The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Extra Chapter: Trust pt.1


__ADS_3

Neraka tidak hanya selalu gelap, namun juga diisi suara-suara yang kadang tidak bisa dimengerti atau ditebak. Selalu ada misteri di balik suara-suara di Neraka. Sesuatu bisa terdengar seperti tangisan, namun itu sebenarnya suara tawa. Sesuatu bisa terdengar tertawa, namun itu sebenarnya jeritan. Tidak ada yang bisa menebak dengan pasti apa yang terjadi di Neraka hanya melalui suaranya.


Tapi pada waktu-waktu tertentu, akan ada keheningan yang mengerikan menyelimuti dataran Neraka. Keheningan tiada akhir yang membuat semua suara lain menjadi lebih menonjol. Suara kain berkelebat ditiup angin, suara nafas, suara aliran darah, bahkan suara helaian rambut bergesekan satu sama lain dapat terdengar dengan jelas di atas semuanya. Ini adalah suara yang pada waktu itu menyelimuti Neraka ketika Sang Roh Merah sedang turun ke daratan Neraka.


Tangan kanannya diwarnai cairan hitam legam, dan dari ujung-ujung jemarinya yang lentik menetes cairan hitam kental yang sama. Dia mengangkat tangannya, lalu mengibaskannya dengan anggun, membuang cairan hitam itu dari tangannya. Cairan hitam itu agak kental, jadi dia beberapa kali mengibaskan tangan kanannya. Karena gerakannya anggun, tubuhnya tetap berdiri tegak dengan tangan kiri memegang payung merahnya tanpa goyah. Tidak tahu teknik apa yang dia gunakan, tetapi cairan hitam itu benar-benar bisa menghilang dari tangannya, menyisakan jemari pucatnya yang bersih, dan mantel merahnya yang senantiasa tak ternoda.


Dia mulai berjalan sambil mengangkat wajahnya, melangkah dengan tegap di antara mayat dan bangkai yang sudah tidak dikenali lagi wujudnya. Tetapi dia tidak pernah menginjak satupun mayat atau bangkai, kotoran, genangan darah, atau batu. Langkah yang ia ambil tidak main-main, membuat tubuhnya bergoyang dengan elok namun gagah. Ujung rambut panjangnya bergerak pelan di punggungnya, terurai bebas dan berkilau. Bukan hanya memang rambutnya selalu tampak berkilau seperti perak, tetapi saat itu rambut yang sekelam malam itu memantulkan cahaya keemasan dari Barikade Cahaya di belakangnya. Semakin ia berjalan menjauh, semakin pudar kilauan emas itu.


Dia berjalan agak lama dan hanya berhenti ketika dia tidak lagi menemui tumpukan mayat dan bangkai. Baru ketika itu dia berhenti dan menoleh ke belakang. Matanya menatap Barikade Cahaya yang menjulang kokoh tiada ujung ke langit Neraka, seolah mengaguminya.


"Apa kau sedang bosan?" Terdengar sebuah suara.


Sang Roh Merah mendesah pelan. "Aku tidak," jawabnya.


"Kalau begitu beristirahatlah," suara itu kembali muncul.


Sang Roh Merah terdiam sejenak. "Bilatung-bilatung ini tidak akan pernah tidak menghiburku, bagaimana bisa aku merasa bosan?" Dia kemudian berbalik dan meninggalkan tempat itu.


"Kau bisa bosan," kata suara itu lagi. Tetapi suara itu kemudian berhenti dan tidak lagi muncul selama beberapa waktu.


Sang Roh Merah juga diam sepanjang perjalanan, jadi keheningan sekali lagi menyelimuti Neraka pada saat itu. Setelah beberapa lama berjalan, kakinya yang sejak tadi selalu berjalan dengan langkah tegap dan pasti kini tiba-tiba berhenti. Matanya tetap menatap lurus ke hadapannya. Samar-samar, senyum tipis menghiasi wajahnya. Senyumnya tidak jahat atau sinis, senyumnya lembut namun misterius.


Dia sendiri yang bilang sebelumnya bahwa dia tidak akan bosan. Tetapi suara yang sejak tadi berbicara padanya bilang bahwa ia bisa bosan, meskipun tidak melanjutkan atau menjelaskan lagi perkataan itu. Dan sekarang Sang Roh Merah mempertimbangkan kembali perkataannya sendiri. Bukan karena suara sebelumnya yang membantahnya, tetapi karena dia, Sang Roh Merah sendiri, menyadari bahwa ingatan sedikit terbatas.


