
Biasanya, ketika Faith bangun, sinar matahari sudah mulai merembes dari awan-awan. Tetapi hari ini berbeda. Dia bahkan bertanya apakah dia masih bermimpi, atau dia terbangun di jam yang salah. Tetapi kerumunan orang di luar sudah berisik, dan ia yakin hari sudah pagi. Hanya saja, sinar matahari tidak merembes melalui awan dengan cara yang biasanya. Sinar ini berwarna merah benderang menghiasi celah di awan kelabu, entah dari mana sumbernya karena ia tidak bisa melihat matahari. Semakin gaduh suara di luar, dia bangun dan menyadari Daniel dan Ben sudah tidak ada di sekitarnya.
Gadis itu masih dibalut jaketnya ketika ia turun dan melihat Ben berdiri bersama beberapa pria. Dia mendekat, namun Ben melihat kedatangannya dan menggeleng. Tak berapa lama, beberapa pria, termasuk Daniel, muncul dari belakangnya sambil menggotong sesuatu yang dibungkus seprai besar. Para pria itu meletakkan apa yang mereka bawa di dekat kerumunan pria lainnya. Faith penasaran, tetapi ia tidak ingin membuat Ben kecewa, jadi dia terdiam di tempatnya.
“Apakah ini yang terakhir?” kata seorang pria.
“Yang terakhir yang kita temukan,” Daniel menjawab pria itu.
“Ada apa lagi hari ini? Apakah ini belum selesai?” pria lain menyahut.
Gadis itu masih terdiam di tempatnya, lalu Daniel melihatnya dan menghampirinya. “Sangat buruk dan menyedihkan. Orang-orang yang tinggal di lantai paling atas mati kedinginan, tubuh mereka beku,” katanya sambil menggeleng. Raut wajahnya sedih dan lelah. “Ini sungguh hukuman dari Tuhan yang tiada henti.”
Saat itu, Faith memberanikan diri agak berjinjit supaya dapat melihat apa yang dikerumi orang-orang. Dia terkejut saat melihat tubuh orang-orang meringkuk yang tampak sangat pucat dan kaku tergeletak menumpuk di jalan. Mungkin ada 10 tubuh beku disana. Daniel dan kawan-kawannya baru saja menurunkan tubuh malang itu. Dia hanya bisa berdoa dalam hati.
“Kenapa mereka semua membeku?”
“Tampaknya malam tadi suhu sangat dingin dan mereka meringkuk untuk menghangatkan diri. Tetapi saat kami datang pagi-pagi, semua api unggun mereka mati dan peralatan terasa dingin. Mereka sudah tewas dalam posisi seperti itu. Tubuh mereka beku, benar-benar beku seperti kamu memegang daging ayam yang beku; mereka bisa disentuh, tetapi rasanya keras dan dingin. Aku sungguh tidak percaya… semua lantai di bawah baik-baik saja.” Daniel mendesah panjang. Dia yang harus mengangkat tubuh mereka, jadi dia pasti tahu rasanya.
Faith sejenak terdiam sambil memeluk tubuhnya. Dengan hati-hati dia berkata, “Jika kau mengatakannya sebagai hukuman Tuhan, apakah itu artinya kau percaya Tuhan?”
Daniel tampak terdiam sejenak. “Aku dibesarkan beragama, jadi aku percaya keberadaan Tuhan. Tapi melihat bencana bertubi-tubi seperti ini, aku yakin Tuhan sangat marah. Aku pesimis apakah manusia bisa selamat atau tidak, atau apakah mereka masih berhak atas belas kasih Tuhan atau tidak. Menyakitkan rasanya dihadapkan dengan hal seperti ini. Sepertinya ini benar-benar Hari Penghakiman.”
Faith lalu mengangguk. “Aku pikir, pada masa-masa seperti inilah kepercayaan kita diuji,” jawabnya. Ketika Daniel menatapnya, ia hanya tersenyum. “Aku percaya jika seandainya Tuhan tidak menyisakan satu manusiapun di bumi, setidaknya dia akan mengampuni mereka yang tetap percaya.” Daniel tidak menjawabnya, tetapi pria itu tampak mempertimbangkan perkataan si gadis. Melihat itu, si gadis merasa tenang.
