The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Chapter 10


__ADS_3

Ketika Faith terbangun, dia sedang terbaring di sebuah bangunan tak beratap, di antara puing-puing bangunan. Dia tidak tahu kenapa dia di situ dan sejak kapan dia tertidur, jadi dia menganggap pasti ada sebagian memorinya yang hilang. Pertama-tama dia melihat langit yang masih merah dan dia sadar tidak mungkin dia tahu jam berapa sekarang. Kedua, ketika sedikit memutar kepalanya, dia melihat pria berbalut merah besandar ke tembok yang kemungkinan besar bekas jendela, tangan terlipat di depan dadanya. Sebuah payung merah bersandar tak jauh dari kakinya. Faith segera bergerak, dan si pria menangkap gerakannya.


“Jangan terlalu banyak bergerak, tubuhmu masih belum pulih sepenuhnya,” pria berbalut merah itu berkata pelan.


Meskipun memperlambat gerakannya, Faith tetap bangkit untuk duduk. Tasnya tergeletak di sampingnya, namun dia yakin isinya sudah berkurang karena dia sedang berbaring di selimutnya, dibalut jaketnya. Dia seharusnya tidak mengenakan pakaian tertutup seperti ini, mengingat luka-lukanya kembali terbuka sebelumnya. Bermaksud memeriksa tubuhnya sendiri, si gadis mulai menanggalkan jaketnya.


Si pria yang menangkap maksud Faith mendekat dan membantunya melepas jaketnya. “Aku sudah merawat luka-lukamu sebelumnya, jadi kamu tidak perlu khawatir. Seharusnya, luka-lukamu hampir seluruhnya tertutup sekarang.”


Pria itu benar. Faith memandangi tangan dan kakinya dengan takjub. Dia ingat dia punya luka sobek mengerikan yang besar di kaki dan tangan, dia juga punya luka goresan di mana-mana, dan kukunya yang patah mengerikan. Tetapi kebanyakan luka itu sudah sembuh. Bagian di dekat pergelangan kakinya masih diperban, begitupun lengan di dekat sikunya serta ujung jemarinya. Namun luka-luka kecil lainnya sudah menghilang, tinggal menyisakan debu dan tanah yang menempel di beberapa tempat. Dia tidak bisa melihatnya, tetapi luka sobek di pelipis matanya sudah menutup, meninggalkan bekas luka warna putih. Tidak ada lagi jejak darah di matanya. Dia menyimpulkan bahwa lukanya memang bisa sembuh meskipun butuh waktu, jadi dia merasa sangat lega.


Tetapi kemudian sebuah pikiran melesat di kepalanya. Dia menatap si pria dan bertanya, “Berapa lama aku pingsan?”


“Beberapa jam,” jawab si pria tenang. “Sekarang kita menuju akhir hari kesembilan.”


Hanya beberapa jam? Dan dia bisa sembuh seperti ini? Begitu pikir Faith mulanya. Tapi sesuatu yang lain menangkap perhatiannya, jadi dia menepis pikiran sebelumnya.


Hari kesembilan. Dua kata itu menyeretnya ke realita secepat kilat. Dia sedang melalui event Hari Penghakiman selama 11 hari, dan berbagai bencana akan turun atas bumi selama itu. Dia ingat dia memulai hari pertama dengan gunung meletus, namun seiring berjalannya waktu, dia hampir lupa pada hari keberapa dia berada. Ketika si pria mengingatkannya, dia merasa loncatan memori menari di kepalanya.


“Apa yang terjadi sebenarnya? Aku sebelumnya ada di lubang amblasan tanah, dan kejadian yang mengerikan terjadi di sana. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang, tidak juga pada kelompok korban selamat yang mau menerimaku sebelumnya. Aku tidak mengerti.” Setelah berkata demikian, Faith menggeleng dan mengalihkan pandangannya. “Tetapi jika memang itu bukan sesuatu yang bisa kupahami, baiklah aku tidak akan berusaha mencari tahu.”


