
Keduanya melanjutkan perjalan pagi-pagi sekali esok harinya, saat sinar matahari pertama baru menyentuh cakrawala. Si gadis meminta maaf di awal hari karena ia tertidur separuh cerita si pria dan tidak mendengar bagaimana akhir cerita Sang Putri. Tetapi si pria tidak mempermasalahkannya, dan justru menawarkan untuk kembali menceritakan kisah Sang Putri suatu hari nanti. Si gadis tidak keberatan dan justru secara diam-diam berkata dalam hati, ‘Semoga aku belum mati suatu hari nanti!’
Sesuai rencana, keduanya melewati jalan tol. Pada mulanya jalan bebas hambatan yang dibangun di tengah padang gersang itu betul-betul kosong. Semakin jauh mereka berjalan, mereka menemukan mobil-mobil kosong yang ditinggalkan pengemudinya. Beberapa mobil tampak membawa banyak barang dalam keadaan terburu-buru. Semakin jauh lagi mereka berjalan, saat matahari sudah bersinar terik, mereka mendapati barisan mobil yang berjejer tidak beraturan, seolah mereka ingin saling mendahului, namun antrian begitu panjang dan mereka terjebak. Sama seperti semua mobil sebelumnya, para pengemudinya meninggalkan kendarannya begitu saja. Banyak yang tidak menutup pintu mobilnya, banyak yang pintunya masih tertutup dan barang-barang mereka masih ada. Seolah, para pengemudi memilih untuk meninggalkan semuanya dan hanya pergi membawa tubuhnya.
“Pasti karena gempa mereka lari tunggang langgang meninggalkan barang-barangnya,” ucap Faith pelan, tidak mau terdengar sok tahu di hadapan si pria.
Tapi pria itu tidak meresponsnya, dan keduanya kembali berjalan dalam diam. Selama beberapa saat mereka berjalan seperti biasa, sampai gempa kecil kembali mengguncang tanah. Faith kembali berpegangan tangan dengan si pria selama perjalanan. Mereka diguncang gempa kecil sebanyak 2 kali setelah gempa pertama, beruntungnya karena mereka berpegangan tangan, si gadis tidak terhuyung hebat seperti saat pertama kali mereka diterjang gempa.
Ketika sinar matahari menjadi keemasan, mereka mencapai pintu tol yang dipadati mobil kosong yang terjebak sebelum mereka berhasil keluar tol. Di luar pintu tol, masih ada juga mobil-mobil berserakan yang ditinggalkan pemiliknya, namun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Mereka memasuki kawasan kota sekitar tiga puluh menit kemudian. Kota itu sama sepinya dengan kota sebelumnya, dengan bangunan kosong dan rusak akibat gempa. Kesunyian kota ini membuat Faith sedikit merinding.
Mereka baru saja melewati salah satu stasiun pengisian gas yang tampak pernah terbakar ketika di perempatan jalan setelahnya mata si gadis menangkap sosok yang berjalan dengan langkah kecil-kecil tapi cepat. Sosok itu membawa kotak sampah beroda yang dia dorong dengan mudah, mungkin isinya kosong. Matanya membelalak besar, separuh tidak percaya, separuh senang, dan separuh ketakutan. Sosok dengan rambut putih diikat berantakan dan tubuh kecil agak bulat itu berhenti ketika matanya balas menatap si gadis.
“Apa yang kau lakukan di sini!” serunya. Itu adalah seorang nenek yang jelas tampak tua, namun suaranya masih melengking. Dia tidak terdengar sedang bertanya, melainkan memaki si gadis. Matanya juga melotot. Dia adalah manusia pertama yang dilihat Faith sejak hari pertama gunung meletus.
“Manusia!” Faith berseru dengan ekstasis, tidak menyaring apa yang keluar dari otaknya.
“Apa maksudmu manusia! Apa aku terlihat sudah mati?” nenek itu balas berteriak sambil berkacak pinggang. “Apa yang kau lakukan di sini?” kali ini nenek itu bertanya.
“Oh, aku sedang dalam perjalanan menuju ibukota,” jawab si gadis dengan suara gemetar. Dia tidak bisa bilang bahwa ia sedang menuju ke ‘tempat yang tidak dijamah amarah dewa’, bukan?
“Ke kota? Apa maumu kesana? Di sini saja sudah sangat berbahaya, apalagi di kota. Kau harus kembali ke manapun kau berasal dan jangan pergi lebih jauh,” nenek itu berkata dengan nada berceramah.
“Mengapa?” tanya Faith.
