
“Jadi ada bencana lain yang turun selama malam hari?” Faith kembali bertanya.
“Selama matahari tidak menyinari bumi.” Pria itu berkata seolah meralat gadis di sebelahnya. “Hanya itu yang aku bisa katakan padamu. Selama kamu menjauh dari tanah dan kegelapan, kamu punya kesempatan untuk melindungi diri. Aku tidak mengatakan ini sebagai rahasia yang tidak boleh kamu bocorkan pada siapapun, tetapi ini adalah kebenaran yang logis. Kegelapan akan selalu membawa bencana dan kesesatan, dan kamu hanya akan berjalan lurus ketika ada cahaya yang menyinarimu. Itu saja cukup sebagai dasar pemikiran yang logis.”
Pria itu mengingat sesuatu ketika dia bicara soal kegelapan. Kegelapan adalah salah satu ancaman manusia ketika usia dunia masih muda, ketika iblis dan hantu berlomba-lomba turun ke dunia manusia. Berdasarkan cerita yang bisa ia ingat, kegelapan berhasil lolos dan mengkorupsi hati manusia, lalu terjadilah cikal bakal peperangan dan kebencian di antara manusia.
Namun aksi heroik Sang Putri Surgawi pada hari pertama ia turun dari Surga menjadi peristiwa penting yang menggemparkan dan menggembirakan. Semua penghuni Surga memuji keberanian, kemampuan serta kecerdasan Sang Putri. Meskipun dalam masa-masa tidurnya setelah ia kembali dari peperangan di Neraka, para dewa berdatangan secara bergiliran untuk memberikan berkat dan penyembuhan bagi Sang Putri. Berkat Sang Putri pula mereka berhasil memfokuskan diri untuk memperkokoh tembok barikade, tanpa terganggu oleh peperangan untuk sementara waktu karena barrier buatan Sang Putri berhasil menahan para iblis untuk mendekat dan menghancurkan tembok barikade. Di kemudian hari, tembok barikade dan lapisan barrier itu dinamai Barikade Cahaya. Nama ini diambil dari kilauan emas Sang Putri ketika ia membangun barrier.
Butuh 40 hari lamanya sebelum Sang Putri akhirnya bangun dari tidurnya. Dia bangun dengan energi yang telah pulih sepenuhnya, dan seolah merasa ketinggalan informasi, dia segera meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi setelah ia tertidur. Tetapi semuanya baik-baik saja, dan kedamaian serta kebahagiaan kembali ke Surga selama beberapa waktu. Berkat Sang Putri, kegelapan bisa ditahan lebih lama untuk sementara waktu.
Pada hari-hari ini, seluruh prajurit Tentara Surgawi melatih seni berperangnya, sebagai langkah untuk mempersiapkan diri di kemudian hari. Sebagai seorang yang disiplin, Sang Putri tidak menghabiskan waktunya untuk beristirahat, melainkan ikut berlatih bersama kedua pamannya. Berkat bimbingan takdir, dia mempunyai kesempatan untuk berlatih bersama prajurit Tentara Surgawi di bawah perintah Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan. Seluruhnya adalah pasukan yang terlatih dan kuat, dan bagi Sang Putri yang menyukai berbagai macam seni dan ilmu baru, dia sangat menikmati hari-hari latihannya.
Pada hari itu langit sedang bersinar cerah dan kemilau gaun emas Sang Putri hampir menyamai keelokan langit. Dia baru saja selesai bicara dengan pamannya, Dewa Perang dan Kebijaksanaan dan bermaksud kembali ke ruang studi sang paman, sebuah perpustakaan dan museum yang menyimpan buku mengenai ilmu dan siasat peperangan, ilmu kebijaksanaan, serta senjata berbagai bentuk dan fungsi. Dia sampai di sana ketika sekumpulan prajurit Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan tengah berdiskusi. Kedatangannya yang sunyi tidak disadari oleh para prajurit bersegel ungu tua yang tertera di pakaian mereka di bagian dada kanan, simbol dari pasukan milik Dewa Perang dan Kebijaksanaan.