Pria itu tersenyum mendengarnya. “Kamu berhak tahu,” jawabnya. Si gadis mengangkat pandangannya dan mata mereka bertemu. “Ketika aku memberitahumu bahwa di kerumunan orang yang lebih besar akan ada bahaya yang lebih mematikan, itu nyata. Apa yang terjadi di sini sangat besar dan semuanya bertujuan untuk melenyapkan lebih banyak manusia. Kamu pasti mengalaminya ketika orang-orang tiba-tiba mati kedinginan, ketika gempa besar terjadi dan tanah amblas di mana-mana, dan ketika fitnah menyebar di antara manusia. Itu semua adalah rentetan bencana yang sudah diatur Surga."


"Surga menentukan empat malapetaka besar; bencana alam, bencana mistis, fitnah, dan wabah. Bumi sudah mengalami tiga dari empat malapetaka. Semua orang tersiksa dengan bencana alam, lalu mereka ketakutan dengan bencana mistis yang datang setiap malam. Kamu sudah mendengarnya kan, bahwa setiap malam tubuh manusia hidup dan mati menghilang. Bencana mistis tidak mengenal ampun, dia akan mengambil siapa saja yang menyentuh tanah di kegelapan malam. Selanjutnya, yang kamu alami di dalam lubang itu adalah fitnah. Wujud-wujud orang yang seharusnya tidak ada bermunculan kembali. Namun mereka bukanlah manusia, mereka hanya tiruan mimpi buruk, sesuatu yang menjelma dari harapanmu untuk menipumu lalu menyeretmu ke kematian. Bencana keempat, wabah, belum datang dan sebaiknya kita tidak bertemu dengannya.” Begitu kata si pria.


Pria itu berhenti sejenak, matanya menatap lembut si gadis. “Terima kasih kamu mau mempercayaiku. Kamu seseorang yang pemberani.”


Faith membuka mulutnya, “Aku tahu itu bukan dirimu,” ujarnya yakin. “Tuan Arwah yang aku kenal tidak akan melakukan sesuatu yang tidak ada dalam rencananya. Aku pikir… menyelamatkan manusia dan berperan sebagai dewa bukan rencanamu.”


“Kamu sungguh mengenalku dalam jangka waktu yang singkat ini? Aku sangat tersanjung,” kata si pria. “Apakah kamu menikmati waktu bersama manusia yang lain?”


“Oh ya, mereka menunjukkanku cahaya yang menyenangkan. Mereka semua berjuang dengan caranya masing-masing dan mereka tidak menyerah. Bencana ini mengubah banyak hal dari diri mereka, tetapi mereka tetap diri mereka sendiri, justru menjadi lebih baik karena kini mereka bisa merasakan sesuatu yang tidak akan pernah mereka rasakan lagi. Beberapa mempertanyakan kepercayaan mereka, tapi aku yakin itu karena mereka adalah manusia, mereka bebas mempertanyakan dirinya sendiri. Meskipun begitu, mereka masih memiliki kepercayaan dan harapannya masing-masing, jadi menurutku, mereka tidak benar-benar meragukan kepercayaannya. Aku belajar banyak dari mereka meskipun waktu yang kami lalui hanya sebentar.”


Mendengarnya, si pria mengangguk puas. “Kamu sungguh berani dan cerdas, bisa menyadari hal-hal kecil yang tersembunyi.”


Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. “Sebenarnya, aku mengetahui suatu hal kecil lain, tapi kurasa aku tidak perlu mengatakannya.”


Si pria menerima keputusan Faith untuk diam, jadi dia hanya mengangguk memahaminya. Dia bergerak ke salah satu bagian dekat puing bangunan dan membawa sebuah benda kotak berwarna merah. Seutas tali menggantung benda itu ke ranting pohon yang agak tebal. “Aku punya hadiah untukmu. Ini akan berguna selama kita melakukan perjalanan ke kota pesisir.”


Si gadis teringat mengenai kota pesisir dan berkata dengan pelan, “Aku lihat jalan ke kota pesisir sudah terputus, dan kota itu diterjang tsunami besar beberapa hari lalu. Apakah kita bisa pergi ke sana?”


