
Kelakar itu berhenti tak lama kemudian karena rasa kantuk melanda Faith dan dia tertidur meringkuk di lambung kapal. Selama tidur, dia tidak bermimpi apa-apa, dan bisa dikatakan bahwa tidurnya cukup nyenyak. Selama itu pula si pria terus mendayung hingga mereka tiba di sebuah wilayah yang mirip bukit. Air dari bencana tsunami sebelumnya rupanya sudah tidak akan lagi surut, dan bukit yang mungkin dulunya cukup tinggi itu bisa didaki sampai puncaknya hanya dalam waktu beberapa jam. Si pria membangunkannya dan setelah sepenuhnya bangun, keduanya melanjutkan perjalanan.
Mereka berbincang sepanjang perjalanan, membicarakan berbagai macam bencana yang menimpa bumi. Bahkan setelah berbincang selama berjam-jam sepanjang perjalanan dan kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak, keduanya melanjutkan pembicaraan. Si gadis duduk di dekat pohon, payung masih terbuka dan bersandar di bahunya. Lentera tergeletak di tengah-tengah mereka.
“Bencana yang dikirimkan Surga memang menghancurkan, tetapi Surga selalu mempertimbangkan hukumannya. Hukuman dari Surga selalu ditimbang dengan berbagai macam aspek, termasuk cinta. Jadi di tengah-tengah kehancuran pun, tidak aneh jika kamu menemukan keajaiban pengampunan. Hanya Surga yang bisa melakukan ini,” kata si pria sambil duduk di sebelah si gadis.
Faith yang bersandar di pohon baru saja selesai meneguk minumannya mengangguk. “Tidak salah jika aku yakin bahwa Surga benar-benar menyayangi manusianya, begitu kan? Mereka bisa mengujimu atau menghukummu, tetapi mereka tetap membuka pintu maafnya. Tapi, aku mengalaminya sendiri saat di dalam lubang tanah amblas, monster mengerikan itu, apakah itu milik Surga?”
Pria itu menggeleng. “Tidak,” jawabnya tegas. “Surga selalu berusaha agar iblis tidak turun ke bumi, namun mereka tidak bisa campur tangan langsung membantu manusia apabila iblis telah lolos dan turun ke bumi. Tetapi, ada satu waktu di mana Surga membiarkan para iblis lolos dari Neraka untuk menghantui bumi, yaitu Hari Penghakiman.”
“Ini dilakukan bukan tanpa alasan. Surga melakukannya untuk mendemonstrasikan secara eksplisit bagaimana mereka selalu berperang melawan iblis. Bagi sebagian orang, sangat sulit menjelaskan sesuatu dengan kata-kata, ilustrasi atau kiasan, kisah legenda, atau bahkan teori ilmu pengetahuan. Sesuatu yang mudah dipahami bagi mereka adalah atraksi langsung yang dapat dilihat mata kepala sendiri secara telanjang. Monster itu adalah para iblis yang diizinkan lepas hanya selama beberapa waktu secara bersyarat sepanjang Hari Penghakiman, apabila mereka melanggar aturan, Surga sendiri yang akan berurusan dengan mereka. Bayangkan, dengan melihat adegan peperangan ini, manusia akan mulai percaya lagi kepada Surga, dengan begitu semakin banyak dari mereka yang tadinya tidak percaya menjadi percaya. Apakah kamu bisa memahaminya?”
“Oh ya ya, aku bisa mengerti pola pikir tersebut. Oh, sungguh ternyata Surga sangat cerdas,” gumam Faith bersemangat.
Jawaban ini membuat si pria tertawa. “Mereka punya banyak pengetahuan dan mereka sudah sangat lama memperhatikan manusia. Mereka tahu betul manusianya, dari pikiran suci mereka hingga pikiran terkotor mereka. Mereka tidak akan pernah berhenti mencoba membuat manusia percaya kepada mereka.”