Bagaimana dia bisa lupa?


Untuknya yang menghabiskan ratusan ribu tahun untuk menunggu, tentu saja dia bisa bosan. Bahkan, dia bosan luar biasa. Dia ingat sekarang bahwa ketika dia bosan, dia akan menjadi marah, dan ketika dia marah, dia akan membinasakan segala sesuatu yang ada di hadapannya, hampir tanpa alasan. Dia beruntung karena iblis dan hantu di Neraka sangat melimpah jumlahnya, jadi dia bisa melampiaskan rasa bosannya kapan saja. Yah, dia juga mengakui bahwa dia akan melampiaskannya pada segala sesuatu termasuk penghuni Surga atau Barikade Cahaya. Masalahnya adalah dia begitu sering merasa bosan dan marah, lalu membinasakan banyak hal, jadi dia sudah sangat terbiasa dengan itu. Tapi ketika dikatakan bahwa dia membinasakan segala sesuatu 'hampir' tanpa alasan, maka itu sesungguhnya adalah benar. Dia tidak sepenuhnya tanpa alasan.


Dia tahu bahwa meskipun dia tinggal di Neraka, dia sungguh membenci Neraka dan isinya. Makanya dia melakukan banyak kekacauan di Neraka. Tetapi dia juga tidak berhubungan baik dengan Surga, sehingga setiap kali bertemu dengan penghuni Surga, dia hanya akan mencibir dan ingin menindas mereka. Tapi itu tidak semata-mata dia lakukan karena ia tidak berperasaan. Dia punya alasannya.

__ADS_1


Tapi bagaimana dia bisa lupa?


Ah, itu dia. Dia memang terlihat angkuh dari penampilan dan gaya bicaranya, tapi dia tidak keberatan mengakui jika dia salah. Dia sudah bilang sebelumnya bahwa dia sudah sangat tua, dan meskipun dia mengingat segala sesuatu, akan lebih mudah jika ada pemicu yang bisa membuatnya mengingat lebih baik. Sekarang, ketika pemicu itu muncul, barulah dia ingat.


Seseorang sudah mempercayakan hal besar kepadanya, dan dia tidak akan pernah menghianati kepercayaan itu. Dia memegang kepercayaan itu terus menerus dengan teguh, sampai-sampai itu menjadi bagian dari dirinya sendiri. Itulah kenapa dia hampir lupa, dan dia hanya bisa menertawakan kebodohannya sendiri.


Seseorang telah menginginkannya untuk membinasakan iblis dan hantu di Neraka sebisa mungkin, maka jadilah dia sosok yang membenci makhluk-makhluk itu. Seseorang telah memintanya untuk mengikuti kehendak hatinya, maka jadilah dia demikian. Seseorang telah memberinya tugas yang besar, maka dilakukannyalah hal itu. Di atas semua itu, seseorang telah mempercayainya. Maka terjadilah demikian. Selama hidupnya, dia memegang kepercayaan itu.


Jadi ketika Sang Roh Merah melihat kembali sosok yang bersinar keemasan lembut itu di hadapannya, dia hanya tersenyum. Dia tidak bisa memalingkan matanya dari sosok sang dewa. Sang dewa yang bangkit dari kejatuhannya. Sang dewa yang terlahir kembali putih bersih. Sang dewa yang merebut tahtanya. Dan sebagai seorang hamba yang rendah diri di hadapan sang dewa, Sang Roh Merah akan berlutut di hadapannya.


Sosok sang dewa itu berjalan mendekat dengan langkah anggun namun tegas. Dia berhenti sejenak ketika tatapan mereka bertemu, lalu melanjutkan berjalan sambil menutupi ujung hidung dan mulutnya dengan lengan gaunnya yang panjang. Dia berhenti ketika tiba di dalam naungan payung Sang Roh Merah.


"Putri Dewa." Nama itu mengalir dari mulut Sang Roh Merah dengan lembut. Matanya tidak pernah sekalipun meniggalkan sosok yang kini berhadapan dengannya.