Sebesar apapun dia menyukai Daniel dan Ben, dan betapapun dia menginginkan untuk berbincang lebih banyak dengan keduanya, Faith tidak bisa tinggal. Dia punya janji untuk pergi ke kota pesisir. Ben sudah memeriksa dengan teropongnya dan menyatakan bahwa air laut sudah lebih surut, daripada 3 hari lalu, jadi mungkin si gadis bisa berjalan ke sana, meskipun ia tidak yakin apakah daerah itu aman atau tidak. Faith pamit dari kelompok itu secara diam-diam, hanya kepada Daniel, Ben, dan beberapa orang, karena ia tidak mau mengganggu moment yang sedang berlangsung saat itu. Ia menerima beberapa bekal makanan dan peralatan bertahan hidup baru. Semua orang bertanya kenapa ia begitu kerasan untuk pergi ke kota pesisir, tetapi ia menjelaskan bahwa janji yang sudah ia buat tidak bisa dia ingkari.
Faith mulai pergi kira-kira satu jam setelah mayat beku ditemukan. Dia berjalan lagi selama beberapa saat sampai pada suatu titik dia merasa bahwa hari itu lebih panas dari biasanya. Langit yang bersinar merah ganjil hari itu sepertinya menghembuskan angin panas. Dia berhenti sejenak untuk minum lalu melanjutkan perjalanannya. Rupanya, yang ia rasakan bukan hanya perasaan semata. Semakin ia jauh berjalan, hawa menjadi semakin panas. Dia tidak tahu pukul berapa saat itu karena matahari tidak ada, tetapi ia tahu bahwa langit sekarang menjadi merah. Tidak seperti langit merah senja, langit ini terlihat seperti kolam darah, dengan gumpalan awan putih kecil-kecil menyebar.
Ia menjadi kelelahan lebih cepat dan keringat mengucur deras dari kepalanya. Ia membuka jaketnya dan meletakkannya di dalam ransel, meninggalkannya hanya dengan dua lapis baju, kaus tipis lengan panjang dan turtlenecknya. Rambutnya tetap bersembunyi di balik kupluk. Lambat laun cuaca menjadi terlalu panas, dan dia memutuskan untuk menanggalkan turtlenecknya, melepas kupluk, dan mengikat rambutnya menjadi buntalan tinggi. Dia minum dan minum lagi, dua teguk besar setiap kali dia berhenti. Dia terus mengipasi kepalanya dengan tangannya, tetapi panas itu sangat tidak manusiawi.
Saat itu si gadis menyentuh dadanya untuk mengipasi kerah kausnya, tetapi ia tiba-tiba berhenti dan tidak mengangkat tangannya dari dadanya. Sungguh aneh. Tangan kirinya terasa dingin, dan dingin itu merembes ke dadanya, menyejukkannya hingga ke leher, bahu, tenguk, dan punggung. Selama beberapa detik dia tertegun dan berhenti berjalan, mencoba menikmati kesejukkan di tubuhnya. Ketika ia melepas tangannya, rasa dingin itu masih tinggal. Jadi dia kembali berjalan sambil diliputi kebahagiaan sekaligus kebingungan.
Dia berjalan dengan kecepatan yang konstan selama ini, tidak terlalu cepat, tidak juga lambat. Tiba-tiba, suara gemuruh mengagetkannya dan menghentikan langkahnya. Awalnya itu hanya suara gemuruh yang terdengar jauh, tetapi tiba-tiba guncangan hebat meruntuhkan pondasinya. Gadis itu berjongkok di tanah karena getaran bumi yang sangat besar. Dia lalu mendengar bunyi gemeretak dan gemuruh besar di belakangnya, dan suara itu seolah menghampirinya. Memantapkan niatnya untuk tidak menoleh ke belakang, gadis itu bangkit dan berlari dengan limbung. Gempa sudah tidak sebesar pertama, tetapi masih bergetar cepat, dan dia berusaha sekuat tenaga untuk lari.