“Memang benar, ada beberapa orang yang tetap saja tidak percaya bahwa Surga dan para dewa atau dewa tunggal itu nyata, atau soal peperangan Surga dan Neraka, kebaikan melawan kejahatan. Tapi aku bersyukur orang-orang seperti itu ada, dengan adanya mereka aku mengenal berbagai macam pola pikir serta klasifikasi karakteristik manusia. Bayangkan jika orang-orang seperti mereka tidak ada, mungkin ilmu pengetahuan bisa jadi tidak bertambah,” kata si gadis kemudian.
“Benar sekali. Sungguh cara berpikir yang baik nona,” jawab si pria. “Manusia perlu sadar bahwa tidak semua orang akan setuju dengannya atau mengikuti caranya, semata-mata karena masing-masing manusia sangat berbeda.”
“Hm, dan kau sangat hebat. Ngomong-ngomong, dalam perang antara Surga dan Neraka, seandainya harus memilih pihak, di pihak mana kau akan berada?”
“Hmm,” pria itu bergumam sebentar. “Di pihak mana hatimu berada? Bagiku itu sulit, karena aku tidak memiliki hati.”
Faith melongok sedikit. “Bagaimana?” dia terdengar seperti meminta agar si pria mengatakannya sekali lagi.
Sudah menduga respon itu, si pria tertawa lembut. “Berikan aku tanganmu,” katanya. Setelah tangan si gadis ada di genggamannya, dia menarik tangan kecil itu ke dada sebelah kirinya. Di tempat di mana seharusnya ada jantung.
Tidak ada degup yang familiar di sana.
Pria itu tidak berbohong. Tidak ada detak jantung di sana. Faith tambah terbelalak dan menarik tangannya sedikit sebelum menempelkannya lagi, berusaha memastikan.
“Jantung adalah inti kehidupan sesuatu, bukan? Terutama untukmu manusia. Bagi kami bukan manusia, kami juga punya sesuatu yang menjadi pusat kehidupan kami. Ketika itu dihancurkan, atau ‘dimatikan’, maka kehidupan kami akan berhenti. Pusat kehidupanku adalah jantungku, tetapi itu sudah tidak ada, jadi aku tidak punya suatu pedoman yang menyatakan bahwa aku harus berpihak ke satu atau beberapa sisi, apa itu baik atau buruk, apa aku harus melakukan sesuatu yang bersifat mutlak atau tidak, dan lainnya.” Si pria berkata.
“Di mana jantungmu?” Faith bertanya dengan hati-hati.
“Kukubur. Sebenarnya dulu jantungku dicuri, tapi setelah aku merebutnya kembali, aku memutuskan untuk menguburnya sendiri,” jawab si pria tenang.
“Kenapa kau melakukannya?”
“Jika seandainya sesuatu mengincarku dan berniat mengambil jantungku lagi, mereka tidak akan mendapatkannya dan hanya berakhir kecewa. Dengan demikian aku melindungi diriku sendiri.” Jawabannya terdengar tragis, namun pria itu mengatakannya dengan tenang.
“Kenapa seseorang ingin mengambil jantungmu?” Faith kembali bertanya, wajahnya cemas.
Tetapi, senyum tipis menghiasi wajah si pria. “Dulu sekali, ada masa di mana aku rela mati untuk sesuatu. Ternyata apa yang kuyakini tidak disambut baik oleh sebagian besar makhluk lain, jadi mereka mengambil jantungku supaya aku tidak mati untuk selamanya, dan menginjak serta mempermalukan diriku sebagai seseorang yang sudah berjanji untuk mati. Jadi ketika aku kembali merebutnya, aku sudah gagal menepati janjiku dan memutuskan untuk menghukum diriku sendiri.” Kata-katanya lembut dan bicaranya pelan, seolah dia sedang membicarakan sesuatu yang sangat dia hargai.
Gadis itu menatapnya dengan sendu, rasa iba mewarnai hatinya. Dia ingin berkata banyak hal supaya pria itu tidak lagi bersedih atau menghukum dirinya, dan mulai belajar untuk memaafkan dirinya sendiri betapapun sulitnya itu. Tetapi dia sendiri tidak yakin apakah dia pantas mengatakannya. Dia tidak pernah berada dalam posisi si pria, dan seandainya dia berada di posisi si pria, dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Faith mengerti bahwa hal ini mungkin sangat besar bagi si pria, jadi dia berusaha menahan dirinya.
