
Cahaya pertama yang masuk ke matanya adalah cahaya yang berwarna keemasan dan berasal dari langit. Setelah cahaya yang amat cantik itu, matanya menatap sekelilingnya dan dia tampaknya ada di sebuah ruang pertemuan yang amat luas dan berbentuk bundar, kursi panjang berjejer ke belakang di sekelilingnya. Matanya lalu menatap ke bawah dan melihat tubuhnya duduk di lantai berwarna pualam lembut. Kemudian, dia melihat tubuhnya yang dibalut pakaian emas yang jatuh dengan lembut ke lantai.
Dia mendengar suara orang-orang mendekat, sepertinya terdengar banyak. Kemudian, dia mendengar sebuah pintu besar dan berat dibuka di belakangnya. Matanya berputar untuk menatap sumber suara-suara itu. Dia melihat hampir 10 orang dengan pakaian bagus memasuki ruangan, ada perempuan juga laki-laki. Pakaian mereka berkilau dan indah, paras mereka juga mempesona.
Sementara itu, yang dilihat kerumunan itu adalah seorang perempuan muda dengan pakaian emas. Rambutnya dihias sedemikian rupa sehingga rambutnya yang hitam dan panjang berkilau dengan kilauan permata dan mahkota emas. Parasnya sangat menawan dan keelokannya tampak istimewa. Kulitnya agak kuning, tidak pucat, namun menampilkan cahaya keemasan.
“Selamat datang wahai Putri Dewa Kepercayaan, Kesetiaan, dan Keyakinan.” Pria yang berdiri paling depan dengan baju putih dan emas berkata sambil menundukkan kepalanya. Orang-orang di belakang mengikuti gerakannya dengan serempak. “Surga menyambut Anda dengan rendah hati.”
Di hadapannya, perempuan itu tampak kebingungan, namun ekspresinya tidak berat. “Apakah ini Surga dan aku akan tinggal di sini?”
“Ya, tentu saja. Putri Dewa, Anda akan menjadi bagian dari Surga mulai hari ini. Saya yakin Anda dilanda rasa kebingungan dan keingintahuan yang besar, maka dari itu kami sudah mempersiapkan banyak hal untuk membantu Anda. Para dewa, tolong bantu Sang Putri Dewa.”
Dengan isyarat dari pria itu, dua orang dewa, perempuan dan laki-laki menghampiri si perempuan dan membantunya berdiri. Dewa perempuan mengenakan setelah berwarna pastel, sementara dewa laki-laki berwarna ungu. Si pria sendiri berjalan mendekati perempuan itu dan meraih kedua tangannya lalu menggenggamnya dengan lembut. Perempuan itu berterima kasih. “Maafkan kecanggungan saya, barusan Anda menyebut nama saya, apakah itu?”
“Putri Dewa Kepercayaan, Kesetiaan, dan Keyakinan,” jawab pria di hadapannya.
“Apakah itu nama saya mulai sekarang?” tanya si perempuan lagi.
Pria itu tersenyum dengan cara yang lembut dan kebapakan. “Nama itu sudah diputuskan sejak lama. Para dewa yang lain akan membantu mengenali wujud dan kekuatan Anda sebagai dewa, jadi jangan sungkan untuk bertanya. Jangan sungkan juga untuk berkenalan dengan seluruh penghuni Surga. Jika Anda butuh bantuan, Anda bisa mencari saya. Saya sering dipanggil Pangeran Surgawi, tetapi Anda bisa memanggil saya apa saja sesuai keinginan Anda.”
Si perempuan menunduk hormat kepada pria itu. Kedua dewa yang membantunya berdiri membawanya pergi dari situ menuju ruangan lain. Selama beberapa masa, berbagai macam dewa menemani perempuan ini dalam masa studinya. Dia dikaruniai kebijaksanaan yang tinggi sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk belajar. Dan dia sangat ramah, dia berkenalan dengan dewa-dewa dengan cara yang lembut, lalu belajar satu atau dua hal dari mereka. Setelah dia belajar banyak ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, seni, dan segala sesuatu tentang kehidupan, dia segera diperkenalkan secara resmi sebagai Putri Dewa Kepercayaan, Kesetiaan, dan Keyakinan (Princess God of Trust, Loyalty, and Faith). Acara itu berlangsung di Aula Besar Surgawi, dan dihadiri oleh seluruh dewa.
