kita perlu beristirahat, mungkin besok menjelang malam. Sama seperti kota sebelumnya, kota ini cukup besar, tapi di sini ada jalur tol yang lebih luas daripada di sana. Kita bisa memotong melalui jalan pintas dan menghemat waktu.” Faith berkata sambil menunjuk-nunjuk ke sekitarnya, seolah tengah menggambarkan jalur jalan tol yang akan mereka lewati.


“Kamu benar-benar tahu arah, ya,” komentar si pria dengan lembut.


“Tidak begitu. Aku pernah ke ibukota beberapa kali dulu, dan jalur yang aku lewati adalah melalui kota ini. Aku hanya mengingatnya.”


Pria itu masih tersenyum. “Semoga perhitunganmu benar. Jangan lupa kita harus beristirahat selama malam hari.”


Mendengar ini, si gadis membulatkan mulutnya dan menunduk. Dia bergumam, “Oh, aku lupa. Kalau kita harus mencari perlindungan selama malam hari, mungkin… lusa?”


Pria itu mendengar gumaman si gadis lalu terkekeh. “Ke mana tepatnya jalan tol itu mengarah?”


“Melewati bukit gersang di sebelah sana. Kita akan melewati terowongan yang panjang nanti, dan terowongan itu akan membawa kita langsung ke ibukota. Ibukotanya ada di seberang bukit.” Faith menunjuk bukit batu coklat yang berjejer di sebelah kiri arah mereka berjalan.


Mereka tengah berjalan bersebelahan seperti yang biasa mereka lakukan selama ini ketika sebuah gempa yang cukup kuat mengguncang bumi. Secara reflek Faith meraih tangan si pria sebagai tumpuan, tetapi gempa itu terlalu besar dan mustahil baginya mempertahankan keseimbangan dengan kondisi demikian. Ketika ia terhuyung dan membiarkan dirinya jatuh ke tanah, pria itu menariknya dan mendekapnya. Tangannya masih setia memegang payung merahnya. Ada bunyi gemuruh yang kuat di kejauhan, lalu gempa itu berhenti secara tiba-tiba.


Gadis itu mengangkat kepalanya dan aroma kayu mengisi hidunya. Aroma itu tidak berasal dari sekelilingnya, melainkan dari mantel merah si pria, dan aroma itu kini mengikuti ke manapun hidungnya berada. Merasa bahwa dirinya terlalu dekat dengan si pria, Faith menjauh dengan tiba-tiba dan bermaksud meminta maaf. Tetapi tubuhnya terhuyung lagi dan ia hampir jatuh. Rupanya, bumi masih mengayun, dan dia masih belum lepas dari efek gempa yang memusingkan. Dia bertahan di udara, separuh berdiri separuh berjongkok dengan bantuan tangan si pria.


“Maafkan aku…” Faith berkata sambil berusaha menatap satu titik di tanah untuk mengembalikan keseimbangan pandangannya. Gempa ini yang terbesar yang selama ini ia rasakan selama dalam perjalanan bersama si pria, tak heran jika ia merasa sangat limbung.


Dia mendongak, tetapi pria itu sedang memutar kepalanya ke belakang, ke arah bukit batu gersang, padahal tubuhnya masih menghadap si gadis dan satu tangannya belum melepaskan si gadis. Gadis itu mengikuti arah yang dilihat si pria dan ia terkejut sedikit. Bunyi gemuruh yang sebelumnya ia dengar rupanya adalah suara longsor bukit batu dari jejeran bukit di sebelah kiri mereka. Gumpalan batu dan tanah kering berwarna coklat berhamburan menuruni bukit, menggelinding mengikuti arah gravitasi. Tempat mereka berdiri memang agak jauh dari lokasi longsor, tetapi bagian bukit yang longsor tepat berada di garis lurus yang berhadapan dengan mereka. Meskipun demikian, tidak ada bagian longsor yang menyentuh mereka. Hanya debu-debu dan pasir yang beterbangan mulai menjamah sekitar mereka.