Pria itu mengangguk. “Tentu saja. Kamu sudah berharap untuk mencapai tempat yang tidak terjamah amarah dewa, jadi kamu pasti akan ke sana!” katanya. “Kamu punya korek api, kan?”


Faith untuk pertama kalinya mencerna benda yang di bawa si pria dengan sungguh-sungguh. “Oh, lentera!” serunya. “Dari mana kau mendapatkannya?”


“Aku membuatnya,” jawab si pria singkat. “Tapi itu adalah rahasiaku.”


Gadis itu berdecak karena tersentuh. “Bisakah kita menerbangkannya?”


“Tidak yang satu ini. Kita akan membawanya selama perjalanan.”


“Oh kita bisa membuat lagi yang bisa diterbangkan nanti. Aku ingin menyaksikan lentera diterbangkan ke langit lagi seperti waktu itu. Tapi kali ini bukan untuk meminta tolong, tetapi untuk menyampaikan harapanku supaya dibawa langit. Syukur-syukur jika para dewa mengabulkannya,” kata si gadis.

__ADS_1


“Hm? Apakah kamu punya harapan yang ingin kamu sampaikan kepada langit?”


“Harapanku? Harapanku apa lagi selain untuk 2 hal; supaya Surga tidak menutup pintu maafnya bagi manusia yang ingin bertobat, dan supaya manusia menerima tempat yang selayaknya setelah mereka meninggal, sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama hidup dan penyesalan mereka. Dalam masa-masa ini tidak banyak yang bisa aku harapkan. Aku juga akan mati nantinya, jadi hanya itu harapanku.”


Pria itu bergumam sesaat. “Aku kira kamu punya keinginan untuk memiliki sesuatu.”


Gadis itu terdiam sejenak. “Sebenarnya aku punya. Dulu saat aku masih kecil, aku sering menulis barang-barang dan hal yang aku inginkan jika aku sudah besar. Aku mendaftarnya di buku harian kecil, dan daftarnya mencapai tiga ribu! Sayangnya buku itu hilang. Keinginanku mungkin juga menghilang bersamanya, tetapi aku bisa membuat keinginan yang baru dan melakukan yang aku bisa untuk merealisasikannya.” Dia berhenti dan matanya menatap si pria. “Apakah Tuan Arwah punya keinginan? Sesuatu yang ingin kau miliki atau kau lakukan?”


Pria itu bergumam sejenak dengan gaya bercanda. “Bukankah sangat normal jika semua makhluk hidup memiliki keinginannya masing-masing? Aku punya itu.”


“Apakah itu sudah terealisasikan?”


Pria itu menggeleng. “Belum,” jawabnya. “Tapi seperti katamu, aku bisa melakukan yang aku bisa untuk merealisasikannya.”


Mereka masih bertatapan dengan sekelebat cahaya di mata mereka. Namun tiba-tiba, suara sangkakala menggelegar muncul di langit. Suara ini persis seperti suara yang dia dengar ketika di dalam lubang, sebelum terompet kedua berbunyi dan memunculkan monster beterbangan dari langit. Si gadis terpaku menatap ke langit, berjaga-jaga apabila monster yang sama datang lagi. Tetapi bukan itu yang muncul. Ketika sangkakala berhenti, langit berangsur-angsur menghitam. Cahaya merah yang sebelumnya mewarnai dengan mencolok berubah menjadi kelabu, lalu hitam, lalu tiba-tiba seluruh bumi dilanda kegelapan. Ada sebuah cahaya yang sangat redup di langit, tetapi si gadis tidak bisa melihat bulan. Pandangan mereka menjadi sangat terbatas.


“Tuan Arwah?” gadis itu bertanya.


“Aku masih di sini. Bisa kamu cari korek apimu?”


Gadis itu melakukan sesuai permintaan si pria dengan agak kesulitan. Kondisi mereka dilanda kegelapan, dan dia berusaha meraba mencari tasnya. Lebih sulit lagi ketika ia merogoh isi tasnya dengan liar, berusaha mencari korek apinya. Ketika ia menemukannya, dia bersusah payah menyalakannya. Si pria menyodorkan lenteranya dan si gadis menyalakan apinya. Selang beberapa waktu, cahaya kemerahan mewarnai sekeliling mereka.