“Kita harus sangat berterima kasih pada Allfather karena telah memberikan kita kesempatan untuk menang sekali ini atas Neraka. Meskipun demikian kita tidak boleh lengah. Serangan dari Neraka bisa datang kapan saja. Ingat, kita punya masalah lain ketika kita tahu bahwa iblis dengan level tinggi bisa menembus jembatan antara Surga dan Neraka.” Salah seorang prajurit berkata, entah yang mana karena Sang Putri mendengarkan dari balik rak putih tinggi.
“Apa menurut kalian langkah peperangan kita sia-sia? Perang ini tidak akan berhenti kecuali kita menemukan titik di mana kita bisa membinasakan iblis atau mengurung iblis di dalam Neraka, yang mana itu mustahil menurutku. Jika demikian, kegelapan akan terus menyerang kita dan manusia, dan kehancuran manusia akan menjadi hal yang tak terelakkan.” Suara kedua muncul dengan gelisah.
“Itu mengerikan,” kata suara ketiga.
“Tidak, kita tidak boleh kehilangan harapan.” Suara keempat muncul. “Kita harus percaya kepada Allfather dan Jenderal Dewa. Kita akan menemukan jalan keluar.”
“Aku percaya para dewa sedang memikirkan sesuatu untuk mengakhiri ini. Tapi itu tidak semata-mata menghilangkan kekhawatiranku,” suara kelima terdengar sedih.
“Jika kita ingin merasa tenang, rasanya kita harus menemukan sesuatu yang dapat kita percayai. Dengan kita berpegang teguh pada itu, sekalipun nasib buruk menimpa kita, jiwa kita akan bertahan.” Muncul suara keenam.
“Aku percaya pada kuasa Allfather dan bahwa suatu hari Allfather sendiri akan muncul untuk menghentikan kekacauan ini,” kata suara keempat.
“Oh, aku juga percaya itu!” sahut suara kedua.
“Wah itu bisa saja terjadi. Sepertinya aku akan mempercayainya,” kata suara ketiga. “Apa yang kau percaya?”
__ADS_1
“Aku percaya—“
“Putri Surgawi!”
Pada saat itu, Sang Putri sudah keluar dari balik rak tempatnya mencuri dengar percakapan keenam prajurit itu. Pada saat mereka melihat wujud Sang Putri, keenamnya bangkit berdiri. Mereka hendak menghormat seperti layaknya ketika bertemu Dewa Perang dan Kebijaksanaan, berdiri tegak dengan tatapan lurus. Tetapi mereka tidak bisa melakukannya. Bagaimana mereka bisa mengutarakannya? Sederhananya, Sang Putri terlalu elok dan mulia sehingga membuat mata mereka terpaku dan bibir mereka kelu.
Bukan rahasia bahwa Sang Putri dianugerahi paras yang rupawan dan di antara para dewa wanita yang sama-sama rupawan dan elok, dia masih menonjol. Namun tak seorang dewa pun pernah terpana padanya seperti cara para prajurit ini terpana. Menerima respon seperti ini, Sang Putri ikut terkejut. Namun dia menepis keterkejutan itu dengan cepat.
“Maafkan aku mencuri dengar pembicaraan kalian secara tidak hormat, tetapi pembicaraan kalian sangat menyentuhku. Kebenaran pada masing-masing perkataan kalian membuatku terpana. Maukah suatu hari nanti kalian duduk bersamaku untuk berdiskusi?”
Raut wajah mereka semua bergerak bagai riak air. Mereka terkejut, terpana, dan tidak percaya pada apa yang baru saja mereka dengar. Tetapi mereka menyetujuinya dengan cepat, menyatakan dengan rendah hati bahwa kebijaksanaan mereka tidaklah tinggi dan pengetahuan mereka tidak banyak, maka dari itu mereka bersedia mengikuti kemauan Sang Putri apabila Sang Putri berkenan untuk bicara dengan prajurit biasa seperti mereka.
“Tentu saja!” ujar Sang Putri. “Bagaimana aku bisa mengenali dan memanggil kalian?”
“Kami berada di bawah komando Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan. Putri Surgawi bisa mengenali kami melalui seseorang yang dipanggil Ren si Pemberani, bersama lima kawannya. Dengan demikian kami akan segera datang memenuhi panggilan Putri Surgawi,” pemilik suara pertama menjawab.