‘Itu tadi berbahaya,’ Faith mau berkata demikian, tetapi ia belum juga membuka mulutnya ketika si pria menyodorkan payungnya. Wajahnya tetap belum kembali menatap si gadis. “Bisa kamu pegang ini untukku?” tanyanya. Gadis itu terkejut namun ia mengambil payung itu dengan gegabah, takut si pria yang bukan manusia ini sedang dalam keadaan yang tidak bisa dicerna oleh akal manusia. Dia kini memegang payung merah itu di udara dengan dua tangan, tidak seperti si pria yang selalu melakukannya dengan satu tangan. Payung itu memang tidak berat, tetapi membayangkan tangannya harus menopang payung selama seharian penuh, Faith merasa iba dan bersalah kepada si pria.


Pria itu berjalan beberapa langkah menjauhinya, mendekat ke arah bagian bukit yang longsor. Dia kemudian mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya, telapak tangannya menengadah ke atas, dan gerakannya berhenti untuk waktu yang agak lama. Gadis ini belum melihat wajah si pria sejak gempa terjadi, jadi dia tidak tahu ekspresi apa yang tergambar di wajah si pria. Yang jelas, bahunya yang lebar dan bidang, serta posturnya yang tinggi dan ramping, terlihat sangat gagah ketika dilihat dari belakang.


Ujung mantel merahnya sedikit berkibar, yang mana adalah aneh karena pada saat itu Faith tidak merasakan angin berhembus di sekitar mereka. Gadis itu menoleh ke atas, merasakan bahwa payung di tangannya tidak goyah terkena angin. Lalu ia menoleh ke bawah untuk melihat tali pada tas yang ukurannya bisa disesuaikan. Tali itu juga tidak bergoyang. Tetapi ketika ia melihat ke kakinya, dia melihat beberapa kerikil tampak bergoyang. Dia menatap kaki si pria dan kerikil di bawah kaki si pria pun bergoyang hebat.


“Tuan Arwah, tanahnya berguncang…” Faith berkata dengan agak takut, takut mengganggu si pria. Tetapi pria itu diam saja dan tetap dengan tangan terangkat di udara, mengabaikan si gadis. Faith kembali menatap ke tanah, dan kali ini, kerikil di tanah terangkat ke udara setinggi lutut si pria. Gadis itu terbelalak. Dia bergeser sedikit ke kiri, berusaha mengintip apa yang tengah dilakukan si pria.


Apa yang ia saksikan terjadi secepat sambaran petir.


Pria itu mengayunkan tangan kanannya seolah mendorong ke langit, sementara tangan kirinya kembali turun ke sisinya. Seketika, bunyi menggelegar bagaikan suara cambuk dari petir membelah langit. Dan sebuah sinar petir tebal berkilau emas dan mengerikan benar-benar turun dari langit, menyambar bagian bukit berbatu yang longsor. Hari itu masih siang, dan matahari bersinar terik, sangat aneh medengar dan menyaksikan petir turun di saat seperti ini. Apa yang lebih mengerikan lagi, bunyi gemuruh lainnya muncul dari seluruh bagian bukit, memekakkan telinga si gadis dan memaksanya menutup mata serta mengangkat bahu, menghindari bunyi yang mengerikan, semata-mata karena kedua tangannya sedang memegang payung dan dia tidak bisa menutup telinganya. Hanya beberapa saat kemudian dia kembali membuka matanya.


Kepulan debu yang sangat tebal dan besar mewarnai bagian bukit yang diserang petir sebelumnya. Awan debu dan pasir itu berkumpul di satu tempat, mungkin karena tidak ada angin yang membawanya ke mana-mana. Namun bagaimanapun si gadis melihat, lambat laun debu itu memudar dengan sendirinya, entah pergi kemana, atau entah angin apa yang membawanya. Pandangannya teralihkan ketika ia menyadari bahwa si pria sudah menurunkan kedua tangannya, dan kerikil yang tadinya melayang di sekitar mereka sudah kembali ke tanah. Saat itu, dia kembali menatap ke bukit dan menduga bahwa awan debunya sudah menghilang.


