
Baru ketika mereka mencapai kota terdekat yang bagaikan kota mati, Faith berkata padanya, “Boleh aku mampir dulu ke toko itu? Aku haus.”
Si pria menatap arah yang ditunjuk gadis di sampingnya. Dia menunjuk toko waralaba yang di penuhi abu vulkanik halus. Tidak ada orang di sepanjang jalan mereka ke sini, dan bisa dipastikan tidak ada orang juga di dalam toko itu. Dia mengubah arah kakinya ke toko tersebut, dengan sabar mengikuti langkah si gadis.
“Apa kau makan?” gadis itu bertanya ketika mereka sudah masuk ke dalam toko. Matanya berputar di sekitar rak-rak yang memajang makanan ringan.
Pria itu menolak dengan halus. “Tidak, terima kasih,” kata si pria.
Faith itu mengambil beberapa bungkus makanan ringan dan roti dan memasukkannya ke dalam selimut lusuhnya yang dia gunakan seperti kantung. Dia juga mengambil dua botol air minum, katanya, “Aku tidak tahu apa kau harus bertahan hidup seperti manusia yang perlu makan dan minum. Tetapi aku membawa dua botol minuman, untuk berjaga-jaga jika kau perlu minum.”
“Oh, terima kasih.” Pria itu terus mengikuti si gadis sambil membawa payung di tangannya yang kini tertutup. Dia tidak mengambil atau menyentuh apapun, yang mana akan aneh jika dia adalah manusia. Tetapi kemudian Faith tidak lupa bahwa pria misterius ini bukan manusia, jadi mungkin saja dia punya pantangan tertentu di dunia manusia, atau mungkin sama sekali tidak tertarik dengan rutinitas manusia yang membosankan. Meskipun demikian, gadis ini tidak melupakan keberadaan si pria, dan dia tetap berusaha menjadi teman yang baik bagi kawan seperjalanannya ini.
Mereka keluar dari toko itu tidak lama kemudian, hanya dengan barang-barang yang di bawa di ‘tas dari selimutnya’. Faith tidak perlu mengambil banyak barang, toh ia tidak membutuhkannya. Ia hanya perlu mengambil apa yang ia butuhkan. Apakah dia termasuk mencuri? Dia berpikir dalam hatinya. Ya, dia jelas mengambil barang tanpa seizin pemiliknya, dan dia tidak membayar sama sekali. Seandainya toko ini masih buka, dia akan dihakimi habis-habisan. Tetapi pada saat ini, tidak ada seorangpun di sini, mungkin di seluruh kota juga tidak ada. Tidak ada yang memarahinya atau menegurnya, seharusnya dia merasa tenang. Namun dia masih tidak yakin apakah yang dia lakukan saat ini adalah salah atau tidak. Dia hanya bisa beralasan bahwa kondisi yang sedang ia lalui sangat sulit, dan dia tidak punya pilihan kecuali mengambil dari toko ini tanpa izin. Jika ada kesempatan, jika ia masih hidup, ia akan menggantinya suatu hari nanti.
Si pria berbalut merah membuka payungnya kembali, menunggu si gadis mengikuti langkahnya lagi. Hari sudah gelap sejak tadi, mungkin karena abu gunung berapi yang menghalangi sinar matahari. Namun saat ini rasanya hari sudah semakin gelap. Meskipun demikian bahkan Faith tidak bisa menyatakan dengan pasti pukul berapa sekarang.
Beberapa saat mereka berjalan, si pria kembali membuka mulutnya. “Kamu butuh istirahat. Kita tidak bisa terus berjalan sepanjang waktu.”
Merasa setuju, Faith mengangguk dan memutar pandangannya sebelum bertanya, “Di mana kita akan beristirahat?”
“Kita mencari tempat yang agak tinggi,” jawab si pria.
Dataran tinggi? Faith bertanya dalam hati. Tetapi ia diam saja selama beberapa menit, berpikir di dalam kepalanya. “Maksudmu seperti apartemen bertingkat?”
“Ya.” Pria itu mengangguk pelan. Mereka kembali diam menyusuri kota mati itu. Pada suatu titik di bagian agak tengah kota, pria itu menunjuk bangunan 3 tingkat berwarna merah bata di perempatan jalan. Mereka menuju ke sana.