Sang Putri Dewa menurunkan tangannya lalu berbicara, "Aku datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih."


"Aku memiliki tanggung jawab membantu sesama dewa untuk mengokohkan Barikade Cahaya. Sudah sangat normal bagiku untuk terus menerus mengawasi Neraka selama itu. Aku melihat perbuatanmu," Putri Dewa berkata. "Apapun maksud atau latar belakang perbuatanmu, aku tidak tahu. Tetapi membunuh satu legiun tentara iblis adalah hal yang besar, bahkan bagi kami penghuni Surga. Meskipun tidak seorang dewa pun akan menganggap perbuatanmu mulia, aku secara pribadi menyampaikan rasa terima kasih kepadamu."


Sang Roh Merah terdiam sejenak, masih dengan senyum kekaguman menghiasi wajahnya. "Bagaimana kamu melihatku? Aku pikir sudah jelas di antara kita bahwa Surga tidak bisa melihat menembus Selubung Butaku."


"Aku tidak melihatmu, aku melihat perbuatanmu." Putri Dewa berputar dan mulai berjalan perlahan. Seolah mengetahui bahwa Putri Dewa akan melangkah, Roh Merah menggerakkan kakinya dan tangannya mengikuti arah Putri Dewa. Dia menjaga agar keduanya tetap berada di dalam naungan payung. "Bukannya aneh ada satu legiun tentara iblis yang tiba-tiba berhenti bergerak? Terlebih, mereka sedang dalam perjalanan menuju Barikade Cahaya. Ketika aku melihatnya lebih dekat, aku sadar bahwa aku harus turun sendiri untuk melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Sang Putri Dewa berhenti sejenak. "Meskipun, aku yakin itu pasti perbuatanmu."


"Hmm..." gumaman rendah keluar dari mulut Roh Merah, menunjukkan kekagumannya. "Sungguh mulia kuasa para dewa, bisa melihat ke seluruh dunia."


Tetapi, Putri Dewa tahu bahwa nada mencemooh muncul di sela-sela pujian itu. Jadi dia hanya tersenyum sambil berkata, "Dan betapa berkuasanya dirimu sehingga Surga tidak bisa mengawasimu."


Ini mengundang senyum kekaguman lebih dalam bagi Roh Merah. "Aku ingin berbicara tentangmu," katanya. Mereka berhenti sejenak, saling bertatapan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka selama beberapa saat.


Kemudian Sang Putri Dewa berkata, "Aku ingin berbicara tentangmu. Mengapa, ketika kau selalu berulah di Neraka sambil mencemooh Surga, kau tidak pernah menyentuh Bumi?"

__ADS_1


Ini adalah pertanyaan yang bisa dia jawab dengan mudah. "Sejak dulu kala, seseorang yang aku cintai tinggal di Bumi. Tetapi karena aku tahu dia ditakdirkan untuk sesuatu yang besar, aku tidak ingin mengecewakannya. Jadi semua yang aku inginkan adalah memastikan dia menjalani kehidupannya di Bumi dengan baik. Tidak masalah dengan apa yang aku lakukan untuknya, selama dia bisa menjalani kehidupannya dan banyak belajar dari sana, itu adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Sekarang, aku tahu bahwa dia sangat mencintai manusianya di Bumi, jadi aku tidak akan melukai apa yang dia cintai. Itulah kenapa aku tidak pernah menyentuh Bumi."


Jawaban Sang Roh Merah melantun bagai lagu. Jawabannya intens, tetapi jika mengetahui bahwa selama ia bicara matanya tidak pernah meniggalkan mata lawan bicaranya, maka sesungguhnya tidak ada kata-kata yang tepat menggambarkan situasi pada saat itu.


Dan apapun tujuannya melakukan itu, tampaknya dia berhasil. Sang Putri Dewa kembali mengangkat tangannya dan menutup mulutnya. Ujung matanya berkedut dan kepalanya sedikit menunduk. "Aku kira aku sudah bilang aku ingin membicarakan tentangmu."


"Dan aku ingin membicarakan tentangmu," balas Sang Roh Merah. Matanya menatap dengan berani.