Tetapi gempa besar itu meruntuhkan bangunan di sekelilingnya. Dia awalnya masih berlari menerjang debu dan reruntuhan bangunan, tetapi kemudian dia terseret mundur ke belakang. Dia tidak mengerti kenapa, tetapi sebuah runtuhan besar jatuh di belakangnya dan menyebabkan tanah yang ia pijak terbelah. Dia terjatuh di lapisan tanah yang lebih rendah daripada tinggi jalan, namun dia memanjat dengan kasar, berpegangan pada apapun supaya dia bisa kembali ke jalan utama. Ketika dia berhasil, dia berlari masih dikerumuni debu dan reruntuhan sejauh beberapa meter, namun pada akhirnya dia harus tumbang ketika runtuhan bangunan besar lainnya jatuh di depannya, membutakan pandangannya sekaligus mendorongnya beberapa sentimeter ke belakang. Gadis itu pingsan.
Ketika Faith sadar beberapa waktu yang ia tidak tahu berapa panjangnya, barulah dia merasa seluruh tubuhnya sakit. Pertama-tama, dia harus menarik kakinya yang tertimpa beton. Untungnya kakinya hanya terjepit, dan dia menerima banyak luka tetapi kakinya tidak patah. Kedua, baru ia merasakan tangannya tersayat di beberapa bagian, ujung jemarinya berdarah karena kukunya patah. Untungnya karena ia mengenakan perban kain kasa yang dililit tebal di tangannya, wujud tangannya masih utuh. Ketiga, dan ini membuatnya terkejut, dia melihat bahwa pandangannya memerah. Dia menduga bahwa ia akan buta, tetapi sebenarnya tidak begitu. Pelupuk matanya tergores panjang dan darah mengalir dari sana, membasahi matanya. Merah yang ia lihat adalah darahnya sendiri, bukan karena penglihatannya rusak. Lalu terakhir, saat ia berusaha berdiri, dia merasakan seluruh tubuhnya kesakitan, rasanya dia habis ditinju berkali-kali.
__ADS_1
Namun si gadis tetap bangun dan bangkit berdiri dengan tubuh penuh luka dan rusak. Mengejutkannya, dia masih bisa berdiri meskipun kakinya sakit. Dia memaksa menyeret kakinya ke tempat lain untuk berhenti dan memeriksa tasnya. ‘Oh tas ini bagus juga tidak rusak sama sekali’ pikirnya. Dia merobek ujung celana panjangnya, lalu membalut luka-lukanya yang besar dengan perban. Pada saat ini bajunya sudah sobek di beberapa bagian, dan ia merobek lengan panjangnya dengan sengaja karena ada luka yang cukup besar di dekat sikunya. Setelah selesai menutup luka besarnya, gadis itu duduk dan minum, mengambil waktu sejenak untuk merenung.
Dia hidup.
Apa yang terjadi padanya sungguh mengerikan dan membahayakan, tetapi dia hidup. Itu saja sudah merupakan hal yang patut dia syukuri. Dia tidak bisa tahu bagaimana nasib Daniel, Ben dan orang lain yang selamat, dan dia tidak mau membandingkan nasib mereka lalu berpikir dengan egois bahwa ‘dia beruntung’. Dia hanya merasa bahwa dia diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi, dan dia tidak boleh menyia-nyiakannya. Dengan pemikiran demikian, si gadis bangkit berdiri dan melanjutkan perjalanannya, kali ini dengan langkah lambat karena tubuhnya dalam kondisi tidak memungkinkan.
Perjalanannya menjadi semakin sulit. Bukan hanya karena tubuhnya melemah, juga karena puing-puing bangunan runtuh mengisi seluruh bagian jalan. Dia harus memanjat dan melompat dengan hati-hati supaya tidak menciderai tubuhnya lebih jauh. Dia tidak tahu berjalan berapa lama karena langit masih menampilkan warna yang sama, jadi dia tidak bisa memperkirakan jam berapa sekarang. Yang jelas, pada suatu titik langkahnya berhenti. Dia memang kelelahan, tetapi bukan itu alasan utamanya.