Pada masa itu, Sang Putri Dewa telah menjadi sosok yang familiar bagi para dewa, sekaligus dewa yang disegani. Dia diberitahu bahwa seorang dewa akan menjadi sangat dihormati dan tersohor ketika manusia banyak berharap padanya dan menggunakan kekuatannya. Kekuatannya adalah kepercayaan, kesetiaan, serta keyakinan yang tumbuh di dalam hati manusia. Dengan kesediaan manusia menggunakan kekuatan itu di dalam dirinya, Sang Putri Dewa menjadi sosok yang dihormati baik di Surga maupun di Bumi.
Dia sangat mencintai manusia seperti para dewa juga mencintai manusianya. Dia selalu ingin tahu bagaimana kabar manusia di Bumi dan sering berdiskusi dengan seorang dewa wanita yaitu Dewa Pemelihara dan Pelepas Marabahaya. Dia senang memperhatikan manusia melalui sebuah kolam air jernih yang ada di ruangan sang dewa. Kolam itu disebut Refleksi Dunia (Reflection of World), dan dapat menampilkan hal-hal yang terjadi di bumi. Dia menyaksikan manusia bekerja sama membangun bumi dan dirinya, bersahabat satu sama lain, hidup bersama. Dia juga melihat manusia berseteru dan bersikap tidak adil, namun dia tahu itu semua adalah bagian dari dinamika manusia.
Tidak hanya kebijaksanaan dan pengetahuan mengenai manusia dan segala bentuk kehidupan, Sang Putri Dewa juga senang mempelajari kesenian lainnya. Dia juga sering bertemu Dewa Perang dan Kebijaksanaan yang banyak dipuja oleh pemimpin-pemimpin dunia. Dewa ini membantu para pemimpin untuk membangun wilayahnya, menstabilkan wilayahnya, memenangkan hati rakyatnya, dan mengatur regulasi dalam kelompoknya. Dewa ini memiliki kemampuan berseni dalam mengelola suatu kelompok atau negara, dan dia juga menguasai seni berperang. Dia belajar kesenian tentang bernegara dan seni pedang dari dewa yang dikenal dengan sebutan Jenderal Dewa tersebut.
Pada suatu masa, sang Jenderal Dewa memberikannya sebuah pedang dengan bilah perak dan gagang emas, cantik dan gagah secara bersamaan. Sang Jenderal Dewa mengatakan bahwa ada satu atau dua hal yang datang bersama dengan kemunculan seorang dewa baru, dalam kasus Sang Putri Dewa, ini adalah pedang emas dan sebuah selendang emas yang telah disimpannya untuk diberikan di kemudian hari. Sang Putri Dewa menerima hadiah itu dengan sukacita.
Pada suatu hari, dia dan beberapa dewa termasuk Sang Pangeran Surgawi, sedang berkumpul di Aula Besar Surga untuk membicarakan kesetiaan manusia pada Allfather. Pada waktu itu sekitar sepuluh atau sebelas dewa hadir di sana, karena perbincangan mereka bersifat ringan sehingga tidak mengharuskan konferensi dalam skala besar. Pintu Aula Besar Surga pun tidak ditutup karenanya.
Sudah jelas bagi para dewa bahwa Allfather adalah satu-satunya sosok yang boleh disembah manusia, tidak ada dewa lain yang boleh membayangi sosokNya. Para dewa sedang memuji kesetiaan manusia, termasuk betapa bangganya mereka terhadap sosok Allfather.
“Terkadang manusia tidak menamainya, namun wujudnya adalah Allfather sendiri. Mengetahui itu saja saya sudah senang,” seorang dewa laki-laki berucap.
