
Itu adalah Sang Roh Merah.
Ketika Sang Roh Merah berjalan mendekat, para prajurit segera berdiri. Namun Sang Roh Merah menggerakkan cambuk merah di tangannya dan menyabetkannya di udara, memberikan ledakan energi yang mendorong semua orang kembali duduk. Dia semakin mendekat dengan langkah tegap. Cambuk merah itu menghilang dari tangannya, lalu tinggallah Sang Roh Merah dengan payung tertutup di tangan kirinya. Ketika ia sudah sangat dekat dengan prajurit yang duduk paling depan, bunyi seperti kembang api meletus muncul di langit sebanyak 2 kali. Mata semua orang ditarik untuk melihat ke langit.
Ketika semua orang sibuk menatap ke langit karena terkejut, tiba-tiba Sang Roh Merah sudah berlutut di hadapan Sang Putri Dewa. Dia menawarkan tangannya dengan hangat, lalu ketika Sang Putri Dewa menyambutnya, dia membawa keduanya berdiri lalu membuka payungnya. Sang Putri Dewa mendengar orang-orang berseru dari belakang Sang Roh Merah dan dia memiringkan tubuhnya untuk menoleh. Orang-orang menatap ke langit dengan ngeri dan heran sambil menunjuk-nunjuk. Ketika orang-orang berdiri, mereka terlihat ingin menghindari sesuatu yang jatuh dari langit, namun Sang Putri Dewa tidak tahu apa itu. Ketika dia mengamati lebih lama, dia terkejut dengan suara sesuatu yang jatuh dari langit dengan begitu keras. Dia bisa mendengar sesuatu itu juga menabrak payung Sang Roh Merah, namun karena ia terkejut ia sempat memejamkan matanya sebentar. Setelah membuka matanya dan mengamati sekitarnya, barulah ia bisa sungguh-sungguh mengerti.
Benda yang jatuh sebelumnya adalah cairan darah hitam kental para iblis. Jatuhnya bahkan lebih dasyat dari hujan besar-besar yang datang secara tiba-tiba, lebih seperti seember air yang tiba-tiba ditumpahkan sepenuhnya ke tanah. Dia bisa melihat semua prajurit dilumuri darah hitam dari atas sampai bawah tanpa cela. Sosok mereka menjadi hitam legam dan tidak dikenali. Dia bisa mendengar beberapa suara ngeri dan beberapa suara mual muncul secara bersamaan dari sekitarnya. Namun ketika dia melihat tubuhnya sendiri, gaun emasnya sama sekali tidak ternoda bercak darah itu. Dia mendongak menatap payung merah di kepalanya, lalu ke wajah Sang Roh Merah.
Pria itu sedang menatapnya tanpa emosi. Wajahnya kosong, namun matanya menembus mata Sang Putri Dewa. Dia tidak bicara selama beberapa saat. Hanya ketika Sang Putri Dewa mengerjap, Roh Merah menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan rambut yang menempel di kerah gaun Sang Putri Dewa. Dalam sekejap, rambut Sang Putri Dewa terjatuh dengan rapih di punggungnya. Seolah puas melihatnya, Sang Roh Merah tersenyum lalu berkata, "Apa kamu terluka?"
"Tidak," jawab Sang Putri Dewa. "Apa kau terluka?"
"Tidak," jawab Sang Roh Merah. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun mulutnya tidak jadi terbuka ketika suara lain menginterupsinya.
"Roh Merah!" Itu adalah suara Dewa Perang dan Kebijaksanaan. Sosoknya yang juga dibanjiri darah hitam berdiri di sisi kiri mereka, agak jauh. Pedangnya menghunus di tangannya dan matanya menatap dengan marah ke arah Sang Roh Merah. "Penghinaan macam apa ini!" Dia berteriak lagi.
Sang Roh Merah memutar tubuhnya tanpa membiarkan Sang Putri Dewa keluar dari naungan payungnya. Dia balas menatap sang Jenderal Dewa. "Penghinaan macam apa ini? Kau meracau di tanahku." Suaranya dingin.
"Beraninya kau bicara padaku!" Sang Jenderal Dewa terdengar marah.
"Beraninya kau menyombongkan diri dengan datang ke tanahku hanya untuk mempermalukan dirimu sendiri," jawab Sang Roh Merah.