“Kecuali kau mau mati. Apa kau tidak sadar? Lihat sekelilingmu, kita sedang menghadapi hari kiamat. Kalau kau mau pergi ke kota, mungkin kau akan bertemu lebih banyak orang, tetapi di sana terjadi teror yang sangat mengerikan. Sangat mengerikan sampai aku yang kupingnya sudah jelek ini bisa mendengar jeritan pada malam hari! Aku tidak tahu bagaimana caramu selamat selama beberapa hari ini, atau apa rencanamu untuk mencapai ibukota, tapi aku tahu satu hal; kau harus menjauh dari malam. Cari tempat bermalam dan diamlah selama malam berlangsung, jangan bicara, jangan bergerak, bahkan jangan bernafas.” Dia selesai bicara dan menurunkan tangannya yang sedari tadi bertumpu di pinggangnya. Dia menggeleng secara terang-terangan. “Hati-hati,” katanya kemudian sambil kembali mendorong tempat sampahnya menjauhi si gadis.
“Apa yang muncul selama malam hari?” Faith menghentikan langkah si nenek dengan pertanyaannya sebelum dia berjalan 3 langkah.
Si nenek berhenti dan menatapnya dengan tidak percaya. “Teror yang tidak dapat dilihat oleh mata, mimpi buruk yang mengerikan, yang merenggut siapapun tanpa pandang bulu. Monster!” nenek itu berkata dengan keras. Dia menggeleng lagi, lalu pergi dengan kotak sampahnya. Samar-samar, Faith bisa mendengar si nenek bergumam, “Aku sudah tua dan masih harus menderita seperti ini. Kenapa aku harus menanggungnya.”
“Berhati-hatilah!” Faith berteriak kepada si nenek ketika sosoknya sudah menjauh, sementara dia dan si pria masih terpaku di tempatnya. Dia menatap punggung renta si nenek sebentar, lalu matanya kembali kepada si pria. Pria itu sudah menatapnya dengan penuh arti. “Apa yang datang di malam hari, Tuan Arwah?” dia bertanya dengan nada yang hampir memaksa.
Pria itu tersenyum. “Persis seperti yang dia katakan,” jawabnya lugas.
__ADS_1
Gadis itu mengerenyit tidak puas dengan jawaban pria itu. Meskipun perkataan nenek itu jelas, tetapi maknanya ambigu. Dia tetap tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi atau apa yang datang di malam hari sehingga sang nenek menyuruhnya jangan bernafas. Mengingat kembali, Tuan Arwah juga memintanya untuk tidak keluar saat hari sudah gelap dan tidak menyentuh tanah. Pasti ada sesuatu yang terjadi selama malam hari. Tetapi dia tahu bahwa dia tidak bisa memaksa Tuan Arwah untuk menjawabnya, jadi dia harus menahan rasa penasarannya dan melanjutkan perjalanan.
"Nenek tadi sangat perhatian padaku sampai dia sama tidak memperhatikanmu," komentar Faith di antara celah giginya.
Menjawabnya, sang pria tersenyum sambil terkekeh ringan. "Tentu saja, dia tidak bisa melihatku." Jawaban ini meninggalkan lubang besar di kepala si gadis, dan ketika matanya menatap si pria, senyum pria itu sama sekali tidak membantu apa-apa.
Mereka berhenti di bangunan bekas perkantoran 3 tingkat dan beristirahat di lantai 3 selama malam hari. Faith menggelar selimutnya saat hari sudah agak gelap. Dia sedang menikmati makanan dan air mineral yang dia bawa saat tiba-tiba kemilau keemasan muncul di langit. Saat itu memang langit belum begitu gelap, namun dia tidak bisa mengabaikan cahaya kontras yang tiba-tiba melayang di langit. Dia melihatnya melalui kaca jendela dan matanya berkilat.
“Lentera!”
Pria yang saat itu tengah membaca sesuatu dari salah satu meja mengalihkan matanya ke sesuatu yang tengah ditunjuk si gadis. Dia tahu si gadis pasti menunjuk sesuatu yang menangkap perhatiannya, namun si pria menangkap sesuatu yang lain. Itu adalah wajah dan mata berbinar si gadis. Tetapi kemudian dia mengikuti arah telunjuk si gadis dan dia bergerak mendekat untuk melihat lebih baik apa yang sebenarnya menarik perhatian gadis itu.
Beberapa belas lentera terbang ke udara di kejauhan, tidak begitu jauh sehingga mereka masih bisa melihat kilaunya. Api pada setiap lentera menari ditiup angin dan menciptakan ilusi cahaya yang berkedip.