Bangunan itu adalah sebuah ruko, dengan toko barang elektronik usang di lantai utama dan kamar-kamar di dua lantai atasnya. Saat mereka tiba di sana, bangunannya sudah kosong sama sekali, ditinggalkan semua penghuninya. Hanya ada ruangan-ruangan sunyi dan mencekam. Mereka masuk ke salah satu kamar di lantai 3 dan Faith segera mencari tempat duduk. Dia meluruskan kakinya di lantai, punggungnya menyandar ke punggung sofa pendek. Dia merasa lega.
“Kamu merasa nyaman?” tanya pria itu sambil tersenyum dan mendudukkan dirinya di sofa di sebelah tempat si gadis duduk. Dia meletakkan payung merahnya di dekat pintu masuk.
“Sudah lama aku tidak duduk di sofa empuk,” gumam Faith sambil menutup matanya. Otot-ototnya yang tegang sedari tadi mulai ia lemaskan. Ia mungkin harus mencari kasur untuk beristirahat lebih baik. Dia berdoa semoga menemukan kasur empuk di kamar tidur nanti.
Pria itu menatap si gadis yang tampak larut dalam kenyamanan sofa. Sofa itu tidak begitu bagus dan tampaknya sudah agak berumur, namun melihat reaksi si gadis ketika tubuhnya menyentuh sofa, dia tidak berkomentar. Mata pria itu berkilat lembut dan dia bertanya, “Kamu berhasil selamat dari pembantaian hari ini. Apakah kamu pikir para dewa menyayangimu atau membencimu?”
Faith membuka matanya. Ada tatapan yang panjang dalam matanya. “Dewa mungkin menyayangiku, tetapi yang jelas mereka juga mungkin marah padaku,” jawabnya kemudian. “Aku tidak selamat karena dewa menyayangiku dan menghindarkanku dari bencana. Aku selamat karena aku sedang beruntung, tapi aku tidak selamanya beruntung. Aku diculik.”
Gadis itu berhenti dan menatap ke langit-langit. Tatapan si pria tidak meninggalkannya. “Aku diculik mungkin ada sebulan yang lalu oleh seorang pria cungkring tapi kuat. Dia mengurungku di basement rumahnya yang dibangun di perumahan kecil di dekat hutan. Ketika gempa terjadi, aku ada di bawah tanah terkurung oleh reruntuhan. Basement pria itu bagus, pondasinya tidak meruntuhkan seluruh bagian basement. Aku menghabiskan waktu lama menggali puing-puing supaya aku bisa keluar, dan ketika aku keluar, semua orang sudah mati dan gunung berapi sedang meletus. Aku tidak tahu harus senang atau tidak…” dia berhenti.
Keheningan selama beberapa detik menyelimuti si gadis sambil ia menatap langit-langit. “Mungkin dewa sedang berbaik hati padaku.”
Pria itu bergumam lembut. “Hmm, jadi mungkin benar jika para dewa tidak benar-benar hitam atau benar-benar putih.”
__ADS_1
“Ya.” Faith kembali berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia tidak pernah mengutuk para dewa. Dia mengeluh sekali-kali, yah, mungkin sering, tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa dewa membencinya sehingga memberinya berbagai cobaan yang melelahkan. Entah siapa yang mengajarinya, atau dari mana dia belajar, dia selalu punya keyakinan bahwa alam semesta bekerja dengan misterius dan berkesinambungan; segala sesuatu terjadi dengan maksud tertentu. Mungkin ada sesuatu yang harus ia pelajari, mungkin ada hutang yang harus dia bayar, mungkin ada sesuatu yang harus dia lakukan, yang jelas kesengsaraan yang dia terima tidak semata-mata terjadi karena dewa membencinya.
“Meskipun begitu aku tidak begitu tahu apa yang terjadi dan membuat orang-orang mati mendadak. Tapi yah, ini Hari Penghakiman. Sudah bukan hal yang aneh ketika orang-orang membicarakan soal Hari Penghakiman, seolah itu adalah hal yang sudah pasti akan terjadi dan menjadi teror besar bagi umat manusia. Aku masih terpesona sampai sekarang ketika keluar dari basement dan mendapati semua orang mati karena gempa dan gunung meletus, maksudku, ketika ternyata Hari Penghakiman benar-benar terjadi, aku masih menduga misteri apa yang disembunyikannya dan seberapa dasyatnya ia berdampak pada bumi. Apakah semua orang benar-benar mati karena gempa dan gunung meletus?” Faith menyuarakan pikirannya.