Wajah sang Jenderal Dewa memerah. "Beraninya kau menghina seorang dewa!"
Mendengar ini Sang Roh Merah tertawa mengolok. "Dewa? Apanya yang dewa? Tidak ada yang 'dewa' dalam dirimu. Kau bahkan tidak punya pengikut. Tidak ada seorangpun dari kalian yang masih memiliki pengikut. Bagaimana bisa kalian berani menyebut diri kalian dewa?
"Kau!!" Kali ini Jenderal Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam ikut berdiri dan marah. "Kau tidak tahu apa-apa soal dewa! Tutup mulutmu!"
"Kalau begitu apa yang kalian tahu soal dewa? Mulia dan perkasa? Apa kalian sadar kalian baru saja kalah dari seorang monster sepertiku? Dua Jenderal Dewa dan pasukannya kalah dari seorang monster? Apakah itu dewa?" Sang Roh Merah bertanya dengan dingin. "Kalian terlalu lama duduk menikmati status kosong. Kalian tidak mengenal lagi manusia yang dulu kalian banggakan. Tidak ada seorang dewa yang duduk dibalut kecongkakkan, mereka hanya tong kosong."
"Jangan berani-berani bicara seolah kau mengenal kami atau manusia kami," Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam berkata sambil merapatkan giginya. "Kau tidak layak bicara dengan mulutmu yang kotor itu, jadi tutup mulutmu. Hadapi aku jika kau berani."
Mata Sang Roh Merah berkilat mendengar ini. "Aku terima tantanganmu. Namun jika kalian kalah, kalian harus menyerahkan status kalian padaku."
"Jenderal Dewa!" Sang Putri Dewa berseru dari belakang Roh Merah. "Tolong jangan lakukan ini, Jenderal Dewa. Dia hanya memancing amarah, jangan termakan kata-katanya. Kita benar memasuki tanah Neraka untuk tugas suci, namun ini tetap tempat tinggalnya. Memaksanya keluar dengan tindakan kita yang ceroboh adalah kesalahan. Kita seharusnya berterima kasih."
"Putri Dewa! Apakah Anda tahu yang Anda katakan!?" Jenderal Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam berkata. "Monster ini!"
"Tolong, Jenderal Dewa, saya sepenuhnya sadar. Izinkan saya bicara." Putri Dewa sekali lagi menaikkan nada bicaranya, kali ini bahkan dia maju ke depan Sang Roh Merah. Tetapi kemudian dia menghilangkan semua emosi dari wajahnya lalu memunggungi kedua Jenderal Dewa, matanya menatap Roh Merah.
Dia memuai, "Tuan... Roh Merah, saya mohon maaf atas tindakan gegabah kami yang membuat Anda tidak nyaman di tanah Anda sendiri, sampai-sampai Anda harus turun tangan dalam masalah kami. Tolong lepaskan kami untuk saat ini supaya kami dapat kembali ke Surga dan memperbaiki diri. Kami akan berusaha untuk menuntaskan masalah kami tanpa mengganggu ketenangan Anda di kemudian hari. Sebagai gantinya, mulai sekarang kami akan memperhitungkan tindakan Anda sebagai kebaikan dan akan berhenti mengganggu Anda."
Sang Roh Merah berdiri diam selama beberapa saat sambil menatap Putri Dewa yang menunduk hormat di hadapannya. "Sejauh yang aku tahu, kalian para dewa meyakini bahwa setiap kebaikan akan dibayar dengan karunia. Apa yang dapat kalian berikan padaku?"
"Saya akan mendengarkan satu permintaan Anda dan mengabulkannya," jawab Sang Putri Dewa tanpa mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Putri Dewa!" Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan mulai berseru. "Mengapa engkau-!"
"Baiklah." Suara menggelegar Sang Roh Merah mematikan suara sang Jenderal Dewa. Dia menyodorkan tangannya untuk mengangkat wajah Sang Putri Dewa agar keduanya kembali bertatapan. "Aku akan melepaskan masalah ini dan membiarkan kalian kembali ke tanah kalian. Tetapi aku menganggap Surga berhutang padaku, dan aku akan datang suatu hari untuk menagihnya." Dia berhenti sejenak. "Putri ini, adalah seorang dewa yang santun, lebih pantas daripada kalian. Aku akan menghapuskan hutangnya karena dia sudah menunduk padaku. Kalian dengar itu? Jika aku berkata Surga berhutang padaku, dewa ini sudah lepas dari hutangnya."