“Maafkan aku telah bertanya hal yang menyakitimu.” Itu yang ingin Faith katakan. Tetapi baru separuh jalan berkata, angin yang sangat kuat muncul dari langit dengan cara yang misterius. Keduanya mendongak, Faith sambil memegangi payung merah si pria kuat-kuat.
“Kurasa kita harus bergerak. Tidak apa-apa tinggalkan saja lenteranya, angin hanya akan memadamkannya.” kata si pria ketika angin itu sudah melemah. Mereka bangkit lalu melanjutkan perjalanannya. Kali ini, pria itu yang kembali memegangi payungnya.
“Hari keberapa sekarang?” si gadis bertanya ketika setelah beberapa menit terdiam.
“Masih hari ke sebelas. Masih ada beberapa waktu lagi sampai hari kesebelas selesai,” jawab si pria. “Bagaimana? Apakah kamu masih mau melanjutkan perjalanan ke tempat yang tidak terkena amarah dewa?”
Gadis itu mengangguk. “Ya. Hari Penghakiman belum selesai, jika memang tempat itu ada, aku ingin melihatnya sendiri.” Si gadis berhenti sejenak. “Apakah kau pikir aku sungguh keras kepala jika menginginkannya?”
Pria itu memberikannya senyuman tipis. “Denganmu, aku akan katakan kamu tidak keras kepala atau egois. Kamu ingin menyelamatkan dirimu, makanya kamu mencari tempat aman. Tetapi karena kamu cerdas, kamu berhasil menerka keberadaan tempat seperti itu. Menurutku kamu beruntung, dan kamu ingin mencari tahu lebih banyak tentang tempat itu, jadi kamu memutuskan untuk pergi ke sana. Aku tidak merasakan kejahatan atau maksud tersembunyi dari keinginanmu, jadi aku tidak bisa mengatakan bahwa kamu seorang oportunis.” Kata-katanya jelas dan mengalir lembut dari mulutnya.
__ADS_1
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, “Dan kamu berjalan denganku, sesuatu yang nantinya akan mengambil jiwamu. Bukankah itu justru menggambarkan keberanianmu?”
Perkataan itu membuat Faith tidak bisa tidak tersenyum. Dia menertawakan nasibnya. Dia ingin pergi ke tempat aman, namun bersama seseorang yang akan ‘membunuhnya’, bukankah itu ironis? Namun tetap saja, dia membuang jauh kenyataan itu karena dia sudah bertekad sebelumnya, bahwa apapun yang terjadi dia akan menyambut kematiannya.
Mereka berjalan sampai menemukan ujung tebing yang berbatasan dengan lautan lepas. Ujung air tampak dekat dari tebing itu, mungkin karena permukaan air sudah naik. Air saat itu sangat tenang, sungguh aneh rasanya tidak bisa mendengar setitikpun bunyi ombak. Keduanya menatap ke laut lepas. Meskipun saat itu sangat gelap, mereka bisa melihat beberapa pecahan tebing kecil lain berada di hadapan mereka, terpisah dengan laut.
“Kesini.” Si pria mengisyaratkan dengan kepalanya untuk mengikutinya. Mereka berjalan beberapa langkah lalu menemukan bagian tebing yang bolong seperti ceruk. Semakin mendekat, Faith bisa melihat bahwa ceruk itu menurun ke bawah, seperti perosotan yang menuruni tebing. Si pria maju dan menyodorkan lengannya. “Pegang tanganku.”
Dengan patuh Faith meraih lengan si pria, berpegangan dengan erat sambil mengikuti si pria menuruni tebing lewat jalur itu. Rupanya, yang si gadis kira perosotan sebelumnya adalah tangga, ada undak-undakan kecil di sana. Ceruk itu sangat sempit sehingga mereka harus berjalan satu demi satu, tetapi si pria tidak meninggalkannya. Dengan tangan yang sama, ia memegang payung dan menjadi tumpuan bagi si gadis sementara dia berjalan lambat-lambat dan miring, supaya ia bisa selalu mengawasi si gadis. Langkah mereka sangat lambat kali ini karena jalur yang mereka lalui sangat curam dan sempit, jadi mereka harus lebih berhati-hati.