Pria itu berh ‘ah’ria seolah menyetujui sesuatu. “Benar, Hari Penghakiman benar-benar terjadi dan manusia mempertanyakan kelayakkannya sendiri. Apakah mereka layak diselamatkan atau tidak? Apakah mereka semua mati begitu saja? Apakah mereka tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri? Tetapi itu bukan hal yang benar. Nyatanya, mereka bisa menyelamatkan diri sendiri seandainya mereka memiliki kemampuan menyelematkan diri, atau beruntung sepertimu, atau mereka cukup disayangi oleh dewa. Kamu mungkin tidak tahu ini karena kamu terkurung, tetapi ketika gempa terjadi dan retakan muncul di tanah, gas beracun keluar dari dalam bumi, membinasakan orang-orang yang tidak sengaja menciumnya. Ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat, secepat jentikkan jari, gas itu muncul dan menghilang seketika. Mereka yang malang tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Mungkin mereka sedang berada di dekat retakan, dan mereka langsung mati sekejap. Apakah kamu melihat retakan tanah di sekitar tempatmu berada?”
“Oh ya, benar juga. Aku melihat retakan tak jauh dari rumah si penculik, mungkin karena itu semua orang di situ mati. Apakah itu berarti masih ada orang yang selamat di tempat lain?”
“Masih banyak,” jawab si pria lantang. Tatapannya menatap ke luar jendela. “Ingat saja, Hari Penghakiman berlangsung selama sebelas hari dan sekarang baru hari pertama. Masih banyak waktu dan masih terlalu banyak manusia yang hidup dengan dosanya.” Pria itu menyelesaikan kalimatnya dan berjalan ke jendela. Dia menutup jendela kaca dan tirainya dengan gerakan halus tanpa menimbulkan suara. “Aku harus pergi untuk sementara waktu. Maukah kamu menungguku di sini hingga aku kembali?”
Faith mengerenyit sedikit. “Memangnya aku bisa pergi ke sana sendiri? Tempat yang tidak terjamah amarah dewa itu.”
Pria itu tersenyum lagi. Entah mengapa setiap kali ia tersenyum, senyumannya terlihat menawan, tetapi secara konstan memancarkan aura misterius. “Kalau begitu tolong beristirahatlah dengan nyenyak malam ini dan jangan khawatirkan apa-apa. Carilah makanan di ruangan ini dan buatlah dirimu nyaman karena kamu perlu istirahat. Berjanjilah untuk menungguku kembali, bisa kamu lakukan itu? Aku telah berjanji akan mengantarmu ke manapun kamu mau, jadi aku tidak akan meninggalkanmu, dan pasti akan kembali.”
Gadis itu mengangguk, bukannya ia memang tidak punya pilihan lain? “Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau kembali.”
“Terima kasih,” pria itu menjawab dengan sopan dan berjalan untuk mengambil payungnya. “Oh ya, bisakah kamu berjanji padaku satu hal lagi? Tolong jangan keluar dari gedung ini atau menyentuh tanah sedikitpun. Malam ini akan sangat gelap, dan kegelapan itu berbahaya. Bisa kamu lakukan itu?”
“Eum, ya baiklah jika itu membuatmu tenang,” Faith menjawab dengan pengertian, tanpa keberatan.
“Terima kasih. Tolong berhati-hatilah. Sampai bertemu lagi.”
Begitu laki-laki itu mengucapkan salam perpisahannya, Faith tinggal sendirian di dalam ruangan apartemen asing. Pintu kamarnya ditutup oleh si pria dan jendelanya beserta tirainya juga ditutup, seolah pria itu mencegahnya berhubungan dengan dunia di luar apartemen, atau malah melarangnya. Tetapi pesan pria itu menggaung di kepalanya dan dia memutuskan untuk mengikuti instruksinya. Dia mencari makanan di dapur, namun ia mendapati semua peralatan listrik dan gas masti. Dia bisa mengkonsumsi makanan kaleng tanpa perlu di hangatkan, dan dia pikir dia bisa bertahan selama satu atau beberapa hari dengan makanan kaleng yang sekarang ada di depannya. Dia mulai memikirkan bagaimana caranya membawa makanan dan perbekalan lainnya. Mungkin dia harus meminjam tas atau semacamnya dari rumah ini?