“Manusia itu kompleks, mereka tidak selalu putih, tidak juga selalu hitam, mereka diwarnai berbagai macam warna dengan ciri khasnya masing-masing. Tetapi biarkan hati mereka yang bicara apakah mereka menyayangi Allfather atau tidak. Itu yang dapat saya pelajari.” Kali ini Dewa Pemelihara dan Pelepas Malapetaka berkata. Dewa perempuan yang cantik namun tegas itu mengenakan gaun bernuansa hijau tua.
“Ada pula manusia yang dipenuhi ketidakpatuhan dan terus menerus melukai Allfather dengan melukai sesamanya manusia dan Bumi, apakah warna mereka?” seorang dewa lainnya bertanya.
“Lagi, saya rasa biarkan hati mereka yang bicara. Hidup mereka mungkin berwarna, mungkin warnanya keruh, tetapi mereka adalah makhluk yang meskipun rumit dan kompleks, masih memiliki kesederhanaan. Mereka akan melakukan sesuatu, bahkan kejahatan, apabila mereka memiliki latar belakang dan kesempatan.” Jawab Dewa Pemelihara dan Pelepas Malapetaka, yang dihormati karena kebijaksanaannya.
“Meskipun begitu, mereka akan tetap menjadi manusia kita,” Sang Pangeran Surgawi kemudian berkata. “Itu adalah tugas kita untuk tetap menjaga mereka. Supaya mereka tumbuh menjadi makhluk yang subur, mereka perlu diterpa badai dan cahaya. Semuanya harus seimbang.”
Para dewa yang hadir mengangguk pelan menyetujui perkataan ini. Kemudian, Sang Putri Dewa berkata, “Manusia adalah makhluk yang dinamis. Tidak selamanya mereka hitam dan tidak selamanya putih. Mereka bisa berubah. Meskipun mereka jahat, saya percaya mereka masih memiliki sesuatu yang mereka yakini dalam diri mereka. Satu hal yang saya yakini juga adalah bahwa Surga tidak akan pernah menutup pintu maaf dan kasih sayangnya untuk manusia. Dengan begitu manusia akan selalu punya kesempatan untuk memperbaiki dirinya.” Dia menatap Pangeran Surgawi dan mengangguk kecil, mengisyaratkan bahwa dia sangat menghormati Pangeran Surgawi, sekaligus memohon dukungannya.
“Tepat sekali,” Pangeran Surgawi menyambut gerakan itu dengan sama-sama mengangguk kecil. “Kita tidak boleh meninggalkan manusia. Bagi mereka yang tersesat, kita harus membuat mereka kembali pulang.”
Dewa lainnya berkata, “Sungguh kebijaksanaan Allfather yang Maha Mulia dan Maha Pengasih. Dia sungguh mencintai ciptaanNya.”
Seorang dewa lain berkata, “Apa itu?”
Pertanyaan ini mengundang kebingungan dewa lainnya. Dewa yang sebelumnya bicara kembali berkata, “Kebijaksanaan Allfather—“
Tetapi perkataan sang dewa dipotong oleh dewa yang sebelumnya bertanya. “Maafkan kelancangan saya yang telah membuat Anda sekalian salah paham. Maksud saya adalah, apa itu yang melayang di langit?”
Seketika, semua dewa memandang ke luar Aula Besar. Aula bundar itu tepiannya dibatasi oleh pilar-pilar putih cantik, dan di hadapannya membentang langit Surga yang tak berbatas. Langit itu biasanya selalu emas, namun keindahannya tidak pernah membosankan. Namun pada waktu itu, ada benda-benda kotak berwarna merah yang bermunculan dari balik awan. Tidak hanya sepuluh atau dua puluh, benda kotak itu terbang naik dengan pelan dan terus berdatangan seolah tidak berhenti. Sang dewa yang bertanya duduk menghadap ke luar sehingga dia yang pertama melihat, sementara sisanya duduk menyamping atau memunggungi langit sehingga mereka terlambat menyadari.