Tetapi apa yang dia lihat lebih mengejutkan dari semua yang terjadi sebelumnya, dari kerikil melayang, dari kilatan petir, bahkan dari keberadaan pria itu sendiri.

__ADS_1


Cekungan besar muncul di tengah-tengah bukit pasir yang tadinya berdiri kokoh. Cekungannya mirip bulan sabit yang menghadap ke langit. Cekungan itu begitu besar, dari total tinggi bukit ada sekitar 4/5 bagiannya habis terkikis. Dan cekungan itu begitu sempurna, bulat melengkung dengan sudut yang pas, hampir terlihat indah. Terlebih, cekungan itu menjebol seluruh bagian bukit, menampilkan apa yang ada di balik bukit.


Itu adalah hal paling tidak alami yang pernah dilihat si gadis seumur hidupnya.


Faith masih terpaku di tempat dengan mata terbuka lebar dan mulut separuh terbuka. Dia dilanda syok. Sementara, si pria berbalik dan kembali mendekati dirinya. Pasti pria itu menatap wajah konyol si gadis, kalau tidak ia tidak akan tersenyum. “Boleh aku minta kembali payungku? Terima kasih sudah menjaganya untukku.”


Gadis itu berucap ‘oh’, tapi saking kesadarannya belum kembali ke tubuhnya, tidak ada suara keluar dari mulutnya. Dia menyerahkan payung si pria dengan gerakan lambat. Ketika payung itu sudah tidak ada di tangannya, kedua tangannya masih mengepal seolah payung itu masih ada di sana. Seluruh tubuhnya masih dilanda syok. Dia diam saja di tempatnya, masih menatap cekungan bulan sabit sempurna yang menjebol bukit batu.


Pria itu berdiri dengan tegak, payung di tangannya, dan menunggu si gadis pulih dari serangan syok. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri sambil menatap si gadis yang tidak menatapnya. Tetapi di atas segalanya, dia adalah pria yang sabar; dia terus memayungi si gadis, dan menunggunya.


Kemudian, Faith mengangkat wajahnya, untuk pertama kalinya melihat wajah si pria. Menyambut tatapannya, pria itu memberikannya senyuman tipis. Jauh di dalam lubuk hati si gadis, sebuah tanda tanya besar muncul. Dia memang berani, dan dia punya keyakinan. Tetapi itu tidak menghentikan hati kecilnya untuk memberinya dorongan rasa ragu. Apa itu bahaya? Apakah itu hari kiamat, atau berjalan bersama pria itu? Lalu, apa itu keselamatan? Apakah itu bertahan sendiri di tengah hari kiamat dan mempercayakan diri pada kehendak para dewa, atau mengikuti pria ini?


Faith tidak tahu. Sekali lagi, dia tidak tahu. Seketika, dia merasa tidak tahu apa-apa.


Ketika kesadarannya mulai pulih, gadis itu mengerjap. Menyadari hal itu, si pria tersenyum bertanya, “Apakah kamu terluka?”


Seolah kepalanya dihantam keras, gadis itu tersadar dari lamunannya seketika. Dia menggeleng. “Tidak,” jawabnya ragu. Dia menunduk dan mengerjap beberapa kali karena matanya terlalu banyak menyerap cahaya.


Pria itu bergerak sedikit. “Apakah itu bagian dari ibukota yang kamu maksud?” dia menunjuk ke seberang bukit. Suara mendesah yang terdengar kebingungan keluar dari mulut Faith, tetapi kepalanya mengangguk. Pria ini kembali terdiam sejenak. “Aku hanya akan bergerak jika kamu sudah siap untuk pergi.”