Putri Dewa memejamkan matanya sambil mengkerutkan kening. Dia kembali berjalan setelahnya, kali ini tangannya berada di lengan atas Sang Roh Merah, seolah menariknya supaya mengikutinya. Tapi hanya Sang Roh Merah yang tahu pasti bahwa Sang Putri Dewa tidak menariknya sama sekali. Keduanya langsung berjalan bersamaan dengan langkah seragam. Senyum lebar menghiasi wajah Roh Merah.


Sang Roh Merah tahu sejak awal bahwa Sang Putri Dewa adalah sosok yang bijaksana dan penyayang. Dia akan menuntun siapapun melakukan sesuatu dari nol hingga ia menjadi mahir, hanya saat itu ia akan meninggalkan mereka. Dia tidak ragu untuk menegur, memberi hukuman atau ujian, tetapi dia juga tidak ragu untuk memuji atau memberikan apresiasi dengan sentuhan kasih sayang. Dia sangat terbiasa dengan cara seperti ini, namun dia juga bisa merasakan malu ketika seseorang memuji atau mengapresiasinya secara personal. Itu hanya karena dia terbiasa bersikap formal, menjunjung martabatnya sebagai seorang dewa. Menerima apresiasi secara personal adalah hal yang masih membuatnya kikuk.


"Sebenarnya, aku juga ingin bicara denganmu. Lebih tepatya mungkin aku ingin meminta bantuanmu." Setelah beberapa lama berjalan sambil terdiam, Sang Putri Dewa akhirnya bicara. "Maukah kau mendengarkanku?"


"Apapun yang kamu mau."


"Aku bertanya tadi kenapa kau tidak pernah menyentuh Bumi, sebenarnya itu bukan kebetulan. Selama menjadi dewa, aku sudah melakukan apa yang ditugaskan kepadaku, dan aku berusaha untuk menyuarakan ideku supaya menjadi bahan pertimbangan di Surga. Tetapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyuarakan ideku, jadi aku selalu membicarakannya dengan satu atau dua dewa untuk berdiskusi sebelum aku membawanya ke forum yang lebih luas." Sang dewa perempuan memulai.


"Dengan nyatanya ancaman dari iblis dan hantu Neraka, aku berharap aku bisa memastikan manusia hidup dengan kebebasan dari ancaman itu. Benar bahwa mereka punya keyakinan dan mereka bisa melawan kekuatan kegelapan dengan kekuatan itu, tapi aku yakin seorang dewa punya kuasa untuk menyelamatkan manusianya."


"Jika aku bisa, aku ingin bertemu dengan mereka yang harus berperang melawan kegelapan secara langsung, aku ingin merengkuh mereka dan membawa mereka ke cahaya dengan tanganku sendiri. Tentu saja tidak semua orang layak, maka dari itu aku ingin mengamati mereka diam-diam dari dekat secara terus menerus. Jika mereka mau menerima kembali cahaya dan menebus kesalahannya, tentu saja aku akan memaafkannya. Jika mereka ternyata arogan, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan mereka ke dalam kuasa para dewa lainnya."


Untuk sesaat Roh Merah terdiam dengan wajah kaku. Kemudian dia bertanya, "Dan apa pendapat para dewa yang lainnya?"


Sang Putri Dewa terdengar menghembuskan nafas pelan-pelan. "Aturan Surga mengikat dan mutlak; tidak boleh ada dewa yang turun ke Bumi untuk tujuan apapun. Aku mencari tahu lagi, dan semua aturan memiliki satu pengecualian yang sama, yaitu aturan apapun akan dibatalkan apabila Allfather berkehendak lain. Tapi ini seolah sangat luar biasa, Allfather memberi kuasa kepada Surga untuk menetapkan aturannya, dan selama ini Allfather tidak pernah turun tangan langsung untuk keperluan seperti pemberian hukuman atau penetapan aturan." Sang Putri Dewa berhenti sebentar. "Aku pikir aku akan berusaha meyakinkan para dewa lagi, tapi aku sedang berpikir bagaimana caranya. Aku tidak bisa berbicara dengan Allfather, jadi bagaimanapun aku akan mencoret pilihan itu."


"Dan apa yang kamu ingin aku lakukan?"


"Jika..." Putri Dewa berhenti sejenak, memilih kata-kata di kepalanya. "Hal terburuk apa yang bisa terjadi jika aku melawan hukum Surga?"

__ADS_1


__ADS_2