Setelah waktu yang agak lama dan menegangkan, mereka tiba di akhir tangga yang berbatasan dengan air. Mereka sudah tidak bisa turun lagi. Tetapi dengan yakin, kaki si pria turun ke air seolah masih ada undakan di sana. Dia berdiri dengan sepatu mengambang di atas, tampaknya telah menemukan undakan lain, lalu bergeser sedikit. Dia kemudian berkata. “Apakah kamu percaya padaku?”
Si gadis belum turun ke undakan tempat si pria berdiri, jadi dia kembali menatap si pria. Meskipun saat itu dia berada di undakan yang lebih tinggi daripada si pria, tetap saja dia terlihat lebih rendah daripada si pria. Pria itu benar-benar tinggi. “Kau akan selalu ada kemanapun aku pergi, kan?” dia balas bertanya.
“Ya.”
Faith mengangguk dan berkata ‘oke’ dalam hatinya. Dia turun ke undakan tertutup air tempat si pria berpijak. Kedua tangannya memegang lengan atas si pria untuk bertumpu. Dia yakin pria itu bisa dengan mudah menjaganya karena segera ketika tangannya melingkari lengan si pria, dia bisa merasakan barisan otot dari balik bajunya. Dia berdiri dengan stabil.
“Tetap berpegangan padaku.”
Pria itu mulai melangkah, lalu Faith mengikutinya. Pada langkah kedua, dia menyadari bahwa dia tidak berpijak pada apapun. Mereka berjalan di atas air.
Perasaan ngeri naik dari ujung kaki si gadis ke ubun-ubunnya, secara reflex membuatnya mencengkram lengan pria itu lebih kuat. Dia menghentikan langkahnya, satu kakinya terangkat dan dia bertumpu setengah mati pada lengan si pria.
Meskipun begitu, si pria berkata, “Tidak apa-apa,” dan tetap menunggunya berhenti panik. Kepanikan si gadis berbuah nihil karena dengan kekuatan si pria, keduanya tetap berdiri dengan stabil di atas air. Mereka menyebrangi laut yang pada saat itu tenang, menuju ke salah satu pecahan tebing di seberang mereka.
Gadis itu tidak pernah, bahkan tidak akan pernah tahu atau merasakan sensasi berjalan di atas air. Dia hanya seorang manusia biasa tanpa kemampuan khusus. Berjalan di atas air adalah sesuatu yang diluar nalar baginya. Sungguh suatu pengalaman yang tidak manusiawi. Ketika hampir mendekat ke tebing di seberangnya, kakinya baru mulai merasakan sesuatu untuk dipijak. Ada bebatuan kasar yang nyata di kakinya, dan dengan rasa lega yang luar biasa dia menjejakkan kakinya ke sana kuat-kuat, berusaha merasakan batu-batu itu.
“Apakah kau takut?” si pria tiba-tiba bertanya sambil menatapnya.
Faith yang berpikir terlalu banyak, membeku dan mulutnya kelu. Setelah menguasai dirinya dia berkata, “Pengalaman barusan menakutkan, tetapi itu bukan tentangmu.”
Pria itu tersenyum mendengarnya. Mereka terus berjalan sampai mereka tiba di hadapan sebuah celah setinggi manusia di tembok tebing. Di situ, si pria berhenti.
Dia melanjutkan, “Jika aku bisa menemanimu ke sana, aku akan sangat senang untuk masuk. Tetapi aku tidak bisa, jadi aku hanya bisa berkata padamu demikian; apapun yang kamu temukan di sana adalah bentuk cinta kasih, mungkin kamu tidak akan memahaminya sebagai manusia, karena cinta kasih ini adalah milik dewa. Carilah bunga emas dan pandanglah bunga itu selama mungkin. Bunga itu seharusnya tumbuh berseberangan dengan bunga berwarna merah. Kamu akan tahu waktunya untuk berhenti.”
