The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Extra Chapter: Trust pt.2


__ADS_3

Tentu saja, pertanyaan ini akan membuat siapa saja terkejut mendengarnya.


Sang Roh Merah berkedip sekali. "Aku pernah mendengarnya. Seorang dewa diberi kesempatan untuk menjelaskan perbuatannya, lalu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku tahu bahwa kuasa seorang dewa tidak bisa dicabut kecuali dewa itu sendiri yang menghendaki. Tapi aku tidak tahu bagaimana proses pengadilan seorang dewa berlangsung, dan seperti apa vonis yang dijatuhkan bagi seorang dewa. Yang aku tahu, bahwa kemudian dewa itu dibuang dari Surga." Dia berhenti lalu menatap Putri Dewa. "Apakah kamu tahu kisah ini?"


"Aku pernah mendengarnya, itu salah satu dari Kisah Besar Surgawi, kan. Tapi sepertinya ini topik yang tabu di antara para dewa. Tidak ada seorangpun yang berani membicarakan siapa dewa itu, atau apa yang telah dia perbuat. Jadi hanya sejauh itu yang aku tahu," jawab Putri Dewa.


Mendengar ini Sang Roh Merah tersenyum dingin dan tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya lambat-lambat. Putri Dewa bisa melihat kobaran api di matanya. "Itu sudah sangat lama sekali. Mungkin para dewa memang sengaja melupakanya. Apa kamu pikir mereka perlu diingatkan?" Ketika dia berkata demikian, ada kilatan amarah dari suaranya, dan tatapannya menjadi sangat kejam.


Merasakan sesuatu yang tidak benar, Sang Putri Dewa menggenggam lengan Sang Roh Merah dengan kedua tangannya dan berkata dengan lembut, "Jangan marah pada masa lalu. Kau harus melepaskannya." Meskipun kilatan amarah masih ada di matanya, sinar kejahatan dari wajah Sang Roh Merah menghilang sedikit demi sedikit. Dia hanya terlihat jengkel dan mulutnya mengatup rapat-rapat. Kemudian Putri Dewa melanjutkan, "Kau tidak perlu memikirkan itu. Bukannya lebih baik jika kau membantuku?"


Beberapa detik kemudian Sang Roh Merah akhirnya mendesah pelan lalu menjawab, "Kamu benar. Kamu ada di sini sekarang. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


Putri Dewa kembali meragu sejenak. "Jika ada... cara untuk turun ke Bumi tanpa diketahui Surga, maukah kau memberitahuku? Aku beranggapan kau pasti tahu sesuatu, atau mungkin dengan kemampuanmu, kau bisa mencari tahu sesuatu. Aku tidak menemukan sesuatupun yang tampaknya akan mendukungku di Surga, jadi aku datang padamu. Bukan karena aku ingin melanggar aturan Surga, aku sangat tidak ingin, tapi..."


Pada saat itu, keduanya sudah berhenti berjalan dan tengah berhadap-hadapan. Sang Putri Dewa agak menunduk, dahinya mengkerut seolah ia tengah memikirkan sesuatu yang amat menyulitkan. Sementara itu, Sang Roh Merah menatapnya dalam diam. Keheningan itu berhenti ketika Sang Roh Merah mengangkat wajah Sang Putri Dewa agar tatapan mereka bertemu. Dia tidak melepaskan tangannya dari dagu Putri Dewa setelah itu.


"Apapun yang ingin kamu lakukan, benar atau salah, baik atau buruk, aku akan tetap bersamamu sampai kapanpun. Aku bertaruh hidup dan matiku, kamu bisa mempercayaiku. Aku akan melakukan apapun, menjadi apapun, membuat apapun, selama itu untukmu. Ya, aku akan mencari tahu caranya, dan aku akan berusaha dengan segenap kekuatanku untuk membawamu turun ke Bumi. Aku akan memastikan Surga tidak akan pernah melihatmu pergi, bagaimanapun caranya. Jika seandainya Surga mengetahui perbuatanmu, aku akan menanggung semua resikonya, dan tolong jangan katakan kamu tidak mau aku berbuat sejauh itu. Aku akan melakukan segala sesuatu lebih jauh dari ini jika itu untukmu. Bahkan jika kamu mau aku menjatuhkan Surga, aku akan melakukannya tanpa ragu."