Umpatan dan cacian terdengar dari sekelilingnya, namun Sang Roh Merah tetap dengan wajah acuhnya. Kali ini dia bicara kepada Putri Dewa, namun suaranya keras sehingga para jenderal dewa dan pasukannya bisa mendengarnya. "Apakah kamu tahu kamu lebih pantas menjadi seorang dewa daripada semua dewa lainnya?"
Sang Putri Dewa mengerjap sekali. "Saya tidak berani," jawabnya. Ini adalah jawaban terbaik yang bisa dia berikan, karena dia memiliki banyak maksud dalam ucapannya dan berusaha memberikan kata-kata yang tepat.
Namun Sang Roh Merah tampaknya mengacuhkan maksud yang Sang Putri Dewa coba berikan. "Para dewa, apakah kalian tahu bahwa butuh keajaiban untuk mengangkat seorang jiwa manusia menjadi dewa?" Dia mendongak dengan congkak. Dari matanya berkilat api. "Jiwanya pasti sangat dicintai oleh kalian di Surga."
"Tutup mulutmu!" Jendera Dewa Perang dan Kebijaksanaan tiba-tiba berkata.
Sebaliknya, Sang Roh Merah tersenyum mencibir. "Kalian sangat mencintainya tetapi kalian tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa duduk diam. Apakah kalian pernah bertanya pada diri kalian sendiri, apa kalian layak atau tidak menjadi dewa? Pernahkah kalian mengalami apa yang dia rasakan, melakukan sejauh apa yang ia lakukan, mengorbankan apa yang dia punya meskipun dia tidak punya lagi? Apakah kalian merasa pantas dibandingkan dirinya?"
"Dia melakukan segalanya dan kehilangan segalanya, tapi kalian tidak melakukan apa-apa dan hanya duduk menunggu untuk waktu yang tidak terbatas, untuk kemungkinan yang diniscayakan. Sia-sia. Tidak ada dari kalian yang mau jatuh sepertinya. Tidak ada dari kalian yang mau mengorbankan diri dan mengantar jiwanya. Begitukah dewa-dewa yang agung memperlakukan jiwanya!?" Sang Roh Merah menaikkan nada bicaranya. Rasa jijik jelas tergambar di wajahnya.
Pada titik ini, Sang Putri Dewa merasa seluruh wajah dan telinganya panas. Dia ingin bersembunyi di balik lengan gaunnya yang panjang, namun dia terlalu takut untuk bergerak. Sementara bagi para dewa, wajah mereka memerah dan panas karena rasa marah. Apa yang dirasakan Sang Putri Dewa setelah mendengar kata-kata ini sangat berbeda dengan yang dirasakan para dewa. Seolah seperti kata-kata ini mengandung arti yang berbeda bagi keduanya.
"Dia menjunjung kehormatannya sebagai seorang dewa di hatinya, bukan pada statusnya." Pukulan telak ini dilancarkan Sang Roh Merah tanpa ampun, membuat para dewa merapatnya giginya dan menelan ludahnya sendiri. "Haruskah aku mengingatkan kalian?"
"Sudah cukup!" Jenderal Dewa Pertumpahan Darah dan Dendam berteriak.
Bersamaan dengan itu, suara lemah Sang Putri Dewa mewarnai telinga Sang Roh Merah. Hanya dia yang bisa mendengar suaranya pada saat itu, jadi dia tahu betul bahwa Sang Putri Dewa pasti berbicara padanya. "Sudah cukup, Tuan Arwah." Ketika Roh Merah menunduk untuk menatapnya, Putri Dewa memalingkan matanya, keningnya mengerut dan ujung kedua matanya memerah.
Bagai disambar petir, secepat itu Sang Roh Merah memicingkan matanya, lalu mendongak untuk menatap kedua Jenderal Dewa. "Kalian sebaiknya segera pergi dari sini sebelum aku mempermalukan kalian lebih jauh. Kalian harus pergi atau aku akan mengambil jaminan. Jika tidak," dia berhenti sejenak, lalu tangannya melingkari tubuh Sang Putri Dewa. "Aku tidak akan mengembalikan jaminan kalian."