Gadis itu menatap mata si pria dengan rasa hormat. Setelah bertatapan, dia memeluk pria itu, kepalanya terbenam di bagian di bawah dada si pria karena hanya setinggi itu dirinya. Tangannya melingkar dengan erat di punggung si pria, berusaha menyampaikan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. Tak lama, dia merasakan tangan pria itu melingkarinya, satu tangan di bahunya tanpa melepas payungnya, satu lagi di pinggangnya.
Beberapa detik berlalu, lalu Faith mendongak tanpa melepas pelukannya. “Terima kasih banyak untuk semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Jagalah dirimu sendiri, dan tolong jangan lupakan aku.”
Pria itu mengenakan ekspresi yang sulit untuk digambarkan. “Tidak akan pernah,” jawabnya. “Berhati-hatilah.”
Si gadis tersenyum lalu bersamaan mereka melepas pelukannya. “Kau bilang sekarang hari ke sebelas, benar? Kau tahu, aku pernah bilang padamu bahwa ketika aku bersama-sama korban selamat di ibukota, aku mempelajari banyak hal termasuk hal-hal kecil. Sebenarnya aku menemukan sesuatu, tapi aku menolak untuk membicarakannya padamu waktu itu karena kupikir tidak ada artinya membicarakan itu. Tapi rasanya aku bisa mengatakannya sekarang. Aku berhasil mengetahui waktu dan tanggal dari seorang temanku di sana. Dan aku melakukan perhitungan singkat. Jika kau bilang sekarang adalah hari kesebelas dari rentetan Hari Penghakiman, maka besok, jika memang akan ada hari esok, adalah hari ulang tahunku.”
Hening.
Mendengar ini, si pria membelalakkan matanya untuk beberapa saat, wajahnya seolah hampa emosi, namun wajahnya tidak selalu menampilkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia kemudian mengerjap dan berkata, “Kalau begitu apakah ada sesuatu yang kamu inginkan sebagai hadiah?”
Si gadis tampak bergumam dan memiringkan kepalanya. Tak lama, dia menjawab. “Tidak perlu, kau sudah sangat baik padaku. Aku hanya ingin mengingatmu.”
Si pria mengerjap sekali lagi, lalu tersenyum tipis. “Tentu saja, aku akan membuatmu mengingatnya.” Dia melepas selendang emas yang ada di lehernya, lalu mengikatnya seperti syal di leher si gadis. “Ini bukti bahwa aku sudah berjanji.”
Faith tersenyum lebar menerima syal barunya. “Terima kasih. Sampai jumpa, Tuan Arwah. Aku menyukaimu.” Dengan demikian gadis itu berbalik dan memulai perjalanannya memasuki celah.
Pria itu menatap punggung si gadis yang berputar meninggalkannya. Tanpa ia sadari, sebelah tangannya terangkat dalam gerakan berusaha menggapai sosok si gadis. Tetapi setelah beberapa saat tangannya terangkat di udara, dia menurunkannya lagi. Dia hanya terus berdiri di bawah payungnya dalam diam.
Gadis pemberani itu memasuki celah yang cukup tinggi itu dengan berhati-hati. Jalurnya sempit dan dipenuhi bebatuan di semua tempat. Tempat itu memang gelap, tetapi tampaknya ada semacam tanaman atau mungkin organisme hidup yang menempel di seluruh bagian dinding dan mengeluarkan cahaya kehijauan. Dalam keadaan seperti itu, si gadis bisa membuat garis besar kondisi sekitarnya, bahkan jalur perjalanannya dan lekukan batu.
Tak lama, dia kemudian menemukan tangga menurun, dan karena itu satu-satunya jalan, dia mengikutinya. Awalnya ruang pada tangga itu sempit, tak lama, kedua sisi dinding batu yang menghimpitnya mulai melebar, dan undakan tangga pun melebar. Dia berjalan masih dengan lambat namun langkahnya lebih pasti.
