The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Extra Chapter: A God pt.1


__ADS_3

Setelah lama menetap di Surga, normalnya para dewa mulai mengenal wujud sesama dewa. Karena ada beberapa dewa yang menonjol, mereka menjadi mudah diingat, namun beberapa dewa lebih suka menyendiri, atau selalu berpindah-pindah untuk banyak urusan, jadi sangat normal juga ketika ada beberapa wujud dewa yang hanya pernah didengar namanya namun tidak pernah terlihat wujudnya. Maka dari itu selain karena jumlahnya yang amat banyak, agak sulit untuk mengigat wujud dan nama masing-masing dewa.


Sang Putri Dewa sudah berada lama di Surga, dan ia sudah mengenal sebagian besar penghuni Surga. Namun tetap saja kadang-kadang ia kehilangan arah ketika mendengar atau melihat satu atau dua nama atau wajah baru di Surga. Tetapi dia tidak pernah menaruh curiga, karena seluruh penghuni Surga adalah makhluk yang mulia. Siapapun itu yang dia temui di Surga, dia yakin mereka kemungkinan seorang dewa yang tidak pernah dia kenali sebelumnya, Tentara Surgawi, atau jiwa yang sedang kebetulan mampir.


Jadi ketika dia bertemu seorang anak kecil di Surga, dia sama sekali tidak menaruh kecurigaan. Bocah laki-laki itu sedang duduk di salah satu tembok di dekat air mancur, tangannya sedang melipat-lipat kertas berwarna. Bajunya berwarna cokelat tua, seperti kain yang dililit dengan rapih ke badan kurusnya. Dia menunduk, tampak serius. Kepalanya agak botak dengan rambut sangat tipis. Ketika Sang Putri Dewa melewatinya, dia mengangkat kepalanya dan Putri Dewa menghormat rendah.


"Salam wahai Yang Mulia," kata Sang Putri Dewa.


"Salam." Bocah laki-laki itu menjawab dengan sopan. Suaranya tidak terdengar seperti suara anak kecil.


"Jika saya boleh bertanya, apa yang sedang Yang Mulia lakukan di sini?"


"Melipat kertas untuk hadiah." Dia menunjukkan kertas di tangannya. Pada saat itu kertasnya masih setengah jadi, jadi Sang Putri Dewa tidak bisa menebak wujud apa yang coba dibuat si bocah laki-laki.


Melihat ini Sang Putri Dewa tersenyum. "Yang Mulia sungguh terampil. Jika tidak keberatan, maukah Yang Mulia mengajari saya?"


"Tentu saja aku mau!" Bocah itu berseru. Dia mengundang Sang Putri Dewa duduk di sebelahnya, lalu mereka bersama-sama melipat kertas dari awal.


"Apakah mungkin Yang Mulia seorang dewa kesenian?" Sang Putri Dewa bertanya sambil mengikuti instruksi si bocah.


"Aku sudah sangat lama tidak ke sini, rasanya malu jika aku harus disamakan dengan seorang dewa. Pada titik ini, mungkin Anda lebih tahu mengetahui banyak hal mengenai tempat ini daripada aku. Katakan padaku, apa ada aturan baru lagi di Surga? Ketika aku masih sering berada di sekitar sini, Surga sering mengeluarkan aturan-aturan baru."


Sang Putri Dewa tertegun sebentar. "Saya tidak tahu kapan Yang Mulia terakhir berada di Surga, tetapi saya juga belum lama ini sampai di Surga. Semua peraturan sudah ditetapkan sejak sebelum saya tiba, jadi semuanya juga baru bagi saya. Mungkin Yang Mulia bisa membantu saya, peraturan apa yang terakhir Yang Mulia ketahui?"


Bocah laki-laki itu tampak berpikir sejenak sambil tetap melipat kertasnya. "Bahwa gelombang terakhir jiwa-jiwa harus sudah masuk paling lambat tiga hari waktu Surga setelah Hari Penghakiman?"