“Yang manakah dari antara kalian merupakan Ren si Pemberani?”
“Dengan rendah diri, wahai Putri Surgawi,” seorang prajurit membungkuk hingga setengah badan. Dia adalah pemilik suara keenam.
Itu adalah permulaan persahabatan Sang Putri dengan panghuni Surga selain para dewa. Pada suatu waktu di kemudian hari, mereka bertujuh sungguh-sungguh duduk di meja bundar dan saling bertukar pikiran. Pembicaraan mereka kadang ringan, kadang berat, namun gaya bicara mereka selalu lebih santai daripada ketika para dewa berdiskusi. Mereka saling melempar ide, bertukar gagasan dan menyimpulkan banyak hal.
Seiring berlalunya waktu, mereka menjadi sahabat baik. Kesetiaan di antara ketujuhnya erat dan kuat, dan selalu mereka bawa ke manapun mereka pergi. Tetapi dengan konflik yang belum hilang antara Surga dan Neraka, mereka harus menghadapi kegelapan bersama-sama.
Dua dari tujuh sahabat itu tewas pada salah satu pertempuran di Barikade Cahaya di hari yang sama. Pada waktu itu kegemparan muncul ketika barrier Sang Putri berhasil ditembus iblis berlevel tinggi dan mereka kini mengincar tembok utama. Pasukan Tentara Surgawi diterjunkan untuk menghadapi ancaman ini, termasuk keenam prajurit, sementara Sang Putri sendiri tidak diizinkan untuk terjun ke medan perang melainkan diharuskan membantu memperkokoh tembok utama. Dengan kemampuannya yang tinggi, para dewa berharap besar padanya bahwa ia dapat membuat tembok utama Barikade Cahaya menjadi lebih kokoh dan tidak dapat ditembus. Dia melakukan semampunya, dan untuk beberapa saat tembok itu bersinar sangat terang, seketika menghancurkan iblis yang terlalu dekat dengannya.
Pasukan Tentara Surga kembali dalam beberapa hari, beberapa terlihat lelah, beberapa terlihat jauh lebih tegar, sisanya campur aduk. Adalah Ren si Pemberani yang datang dengan wajah tertunduk menuju Balai Latihan di mana mereka dikumpulkan untuk dihitung dan diobati. Tangannya mengepal membawa sobekan kain putih bergaris ungu yang dulu merupakan bagian dari seragam kedua sahabatnya yang harus pergi. Dalam perjalanan, matanya menangkap sosok Sang Putri yang berdiri di sisi pintu masuk Balai Latihan. Langkahnya membawanya ke hadapan Sang Putri lalu berlutut dengan perih. Wajahnya yang dihiasi luka serta cipratan darah hitam menampilkan kesedihan.
“Mereka bertarung sampai akhir seperti seorang ksatria.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya sambil menyuguhkan kain di tangannya. Matanya menatap ke bawah, tidak berani menatap mata Sang Putri.
Jelas bahwa di mata Sang Putri terdapat kesedihan. Tetapi ia menghembuskan nafas panjang dan berkata, “Mengapa kau bersedih? Mereka pergi sebagai seorang pahlawan. Bergembiralah! Jiwa mereka akan disukai Surga dan kenangannya akan dicintai.” Dia mengangkat wajah Ren si Pemberani yang kini hanya dirundung duka, lalu menatapnya dengan kemilau di matanya. “Bangkitlah, ksatriaku.”
__ADS_1
Hampir seketika, duka di wajah Ren si Pemberani sirna dan diisi dengan harapan dan rasa takjub. Dia berdiri, dengan mata hitam berkilau yang menatap Sang Putri dengan penuh harapan. Tangannya bersatu dengan tangan Sang Putri, dengan kain sobek di antara tangan keduanya. “Kamu boleh berduka dan merasa kehilangan, mereka adalah sahabatmu. Tetapi aku memintamu untuk bangkit setelah semua itu berlalu. Jika badai menerpamu, berjongkoklah dan lindungi dirimu supaya tidak dibawa dirimu ke dalam kekacauan badai. Setelah badai reda, berdirilah dan jadilah orang yang lebih kuat daripada mereka yang belum pernah diterpa badai.”