__ADS_1
Setelah menuruni tangga yang jalurnya terasa berputar, si gadis melihat ujung tangga. Ada cahaya putih semi hijau dari ujung sana, lebih terang daripada cahaya yang meneranginya sepanjang perjalanan turun. Dia buru-buru menuju ke sumber cahaya itu. Saat itulah dia menyadari bahwa dia sejak tadi berjalan menuju sebuah gua di bawah tebing. Gua itu tinggi dan atapnya melengkung. Dia menduga mungkin tangga tadi ada di sekitar si gua, mengitarinya. Di dalam dua itu, tumbuh rumput-rumput hijau kecil yang bercahaya. Ketika ia mendekat, dia bisa melihat bahwa tak hanya rumput itu bercahaya kehijauan, tanah dan bebatuan yang ia pijak juga bersinar seperti lampu putih kekuningan yang hangat. Organisme bercahaya yang dia temui sepanjang perjalanan sebelumnya juga bertengger di atap gua dalam kerumunan besar dan padat, sehingga mereka telihat seperti lampu.
Pusat atraksi gua itu adalah sebuah batu kotak yang dibangun di tengah gua. Batunya tinggi dan terpotong rapih, sehingga dia bisa melihat bahwa batu itu mungkin sengaja dibuat, tidak secara alami muncul, dan ada undakan bebatuan di salah satu sisinya. Sekeliling permukaan batu itu ditumbuhi bunga kecil-kecil dalam bentuk serupa namun berbeda warna. Setelah ia amati lebih dekat, batu kotak itu tampak seperti altar berbunga. Keseluruhan tempat itu tampak seperti taman kecil tersembunyi.
Dia mendekat, meninggalkan tasnya di dekat tangga dan menaiki altar itu, lalu mulai mencari bunga seperti yang diinstruksikan si pria sebelumnya. Bunga-bunga itu sangat kecil dan tumbuh sangat rendah sehingga dia harus berjongkok dan menunduk lagi untuk memeriksa satu demi satu bunga dengan hati-hati, tidak mau merusaknya. Dia melihat warna-warna bunga yang cantik seperti pelangi, namun dia tidak menemukan bunga yang berwarna merah atau emas. Dia mencari lagi sampai hampir mengelilingi altar, kemudian dia menemukan setangkai bunga dengan kelopak berwarna merah.
Rasa bahagia mengisi hatinya, lalu dia mencari sebentar di sekitar situ bunga warna emas. Tidak menemukannya, dia berpindah ke bagian bunga di seberang bunga merah, sekali lagi mencari di tempat yang sama siapa tahu dia melewatkan setangkai bunga warna emas. Tetapi dia tidak juga menemukannya, dan dia mulai ragu. Dia berhenti sejenak untuk menegakkan tubuhnya dan melemaskan otot punggung serta lehernya yang kelelahan. Ketika dia memijat bahunya dan mendongak, dia melihatnya.
Kumpulan besar bunga warna emas tumbuh menempel di dinding gua, berada di bagian dinding batu yang agak menjorok ke dalam sehingga dia melewatkannya ketika memeriksa atap gua. Gadis itu mendesah senang. Dia berdiri untuk menatap bunga yang kemilaunya sangat cantik itu dengan lebih jelas. Saat itu, rasa dingin meliputi seluruh tubuhnya.
Di luar, si pria bersandar di sebelah pintu masuk ke gua, payungnya tertutup dan bersandar di sampingnya. Tangannya terlipat di dada dan wajahnya tenang. Dia melirik payungnya sekali. “Kau sudah merindukannya lagi? Jangan khawatir. Kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik.”
Setelah berkata demikian, si pria mendesah pelan dan berkata. “Aku akan melihat-lihat sebentar, tolong jangan kemana-mana.”
Memejamkan matanya, dia bisa merasakan kegelapan menyelimutinya. Tetapi di dalam kegelapan itu, dia mendengar suara-suara berseliweran. Suara itu mirip seperti suara api berkobar dan berkelebat ditiup angin, namun tidak menyerah untuk padam. Dia juga mendengar suara angin menderu seolah melewati sebuah pipa. Si pria memfokuskan pendengarannya, kemudian dia mendengar suara seperti sesuatu bercakap-cakap di antara keributan sebelumnya.