Lagi, keheningan menyelimuti Neraka dan segala sesuatu yang berada di Neraka pada saat itu. Namun bagi keduanya, keheningan yang mereka rasakan tidak sama dengan keheningan mencekam dan mengerikan Neraka. Keheningan ini mengandung berjuta makna dan bahasa. Ini adalah keheningan yang dirasakan ketika sepasang kekasih saling bertatapan dan yakin bahwa mereka telah menemukan belahan jiwanya masing-masing.


Putri Dewa membuka mulutnya untuk bicara, tapi perlu beberapa waktu sebelum akhirnya suara benar-benar keluar dari mulutnya. "Aku percaya padamu," katanya. Dia lalu mengangkat satu tangannya dan mengusap wajah Sang Roh Merah dengan sayang. Senyumannya seperti seorang ibu. "Terima kasih."


"Tapi," Sang Putri Dewa memulai lagi. "Meskipun Tuan Arwah akan berbuat sejauh itu untukku, aku tidak akan meminta sejauh itu padamu," dia berkata dengan senyum di wajahnya. "Jika kau bisa membantuku untuk hal ini saja, aku akan sangat berterima kasih dan aku berjanji akan membalas perbuatanmu."


Sang Roh Merah balas tersenyum. "Kau tidak harus melakukannya. Aku akan memberimu hidupku secara cuma-cuma."

__ADS_1


"Oh, apakah itu artinya kau akan mati untukku?" Tanya Putri Dewa.


Tawa kecil keluar dari mulut Roh Merah. "Aku bilang hidupku, sayang, bukan matiku. Kamu boleh meminta apapun padaku, Putri, kecuali satu; kematianku hanya milikku seorang. Aku bersedia tinggal di sini untuk waktu yang sangat lama, bahkan selamanya."


"Hmm. Apakah kau perlu aku untuk melepaskan energi dendammu?" Sang Putri Dewa kembali berjalan lambat, diikuti Roh Merah. "Dengan begitu mungkin kau akan bisa beristirahat dengan tenang."


"Orang yang aku cintai masih ada di sini. Aku tidak akan meninggalkan kehidupan ini. Jika memang begitu, maka aku berharap supaya aku tidak beristirahat dengan tenang."


Putri Dewa terdiam, wajahnya tidak mengisyaratkan apa-apa, namun ada keseriusan dalam wajahnya. Perlu beberapa waktu baginya sebelum dia kembali bicara. "Sungguh mulia dirimu. Aku berhutang banyak padamu sejak lama. Sejak menolongku di Bumi, menuntunku ke Surga, membantu memerangi iblis dan hantu. Dan sekarang kau bersedia membantuku lagi. Bagaimana aku bisa menganggap diriku sanggup membalasnya? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


Neraka memang sebuah dunia yang hidup, sama seperti Surga atau Bumi. Tetapi berbeda dengan keduanya, bau kematian menyeruak dari sela-sela tanah dan batuan Neraka sepanjang masa. Mereka yang hidup di Neraka sangat akrab dengan kematian, jadi tidak mengejutkan jika kata-kata kematian mengalir bagai aliran nafas di sini.


Tetapi, melawan semua stigma mengenai Neraka, bahkan berani membuat aturannya sendiri, Sang Roh Merah berdiri tegap diliputi cahaya emas. Dia meraih tangan Sang Putri Dewa yang masih melingkar di lengan atasnya. Dia kemudian berkata, "Izinkan aku hidup bersamamu. Itu cukup."


Itu adalah permintaan dari Roh Merah, pria yang sangat akrab dengannya, jadi Sang Putri Dewa tidak menolaknya. Pria itu bisa meminta apa saja, dan sang dewa akan mengabulkannya selama itu berada dalam kuasanya. Tetapi dia mempercayai pria ini, dan tahu bahwa pria ini tidak akan meminta sesuatu diluar batas kemampuan sang dewa—atau bahkan dia tidak akan meminta apapun. Mengetahui seperti apa Roh Merah, Sang Putri Dewa sudah belajar banyak untuk tahu harus bersikap seperti apa.