Tanah di hadapannya amblas cukup dalam. Sejauh matanya bisa memandang, hanya tanah amblas yang bisa dia lihat. Tanah, serpihan aspal dan beton, serta batu-batu dan genangan air berkumpul di bawah amblasan tanah. Dari sekitar lubang, besi-besi dan pipa-pipa besar dan kecil mencuat membahayakan. Seharusnya di sana ada jalan tol yang mengarah ke perbatasan dengan kota pesisir, tetapi jangankan jalan tol, bangunan dan semuanya saja sudah menghilang di telan bumi. Faith menatap jauh ke depannya dan mempercayai ingatannya bahwa dia harus melintasi lubang besar itu secara melintang supaya dapat mendekati wilayah perbatasan kota pesisir. Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus terjun ke dalam lubang besar nan luas dan melintasinya dari dalam.
Meskipun sudah memantapkan niatnya, si gadis tetap saja menggeleng, menyesalkan keberuntungannya yang sangat buruk. Tapi karena dia tidak memiliki pilihan, dia mulai menuruni lubang itu dengan hati-hati. Dia berpijak pada batuan serta pipa-pipa besar yang mencuat dari dalam tanah. Beruntungnya baginya, landasan itu cukup manusiawi untuk dipijak sehingga meskipun dia amat kesulitan, dia berhasil turun sejauh beberapa puluh meter ke bawah.
Kakinya dengan lambat membawanya melangkah diantara bebatuan dan becek serta lumpur. Dia sudah berjalan beberapa ratus meter ketika matanya melihat kerumunan manusia yang berdiri saling berjauhan. Dari gerakan mereka, mereka tampak bingung. Banyak dari mereka yang tampak terluka, baju compang-camping, serta sedang menangis. Dalam hati si gadis berseru, ‘Mereka selamat! Ada yang selamat! Aku tidak sendiri!’ dan berterima kasih dalam diam. Dan kali ini, meskipun langkahnya masih lambat, dia memiliki kekuatan baru untuk berjalan.
Ketika gadis itu lelah, dia akan berhenti untuk beristirahat dan makan serta minum sedikit. Ketika itu dia sedang berhenti saat dia melihat seorang bapak-bapak yang tampak sangat lusuh berlari sambil berseru ‘Anakku!’ dan memeluk seorang anak perempuan yang datang dari arah berlawanan. Si bapak menangis sementara putrinya menggantung di lehernya. Betapa bahagianya, si gadis tidak bisa menahan hatinya untuk terenyuh. Saat dia berjalan semakin jauh, semakin banyak manusia yang dia lihat, dan lama-lama mereka terlihat seperti aliran sungai manusia. Adegan seperti bapak dan putrinya tadi juga terjadi beberapa kali. Keluarga yang kehilangan dipertemukan kembali. Itu semua tampak sangat sulit untuk menjadi kenyataan, tetapi itu terjadi saat ini dan si gadis tidak bisa tidak mempercayainya.
Mereka masih berjalan dalam kerumunan besar saat kabut tipis mulai mengganggu pandangan mereka. Langit masih berwarna merah mencolok, dan pemandangan ini membuat Faith berhalusinasi melihat warna tanah dan batuan di sekelilingnya menjadi merah. Memang tidak baik terus-menerus melihat warna mencolok, pikirnya.
Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba terdengar suara mirip sangkakala dari langit. Suara itu begitu keras dan memekakkan sehingga semua orang berhenti di tempatnya, beberapa bahkan menunduk saking takutnya. Semua mata menatap ke langit merah yang terhalang selapis kabut, termasuk si gadis.
Selama beberapa detik suara sangkakala itu muncul di langit, dan ketika ia tiba-tiba berhenti, semua orang saling tatap satu sama lain, kebingungan. Si gadis menatap ke sekelilingnya, memperhatikan bahwa semua orang berusaha mencari jawaban yang sama. Saat itulah dia menatap ke sisi sebelah kanannya dan menangkap sosok yang sangat familiar.