Perlu beberapa detik bagi Faith untuk sepenuhnya sadar—meskipun tadi dia sudah sempat sadar. Dia meminta maaf, lalu keduanya kembali berjalan. Kali ini, mereka menuju langsung ke cekungan di bukit. Tujuannya jelas, mereka memotong jalan untuk segera sampai ke ibukota. Tetapi mengenai alasan kenapa si pria membuat fenomena yang besar dan mengejutkan itu, si gadis tidak tahu apa-apa.


Si pria menuntunnya melewati jalur yang tidak begitu berbahaya untuk dilewati, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika mereka akan melewati bekas reruntuhan bukit, akan ada jalur berbahaya di sepanjang perjalanan mereka. Tetapi dengan langkah yakin si pria ketika ia melangkah, jalur yang mereka lewati seolah jauh dari kata berbahaya. Ya, mereka memang sesekali bertemu batu yang agak besar dan harus mendaki dengan hati-hati, tetapi keduanya masih bisa berdiri. Normalnya ketika seseorang harus mendaki, dia akan butuh sesuatu untuk berpegangan. Pria ini tidak. Dia naik dengan tangan kanan memegang payung dan tangan kiri tetap diam. Malah, dia meminjamkan tangannya untuk menjadi tumpuan si gadis. Jalur yang mereka lewati sama sekali tidak terasa seperti bekas bukit batu, tetapi semata-mata padang gersang yang agak berbatu.


“Tuan Arwah…” Faith tiba-tiba berkata setelah sekian lama mereka terdiam. Mereka sudah mencapai kira-kira 2/5 panjang cekungan. “Aku harus bertanya kepadamu karena aku sama sekali tidak memiliki jawaban, atau dugaan. Aku… bingung.” Gadis itu berhenti sejenak. Dia baru saja berkata pada dirinya sendiri bahwa dia bingung. Dia memilih kata-katanya, berusaha berhati-hati agar tidak membuat pria itu merasa tidak nyaman. “Apa yang baru saja kau lakukan tadi berada di luar nalarku. Apakah itu sesuatu yang memang tidak bisa aku pahami sebagai manusia?”


Seperti dugaan si gadis, pria itu tidak tersenyum. Dia terlihat terlarut dalam pikirannya selama beberapa saat. “Setiap makhluk memiliki kemampuannya masing-masing, begitu pula manusia yang berbeda-beda bakatnya. Sebagai sebuah arwah yang bukan manusia, aku memiliki kekuatan yang berbeda darimu. Aku mampu melakukan hal yang kamu tidak mengerti, tetapi jangan salah, kamu juga mampu melakukan hal yang aku tidak mengerti. Jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka ia akan selamanya bodoh. Bukan berarti kamu lemah dan aku kuat, kita hanya memiliki kemampuan yang berbeda.”


“Tapi aku akan mengatakannya sebagai pujian; kau kuat, Tuan Arwah,” gadis itu segera menyahut. “Meskipun aku tidak mengerti apa yang kau lakukan, bolehkah aku bertanya kenapa kau melakukannya?”


Kali ini pria itu menatapnya. “Kamu sudah punya dugaan soal ini, bukan?”


Faith membuka mulutnya, “Memang aku punya dugaan, tapi aku tidak mau dugaanku itu menyesatkanku dan justru membuatku salah paham kepadamu. Jika aku bisa bertanya langsung, maka aku akan bertanya langsung. Tapi, apakah kau mau menjawabnya?”


Pria itu menyetujuinya dengan erangan kecil. “Bagus. Aku senang kamu berpikir seperti itu. Kamu benar, aku memang punya maksud untuk mempersingkat perjalanan kita. Longsor itu memang memberiku ide. Itu saja sudah cukup untukmu, bukan?”