Di tempat lain, Sang Roh Merah mendarat bersama Sang Putri Dewa. Keduanya mendarat di dekat sebuah batu besar, Sang Putri Dewa bersandar di batu, dihimpit oleh Sang Roh Merah dihadapannya, masih berpayung Selubung Buta. Ketika itu Sang Putri Dewa segera melepas kedua tangannya yang sejak tadi melingkar di tubuh Sang Roh Merah sebagai tumpuan, dan kali ini kedua tangannya segera naik menutupi wajahnya. Dibalik lengan gaunnya, kepalanya tertunduk, matanya terpejam dan keningnya mengerut. Dia bisa merasakan tangan Sang Roh Merah di kepalanya, mengusap kepalanya pelan-pelan.
Mereka tetap dalam posisi itu selama beberapa waktu, sampai kemudian Roh Merah mengangkat suaranya. "Apakah kamu takut padaku?" Tanyanya. Sang Putri Dewa menggeleng kuat-kuat tanpa melepaskan tangannya yang masih menyembunyikan wajahnya. "Kalau begitu kenapa kamu tidak mau melihatku?"
Mendengar itu Sang Putri Dewa bergidik. Dia menahan rasa malunya lalu mengangkat kepalanya. Mata Sang Roh Merah yang menatapnya tidak menampilkan ekspresi apa-apa kecuali rasa penuh pengertian. Putri Dewa kembali memalingkan matanya beberapa saat kemudian. "Kau tidak harus melakukannya. Kau hanya akan mempermalukanku..." ujar Sang Putri Dewa.
Sang Roh Merah tersenyum mendengarnya, tangannya tidak berhenti mengusap kepala Putri Dewa. "Para dewa pantas untuk diingatkan. Mereka sudah tua dan banyak yang sengaja mereka lupakan. Pantasnya mereka melihatmu dengan lebih baik dan belajar darimu."
"Aku tidak ingin dilihat seperti itu," Putri Dewa menggerutu. "Aku hanya akan malu. Aku tidak lebih baik daripada para dewa lainnya, aku tidak merasa pantas untuk menjadi panutan. Berhenti memprovokasi para dewa," ujarnya.
"Kamu adalah dewaku, bagaimana bisa aku tidak membanggakanmu di hadapan semua makhluk?" Sang Roh Merah berkata sambil tersenyum. "Kamu adalah dewa yang rendah hati dan santun, kamu menghargai kepercayaan orang lain dan tidak memaksa orang lain untuk mengikutimu. Tetapi aku berbeda. Mengagungkan dan menyombongkan dewaku adalah sifat alamiku, apapun yang aku lakukan, semuanya akan selalu untuk menggaungkan kemuliaanmu, karena bagiku kamu satu-satunya dewa yang layak berada di Surga."
Kening Sang Putri Dewa mengkerut sedikit. "Itu berlebihan. Sebagai dewamu, aku melarangmu melakukannya. Tidak ada yang baik dari menyombongkan sesuatu," Sang Putri Dewa kemudian berkata dengan tegas, meskipun matanya masih belum menatap Sang Roh Merah.
Hati kecil Sang Roh Merah bersorak riuh, namun dia menjaga agar wajahnya tetap tenang dan hanya senyum misteriusnya yang menghiasi wajahnya. "Baiklah, apapun yang kamu mau," jawabnya. Suaranya ringan dan riang, diiringi tawa. Meskipun dia bilang akan menjaga wajahnya, toh perasaannya lolos juga lewat ucapannya. Bagaimana dia bisa tenang? Dewa yang dia puja baru saja mengakui dirinya.
Sang Putri Dewa masih terdiam sejenak sambil berusaha menguasai dirinya. Ketika keberaniannya sudah terkumpul, dia mendongak menatap Sang Roh Merah. "Pengorbanan apa yang sebelumnya kau bicarakan? Apa yang perlu dikorbankan untuk mengantar jiwa seseorang menjadi dewa?"
"Oh, hanya butuh seratus orang untuk bersimpuh dan berdoa sambil berpuasa selama empat puluh hari. Seorang dewa harusnya bisa mengumpulkan jiwa sebanyak itu dan menginstruksikan mereka untuk bersimpuh dan berdoa, tetapi tidak ada yang berani melakukannya karena takut melanggar hukum Surga," jawab Sang Roh Merah.
__ADS_1
"Dan kau melakukannya? Bagaimana kau bisa menemukan seratus orang untuk bersimpuh dan berdoa?"