"Oh, kalau begitu Yang Mulia tidak terlalu jauh!" Sang Putri Dewa menjawab dengan ringan. Perbedaan waktu antara Surga dan Bumi sangat magis, jadi tiga hari di Surga bisa berarti puluhan tahun di Bumi. Dan karena langit Surga tidak pernah menjadi malam, maka perhitungan satu hari di Surga berbeda dengan satu hari di Bumi. "Segala urusan mengenai Hari Penghakiman sudah selesai. Belakangan ini para dewa hanya membahas berbagai masalah yang timbul dengan Tanah Neraka dan mendikusikan sedikit soal hukuman atas tahanan Surga. Sesungguhnya, Yang Mulia tidak ketinggalan banyak."


Bocah laki-laki itu memberinya instruksi untuk melipat bagian spesifik kertas lalu melanjutkan, "Syukurlah kalau begitu, aku pikir aku ketinggalan banyak." Dia berhenti sejenak untuk menginstruksikan lipatan lainnya. "Anda bilang Anda baru tiba di sini tidak lama. Aku tahu Anda seorang dewa, tidak sepertiku yang sudah lama tidak menginjak tempat ini, Anda selalu ada di sini sejak awal Anda tiba. Bagaimana rasanya berada di Surga?"


Sang Putri Dewa tersenyum simpul. "Saya harus katakan bahwa saya merasa terhormat boleh disambut di sini. Saya merasa bahwa saya telah menemukan tempat pulang."


"Pernahkah Anda turun ke Bumi?"


Sang Putri Dewa memberinya senyum yang mengandung makna nostalgia. "Saya berasal dari sana."


"Oh!" Bocah laki-laki itu berseru. Dia berhenti sejenak melipat kertasnya untuk menatap Putri Dewa dengan mata birunya yang lembut. "Itu sangat bagus. Tahukah Anda, bahwa untuk diangkat menjadi seorang dewa, sebuah jiwa harus sangat dicintai? Tentu saja jiwa itu harus juga murni, teguh dalam pendiriannya, dikaruniai karakter yang unik dan menyenangkan, dan lain sebagainya. Tetapi pertama-tama, jiwa itu harus dicintai. Cinta ini yang akan mendorong jiwa itu ke Surga. Seseorang, atau sesuatu, atau sekelompok individu, siapapun itu, yang jelas sesuatu sangat mencintai Anda! Tentu saja tidak semudah itu, tetapi intinya Anda sangat beruntung ada yang mencintai Anda begitu besar sehingga cintanya mendorong Anda sampai ke Surga. Sudah lama Surga tidak menerima dewa baru, aku sangat senang."


Sang Putri Dewa tidak bisa menahan tawanya. "Anda terdengar sangat senang, Yang Mulia. Terima kasih, saya merasa tersanjung."


"Apakah Anda pernah berpikir untuk kembali ke Bumi?"


"Oh, bagaimana saya berani? Saya merindukan manusia, iya, tetapi saya tidak berani melawan aturan Surga. Jika seandainya aturan Surga mengizinkan, saya akan pergi ke Bumi dan menuntaskan rasa rindu saya. Tetapi saya rasa tidak ada yang akan mendukung saya untuk kembali ke Bumi. Setidaknya untuk saat ini..."

__ADS_1


Bocah itu tersenyum lembut "Tolong jangan berkecil hati. Lihatlah, bunga kita sudah jadi." Bocah itu mengangkat tangannya dan menunjukkan kertas yang dia lipat sudah menjadi bentuk bunga mawar cantik. Sang Putri Dewa menatap bunga di tangannya dan juga terpesona. "Anda sudah menemani saya di sini, apa yang Anda inginkan sebagai balasan? Saya akan mengabulkannya."


"Yang Mulia, Anda tidak perlu melakukannya. Saya yang telah menerima dari Anda, seharusnya saya yang berhutang kepada Anda. Saya sangat berterima kasih. Tolong terima ketulusan saya untuk membalas kebaikan Anda."