“Itu adalah tanda bencana keempat, wabah. Mulai saat ini, wabah akan mengelilingi seluruh bumi untuk menjamah siapapun manusia yang masih tersisa di bumi,” kata si pria.


“Dan bunyi sangkakala itu?”


“Itu adalah tanda untuk perubahan langit. Ketika sangkakala pertama berbunyi, langit sudah menjadi merah dan siap terbuka untuk menurunkan monster yang memakan manusia. Pada sangkakala kedua ini, langit menjadi gelap seutuhnya, menghilangkan semua sumber cahaya dari dunia. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi pagi atau siang, sepanjang hari akan terasa seperti malam yang dingin. Kamu sebaiknya memakai lagi jaketmu.”


Setelah melakukan beberapa jam perjalanan, Faith bertanya, “Apakah kau pernah tidur?”


Pria itu menjawab, “Aku rasa sudah saatnya kamu tahu sekarang, bahwa aku tidak memerlukan hal-hal seperti makan, minum, atau beristirahat layaknya manusia.”


“Apa kau tidak kelelahan jika begitu?” tanya si gadis lagi. Dia berhenti tiba-tiba. “Maaf aku sungguh lupa,” dia menyatakan penyesalannya karena lupa bahwa pria di hadapannya telah melakukan hal-hal yang diluar batas manusia, dia pasti jauh lebih kuat daripada yang bisa dinalar si gadis.


Pria itu menyadari keteledoran si gadis dan tersenyum. “Sungguh tidak apa-apa, kadang manusia bisa lupa.”


“Apakah itu artinya kau mengingat semuanya?”


Si pria tiba-tiba bergumam seolah menyadari sesuatu. “Setelah kupikir-pikir, ternyata aku memang mengingat semuanya,” katanya.


Tetapi dia tidak melanjutkan perkataannya. Dia tidak mengatakan apa-apa kepada si gadis mengenai hal-hal yang dia ingat. Sebenarnya, dia punya ingatan yang sangat baik, namun ada hal-hal yang dia kubur dalam-dalam di dalam dirinya dan enggan dia sentuh. Karena dia bijak, dia tidak melakukannya untuk melupakan atau membuang hal-hal itu, melainkan untuk membantu dirinya sendiri. Dia mengambil inti cerita, nilai, dan pelajaran yang bisa dia dapat dari hal-hal itu, lalu sisanya dia kubur.


Dia ingat bahwa dia dulu mengatakan bahwa akhir kisah-kisah heroik para dewa terjadi ketika Surga menyepakati bahwa Allfather akan menjadi satu-satunya sosok yang disembah. Para dewa harus menarik diri dari seluruh campur tangannya terhadap manusia—kecuali untuk hal-hal yang berurusan dengan Surga seperti kematian, hukuman dan anugerah masing-masing jiwa—dan manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan meminta bantuan hanya kepada Allfather.


Itu bukanlah sebuah kebohongan, itu adalah kebenaran. Si pria berani bersumpah atas ini.


Tetapi itu bukan kisah lengkapnya, melainkan hanya garis besar dari akhir kisah para dewa. Adalah ketika para dewa sedang berunding mengenai keputusan ini, Sang Putri Surgawi menyadari bahwa itu artinya manusia akan sangat menderita. Manusia memang cerdas dan mulia dengan berbagai kelebihannya dari makhluk lain, tetapi mereka tidaklah sempurna. Jika mereka dibiarkan menghadapi kegelapan sendiri tanpa senjata, mereka bisa dengan mudah terjerumus. Dia pergi segera setelah dia merasa bahwa keputusan ini akan menjadi final, memanggil kedua sahabatnya yang masih bertahan hidup, dan meminta tolong dengan tulus kepada mereka.