Dari langit, turun kelelawar besar yang datang bagaikan hujan berwarna hitam. Selama beberapa saat dia terpana menatap langit, sampai kumpulan besar kelelawar itu berhenti turun. Kelelawar yang turun itu kemudian jatuh ke bumi, ada yang jatuh lurus, ada yang melesat ke berbagai penjuru. Dia pikir itu adalah kelelawar karena mereka datang dari jarak yang jauh sehingga apa yang ia lihat tampak kecil. Tetapi ketika ratusan kelelawar itu mendekat, Faith sadar bahwa itu sama sekali bukan kelelawar. Ya, sayap mereka menyerupai sayap kelelawar, tetapi tubuh mereka berkaki 2 dan bertangan 2 layaknya manusia, hanya saja kulit mereka hitam dan tampak licin. Kepala mereka bertanduk kecil, lalu mata mereka kuning. Mereka menjerit-jerit, menampilkan gigi taring besar-besar berderet yang kekuningan dan air liur. Tangan mereka terentang, dengan 3 cakar yang cukup besar untuk mencengkram manusia. Itu sama sekali bukan kelelawar.
Si gadis bersiap mundur melarikan diri, dia tahu makhluk apapun itu adalah makhluk berbahaya jadi dia harus lari. Tetapi si pria, Tuan Arwah itu, justru berbalik sepenuhnya menghadap arah datang makhluk itu dan mengangkat kedua tangannya yang terkepal. Dia terdiam sebentar lalu membuka kepalan tangannya dengan gaya mendorong. Sekelebat cahaya putih tipis yang memenuhi lubang mendorong mundur makhluk beterbangan itu. Makhluk-makhluk itu menjerit lagi, tapi kali ini kesakitan. Beberapa jatuh ke tanah dan kesulitan bangun, sisanya terbang tak tentu arah dan saling bertabrakan lalu saling berkelahi.
Si gadis menganga sedikit dan dia tertegun menatap si pria. Ketika pria itu membalik badannya dan mata mereka bertemu, si gadis mengerjap.
“Apa kau itu?”
“Bagaimana kau melakukannya?”
“Apa kau di sini untuk menyelamatkan kami?”
Pertanyaan-pertanyaan muncul dari kerumunan orang diiringi rasa kagum. Tetapi pria itu tidak menggubrisnya. Dia melanjutkan berjalan mendekati si gadis. Mengejutkannya, si gadis bergerak mundur. Gerakan ini membuat si pria juga berhenti. Matanya agak membuka sedikit karena kaget.
Si gadis menggeleng. “Kau bukan seorang dewa,” kata si gadis. “Kau tidak akan bermain-main dan mengambil peran seorang dewa.”
__ADS_1
Bunyi pekikan terdengar dari belakang si pria, disusul jeritan manusia. Faith mengalihkan pandangannya dan mendapat firasat teror yang mengerikan. Dia kembali menatap si pria namun kakinya membawanya mundur. “Lari. Tolong lari.” Si gadis berkata agak kencang sambil memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga meskipun kakinya amat kesakitan. “Tolong larilah.”
Dia tidak tahu apakah ada yang mendengarkannya atau tidak, tetapi dia mulai melihat beberapa orang berlari. Semakin jauh dia berlari, semakin banyak orang yang ikut berlari dan mendahuluinya. Salahkan tubuhnya yang penuh luka, ini yang terbaik yang bisa dia lakukan. Sayangnya dia tersandung sesuatu dan jatuh di dekat genangan air berwarna hitam. Tubuhnya yang sudah lusuh, dialiri keringat, kotor dan penuh luka, terpampang di atas refleksi air. Dia mengenali wajahnya, tetapi dengan banyaknya kotoran serta luka di wajahnya, bahkan darah yang masih tersisa di bola matanya, dia hampir merasa ngeri dengan wajahnya sendiri.
Ketika Faith menoleh ke belakangnya, pria itu sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya, payungnya masih ditutup dan wajahnya agak murung. “Aku datang sesuai janji,” katanya. Suaranya hampir terdengar berbisik, terlalu pelan untuk di dengar, namun bagi Faith dia bisa mendengarnya.
Si gadis berusaha menopang tubuhnya dengan lengannya yang tidak terluka parah. Dia menatap pria berbalut merah itu dengan matanya yang mencolok. “Tuan Arwah sudah berjanji padaku, dan ini bukan janjinya. Dia berjanji tidak akan menakutiku.”