Bocah itu tersenyum lembut. "Baiklah kalau begitu. Bisakah Anda memberitahu Sang Pangeran bahwa besok seorang dewa kecil ingin bertemu dengannya di Aula Besar Surgawi?"


Sang Putri Dewa menyanggupi permintaan itu dan segera berjalan ke arah Aula Surgawi, karena dia mendengar Sang Pangeran ada di sana. Tetapi baru separuh perjalanan, beberapa dewa yang tidak asing di matanya berlari melewatinya. Seorang dewa berhenti dan memberinya kabar, "Putri Dewa, kehadiran Anda ditunggu oleh Dewa Ilmu Sihir. Sebuah Union berhasil menembus Barikade Cahaya!"


Secepat angin, dia mengikuti para dewa itu ke ruangan Dewa Ilmu Sihir. Ada sebuah gasibu kecil di samping ruangan Dewa Ilmu Sihir, di tengahnya 4 orang dewa berdiri mengitari sesuatu di tengah gasibu. Sang Putri Dewa bersama dewa yang memanggilnya mendatangi gasibu itu. Semakin mendekat, semakin jelas objek yang dikelilingi para dewa itu adalah batu pualam segi 8 yang tingginya mencapai pinggang para dewa. Batu itu menampilkan sesuatu yang tampak seperti projeksi 3 dimensi dari suatu gambar; 3 pilar berwarna emas yang menjulang hingga ujungnya hilang di balik awan kelabu.


"Putri Dewa," Dewa Ilmu Sihir mengangguk singkat. "Kami membutuhkan bantuan Anda untuk memperkokoh Barikade Cahaya."


"Seberapa buruk keadaannya?" Tanya Putri Dewa.


"Serangan berasal dari 2 buah Union," jawab Dewa Ilmu Sihir.


Sebuah Union adalah persatuan dari para iblis yang menjelma menjadi sosok iblis raksasa. Tingginya bisa mencapai puluhan meter, dan kekuatannya adalah penggabungan dari semua iblis yang membentuknya, jadi Union sangatlah kuat.


Sang Putri Dewa mengangkat tangannya ke udara, telapak tangannya terbuka mengarah ke gambar pilar di hadapannya. Para dewa mengikuti gerakan Sang Putri Dewa, keenamnya mengitari batu pualam itu. Seketika, pilar itu diwarnai cahaya baru warna emas yang lebih terang daripada sebelumnya. Batu pualam segi 8 tinggi itu adalah inti Barikade Cahaya. Beginilah cara para dewa memperkokoh Barikade Cahaya, mereka tidak perlu terjun langsung ke Neraka untuk melakukannya. Mereka hanya perlu menyalurkan energi Surgawi mereka ke batu itu, lalu Barikade Cahaya di tanah Neraka akan memperkokoh dirinya.


"Siapa yang turun ke bawah?"


"Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan, serta Jenderal Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam. Keduanya membawa pasukan mereka."


"Jenderal Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam sangat agresif," seorang dewa perempuan di antara mereka berkata. Parasnya rupawan tetapi dia memancarkan aura yang lebih tangguh daripada lembut.


"Mereka berhasil menjatuhkan satu Union. Apakah mereka membunuhnya?" Dewa lain berkata.


"Saya tidak yakin," Dewa Ilmu Sihir menjawab. Beberapa saat kemudian dia mengerenyit. "Para Dewa Yang Agung, saya merasakan sesuatu."


Mata semua dewa kini menatapnya dengan was-was. Mereka terus memfokuskan energi mereka ke dalam inti Barikade Cahaya. Namun beberapa saat kemudian salah satu dari ketiga pilar berkedip dan cahayanya meredup. Dewa Ilmu Sihir semakin mengkerutkan dahinya. "Datang satu lagi. Satu Union datang lagi!" Katanya.


"Apakah mereka membunuh satu yang sebelumnya?" Dewa lain bertanya, kepanikan melanda wajahnya.


"Mereka menumbangkannya! Tetapi datang satu lagi yang menyerang barrier pertama!"