“Berikan aku kesetiaan persahabatan kalian sekali lagi. Apapun yang terjadi setelah ini, benar atau salah, baik atau buruk, aku tidak tahu. Aku akan tetap menjadi sahabat kalian sampai kapanpun, kalian boleh datang kepadaku untuk apapun. Tetapi bagiku, ini terakhir kalinya aku meminta kesetiaan kalian.”


Kedua sahabatnya adalah orang yang setia, dan mereka memberikan kesetiaan mereka tanpa ragu. Sang Putri tahu bahwa saat itu di Bumi manusia tengah dalam peperangan besar dengan sesama manusia, dan ini adalah campur tangan iblis yang kotor, jadi dia mengatakan rencanaya; Sang Putri akan turun ke bumi sekali lagi untuk memberi kekuatan kepada manusia, dan dia akan membawa satu dari kedua sahabatnya. Sahabatnya yang lain harus menjaga agar tidak seorangpun menyentuh atau membuka dan memasuki ruangannya, selama mungkin hingga Sang Putri kembali.

__ADS_1


Dia mengerti bahayanya menentang keputusan Surga, dan dia memohon maaf kepada sahabatnya. Tetapi kedua sahabatnya mengikutinya dengan tulus dan setia, sebagaimana Sang Putri selalu memberikan cahaya dan menjadi harapan bagi mereka. Jadi mereka berpisah, Sang Putri dan satu sahabatnya turun ke Bumi, sementara sahabatnya yang lain berdiri di depan pintu ruangannya yang ditutup rapat.


Namun sebagaimana langit dapat dilihat dengan mata telanjang, Surga tahu segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Para dewa menyadari bahwa sesuatu telah turun dari Surga, tepat ketika mereka menyepakati keputusan bahwa Surga akan menghentikan campur tangan langsungnya dalam kehidupan manusia. Itu adalah perbuatan yang berani dan nekad! Peraturan itu masih segar dan sesuatu, atau mungkin seorang dewa, telah melanggarnya! Jadi para dewa mencari ke seluruh bagian Surga untuk menemukan apa tepatnya yang telah meninggalkan Surga.


Perbedaan waktu antara Surga dan Bumi sangat magis, beberapa tahun bagi Bumi bisa jadi hanya sekejap mata para dewa. Itu adalah sebuah keuntungan bagi Sang Putri dan sahabatnya, namun mereka tetaplah bertarung dengan waktu. Sang Putri yang turun ke bumi terjun ke dalam peperangan dengan manusia, sesekali menyamar sebagai manusia, dan sesekali berwujud dewa ketika menyelamatkan manusia. Dia mengambil orang-orang tak berdosa dan korban ketidakadilan serta perang, lalu menyembunyikan mereka di tempat-tempat aman. Dia menuntun mereka untuk hidup melalui jalan yang jauh dari iblis, dia mengajari mereka banyak ilmu kebijaksanaan, lalu dia mengajari mereka untuk memerangi iblis. Dia memberitahu mereka bahwa ada senjata yang dapat memerangi iblis dan kegelapan yang menyasar hati mereka yang suci. Untuk mendapat senjata itu, mereka harus mengikuti semua bimbingan Sang Putri, bahkan menjalani test yang diberikan Sang Putri. Hanya mereka yang tekun dan lulus lah yang dapat menggunakan senjata itu.


Pada akhirnya, ketika Sang Putri yakin bahwa manusia yang dia percayai dapat dia lepas untuk kembali di antara manusia dan berperang dengan hasutan kegelapan, dia dan sahabatnya harus kembali ke Surga. Dia tahu Surga pasti menantinya, dan dia tahu betul bahwa meskipun Surga pemaaf, Surga tetap memiliki sistem hukuman. Sebelum kembali, dia menginstruksikan sahabatnya untuk melakukan sesuatu untuknya. Ia dengan patuh mengikuti instruksi Sang Putri, lalu keduanya kembali ke Surga, siap untuk menghadapi apapun yang Surga berikan kepada mereka.