Gadis itu kini mengerenyit. “Apakah hanya itu alasanmu melakukannya?” Sebagai jawaban, pria itu tersenyum dan dia melanjutkan perjalanannya dalam diam. Menyadari bahwa mungkin ia telah bertanya hal yang berlebihan, gadis ini merasa bersalah. Dia memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan mereka. “Apa yang terjadi pada Sang Putri selanjutnya?”


Si pria tiba-tiba terbelalak. Dia tidak menatap si gadis, tetapi matanya menoleh ke arah si gadis. “Pada ceritamu sebelumnya, aku mendengar Sang Putri yang turun ke bumi dan dikecewakan oleh manusianya. Apakah dia kembali ke Surga?” si gadis memperjelas pertanyaannya. “Rasanya aku belum sampai ke bagian itu.”

__ADS_1


“Ah,” ujar si pria. “Itu rupanya. Aku sudah berjanji akan menceritakan kelanjutan ceritanya padamu, ya? Baiklah, aku akan menceritakannya singkat saja. Setelah dikecewakan berkali-kali oleh manusia, Sang Putri memutuskan untuk kembali ke Surga. Dia tahu sekarang bahwa dia tidak akan bisa mengalahkan iblis untuk manusia, karena nyatanya manusia sendiri yang harus memilih apakah mereka akan mempercayai iblis atau tidak. Berdasarkan apa yang ia lihat, manusia memilih untuk mengikuti bisikan iblis, bahkan mengizinkan iblis masuk ke dalam jiwanya. Jadi ketika kembali ke Surga, dia kembali dalam keadaan kecewa.


Tetapi dia adalah seorang Putri Surgawi yang dipenuhi cahaya ilahi. Dia tidak memiliki rasa putus asa, dan dia diperkaya banyak ide. Untuk mengalahkan iblis secara langsung, dia turun ke Neraka dalam peperangan besar antara Surga dan Neraka yang sudah berlangsung sejak sangat lama. Peperangan besar pecah di dekat Barikade Cahaya, sebuah tembok penghalang yang mencegah terlalu banyak iblis turun ke bumi. Barikade itu dibuat dengan bantuan Sang Putri, dan dengan kesedihan meliputinya setelah melihat manusianya yang tersesat, Sang Putri membangun lapisan tembok baru. Surga memenangkan lagi pertempuran hari itu berkat bantuan Sang Putri, lalu Sang Putri sendiri yang menyembuhkan pasukan Tentara Surgawi dengan kekuatan ilahinya. Dia menutup luka, menghentikan aliran darah, mengembalikan yang hilang, menyambung yang terputus, dan memperbaiki jiwa yang terluka. Dia mengeluarkan banyak kekuatannya pada hari itu, dan butuh beberapa waktu baginya untuk beristirahat hingga dia pulih sepenuhnya.


Meskipun dia melakukan banyak hal yang membuatnya kesulitan, kesakitan dan bersedih, dia tidak menyesal dan tidak kapok. Dia melakukannya untuk manusia yang dia kasihi, dengan pemikiran sederhana itu saja cukup baginya untuk melakukan lebih banyak hal lagi. Dia sangat berbeda dari dewa-dewa yang lain karena dia sendiri pernah terlibat dengan manusia dalam versi terbaik dan terburuk mereka. Dia menerima kebaikan manusia, juga menghadapi keburukan mereka. Meski para dewa pernah turun ke bumi setidaknya sekali, apa yang mereka alami tidak sama dengan yang Sang Putri alami. Sang Putri mengenal betapa istimewanya manusia, bahwa mereka kompleks dan tidak mudah dimengerti, bahwa mereka putih juga hitam, bahwa mereka banyak wajah tetapi satu wujud. Tidak seperti para dewa yang khas dengan keilahiannya masing-masing, manusia sangat berbeda. Mereka tidak sempurna.