Putri Dewa mengerenyitkan dahinya, lalu dengan satu tangannya yang bebas, dia mengarahkannya ke belakang tubuhnya seolah ingin meraih sesuatu. Beberapa detik berlalu, kemudian melesat sebuah pedang emas berkilau di udara dan mendarat tepat di tangan Sang Putri Dewa. "Saya akan turun. Saya akan turun dan menghalau barrier pertama dari bawah!" Setelah mengatakan ini, Putri Dewa berlari ke tepi gasibu, lalu melompat. Dia tidak menghiraukan ujaran para dewa di belakangnya yang mencegahnya.


Ketika dia melompat, tubuhnya melayang dengan gesit seperti anak panah. Setelah melewati langit Neraka, dia menyaksikan pertempuran di Neraka secara langsung. Salah satu Union sudah berbaring di tanah dan dalam nafas terakhirnya melawan pasukan Tentara Surgawi. Dua Union lainnya masih berdiri tegak, sama-sama tengah memukul Barikade Cahaya. Dia bisa melihat ada retakan dari pukulan kedua Union itu.


Menyadari situasinya, dia melesat seperti burung, menukik tajam menghantamkan tubuhnya ke salah satu Union. Bunyi gedebum yang besar disertai pukulan energi dengan cahaya emas muncul ketika sosoknya menabrak Union itu. Union itu terhuyung dan oleng, lalu menabrak Union di sebelahnya, sehingga gerakan memukul mereka berhenti sejenak. Puluhan monster yang tampak seperti keleawar dan burung raksasa terbang dari dalam tubuh Union, melepaskan diri mereka. Sang Putri Dewa mendarat di tanah sambil menyeimbangkan kedua kakinya.


"Putri Dewa!" Dia mendengar suara seseorang. Dia mengenali suara itu sebagai suara Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan.

__ADS_1


"Jenderal Dewa, bantu saya menyingkirkan mereka dari sekitar tembok. Saya akan mengokohkannya," Sang Putri Dewa berkata dengan cepat ketika sosok Jenderal Dewa itu turun dari langit. Pakaian perangnya yang berwarna perak sudah kotor dinodai darah hitam, namun wajahnya masih bersih. Ketika turun, dia membawa pedang dan perisai di kedua tangannya.


"Bagaimana dengan Dewa Ilmu Sihir? Apakah sang dewa sedang mengokohkan Barikade Cahaya?" Tanya sang Jenderal Dewa.


"Para dewa sedang mengokohkan inti Barikade Cahaya dari atas. Saya di sini untuk memperbaiki barrier pertama. Tolong bantu saya."


"Baiklah, Putri Dewa. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Dengan demikian dia pergi.


Sang Putri Dewa tahu bahwa bagaimanapun caranya, dia harus berhasil memperbaiki barrier pertama di sini. Jika dia gagal, Union akan menyerang barrier kedua dan pertempuran akan menjadi lebih kacau. Mereka sudah terancam dengan rusaknya barrier, dan kini ada 3 Union yang menyerang mereka, jadi dia tidak boleh membiarkan situasi menjadi lebih kacau. Dia akan melakukan segala cara untuk memenangkan Surga hari ini. Dia seorang dewa, dia diberkahi kuasa ilahi yang besar. Dan tidak tidak akan mati. Jadi apapun yang dia lakukan haruslah membawa kemenangan bagi Surga.


Sambil Sang Putri menguatkan barrier, mari kita mundur sedikit ke pertemuannya dengan seorang dewa kecil sebelumnya.