Di tengah keheningan yang mulai memekakkan telinga, dia mendengar suara berderu dari sekitarnya, disusul bunyi besi yang dibengkokkan secara paksa. Selama beberapa menit mengamati suara-suara itu, dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya dan bangkit dari kasur, lalu mengintip ke jendela dengan hati-hati.
Di apartemen yang ia tempati, sebuah mobil bak terparkir di depannya dengan tiga orang berkeliaran di sekitar mobil. Mereka tampak mengangkut barang-barang dari dalam toko dan memuatnya di bak mobil. Mereka semua mengenakan jaket bertudung, topi, dan menutup mulut hingga hidungnya. Mereka tengah menjarah toko di lantai satu.
“Apa yang kalian lakukan?” gadis itu menyembulkan kepalanya dan bertanya dengan hati-hati, tidak terdengar marah.
Ketiga pria terkejut mendengar suara si gadis dan mencari sumber suara sebelum akhirnya mendongak dan menemukan Faith. “Apakah ini tokomu?” seorang pria bertanya sambil berteriak.
Gadis itu menggeleng kuat. “Bukan.”
“Kau harus ikut dengan kami, hei perempuan. Tempat ini tidak aman lagi, kita harus pergi ke ibukota, di sana ada orang-orang yang selamat dan ada bantuan dari petugas pemerintah dan dinas sosial. Kau beruntung bisa selamat, tidak ada lagi yang tersisa dari kota ini. Kami hanya mengumpulkan barang-barang yang kemungkinan berguna untuk bertahan hidup.” salah satu pria berkata.
Barang elektronik dan rongsokan untuk bertahan hidup? Mungkin mereka teknisi dan bermaksud membangun peralatan bertahan hidup. Siapa tahu. Bisa jadi mereka berbohong. Yang jelas, dengan dua sisi terpatri di hatinya, gadis itu menjawab ketiga pria dengan hati-hati, “Aku tidak bisa. Aku menunggu temanku.”
“Di mana temanmu? Apa kalian bisa melarikan diri?”
“Dia akan kembali nanti.”
__ADS_1
“Apakah kau yakin kalian akan selamat? Kami akan segera meninggalkan kota ini dan kau akan kehilangan tumpangan ke ibukota.”
Faith mengangguk. “Iya, aku baik-baik saja.”
“Baiklah.” Demikian perbincangan mereka berakhir. Setelah memuat beberapa barang lainnya, mobil ketiganya melaju meninggalkan gedung itu. Salah seorang pria berseru sambil berlalu, “Berhati-hatilah!”, seolah mendoakan agar si gadis selamat. Mobil ketiganya menjauh, suaranya menghilang di kegelapan, dan kesunyian yang mencekam kembali mewarnai kesendirian si gadis.
Dia menutup jendela dan tirainya, lalu kembali merangkak di kasur. Berselimut jaket dan selimut warna biru, dia membaringkan diri di kasur lalu tertidur. Disamping semua kekacauan dan horor yang membayanginya hari ini, dia bisa tidur dengan nyenyak meskipun rasanya tidak lama. Ketika ia bangun, pria berbalut merah itu sudah kembali di apartemen itu, duduk di kursi di mana kemarin si gadis meletakkan selimut kotornya. Selimut itu kini menghilang. Pria itu duduk dengan bertumpu kaki, payungnya dipangkuannya.
“Selamat pagi,” ujar pria itu dengan lembut. “Bagaimana tidurmu?”
Faith mengucek matanya. “Aku bisa tidur,” jawabnya dengan sederhana. Hal sederhana ini sebenarnya sangat besar, mengingat hari-hari pengurungannya yang membuatnya sangat resah hanya untuk menutup mata.
“Santailah dan persiapkan dirimu. Kita tidak terburu-buru, sekarang baru hari kedua dari rentetan sebelas hari Hari Penghakiman.” Pria itu mengatakannya dengan ringan, seolah event Hari Penghakiman bukanlah hal yang besar. Mendengar ini, si gadis seolah mendapat kesan bahwa kematiannya bukanlah sesuatu yang diburu-buru.