Beberapa dewa langsung berdiri secepat kilat, beberapa lainnya tertegun dulu baru berdiri. Namun mereka semua sama-sama berjalan ke tepi aula dengan hati-hati. Sang Putri Dewa juga mendekat dengan hati-hati. Dia sudah mengenal banyak hal tentang kehidupan manusia, jadi dia mengenali benda itu ketika ia mendekat. Itu adalah lentera. Lentera merah dengan api kecil-kecil itu melayang tinggi ke langit seolah tanpa henti.
“Apakah itu lentera?” seorang dewa berkata. “Aku dengar manusia sering menerbangkan lentera pada hari-hari tertentu?”
“Tapi apa yang lentera itu lakukan di Surga? Jika itu berasal dari dunia manusia, maka tidak seharusnya benda itu sampai ke sini.” Dewa lain berkata.
“Pangeran Surgawi, apakah Anda telah berdiskusi dengan Allfather soal ini sebelumnya?” Dewa Pemelihara dan Pelepas Malapetaka bertanya.
“Tidak. Ingatan saya baik-baik saja, tapi saya tidak pernah berdiskusi dengan Allfather soal ini. Apakah maksud benda ini ada di sini? Saya tidak bisa menjawabnya,” jawab Pangeran Surgawi.
__ADS_1
“Banyak sekali. Jumlahnya bisa ribuan,” seorang dewa bergumam.
“Tiga ribu.” Suara lain datang dari arah pintu aula. Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan bersama Jenderal Dewa Ilmu Sihir, ditemani 2 orang prajurit dari Pasukan Surgawi memasuki ruangan. Ketiganya menunduk hormat sebagai sapaan, lalu melanjutkan. “Jumlahnya tepat tiga ribu, tidak lebih tidak kurang.”
“Dan dari mana itu berasal?” Pangeran Surgawi bertanya.
“Dari Neraka,” sang Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan menjawab. Dia adalah sosok yang banyak mengunakan atribut warna ungu tua. Seluruh dewa terkesiap, termasuk Pangeran Surgawi. “Izinkan saya menjelaskan, Para Dewa Yang Mulia, lentera ini memang diterbangkan dari Neraka. Kami mengambil beberapa lentera dan memeriksanya baik-baik, namun kami tidak menemukan adanya maksud jahat atau ilmu gelap terrsembunyi di dalamnya. Kami bahkan memeriksa dan memastikan lentera itu dibuat dengan tangan.”
“Dan siapa yang mengirimkan lentera itu?” seorang dewa bertanya.
Mendengar ini, kedua Jenderal Dewa saling bertatapan sesaat. “Sang Roh Merah.”
Nama itu sepertinya memunculkan respon tersendiri bagi seluruh dewa. Beberapa dewa bertatapan, dan lainnya tertegun. Nama Sang Roh Merah (The Red Spirit) tampaknya sangat berarti bagi mereka, dalam konotasi yang agak buruk. “Jika ini dikirim oleh Sang Roh Merah, bagaimana kita bisa yakin bahwa benda-benda ini tidak mengandung bahaya?”
“Apakah dia kehilangan akal sehatnya?” dewa lain berkata.
“Dia sudah kehilangan akal sehatnya sejak awal,” yang lainnya menjawab.
“Benar. Kami mengambil lentera dan memeriksanya, lalu kami turun untuk mencari sumber lentera. Kami menemukan Sang Roh Merah tepat ketika menerbangkan lentera terakhir. Dia sendiri yang mengatakan bahwa jumlahnya tiga ribu, dan dia mengirimkannya untuk mewarnai langit Surga yang membosankan.” Kali ini dewa dengan atribut serba abu-abu tua yang menjawab. Dia adalah Jenderal Dewa Ilmu Sihir.
“Mewarnai? Apakah dia bermaksud membakar langit Surga?”
Ujaran dewa ini membuat terkejut seluruh dewa, bahkan Sang Pangeran Surgawi sekalipun. “Kita tidak boleh berspekulasi!” Sang Pangeran Surgawi berseru.
“Mohon maaf, tetapi saya hanya berkata dalam usaha berjaga-jaga, wahai Pangeran Surgawi. Tidak ada maksud buruk dalam perkataan saya,” dewa itu menunduk agak rendah untuk meminta maaf.