Di lain tempat, para dewa yang memeriksa dengan seksama seluruh isi Surga telah tiba ke ruangan Sang Putri. Para Dewa yang agung itu terkejut ketika menghadapi keberanian seorang prajurit mungil yang menghalangi jalan mereka menuju ruangan Sang Putri. Setelah berdebat agak alot, sang prajurit akhirnya berlutut dan dengan teguh berkata, “Seribu pujian kepada Surga yang Ilahi dan Para Dewa yang Agung. Hamba telah bersumpah untuk mengikuti permintaan Sang Putri Surgawi hingga tidak sesuatupun boleh memasuki ruangannya. Hamba yang rendah ini mohon ampun sebesar-besarnya, karena hamba tidak bisa meninggalkan tempat ini.”


Bagi para dewa, itu adalah sebuah penghinaan. Seorang prajurit memang tidak bisa membantah perintah jenderalnya, dan mereka mengikuti para jenderalnya dengan patuh. Tetapi prajurit ini bahkan bukan prajurit di bawah bimbingan Sang Putri, dia berada di bawah komando Jenderal Dewa lain, dan dia hanya seorang prajurit biasa tanpa status tertentu. Meskipun dia menundukkan kepalanya, merendahkan dirinya, dan dengan teguh menjunjung tinggi sumpah yang ia buat, para dewa tidak menganggapnya terhormat.


Jelas bahwa bagi sang prajurit, yang menantinya adalah hukuman. Dan hukuman itu tak terelakkan.


Sang Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan sendiri yang mengangkat pedangnya dan memberikan diri untuk menjatuhkan hukuman kepada sang prajurit. Dia akan memenggal kepala prajurit itu, lalu mengirim jauh jiwanya keluar dari Surga. Pada ayunan pertamanya, sayangnya gerakannya terhambat ketika ia mendengar pintu ruangan Sang Putri dibuka. Sang Putri dan seorang sahabatnya muncul dari dalam. Meskipun demikian, pedang itu sudah mengayun dan menebas hampir setengah leher sang prajurit.


Rasa duka yang mendalam meliputi Sang Putri dan dia berlari menyambut tubuh sahabatnya yang terjatuh. Sahabatnya jatuh ke pangkuannya, dengan tubuh berdarah-darah dan menodai pakaian serba emas Sang Putri. Sang Putri hampir terdengar melolong, menyatakan bahwa prajurit itu hanya menjalankan perintahnya dengan baik, dan jika seandainya ada yang harus disalahkan, itu adalah Sang Putri sendiri. Namun kemudian dengan tubuh kejang dan suara yang terpatah-patah, sahabatnya mencengkram baju emasnya dan berkata;


“Putri, saya akan selalu menjadi pelindung bagi Anda.”


Dan dalam kesedihan, Sang Putri hanya bisa menjawab, “Maka terjadilah demikian, perisaiku.”


Sahabatnya menghilang menjadi serpihan debu berwarna coklat keemasan. Darah yang tadinya menodai baju Sang Putri juga menghilang menjadi debu. Lambat laun warna debu coklat itu berubah menghitam seperti terbakar dan asap kecil tipis terangkat ke udara. Jiwanya pergi pada saat itu, tidak untuk kembali ke Surga, melainkan untuk berkelana jauh dari sana.


Sang Putri masih dilanda duka sambil berlutut, untuk pertama kalinya matanya gemetar. Di belakangnya, satu sahabatnya yang terakhir tidak bisa mengangkat pandangannya dari ujung kakinya. Sekali dia mendongak untuk menatap Sang Putri, namun tubuhnya gentar melihat Sang Putri yang selalu menampilkan cahaya kini hanya berlutut lemas. Dia menunduk lagi, air mukanya menjadi keras.


“Putri, Surga sudah menetapkan bahwa tidak boleh ada lagi campur tangan dewa terhadap hidup manusia. Apakah itu engkau yang meninggalkan Surga dan turun ke Bumi?”


Mendengar itu, ketegaran Sang Putri kembali. Dia menahan rasa gemetar di tubuhnya dan menegakkan punggungnya. Masih sambil berlutut, dia menatap para dewa yang berdiri di hadapannya. Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan berdiri paling dekat dengannya, namun Sang Putri tidak lagi gentar.