Mendengar ini, pria berbaju merah tampak keheranan. “Mengapa aku akan menakutimu? Aku di sini untuk melindungimu.”
Dengan getir si gadis menjawab, “Tidak, dia di sini tidak untuk melindungiku.” Dia menyegel mulutnya, membuat pria di hadapannya terdiam. Tuan Arwah datang ke bumi untuk mengambil jiwanya, itu adalah sebuah kepastian. Dia tidak berbasa-basi soal melindunginya, dia hanya akan mengantarnya dan mengikutinya. Jika seandainya dia harus mati di tengah jalan, Tuan Arwah akan mengambil jiwanya. Dia akan membiarkan si gadis mati, bukan melindunginya.
Bunyi gemeretak tanah dijebol dari bawah mengagetkan si gadis. Di sekitar kaki si pria, muncul sesuatu yang mirip akar tanaman menjalar keluar seolah itu hidup. Tidak hanya satu, melainkan banyak akar yang muncul. Faith sadar bahwa akar itu menjalar juga di sekitar kakinya, jadi dia bangkit dengan kasar, merobek tendonnya yang sudah robek, lalu berlari menjauh.
Matanya saat itu terbuka lebar dan dia bisa mengamati segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Orang-orang terjebak oleh akar dari tanah, sisanya yang berlari ada yang tiba-tiba menghilang di sambar oleh makhluk beterbangan sebelumnya. Dia juga melihat si bapak dan anaknya dari adegan sebelumnya. Anak itu menggigit lengan bapaknya, matanya menyala kuning tidak normal, jelas bahwa dia bukan manusia normal. Si gadis terus berlari meskipun darah mengalir lagi dari luka-lukanya, dan dia merasa takut. Beberapa meter hadapannya, seorang pria yang kakinya terjebak dalam lilitan akar mengangkat tangannya dan meminta tolong. Mata mereka bertemu, si pria terlihat sungguh memelas.
Sepanjang hidupnya, dia selalu melihat orang-orang yang meminta tolong. Mereka yang berhati baik sungguh-sungguh meminta tolong ketika mereka tidak mampu, tetapi mereka yang berhati kotor memanfaatkan kebaikan hati orang lain dengan tamak. Dia hanya bisa membantu semampunya ketika ia sanggup, dan ketika ia tidak bisa, ia hanya bisa menunduk. Dia selalu ingin menolong, tetapi kepalanya selalu berbisik bahwa ia sendiri tidak mampu, dan hatinya membuatnya bimbang dengan menyatakan bahwa tidak seorangpun bisa menilai maksud hati manusia. Beberapa kali ia menyesal tidak bisa menolong seseorang, beberapa kali juga ia bersyukur tidak menolong seseorang. Namun ketika kini itu ada di hadapannya, dan bahaya yang mereka rasakan nyata, dia tidak bisa mengalihkan matanya, hatinya, dan kepalanya.
Tidak bisa mengabaikannya, Faith berhenti, membanting dirinya ke tanah dan mengoprek tasnya lalu mengeluarkan linggis yang dia pinjam dari kelompok Daniel dan Ben sebelumnya. Pria itu masih histeris memohon untuk dilepaskan dari apapun yang menahannya. Si gadis memintanya tidak meronta, namun pria itu masih histeris. Dia dengan buru-buru menghujamkan linggisnya, merobek akar yang menggeliat itu hingga kaki si pria mulai terlihat.
“Tolong jangan bergerak, aku berusaha mengeluarkanmu,” kata Faith di sela-sela nafasnya. Matanya tidak berani menoleh ke manapun selain ke kaki si pria, takut ia tiba-tiba menyakiti si pria, dan apabila pandangannya teralihkan, dia bisa menghambat pergerakannya sendiri. Tidak ada setengah menit ketika ia mulai memotong akar itu dengan linggis, sesuatu berkelebat di matanya, disusul bunyi retak dan sesuatu yang hangat membasahi wajahnya.