Itu adalah kisah tentang rasa cinta dan kepercayaan Sang Putri terhadap manusia. Sepanjang yang bisa kuingat, banyak kebaikan yang dilakukan Sang Putri untuk manusia. Dia bersama mereka dalam waktu susah dan senang. Tetapi seiring berjalannya waktu, para dewa menghendaki bahwa seluruh kuasa ilahi harus ada di tangan Allfather, Sang Pencipta Tunggal. Mereka menarik eksistensi mereka dan menyebarkan kebaikan Allfather. Dan hingga saat ini, kisah mengenai para dewa tak lebih dari sekedar mitos yang diceritakan mulut ke mulut secara turun temurun. Tidak banyak bukti nyata yang bisa mendukung kisah surgawi pada masa kejayaan dewa, karena para dewa sendiri menghendakinya lenyap. Sistem yang sekarang sering digunakan, sesosok Tuhan Yang Tunggal dan Maha Agung adalah hasil perbuatan para dewa supaya manusia menyembah Allfather di atas segala-galanya.”


“Dan Sang Putri juga berhenti?” si gadis bertanya.


“Ya. Sejauh ingatanku, itu adalah akhir dari semua kisah heroik dewa-dewa. Ketika Surga menetapkan bahwa tidak boleh ada lagi dewa-dewa yang membayangi nama Allfather, semua kisah mengenai para dewa berakhir. Itu tidak mudah dan butuh beberapa waktu untuk melenyapkan hampir seluruh bukti mengenai keberadaan dewa, bahkan sisa-sisanya pun masih ada hingga sekarang. Tetapi itulah akhirnya. Bahkan Sang Putri berhenti mencampuri urusan manusia di bumi secara langsung,” jawab si pria. Kemudian dia melirik si gadis sekilas. “Tapi kau percaya bahwa para dewa masih ada dan di atas segala-galanya berdiri seorang dewa yang paling agung, bukan?”


Gadis itu mengangguk pelan. “Itu yang bisa kupahami. Ketika buku-buku menyebut ‘utusan Surga’ aku tidak bisa berhenti membayangkan bahwa mereka adalah sosok ilahi yang melambangkan kekuatan tertentu, hampir seperti dewa. Tetapi mereka tetap utusan, pasti ada seseorang yang mereka layani,” dia menjawab. “Tapi aku tidak akan pernah memaksakan kepercayaanku kepada siapapun. Aku bahkan tidak akan menyinggungnya.”


Pria itu tersenyum tipis. Perjalanan mereka kini sudah mendekati hampir ke ujung cekungan. “Jadi, ketika kau sangat kuat, tetapi kau bukan dewa, mungkinkah kau masih seorang utusan Surga?” Faith bertanya beberapa saat kemudian.


“Kamu berbicara soal apa yang aku lakukan barusan?” pria itu balas bertanya. Si gadis mengangguk, yah, dia tidak mungkin juga berbohong pada pria ini, kan? “Jangan khawatir, hanya sebatas itu yang akan kulakukan. Aku tidak akan menakutimu lebih jauh.”


Faith terdiam lagi, lalu berkata, “Terima kasih. Kau tidak hanya bersedia mengantarku ke tempat yang aku ingin temukan, juga membantuku dalam banyak hal. Aku harap ketika kita berpisah oleh kematian, aku bisa mengingat kebaikanmu.”


Pria itu tidak menjawab, tetapi dia mendengarkan perkataan si gadis dengan baik-baik. Matanya mengisyaratkan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya tetap terkunci. Lambat laun, karena ia terbiasa mengunci mulutnya, isyarat bahwa ia ingin mengatakan sesuatu itu hilang dari matanya. Faith jelas tidak tahu isi hati si pria, tetapi dia pria yang bijak, jadi dia yakin dia melakukannya karena itu adalah hal yang tepat.


Ketika mereka tiba di ujung cekungan, sebuah kota yang besar menanti mereka di bawah bukit. Kota itu tampak sepi untuk sebuah ibukota, tetapi gedung-gedung pencakar langit menghiasinya di mana-mana, tidak seperti kota-kota sebelumnya. Namun, terlihat jelas bahwa banyak dari gedung pencakar langit itu sudah rusak atau runtuh.