Suara Sang Putri sungguh lembut adanya, dan gaya dia berbicara bagaikan aliran air lembut yang membawa siapa saja mengalir mengikutinya, tanpa paksaan dan tanpa menjadi pecah. Dengan halus, Ren si Pemberani dibawanya untuk bangkit dan berdiri lebih tegak daripada sebelumnya.
Untuk selanjutnya, persahabatan mereka berlima berlanjut hingga seterusnya. Mereka masih merindukan sahabat mereka yang telah pergi, namun mereka tahu bahwa kepergian keduanya bukanlah sesuatu yang harus diratapi, melainkan untuk dibanggakan. Sahabat mereka telah pergi sebagai pahlawan yang melawan kejahatan, dan jiwanya telah diterima oleh Surga. Kisah mereka selama hidup adalah kisah heroik dan dicintai orang-orang.
Ren si Pemberani menemukan kekuatan dalam dirinya yang sebelumnya tidak dia kenal. Dia tidak bisa menamai kekuatan ini, namun dia bisa merasakannya dengan jelas sejak saat itu. Dia menatap dengan lebih tajam, berkata dengan lebih lugas, dan berpikir dengan lebih bijak. Dia menjadi sosok yang lebih tangguh dan berdiri lebih tegak daripada sahabat-sahabatnya.
Ketika pertempuran lain pecah beberapa waktu kemudian, para prajurit kembali diterjunkan. Mereka kembali dalam jangka waktu singkat, tetapi mereka harus menghadapi iblis level tinggi yang berusaha melewati Jembatan Surga dan Neraka. Mereka yang berhasil lolos dibantai oleh prajurit Tentara Surgawi, tetapi mereka juga melukai para prajurit. Dalam insiden ini, seorang lagi dari lima bersahabat itu harus pergi. Tinggallah empat dari tujuh sahabat.
Ren si Pemberani kembali mempersembahkan kenang-kenangan akan sahabatnya kepada Sang Putri yang kemudian dia simpan sebagai koleksi pribadi. Keempatnya berduka untuk sahabatnya yang harus pergi, namun mereka bangkit kembali bersama dengan Sang Putri yang senantiasa mengajak mereka ‘berdiri setelah badai’. Perlahan tapi pasti, kemilau Sang Putri menjadi inspirasi bagi sahabat-sahabatnya, dan kesetiaan sahabatnya menjadi kekuatan bagi Sang Putri.
Tetapi segala sesuatu tidak terjadi dengan sederhana.
Sesuatu mengganjal pikiran Sang Putri dan dalam kekalutannya, dia menghadap Dewa Pemelihara dan Pelepas Marabahaya, seorang dewa wanita yang terhormat. Dewa itu duduk sendiri di dalam ruangannya yang diisi kolam air jernih bagaikan kristal. Kemudian, dengan sopan Sang Putri memohon untuk ditunjukkan ke mana jiwa sahabat-sahabatnya pergi.
Dewa Pemelihara dan Pelepas Marabahaya adalah seorang dewa yang bertanggung jawab untuk mengantarkan jiwa-jiwa ke kehidupan barunya. Jika mereka adalah jiwa yang bersih, maka ia akan memelihara jiwa itu dan memberikannya anugerah untuk dapat menjalani kehidupan yang senantiasa harmonis dan diliputi kebahagiaan. Jika mereka adalah jiwa yang kotor atau bersalah, maka ia akan memberikan hukuman kepada jiwa-jiwa tersebut dengan mengirim mereka ke kehidupan yang tidak berjalan mulus, menyulitkan, bahkan sengsara. Dia memiliki amarah, namun dia juga berbelas kasih tinggi, sehingga keputusannya yang bijaksana dihormati oleh para dewa dan dia dipercaya untuk mengirim jiwa-jiwa.