Kepala pria itu dihujam dengan sesuatu yang mirip pasak panjang berwarna hitam. Tengkoraknya ditembus, dan pasak itu menancap di tanah, menggantung kepalanya begitu saja di udara. Mata dan mulut si pria terbuka lebar, wajahnya terlihat syok, namun kepala bagian atasnya hancur lebur. Sesuatu yang dia lihat dan rasakan di akhir hidupnya pastilah merupakan sebuah teror.
Faith menjatuhkan linggisnya ke tanah. Tangannya segera menutup mulutnya, dia tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya ingin berteriak tapi juga ingin muntah di waktu bersamaan. Matanya berkaca-kaca dan pandangannya kabur. Air mata panas mengalir dari kedua matanya yang masih tidak bisa berpaling dari mayat si pria yang berdarah tragis.
Jahat. Hanya kata itu yang bisa muncul di benak si gadis. Dia memutar pandangannya dan sesuatu yang tinggi dan besar berwarna hitam berdiri beberapa langkah darinya. Duri-duri keluar dari punggung makhluk itu, membuatnya terlihat seperti landak raksasa, namun tubuhnya berkaki 2 dan bertangan 2. Makhluk itu kemungkinan besar adalah makhluk yang menghujam tengkorak kepala si pria dan membunuhnya seketika.
Jika ini adalah akhirnya, maka yang bisa si gadis pikirkan hanyalah rasa sedih dan tragis. Dia berusaha menyelamatkan seseorang, namun orang ini justru terbunuh. Dia berusaha berbuat satu kebaikan lain selama dia masih hidup, namun dia harus mati bahkan sebelum kebaikannya selesai terlaksana. Jika dia harus menerima kematian sekarang, dia hanya berdoa semoga kesalahan yang pernah ia buat secara sadar atau tidak, bisa dimaafkan oleh para dewa.
Sosok monster itu mendekat dengan langkah berat. Pada langkah keduanya, dia terhuyung jatuh dan tubuhnya terkulai di tanah. Mata si gadis masih dibanjiri air mata dan darah, jadi penglihatannya masih samar, tetapi ia yakin monster itu tumbang.
Beberapa langkah di belakang si monster, sosok tinggi berpayung berjalan mendekatinya. Butuh beberapa detik untuk si gadis menghentikan air mata dan isakannya, dan ketika itu terjadi, si pria sudah berdiri di hadapannya. Pria itu berjongkok di hadapannya, lalu bayangan payungnya menyelimuti si gadis. Ketika pandangannya mulai jelas, si gadis bisa melihat bahwa itu adalah sosok Tuan Arwah. Kali ini Tuan Arwah benar-benar datang kepadanya.
Si gadis berusaha menenangkan dirinya, menurunkan intensitas cegukannya dan mengerjap beberapa kali untuk mengeluarkan sisa air matanya. Pada akhirnya dia mengusap matanya dengan hati-hati karena pelipisnya sobek, lalu dengan berani menatap si pria. Pria itu adalah sungguh Tuan Arwah. Caranya menatap si gadis terasa sangat familiar.
“Kamu sudah melakukan yang terbaik,” ujar si pria. Suaranya menenangkan, tidak seperti tiruannya yang hampa emosi. “Tidak apa-apa, aku sekarang ada di sini, kamu bisa beristirahat sebentar.”
__ADS_1
Suara itu menghantarnya bagaikan lagu tidur. Si gadis menurunkan pandangannya, lalu menjatuhkan kepalanya ke dada si pria. Matanya masih panas karena air matanya belum sepenuhnya kering, tetapi ia merasa lebih tenang sekarang. Si gadis merasakan tangan pria itu melingkarinya dengan hati-hati, kemudian dia tertidur.
Langit merah masih membara, aroma teror masih semerbak, dan suara ketakutan masih mengisi seluruh lubang. Pembantaian masih terjadi di mana-mana, dan merah seketika mewarnai seluruh sudut tanah. Tetapi baik si pria dan si gadis menutup mata mereka. Si gadis, karena sudah memejamkan matanya dan tertidur, tidak tahu lagi apapun yang terjadi di sekitarnya. Sementara si pria, memalingkan matanya dari segala kengerian yang terjadi di sana.