Dewa kecil itu bicara soal sebuah jiwa yang diangkat ke Surga dan menjadi seorang dewa adalah jiwa yang sangat dicintai. Ini benar adanya. Jika kita berpikir secara sederhana, apa yang menjadikan seseorang pemimpin bisa berkuasa? Itu adalah dukungan dari pengikutnya. Sama seperti para dewa, yang menjadikan seseorang sebagai dewa adalah cinta orang-orang yang mempercayainya. Jaman dahulu, mudah bagi seseorang untuk naik menjadi dewa. Dia cukup dicintai banyak orang, lalu Surga akan menyeleksinya dan jika dia memenuhi syarat Surga, dia akan naik sebagai dewa. Sekarang, sangat sulit. Manusia tidak lagi mempercayai banyak dewa, dan mereka jarang sekali akan menyembah pemimpinnya sebagai dewa. Meskipun ada, tetapi itu adalah perbuatan yang salah bagi Surga, sehingga perbuatan itu tidak akan dihitung sebagai kebaikan, tetapi sebagai kesesatan.


Lalu bagaimana bisa jiwa seorang manusia naik ke Surga dan menjadi dewa di masa kini?


Hanya Sang Roh Merah yang bisa menjawabnya. Namun dia hanya tertawa ketika kembali menginjak kepala iblis yang sudah bersimpuh di kakinya. Iblis itu tidak bergerak, mungkin dia sudah mati. "Siapa yang menyuruhmu mengangkat kepalamu?"


Erangan rintih muncul dari kepala yang diinjaknya, rupanya iblis dengan wujud separuh ular itu masih hidup. "Kau ******** arogan," umpat si ular. Suaranya tidak jelas karena mulut dan hidungnya menatap tanah.


"Kau pikir kau bisa menjadi lebih tinggi dariku? Menjadi seorang jenderal? Atau seorang dewa? Siapa yang akan menunduk padamu? Kau lebih pantas menunduk daripada disembah. Tidak ada yang pantas dimuliakan dari padamu." Suara Sang Roh Merah terdengar dingin dan matanya memicing marah. Payungnya saat itu tidak ada di tangannya.


Ketika dia berhenti bicara, tiba-tiba bunyi dentuman yang keras disusul cahaya yang terang muncul dari belakangnya, asalnya dari kejauhan. Mendengar ini, Sang Roh Merah memutar tubuhnya, sehingga kakinya harus meninggalkan kepala si iblis. Saat itulah sekelilingnya yang gelap mendadak terang, dan siapa saja bisa menyaksikan tumpukan mayat iblis terpotong di sekitarnya, jumlahnya mungkin ratusan. Sang Roh Merah menatap jauh ke sumber suara dan cahaya itu, wajahnya diwarnai keterkejutan, tetapi di atas semua itu ada ekspresi lain di wajahnya, ekspresi yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata.


Tiba-tiba iblis ular di kakinya tertawa keras. "Hahaha! Dengar? Itu adalah suara kekalahan Surga! Hahahaha! Kami masih menang, kami masih menang! Jadi untuk apa kamu membunuh kami? Kau bilang mau menghadapi Surga sendiri? Surga sudah kalah, kalah! Hahaha! Kau buang-buang waktu membunuh kami, tapi tujuanmu sendiri tidak tercapai. Hahaha, monster yang malang. Hahaha!"


Tawa itu adalah suara terakhir dari si iblis, karena detik berikutnya kaki Sang Roh Merah menginjak kepalanya hingga remuk. Matanya melotot marah dan wajahnya kaku. Dengan kedua tangan terkepal, dia memutar tubuhnya. Beberapa langkah dari situ, dia mengangkat tangan kirinya, kemudian payung merah terbang ke tangannya. Seketika itu juga dia menghilang menjadi percikan cahaya warna merah.


Kembali ke Barikade Cahaya, Sang Putri Dewa masih berdiri di hadapan barrier pertama dengan kedua tangan terangkat di udara. Sekelilingnya dilindungi lingkaran energi warna emas yang menghalau iblis mendekatinya. Diluar sana, kedua Jenderal Dewa masih bertarung mati-matian dengan kedua Union. Mereka berhasil membunuh satu ketika para iblis yang selamat dari 2 Union sebelumnya mulai berdatangan lagi dan membentuk Union baru. Mereka kembali menghadapi 2 Union.