“Kami sudah memeriksanya beberapa kali dan menginterogasi Sang Roh Merah langsung. Kami benar-benar tidak menemukan maksud jahat di balik perbuatannya, kecuali sebagai kelakar dan cemooh atas langit Surga yang menurutnya membosankan,” Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan kembali berkata.
“Dia memang mengerikan dan sangat kuat sehingga bisa membuang-buang kekuatannya untuk menembus langit Surga dan mengirim tiga ribu lentera hanya sebagai kelakar,” seorang dewa berkata, separuh nada bicaranya terdengar sebagai cemoohan. “Bagaimana kita bisa tahu apa yang ada di dalam kepalanya?”
“Kita tidak bisa mengetahui apapun tentangnya, bagaimana bisa kita tahu isi kepalanya? Jika itu bukan karena senjata yang dibuatnya itu, maka kita bisa memantaunya. Ilmu kegelapan apa yang dia gunakan sehingga bisa menciptakan senjata sekuat itu? Apa namanya? Selubung Buta?” seorang dewa laki-laki yang tampak marah berkata pelan-pelan.
Ketika mendengar perkataan sang dewa mengenai Selubung Buta (The Blinding Veil), Jenderal Dewa Ilmu Sihir berkata, “Dengan segala hormat wahai Dewa Yang Agung, Selubung Buta bukanlah sebuah senjata. Kami sudah pernah berhadapan dengannya secara langsung. Benda itu adalah sebuah payung merah mencolok, dan seandainya diibaratkan sebagai atribut berperang, benda itu bersifat sebagai perisai. Jika dia memiliki senjata, itu adalah tubuhnya sendiri.”
“Kami berjanji akan memeriksa lentera itu sekali lagi, namun pada saat kita semua di sini sedang berbicara, pasukan Tentara Surgawi sudah menyebar ke seluruh bagian Surga untuk menangkap lentera lainnya yang terlalu dekat dengan tempat kita tinggal ini, sekaligus berjaga apabila masuk ancaman lain,” Jenderal Dewa Perang dan Kebijaksanaan berkata.
Selama perbincangan ini berlanjut dan terus berlanjut, beberapa dewa tidak berbicara, begitupun dengan Sang Putri Dewa. Dia terus memandangi lentera yang naik tanpa henti, cahayanya yang bergoyang tampak berkedip. Kesadarannya dia jaga, dan dia tetap menyimak pembicaraan yang terjadi di belakangnya, namun dia tidak terlibat dalam pembicaraan sengit itu.
Kakinya membawanya ke ruangannya, dan ia segera menutup pintu. Sama seperti aula, ruangannya berbatasan langsung dengan langit, dan dia berjalan ke ujung ruangannya, menatap ke bawah. Nafasnya terdengar agak tersengal dan ada keraguan sedikit di wajahnya. Setelah bimbang untuk beberapa saat, dia akhirnya melompat dari ruangannya.
Dia terjun dengan bebas ke bawah, langsung menuju ke jembatan Surga dan Neraka. Awalnya dia melewati langit emas surga, lalu perlahan langitnya mulai mengelabu, dan dia harus melewati langit gelap dan diwarnai petir sehingga dia menutup wajahnya dengan lengan bajunya. Ketika melewati langit badai itu, dia muncul di langit dengan warna merah, dan dari situ dia bisa melihat daratan.
Laju jatuhnya melambat, lalu dia mendarat dengan satu kaki turun lebih dulu. Tanah Neraka tempatnya berpijak berwarna merah, dan sekelilingnya memiliki nuansa tebing gersang dan mencekam. Ketika dia tiba, sekelilingnya agak berkabut, jadi dia berjalan tak tentu arah. Namun setelah ia berjalan sebentar, kabutnya perlahan menghilang dan dia bisa melihat dengan lebih jelas.