"Aku tidak mencari siapa-siapa, aku melakukannya sendiri."
Wajah Sang Putri Dewa diwarnai kebingungan mendengarnya. "Bagaimana?"
"Aku bersimpuh di hadapanmu dan berdoa selama seribu hari tanpa henti," jawab Sang Roh Merah.
Sang Putri Dewa mengerjap. "Dan kau tahu doa mana yang harus diucapkan?"
"Aku sudah hidup sangat lama untuk tahu doa mana yang harus diucapkan pada saat-saat tertentu," jawab Sang Roh Merah pelan, tanpa tanda-tanda kesombongan dalam nada bicaranya. "Apa yang aku lakukan cukup untuk mengantarmu ke depan pintu Surga dan mendobraknya supaya kamu bisa masuk. Surga sudah sangat menyukai jiwamu, jadi mereka pasti akan menerimamu."
Sang Putri Dewa terdiam lagi, kali ini matanya menatap mata gelap keunguan Sang Roh Merah yang tak gentar menatapnya. Dari mata Sang Putri Dewa yang terbuka lebar, berkelebat cahaya emas yang berkedip cantik. Sambil mendesah, Putri Dewa menundukkan kepalanya dan tertegun sejenak sebelum kemudian menjatuhkan kepalanya ke dada Sang Roh Merah. Seketika itu juga aroma kayu memenuhi kepalanya, dan dia menggenggam jubah merah pria di hadapannya, menarik dirinya lebih dekat ke aroma kayu itu. Di hadapannya, Sang Roh Merah menahan kepala Sang Putri Dewa agar tetap berada di dekapannya.
"Kenapa kau melakukannya untukku? Kenapa kau begitu menyukaiku? Apa... apa yang aku lakukan sehingga pantas menerima cintamu?" Bisikkan itu muncul hampir terdengar seperti orang kumur-kumur, namun itu karena Sang Putri Dewa mengatakannya sambil membenamkan wajahnya jauh-jauh di jubah Sang Roh Merah. Dia bahkan tidak berkeinginan untuk mengangkat wajahnya.
Tetapi Sang Roh Merah mendengar ini. Sambil tersenyum dia berkata, "Kamu sudah mempercayaiku ketika seluruh dunia tidak menerimaku. Itu sudah lebih dari cukup untukku."
Putri Dewa terdengar mendesah lagi. "Aku tidak ingin meninggalkanmu. Tolong jangan tinggalkan aku."
Sang Roh Merah tertawa mendengar ini, lalu memeluknya dan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan dengan lembut. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Panggil saja aku dan aku datang kapanpun dimanapun," katanya. "Tapi." Dia berhenti sejenak. "Kamu harus kembali ke Surga."
Kali ini Sang Putri Dewa mengangkat kepalanya. "Oh kau akan mengembalikanku ke Surga? Aku kira kau mau mengancam Surga dengan menculikku?"
"Aku memang menggertak. Tapi sebetulnya itu hanya alasan supaya aku dapat bicara berdua denganmu " jawabnya. Senyumnya terlihat bermain-main.
"Benar juga, akan jadi masalah yang lebih besar jika kau benar-benar menculikku... aku akan pergi, kalau begitu. Kita bisa bertemu lagi lain waktu."
"Tentu saja. Maafkan aku jika aku menakutimu sebelumnya. Aku akan mengirimkan permintaan maafku malam ini."
Ketika Sang Putri Dewa kembali ke Surga, dia harus dihadapkan dengan para dewa termasuk Sang Pangeran Surgawi yang mengkhawatirkannya, sekaligus haus akan informasi. Jadi saat mereka berbicara di Aula Besar Surgawi, Sang Putri Dewa tidak berbohong dan mengatakan bahwa Sang Roh Merah hanya menggertak dengan membawanya lari, namun mengirimnya kembali tanpa terluka. Dia mengizinkan dirinya diperiksa dewa-dewa ilmu kesehatan untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja dan Sang Roh Merah tidak melukainya.
Setelah dirinya terbukti tidak terluka, para dewa mulai bertanya-tanya sambil beberapa memaki, apa sebenarnya tujuan Sang Roh Merah tiba-tiba datang dan membunuh para Union, lalu menculik Sang Putri Dewa. Setelah perdebatan yang agak alot, Sang Putri Dewa berhasil meyakinkan para dewa (pada saat itu) bahwa Sang Roh Merah tidak bermaksud apa-apa selain hendak mengolok inkompetensi Surga melawan Union, lalu menggertak agar para penghuni Surga mengangkat kakinya dari tanah Neraka tempatnya tinggal.