Suatu hari setelah insiden penyerangan Union ke Barikade Cahaya, Sang Pangeran Surgawi mengadakan pertemuan di Aula Besar Surgawi bersama para dewa-dewa tertua dan luhur. Tentu saja Sang Putri Dewa tidak ikut. Apalah artinya dia yang hanya pendatang baru di mata dewa-dewa yang sudah ada sejak sebelum kehidupan diciptakan? Tidak, dia tidak berkecil hati, dia menyadari posisinya dan menghormati para dewa. Dia bahkan tidak berharap mengetahui materi apa yang menjadi pokok bahasan pertemuan itu.


Maka dari itu ketika Sang Pangeran Surgawi mengundangnya untuk duduk-duduk di gasibu tepi kolam teratai, Sang Putri Dewa sama sekali tidak menduga topik apa yang akan mereka diskusikan. Dia sendiri sering berspekulasi dalam hati, tetapi tidak pernah meyakininya kecuali mengetahui langsung faktanya. Tapi pada waktu itu dia benar-benar tidak memiliki dugaan.


“Belakangan, Surga banyak menerima jiwa-jiwa cantik yang menjadi penghuni tetap Surga. Jiwa mereka lebih teguh, dan kebaikan mereka semasa hidup berat oleh cinta. Putri Dewa, ini adalah salah satu elemen Anda.” Sang Pangeran berkata dengan lembut, sambil melayangkan mata biru berkilaunya pada Sang Putri Dewa. Dia tersenyum, lebih berkilau daripada rambut emasnya yang sedikit bergelombang. “Cinta kepada Allfather tidak akan tumbuh tanpa kepercayaan, kesetiaan, dan keyakinan.


Sang Putri Dewa menunduk rendah, menerima kehormatan itu dengan rendah hati dan sedikit malu. “Saya hanya melayani Allfather, semua yang saya lakukan adalah untuk menuntun manusia, sesuai petunjuk Allfather.”


Sang Pangeran menyambut penghormatan kecil dengan riang. Kemudian dia bertanya, “Apakah Anda merindukan manusia?”

__ADS_1


Ini adalah momen di mana Sang Putri Dewa sejenak kehilangan jejak. Dia yang sebelumnya tidak memiliki spekulasi, tiba-tiba membuat pertanyaan sendiri di dalam hatinya. “Saya pernah menjadi manusia, merasakan hidup sebagai manusia, dan melihat banyak hal yang manusia lakukan. Kehidupan saya sebagai manusia adalah satu yang tidak akan pernah saya lupakan, dan akan selalu ada bersama saya. Untuk mengatakan apakah saya merindukan manusia atau tidak, saya tidak yakin apa yang harus saya katakan. Meskipun saya tidak lagi berada di tengah mereka, saya masih bisa mendengar mereka. Jika saya rindu, saya bisa melihat mereka dari Refleksi Dunia. Tetapi di atas semua itu, saya sudah mendapat kehormatan menjadi seorang dewa, dan tidak berkeinginan kembali menjadi manusia. Apakah itu menjawab pertanyaan Yang Mulia?”


Masih dengan senyum yang sama, Sang Pangeran berkata, “Tentu saja saya mengerti, Putri Dewa. Saya hanya ingin bertanya, apabila ada kesempatan untuk bertemu dengan manusia, apakah Anda akan menemui mereka?”


“Saya bisa bertemu manusia di sini?” mata Sang Putri Dewa melebar sedikit.


“Tidak di sini, di Bumi,” jawab Sang Pangeran.


Sang Putri Dewa terkejut untuk waktu yang agak lama. “Apakah maksud Pangeran bahwa akan ada kesempatan para dewa boleh turun ke Bumi?” tanyanya kemudian.


“Itu sedang didiskusikan.” Jawaban Sang Pangeran sederhana.


Masih separuh dilanda rasa terkejut, Sang Putri Dewa menjawab lagi, “Apapun keputusan yang nanti lahir, saya akan mendukung kehendak Surga. Tapi, jika saya boleh tahu, mengapa Anda bertanya tentang hal ini kepada saya?”