“Aku rasa arahnya dari pusat kota,” ujar Faith. Dia bersandar di kaca jendela. Tangannya bertumpu ke kaca, namun ia tidak membuka jendelanya.
Pria itu menatap lentera di kejauhan dengan tenang. Dia lalu bertanya, “Jika kamu yang melepaskan lentera, untuk apa kamu melakukannya?”
Faith bertanya dengan hati-hati dan suaranya memelan. Dia tidak mengatakannya sebagai orang sombong yang sudah mengetahui nasibnya atau orang lain. Dia berkata sebagai seorang manusia yang tahu bahwa dia sangat lemah dan tidak berkuasa dibandingkan alam dan para dewa. Dia tidak bisa berbuat apa-apa meskipun seseorang meminta bantuannya, karena ia sendiri tidak tahu apakah ia sanggup membantu atau tidak. Ditambah, pria itu sudah memintanya sejak awal untuk tidak meninggalkan bangunan dan menyentuh tanah.
“Semua orang punya takdirnya masing-masing. Tanpa kita bergerakpun, dewa punya jalan sendiri untuk memenuhi takdir seseorang. Bukan berarti kita tidak perlu melakukan sesuatu jika seseorang membutuhkan bantuan, aku mau mengatakan bahwa kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menolong seseorang dalam situasi seperti ini. Nenek barusan, dia bisa menolongmu dengan mengizinkanmu tinggal di tempatnya bersembunyi. Dia ketakutan, bukan? Bukankah lebih baik jika ada seseorang yang bersama dia? Tetapi dia tidak melakukannya dan hanya menyuruhmu mencari tempat untuk bersembunyi selama malam hari. Dia menolongmu dengan cara yang berbeda, tetapi dia tetap menolongmu. Kebaikan ada di mana-mana, kadang sulit menemukannya di tengah dunia yang kacau balau, tetapi kebaikan tetap ada.”
Kata-kata pria itu jelas dan lambat, sehingga Faith dapat memahaminya dengan baik. Dia menelan kata-kata itu dengan baik dalam hatinya, lalu berkata, “Kau sungguh bijak. Aku percaya kau juga tahu banyak soal manusia.”
Pria itu tiba-tiba mendesah keras. Matanya menatap ke luar jendela dan senyum tipis menghiasi wajahnya. Gadis itu menangkap perubahan ekspresi pria di hadapannya dengan rasa ketertarikan. “Kau terlihat ingin menceritakan sesuatu, Tuan Arwah.”
Pria itu butuh beberapa detik sebelum akhirnya mulai bicara. “Sudah lama sejak aku pertama kali mengawasi manusia. Tugas pertamaku yang berhubungan dengan manusia berlangsung empat juta tahun yang lalu.”
“Empat juta tahun?” gadis itu membelalak. “Kalender kepurbakalaan kami bahkan tidak setua itu!”
“Tidak, tentu saja. Itu adalah masa yang tidak kalian pahami sepenuhnya,” jawab si pria. “Ngomong-ngomong, karena panjangnya waktu yang aku habiskan untuk mengawasi dunia dan manusia, ada banyak hal yang bisa aku pelajari. Aku tidak sendiri, tentu saja. Banyak bukan manusia yang juga berhubungan dengan manusia sejak lama. Aku yakin mereka juga belajar banyak soal manusia.”
“Apa tugas pertamamu yang berhubungan dengan manusia? Untuk mengambil jiwa sepertiku?”
__ADS_1
Pria itu tersenyum. “Mengawasi mereka, sederhana. Hanya dengan mengawasi aku bisa mendapat banyak pengetahuan baru tentang manusia. Sangat menginspirasi.”
“Siapa yang memberimu tugas itu?”
Pria itu kembali terdiam sejenak lalu menjawab, “Sosok lain yang sama-sama bukan manusia.”
Gadis itu mengangguk sambil bergumam. “Siapapun yang mengirimmu pasti ingin kau belajar. Sesederhana apapun tugasmu, pasti ada sesuatu yang bisa kau pelajari, hal baru yang tidak kau ketahui sebelumnya. Aku yakin sosok itu ingin yang terbaik bagimu.”
“Benar.” Pria itu menjawab cepat.
“Jadi begitu, kau akan terus menyembunyikan dariku makhluk apa dirimu sebenarnya?” Faith berbicara kemudian. Dia mendapat pemikiran itu ketika si pria menyebut makhluk lain sebagai ‘bukan manusia’. “Yah, tidak masalah. Selama bukan kau yang membunuhku.”