Pembicaraan hari itu ditutup dengan kondisi setengah tegang dan pertanyaan yang tidak terjawab, namun para dewa menutup mulutnya masing-masing dan satu demi satu meninggalkan Aula Besar Surgawi. Sang Putri Dewa tidak lupa menyampaikan pesan sang dewa kecil sebelumnya kepada Pangeran Surgawi, jadi dia bicara ketika hanya tinggal mereka berdua di aula. Setelahnya, dia kembali ke ruangannya untuk beristirahat.
Kita sudah membahas sebelumnya bahwa langit Surga tidak pernah menjadi malam, namun itu tidak membuat para dewa lepas dari konsep waktu. Hanya saja, konsep waktu para dewa sangat berbeda dari manusia, sehingga manusia tidak bisa memahaminya. Jadi ketika Sang Putri Dewa sudah melepas pedangnya dan dia duduk di lantai di tepi ruangannya, menatap ke langit, dia berseru dengan pelan "Oh, sudah mulai malam", padahal ketika itu langit Surga masih diwarnai emas seperti biasanya.
Dia duduk berlama-lama di lantai, banyak berpikir dan mengenang. Ketika itu dia teringat bahwa dia meninggalkan bunga kertasnya bersama sang dewa kecil. Dia berharap bisa membuatnya lagi, lalu menjadikannya hiasan di ruangannya. Dia melihat ke sekelilingnya, mengamati furnitur bernuansa emas mengelilinginya. Mungkin bunga kertas selanjutnya juga warna emas?
Tetapi kemudian dia mulai mengamati lebih teliti dan menyadari bahwa tidak seluruh ruangannya bernuansa emas. Ada vas bunga kotak di atas meja yang ditumbuhi bunga kecil-kecil berwarna merah, ada lentera merah yang tidak menyala di sisi ranjangnya, kursi emasnya memiliki bantalan warna merah, di rak yang memajang buku-bukunya banyak dihiasi ornamen warna merah, termasuk pita merah besar berhiaskan manik-manik putih, ada sebuah kotak perhiasan di rak itu yang jika dibuka akan menampilkan anting permata bermarna merah. Itu semua adalah emas dan merah. Kemudian dia berpikir kembali, mungkin bunga kertas selanjutnya berwarna merah.
Dia teringat lagi bahwa semua barang-barang itu tidak dia dapat sendiri, melainkan sebuah hadiah. Hadiah-hadiah itu berwarna merah karena itu berasal dari Sang Roh Merah. Dia sering memberi Putri Dewa hadiah yang dia dapatkan selama perjalanannya entah di manapun itu, di Bumi atau di Neraka. Dia membuat segalanya menjadi baru, lalu memberikannya pada Putri Dewa. Dia benar-benar sosok yang baik hati padanya, namun sangat angkuh bagi para dewa lainnya.
Dia sudah lama terlarut dalam pikirannya sampai suatu ketika suara berdesing terdengar di langit dan seketika perhatiannya tersita ke langit. Suara desing yang mirip pecut itu masih muncul beberapa detik tanpa wujud, sampai akhirnya muncul segaris merah panjang yang memancarkan percikan api naik ke langit. Garis itu berhenti naik pada suatu titik, tepat di hadapan Sang Putri Dewa, lalu meledak menjadi percikan api warna merah yang sangat besar. Mudah bagi Sang Putri Dewa untuk menyatakan bahwa itu adalah kembang api. Kembang api itu muncul sebanyak 3 kali di langit, lalu keheningan kembali mewarnai langit Surga.
__ADS_1
Samar-samar, Sang Putri Dewa mendengar suara keributan dari luar ruangannya, lalu dia terdiam dan tersenyum sambil tertawa malu-malu. Dia bisa mendengar beberapa suara berkata "apa itu? Ancaman baru?", "apakah itu kiriman dari Neraka?", "apakah itu bahaya?", "bagaimana menurut Anda, apakah kita harus menganggapnya ancaman?", dan lain sebagainya. Namun Sang Putri Dewa masih tertawa pelan-pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Menurutku itu cantik. Aku terima permintaan maafmu."