Kali ini Sang Pangeran tersenyum lebar. “Anda dulunya manusia. Saya rasa perlu untuk mendengar apa yang Anda bisa sampaikan. Pertemuan besar tempo hari hanya diperuntukkan bagi segelintir dewa, sayangnya Anda tidak termasuk di dalamnya. Jadi saya menghubungi Anda secara tidak resmi, untuk mendapat masukan yang bisa saya utarakan pada pertemuan selanjutnya.”


Baru beberapa hari yang lalu dia membahas keinginannya untuk turun ke Bumi, bahkan meminta bantuan Sang Roh Merah. Entah kenapa, impulsnya untuk turun ke Bumi sangat kuat, tetapi dia sendiri tidak bisa menjelaskan alasannya. Sebelumnya, dia yakin bahwa dia tidak punya kesempatan. Dia bahkan sudah berpikir untuk membuat rencana ini dan itu. Tetapi mendapati dirinya dalam situasi yang menguntungkan seperti ini, Sang Putri Dewa merasa sangat bersyukur telah mempercayai takdir Surga.


Setelah mengangguk, ia melanjutkan bicara. “Terima kasih, Pangeran. Secara personal, saya sangat ingin mengunjungi manusia di Bumi. Tidak perlu untuk membantu secara ilahi, cukup datang dan mengamati atau berbaur bersama mereka, itu sudah cukup. Manusia sudah banyak berubah dan terus berubah, saya merasa perlu untuk mengenali mereka dengan lebih dekat. Ini adalah anak-anak Allfather, bagaimana bisa kita menyebut mereka anak-anak Surga jika kita tidak mengenal mereka? Keintiman antara kita para dewa dan manusia harus dijaga, supaya kita semakin mengenali manusia, dan dapat mengenalkan lebih jauh sosok Allfather dalam diri mereka.”


“Para Dewa Yang Agung sudah lama tidak bertemu langsung dengan manusianya, dan saya rasa ada kerinduan di dalam diri masing-masing dewa. Kita sejatinya sama seperti orangtua yang mengawasi anak-anaknya dari jauh. Kita mengetahui siapa dan apa anak-anak kita, tetapi diluar itu, ada banyak hal yang bisa kita pahami bahkan pelajari dari mereka. Hanya dengan mengawasi mereka dari jauh saja saya rasa kurang cukup. Kita perlu terlibat di dalam kehidupan mereka, menjalin relasi yang lebih kuat dengan mereka, supaya kita menjadi bagian dari dunia mereka. Saya rasa, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya benar-benar tidak punya alasan lain lagi,” katanya lagi.


Selama dewa perempuan itu menjelaskan, Sang Pangeran Surgawi terus menatapnya dengan penuh perhatian. Mungkin, kata demi kata yang mengalir dari mulut Sang Putri Dewa menghipnotisnya. Pada akhir kalimatnya, Sang Pangeran sampai lupa berkedip saking ia terpesonanya.


Pada akhirnya, selepas pertemuan kecil itu, Sang Putri Dewa tidak mendengar kabar lain dari Sang Pangeran. Dia tahu bahwa Sang Pangeran menghadiri pertemuan besar lainnya, jadi dia seringkali tidak terlihat. Tetapi selain itupun, Sang Pangeran sangat bijaksana dan berpegang teguh pada kata-katanya. Jika dia berkata akan menyampaikan pendapat Sang Putri Dewa pada pertemuan selanjutnya, maka dia akan melakukannya. Putri Dewa tidak perlu khawatir dan mendorongnya melakukan sesuatu. Sang Pangeran dapat dipercaya.

__ADS_1


Akhirnya, di suatu hari yang istimewa di Surga, larangan turun bagi dewa ke Bumi dilonggarkan. Para dewa diperbolehkan turun ke Bumi dalam batasan tertentu, dengan peraturan yang mengikat. Pengumuman besar disuarakan dari Aula Besar Surgawi. Dewa yang sebelumnya selalu tinggal di Bumi hadir ke Surga untuk mendengarkan pengumuman ini. Itu adalah hari yang besar, perayaan yang mulia bagi Surga. Semua penghuni Surga bersukacita dan mendoakan masa depan bagi kesejahteraan Bumi, Surga, dan manusia.


Dengan demikian, alur baru terbuka bagi Surga.


__ADS_2