Pria itu terkesima mendengar si gadis. Dia mendapatkan banyak kesan mengenai si gadis. “Mengapa kamu begitu berani? Di tengah bencana besar dan pembunuhan masal selama Hari Penghakiman, kamu tetap berdiri tegak. Kamu sendiri menggali reruntuhan setelah gempa, menatap gunung berapi dengan enteng, bicara dengan penjarah, tidur nyenyak di tengah ancaman. Apa yang membuatmu berdiri sangat tegak?”
“Kau sendiri yang mengatakannya, mengambil jiwaku tidak sama dengan membunuhku. Setidaknya bukan kau yang akan membunuhku, meskipun kau akan membiarkan aku mati seandainya aku dalam bahaya. Tapi… setidaknya aku tidak akan sendirian saat aku mati. Bukankah itu bagus, ketika ada seseorang di sampingmu di nafas terakhirmu?” gadis itu berkata. Nadanya tenang dan tidak terburu-buru. “Untuk pertanyaan mengapa aku berani, aku tidak punya jawaban…”
Pria itu tahu si gadis tidak bisa atau tidak mau memberikan jawaban karena ia menolak mengingat sesuatu yang ingin dia lupakan. Dia tidak bisa mendorongnya lebih jauh. Memaksanya menjawab hanya akan menyakitinya, dan itu adalah tindakan yang tidak terhormat. Siapapun dirinya, dia tidak boleh memaksa orang lain melakukan sesuatu diluar persetujuan orang terkait. Meskipun maksudnya baik, membuat orang itu tidak nyaman hanya akan menjadi hal yang tidak baik. Jadi dia menahan dirinya.
Keheningan di antara mereka berubah ketika mereka menyaksikan kilauan lentera di kejauhan padam satu demi satu. Mungkin karena mereka sudah terlalu tinggi di udara jadi cahaya mereka mati. Tetapi itu bukan penyebabnya. Kegelapan tiba-tiba menyelimuti langit, menyembunyikan cahaya apapun dari bumi.
“Menjauh dari jendela.” Pria itu berkata. Faith menurutinya dan mundur beberapa langkah. Si pria kemudian menatapnya tanpa berpindah dari posisinya semula. “Kamu bisa beristirahat sekarang. Aku akan tinggal di sini.”
Faith masih mencerna pikirannya yang mengaum menyuarakan protes, dan dia terdiam sebentar. “Apakah ini benar-benar teror yang mengerikan?” tanyanya kemudian.
Pria di hadapannya terdiam tanpa membalas tatapannya. Untuk beberapa saat dia terus diam sampai Faith menurunkan harapannya untuk menerima jawaban. Tetapi tiba-tiba pria itu membuka mulutnya. “Bagi Bumi, tentu saja teror ini sangat mengerikan. Bagiku, teror ini hanya gangguan kecil. Kamu ada bersamaku, jadi jangan takut.”
“Apa yang sebenarnya terjadi selama malam hari?”
Lagi, pria itu terdiam sejenak. Kali ini tatapan matanya menuju ke bawah gedung. “Pernahkah kamu bertanya, kemana perginya semua orang?” katanya. Dalam sekejap si gadis berhenti bernafas. Pria ini benar. Sungguh benar. Namun baru saja Faith hendak membuka mulutnya, pria itu menatapnya dengan tenang. “Beristirahatlah. Tubuhmu membutuhkannya.”
Jadi beristirahatlah si gadis malam itu, meringkuk di dalam balutan jaket dan selimut. Dengan segala keajaiban, dia kembali tidur dengan tenang. Entah keajaiban apa yang gadis ini miliki sehingga ia tetap berani bahkan bisa tidur tenang di tengah-tengah Hari Penghakiman dan teror yang menyelimutinya. Tetapi yang jelas, pria berbalut merah itu tetap berdiri di dekat jendela sepanjang malam.
Selama tiga hari selanjutnya, keduanya masih berjalan berdua menyusuri jalanan kota. Mereka berjalan setiap pagi hingga hari mulai gelap, dan beristirahat sepanjang malam. Kadang pria itu tinggal bersamanya selama malam hari, kadang ia pergi. Namun selalu permintaannya adalah supaya si gadis tidak meninggalkan bangunan atau menyentuh tanah ketika hari sudah malam. Tujuan utama mereka tetap ke arah ibukota, dan sebentar lagi mereka akan mencapainya. Adalah pada hari ketujuh mereka telah memasuki kota terakhir sebelum menuju ibukota. Tetapi seperti yang si pria katakan sebelumnya, mereka hanya akan melewati ibukota dan tidak berhenti di sana. Jadi, perjalanan mereka masih panjang.
__ADS_1