Sang Putri tahu betul bahwa dia meminta pada orang yang tepat. Meskipun begitu dia tidak berharap tinggi untuk mendapat jawaban, karena bagaimanapun apabila sang dewa tidak menghendakinya, maka dia tidak bisa melawan atau memaksa. Supaya dia tidak merasa marah dan kecewa, Sang Putri memohon izin terlebih dahulu dengan rendah hati dan menyatakan bahwa dirinya tidak terburu-buru untuk mendengar jawaban sang dewa.
Berkebalikan dengan apa yang ia pikirkan, Dewa Pemelihara dan Pelepas Marabahaya memberinya kesempatan selama 3 tetes air untuk mengamati jiwa sahabatnya. Ada sebuah patung putih berbentuk tangan seorang wanita yang ujung jari telunjuknya selalu meneteskan air ke dalam kolam. Tiga tetes air bukanlah waktu yang singkat, namun tentunya bukan waktu yang cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu seseorang, namun Sang Putri menyanggupinya dan berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada sang dewa. Jadi, sang dewa memintanya untuk menatap ke dalam kolam.
Gambar pertama adalah seorang ibu yang menyambut kepulangan anak laki-lakinya ke dalam gua tempat mereka tinggal. Sang anak membawa tubuh kelinci mati di tangannya. Meskipun keduanya terlihat kurus dan tidak sehat, mereka tersenyum tipis. Gambar kedua adalah dua orang pria yang tengah berebut seonggok daging yang tergeletak di atas batu. Mereka tampak tengah beradu mulut, lalu kemudian salah seorang pria memukul pria yang lainnya dan perkelahian terjadi. Gambar ketiga adalah seorang wanita yang menggendong bayi. Wanita itu menangis keras sambil memeluk bayinya. Dia berlutut di tanah dan baju dari jalinan serat kayu yang ia kenakan diwarnai lumpur yang menggenang di lututnya. Dari kejauhan, bayangan-bayangan besar tampak mengelilinginya.
Waktu 3 tetes air habis dan Sang Putri kembali dihadapkan dengan kolam sejernih kristal. Setelah melihat gambar-gambar tadi, kebingungan mewarnai wajah Sang Putri. “Apakah maksud semua itu?” tanyanya pada sang dewa.
“Ibu dan anak itu adalah mereka yang hidup sengsara namun berusaha bertahan hidup dan menjalaninya dengan bekerja keras. Kedua pria itu adalah prajurit dari sebuah kelompok yang hidup di hutan, mereka berasal dari suku dan bahasa yang sama. Wanita itu adalah anak kepala suku yang diperkosa dan bayinya baru saja meninggal.” Dewa Pemelihara dan Pelepas Marabahaya berkata dengan lantang namun halus.
“Siapa saja bisa terlahir dengan sejuta anugerah dari dewa, bahkan disayangi dan berlimpah keberuntungan. Ada pula mereka yang lahir dengan hutang yang tidak bisa mereka lunasi sampai beberapa kehidupan, menderita dan selalu dirundung duka. Tetapi manusia tetaplah manusia yang berkuasa atas dirinya sendiri. Mereka yang pada akhirnya menentukan jalan hidupnya sendiri. Manusia tidaklah hanya diwarnai oleh satu warna, melainkan berbagai macam warna yang bisa bersatu menjadi warna baru, saling melengkapi dan menghiasi, bisa memberikan corak, bisa juga saling menghilangkan. Mereka tidaklah sederhana.”
Langit Surga saat itu tetap bersinar emas seperti biasanya, memberikan pancaran kehangatan bagi seluruh penghuninya. Langit Surga selalu menginspirasi para penghuninya untuk menatap cahaya dan hidup mengikuti jalan cahaya. Langit Surga adalah keindahan yang memberikan energi kehidupan yang senantiasa diperbaharui oleh kelembutan cahaya. Cahayanya tidak menyilaukan mata atau mengandung amarah. Cahayanya juga tidak pernah terlalu redup. Cahaya dari langit Surga senantiasa memberikan keadilan bagi siapapun yang melihatnya. Itu adalah langit Surga yang agung.
__ADS_1
Tetapi langit yang sama tidak menyinari Bumi. Cahaya yang sama tidak bisa dilihat oleh manusia.
Untuk pertama kalinya, Sang Putri Surgawi melihat kegelapan.