“Iya. Saya telah turun pada waktu itu ke Bumi untuk melakukan sesuatu yang benar,” jawab Sang Putri.


“Putri, Anda diberi kelimpahan ilahi dan kebijaksanaan yang tinggi, tetapi apa yang Anda lakukan tidak dapat kami pahami. Jika ada sesuatu yang perlu Anda jelaskan, kami akan mendengarnya dan menimbangnya dengan bijaksana. Anda diberi kuasa yang agung, sama seperti para dewa, jadi kami akan menimbang Anda sebagai seorang dewa.” Dewa Perang dan Kebijaksanaan berkata.


“Tetapi apa yang para prajurit Tentara Surgawi lakukan sangat tidak benar. Mereka akan diadili sebagai seorang prajurit. Dari apa yang saya lihat, kedua prajurit yang bersama Anda adalah prajurit yang berada di bawah bimbingan Dewa Perang dan Kebijaksanaan, oleh karena itu pantaslah Jenderal Dewa ini sendiri yang akan menjatuhi mereka hukuman.”


Sang putri menatap Dewa Perang dan Kebijaksanaan dengan tatapan yang tegas. “Anda akan menghukumnya dengan hukuman mati juga?” suaranya meninggi.


“Hukuman itu tidak terelakkan.”


Mendengar ini, Sang Putri memutar kepalanya dan menatap satu-satunya sahabatnya yang masih tersisa, Ren si Pemberani. Matanya memancarkan kesedihan, namun di balik kesedihan itu dia menunjukkan kekuatan keberanian di luar batas pemahaman dewa lainnya. Dengan segenap kekuatannya, Sang Putri mendorong Ren si Pemberani dengan energinya. Energinya begitu besar sehingga ketika Ren si Pemberani terdorong, pintu ruangannya ikut terdorong dan menutup. Dia mengirim Ren si Pemberani kembali ke Bumi.


Bagi Ren si Pemberani, dia tahu bahwa Sang Putri memintanya melakukan apa yang sudah dia instruksikan, jadi prajurit itu melakukannya dengan sungguh-sungguh meskipun hatinya resah. Nantinya setelah dia selesai, dia tahu dia harus kembali ke Surga untuk menghadapi apapun yang Surga limpahkan kepadanya. Dia adalah seorang prajurit Tentara Surgawi, dia tidak pernah bersikap pengecut. Jika dia harus menerima hukuman, maka dia akan menghadapinya sendiri.


Kisah pemberontakan heroik Sang Putri yang juga merenggut prajurit Tentara Surgawi adalah penutup kisah para dewa. Setelah Sang Putri, tidak ada lagi dewa yang turun ke Bumi, baik itu untuk sekedar berkeliling dalam samaran, atau membantu manusia. Peraturan Surga menjadi mutlak, dan Allfather menjadi satu-satunya dewa yang diperkenalkan kepada dunia. Itu adalah akhir yang sesungguhnya.


Sang Pria mengingat itu semua dengan baik, namun dia tidak mengatakannya kepada si gadis pada awal ceritanya. Alasannya, mungkin karena bagian itu memang benar-benar menghilang dari ingatannya, atau dia mengubur bagian kisah itu terlalu jauh di dalam dirinya dan dia lupa. Hanya ketika dia bisa mengingatnya, dia merasa kisah itu sudah terlalu lama berlalu dan rasanya aneh harus memulainya lagi hanya untuk meralatnya.


“Bisakah kau mengingat seluruh kejadian di masa lalu selama kau hidup?” suara si gadis menyadarkannya kembali dari lamunannya.


“Jika aku harus menjawabnya, maka iya aku bisa mengingatnya. Tetapi aku sudah tua dan ingatanku tidak lagi sempurna. Kadang aku perlu sesuatu untuk membuatku mengingat kembali suatu kejadian, seperti sebuah pemicu. Jika ada itu, akan lebih mudah bagiku untuk mengingat sesuatu.”

__ADS_1


__ADS_2