“Kita hanya akan melintasi ibukota, kan?” ujar si gadis sambil menatap ke kejauhan.


“Iya.” Pria itu tiba-tiba memutar tubuhnya menghadap si gadis sepenuhnya. Si gadis melakukan hal yang sama. “Maaf aku tidak bisa menemanimu selama perjalanan di ibukota. Aku takut ada urusan mendesak yang harus aku lakukan.”


Oh, jadi pria ini akan meninggalkannya?


“Aku akan pergi untuk sementara waktu, tetapi aku tidak akan meninggalkanmu. Sebrangilah ibukota dan pergilah ke arah kota di daerah pesisir. Kamu pemberani, aku percaya padamu. Tapi aku punya beberapa syarat,” dia berhenti dan tampak mengambil nafas sebentar. “Apapun yang terjadi di sana, apapun yang kamu dengar, jangan menoleh ke belakang. Aku akan menemuimu dalam dua hari, dan hanya akan menemuimu dalam dua hari ketika hari menjelang malam. Jika kamu bertemu sesuatu yang menyerupai aku selama perjalanan, jangan ikuti dia. Jangan percaya pada hasutan keselamatan. Ini adalah syarat tambahan yang harus kamu ikuti, seperti halnya kamu mengikuti syarat untuk mencari tempat tinggi dan tidak keluar atau menyentuh tanah saat hari sudah gelap.”


Gadis itu mengangguk dan mengulang perkataan si pria di dalam kepalanya. Dia kini harus berjalan sendiri, dan dia harus menjalankan apa yang pria ini katakan. Dia tahu bahwa Tuan Arwah suatu hari akan mengambil jiwanya, tetapi dia memutuskan untuk mempercayai kata-katanya. Apakah petunjuk ini akan mengantarnya ke kematiannya atau ke keselamatan, si gadis tidak tahu. Meskipun begitu sekali lagi, dia memilih untuk percaya.


“Aku ingin kamu mencari perlindungan bersama manusia yang lain, supaya kamu mendapat kehangatan bersama mereka.” Si pria itu berkata dengan lembut. Tangannya kemudian meraih tangan kiri si gadis dan menggenggamnya erat selama beberapa saat sebelum melepaskannya lagi. “Pergilah.”


Faith pergi menuruni bukit dengan hati-hati, untuk pertama kalinya tanpa ditemani si pria dan payungnya. Dia menahan keinginannya untuk menoleh ke belakang dan memeriksa apakah pria berbalut merah itu sudah pergi atau belum. Dia harus menepati janjinya, hanya dengan cara itu mereka akan bertemu lagi dalam dua hari. Tetapi gadis itu selalu berani, dan dia yakin dia bisa melewati beberapa hari tanpa si pria.


Di belakangnya, si pria masih berdiri di ujung cekungan, memandangi sosok si gadis yang perlahan menjauh. Untuk beberapa saat dia tertegun dan menghela nafas sebelum menutup payungnya dan menjadikannya tempat bertumpu bagi kedua tangannya. Tatapannya yang tadinya mengarah ke bawah bukit karena memandang si gadis kini bergeser ke atas, tidak ke arah kota atau ke langit, hanya menatap jauh ke depannya. Wajahnya hampir tanpa emosi, namun seolah ada kilatan api di matanya.

__ADS_1


Dia kemudian berkata. Entah karena ia masih berada di dalam cekungan sehingga suaranya terdengar seperti efek gema, atau karena angin membawa suaranya, tetapi suaranya berat dan terdengar menggelegar. Jika petir sebelumnya terdengar seperti suara cambuk, suara si pria kali ini terdengar seperti gemuruh pertanda badai akan datang.


“Jadi, bilatung mana yang berani melawanku?”


__ADS_2