“Aku baru saja kembali dari bumi dan makan besar.”
“Aku dengar Bencana sebelumnya sudah menghabiskan banyak manusia, tetapi apa kau dengar bahwa Wabah juga panen besar?”
“Banyak makanan lezat di bumi, tidak ada yang mau menyia-nyiakannya.”
“Aku dengar kabar dari mereka yang masih ada di bumi, katanya Wabah bertemu dengan jiwa yang sangat bagus. Kabar itu segera menarik beberapa iblis, namun katanya jiwa itu tidak bisa dimakan.”
“Oh ya aku dengar juga. Wabah sendiri kan, yang bilang bahwa jiwa itu sangat bagus, tapi ada makhluk yang sangat mengerikan di sebelahnya sampai-sampai tidak ada yang bisa mendekatinya.”
“Apakah ada dari kalian yang menemukan jiwa itu?”
“Tidak.”
“Tidak juga aku.”
“Aku dengar Fitnah menemukannya! Tapi dia dikalahkan dengan mengerikan, jadi dia mundur.”
“Sungguh? Aku ingin tahu makhluk seperti apa dia!”
“Kalian tidak mau bertemu dengannya.”
“Bencana?”
“Itukah suara Bencana?”
“Kalian tidak mau bertemu dengannya, dia bisa membunuh seribu dari kalian dengan mudah.”
“Dia sekuat itu?”
“Dia mengerikan. Dia secara terbuka menantang empat malapetaka.”
Seruan riuh rendah terdengar kaget. “Apakah dia menang? Siapa dia?”
“Dia Yang Makan Selama Empat Puluh Hari.”
Suara-suara itu berhenti seketika, menjadi hening dan tegang. Si pria membuka matanya, tidak mendengar apapun yang perlu dia ketahui lagi. Ketika dia mendongak, dia melihat langit sedikit terbuka dan cahaya yang lembut bersinar dari sana. Sosok bulat dan familiar muncul di langit, kembali menyinari bumi dengan cahayanya yang sendu. Itu adalah bulan.
“Tugasku sudah selesai.” Dia berjalan dan mengambil payungnya lalu menjadikannya seolah tongkat berjalan. “Ayo kita temui dia.”
Pria itu berjalan melwati jalur yang sebelumnya dilewati si gadis. Langkahnya pasti dan wajahnya tenang. Ketika ia sampai di taman di dalam gua, dia berhenti sejenak di tempatnya.
Gadis itu berlutut dan tertunduk di atas altar berbunga. Tubuhnya menatap ke satu sisi di mana bunga emas tumbuh, namun kepalanya tertunduk. Dari punggungnya, tertancap sebilah pedang panjang dengan gagang berkilau emas, menembus hingga ujung bilahnya menancap di batu altar, itu sebabnya tubuh si gadis terdiam kaku. Darah mengalir dari lukanya, bagaikan aliran sungai, mewarnai altar dengan warna merah. Bunga yang tadinya berwarna-warni kelopaknya kini dihiasi warna merah. Selendang emas yang kemilau menggantung dari lehernya, bagian depannya selamat dari bercak darah, namun belakangnya ternoda. Rupanya aliran darahnya begitu luas hingga rumput dan batuan bercahaya di bawah altar juga berwarna merah.
__ADS_1
Pria itu kemudian membuka payungnya dan dengan langkah hati-hati melewati bebatuan dan berdiri di hadapan tubuh mati si gadis. Dia berhenti ketika ujung sepatunya menyentuh genangan darah di rumput. Dengan hati-hati dia meletakkan payungnya di sebelah tubuh si gadis di atas altar, lalu mundur ke posisinya semula. Dia berlutut, tidak melepas pandangannya dari si gadis. Kemudian setelah menatap si gadis selama beberapa saat dengan wajah yang sendu, dia bersimpuh hingga kepalanya menyentuh batu dan bercak darah.
Jika seseorang melihatnya, pria itu akan terlihat seperti sedang menyembah sebuah patung.