Sebuah Union mengganggu Sang Putri Dewa dan memukul lingkaran energinya sampai Sang Putri Dewa jatuh berlutut. Tepat ketika itu Union lainnya terjatuh menabrak barrier pertama. Melihat itu Sang Putri Dewa segera kembali mengangkat tangannya ke arah barrier. Barrier itu mendorong Union yang tadi menabraknya menjauh dari sana, memberi kesempatan pada Jenderal Dewa dan pasukannya yang melayang-layang di udara untuk memukulnya lagi dan menariknya menjauh dari barrier. Sang Putri Dewa lupa membuat lingkaran energi untuk melindunginya lagi, namun untungnya ketika Union yang tadi memukulnya hendak memukulnya sekali lagi, Jenderal Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam menghadang tangan Union itu bersama pasukannya.


"Jenderal Dewa!" Sang Putri Dewa berteriak sambil menoleh ke belakangnya untuk memeriksa Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam. Dewa yang bersegel merah maroon itu berteriak keras sebagai isyarat pada pasukannya untuk bergerak maju agar mendorong tangan si Union. Gerakan mereka sayangnya ditahan ketika Union itu mengerahkan kedua tangannya. Sang Putri Dewa memindahkan satu tangannya dan mengarahkannya ke arah sang Jenderal Dewa. Dengan energi spiritualnya, dia mendorong pasukan itu ke atas. Akibatnya, Jenderal Dewa dan pasukannya berhasil mendorong si Union mundur beberapa langkah.


Namun tiba-tiba suara ledakan lain muncul dari belakang medan perang. Celaka, ujar Sang Putri dewa dalam hati. Mereka belum selesai dengan 2 Union dan sekarang datang Union lainnya!?


Ledakan itu memberikan getaran setara gempa di tanah, bahkan Union yang tadinya berhadapan dengan Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam pun harus oleng dan jatuh berlutut. Sang Putri Dewa sendiri terjatuh karena hilang keseimbangan. Dia melihat para pasukan dan Jenderal Dewa yang tadinya melayang di udara berjatuhan karena energi yang mendorong mereka jatuh. Ketika semua yang tadinya berdiri dan terbang kini tergeletak di tanah, mereka semua dilanda rasa was-was dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi.


Bunyi mendesis terdengar dari langit, suara itu menyerupai suara cambuk melesat di udara. Kemudian ketika suara cambuk itu terdengar menyentuh sesuatu, sosok merah panjang yang melayang muncul dari kejauhan seperti ular, melesat cepat ke tanah. Awalnya hanya ada 1 garis merah di langit, namun kemudian garis itu terpecah menjadi 2, dan semakin ia mendekat ke tanah, sosoknya menjadi menyerupai kepala ular. Tidak, itu bukan ular. Ketika orang-orang melihatnya dengan lebih cermat, itu adalah kepala naga dengan dua tanduk di kepalanya.


Kedua kepala itu menghantamkan dirinya ke kedua Union dengan bunyi ledakan yang keras. Sosok yang tadinya adalah kepala naga itu pecah menjadi sesuatu yang beterbangan dan bercahaya merah, mirip ngengat, dan langsung naik lagi ke langit. Jutaan ngengat bercahaya merah itu melahap kedua Union, lalu naik ke langit dan menjadi satu kembali sebagai bentuk kepala naga. Kedua naga itu naik ke langit tinggi-tinggi hingga ketika tubuh merahnya meninggalkan tanah, kedua Union itu tidak ada lagi.


Semua orang masih terpana memandangi sosok kedua naga panjang itu naik ke langit, jadi ketika mereka menundukkan kepalanya, mereka saling tatap dalam kebingungan. Tapi kemudian mata semua orang menatap ke arah datangnya kedua naga itu, tahu bahwa pasti ada sesuatu dari sana. Dan mereka benar. Dari arah kedua naga itu datang, tidak jauh dari mereka, sosok yang berkelebat merah berdiri di tanah. Sosoknya anggun dan berkilau merah. Dia terlihat sangat gagah.

__ADS_1


Namun semua orang ketakutan.


__ADS_2