Pria itu menunggunya dengan sabar selama ia membersihkan tubuhnya yang kotor dan bau, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia temukan di lemari. Dia membawa tas ransel yang diisi makanan, minuman, selimut dan beberapa perlengkapan yang mungkin akan mereka butuhkan. Ketika dia mengatakan ‘mereka’, mungkin lebih tepatnya ‘ia sendiri’. Dia masih tidak tahu apakah pria bukan manusia ini memerlukan hal-hal yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup atau tidak, jadi dia hanya berjaga-jaga.
Mereka keluar diiringi gemuruh dari gunung berapi di kejauhan. Gunung itu sudah mereda, namun abunya masih membumbung tinggi. Entah ini perasaannya atau bukan, dia merasa kerusakan yang dibawa sang gunung bergeser ke arah lain, tidak mengarah langsung ke kota tempatnya berada.
“Beberapa orang datang menjarah toko tadi malam. Mereka bilang di ibukota ada banyak orang yang bertahan hidup, mereka juga menerima bantuan. Apakah kita perlu ke sana?” tanya Faith ketika langkah mereka sudah menyusuri jalan beraspal. Si pria kembali memayunginya.
Pria itu tampak menghela nafas pelan-pelan. “Kamu tahu, seandainya kamu adalah seorang yang ingin menjatuhkan sebuah negara, tempat mana yang akan kamu serang?”
Gadis itu terdiam cukup lama. “… Ibukota?” katanya ragu.
“Benar. Jika aku adalah rakyat biasa yang tahu bahwa negara musuh akan menyerang negaraku, aku akan menjauhi ibukota. Tetapi kebetulan arah yang kita tuju searah dengan ibukota, jadi aku akan membawamu ke sana, tetapi kita tidak akan menginap di ibukota.”
Faith mengangguk dalam diam. Benar juga, katanya dalam hati. Para dewa akan mengincar tempat yang padat penduduk jika mereka benar-benar ingin memusnahkan manusia, maka sebaiknya ia menghindari keramaian. Bukannya itu berarti dia akan selamat jika menjauh dari keramaian, tetapi setidaknya ia mengerti logika di balik tindakan ini, dan dia melakukan penghindaran sebisanya.
“Apakah kau ada di sini semalam? Udaranya sangat dingin.” Faith memecah keheningan beberapa saat kemudian.
“Tidak. Tapi aku tahu.”
“Apakah kau tahu jika malam tadi benar-benar gelap? Aku rasa begitu, sebelum aku tertidur pulas…”
“Oh, ya, malam tadi sangat gelap. Malah, selama sebelas hari ke depan malam akan menjadi sangat gelap dan dingin. Aku senang kamu mengikuti saranku untuk tidak keluar dari ruangan.”
“Ah soal itu…” gadis itu memulai. “Kau bilang kau bukan manusia dan kau tampaknya tahu banyak hal soal Hari Penghakiman. Lebih tepatnya, makhluk apa kau? Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.”
Pria itu tertawa pelan, suaranya merdu. “Aku tidak bisa memberitahumu. Aku adalah pemandu jalanmu dan teman seperjalananmu, aku akan memberitahumu segala sesuatu yang berkaitan dengan jalan kita, tetapi aku tidak bisa memberi tahu lebih. Meskipun begitu, percayalah bahwa aku tidak mencoba menyembunyikan sesuatu darimu. Oh, lihat.”
Saat pria itu berhenti bicara dan menunjuk, Faith menatap arah yang ditunjuk si pria. Sebuah mobil bak yang terisi penuh dengan barang elektronik dan rongsokan berhenti dengan posisi menyerong yang ganjil. Mereka melewati mobil itu dan tidak ada seorangpun di dalamnya. Gadis itu mengenali mobil itu sebagai mobil yang dikendarai 3 pria yang menjarah sebelumnya. “Apa yang terjadi?” Tanya Faith sambil matanya mencari hal yang mustahil di dalam kendaraan.
__ADS_1
“Aku sudah bilang kepadamu, malam akan menjadi sangat gelap dan dingin. Siapa yang tahu teror apa yang disembunyikannya di kegelapan?”