Di depannya, masih agak jauh di depan, berdiri seorang pria berambut hitam panjang dengan payung merah terbuka. Jubah merahnya berlapis, dan lapisan paling luarnya menjuntai sampai menyentuh ujung sepatu hitamnya. Dia mengenakan sabuk dari pelat perak besar bermotif. Sang Putri Dewa mendekat lalu berhenti beberapa langkah di depan si pria, keduanya terdiam selama beberapa saat.
“Ada yang bisa kubantu?” pria itu kemudian berkata.
Sang Putri Dewa terdiam sejenak. “Aku tidak tahu.”
Pria itu tersenyum. “Kamu bisa mulai dari memberitahuku kenapa kamu ke sini.”
Sang Putri Dewa masih terdiam, sepertinya dia sedang berpikir. “Apakah kau Sang Roh Merah?” tanyanya kemudian.
“Ya,” pria itu menjawab.
“Apakah kau baru saja mengirim tiga ribu lentera ke Surga?”
“Ya.”
“Apakah kau membuatnya dengan tangan?”
“Sejumlah tiga ribu lentera.”
Sang Putri Dewa kembali terdiam. Dia bergerak maju mendekati Sang Roh Merah sampai ia berada di dalam naungan payungnya. Matanya menatap lurus ke mata Sang Roh Merah selama beberapa saat. Sang Roh Merah sangat tinggi, sementara Sang Putri Dewa hanya setinggi dagunya, jadi dia harus mendongak. Mengepalkan tangannya, Sang Putri Dewa tiba-tiba memeluk pria itu. Sebagai hasilnya, senyum lebar tersungging di wajah Sang Roh Merah. Dia balas memeluk Sang Putri Dewa.
“Apakah kamu ingat?” tanya Roh Merah.
__ADS_1
Bagaimana dia bisa lupa? Sesuatu yang begitu rupawan dan mencolok secara penampilan, diikuti kenangan-kenangan yang membekas seumur hidup. Bagaimana dia bisa melupakannya? Dan meskipun penampilan sang pria jauh lebih megah daripada sebelumnya, wujudnya di masa lalu masih tinggal di pelupuk matanya.
Putri Dewa tidak segera menjawabnya. Dia membenamkan wajahnya lebih lama. “Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau menantang Surga? Kenapa kau menjadikanku seorang dewa?”
Roh Merah tersenyum. “Aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Kamu adalah segalanya bagiku, tapi aku harus kehilanganmu lagi dan lagi, dan dunia juga membencimu. Sekarang, aku akan melakukan apa saja untuk membawamu kembali dan menjadikanmu segalanya bagi dunia.”
“Apakah itu karena aku dulunya adalah manusia yang selalu dilanda kesialan? Maka kau bersimpati padaku? Atau…” Putri Dewa berhenti.
“Lebih daripada itu.” Roh Merah mengusap wajahnya dengan lembut.
Sang Putri Dewa terdiam ketika tangan dingin dan besar Arwah Merah terus mengusap wajahnya lalu rambutnya. “Apakah kau ingin bersama denganku, Tuan Arwah?” dia kemudian bertanya. Pertanyaan ini dijawab dengan anggukan Roh Merah. “Tapi sekarang aku ada di Surga, dan kau di Neraka. Bagaimana kita bisa terus bertemu? Kau tidak bisa terus menerus menantang Surga dengan menembus jembatan Surga dan Neraka. Aku juga tidak bisa turun ke Neraka sepanjang waktu atau secara rutin. Jika aku masih manusia, kau bisa turun ke bumi kapanpun kau mau, dan aku tidak akan keberatan harus mengikutimu kemanapun kau pergi.”
Roh Merah tersenyum. “Siapa bilang aku tidak bisa terus menerus menembus Surga? Aku bisa melakukannya untukmu,” jawabnya. Tetapi melihat kening Putri Dewa mengkerut, dia melanjutkan. “Kita bisa bertemu di tempat lain di mana Surga atau Neraka tidak bisa melihatnya.”
“Di mana?”
“Di sini.” Roh Merah mendongak menatap payungnya. “Kamu sudah tahu bukan, sekarang.”
Putri Dewa mengeluarkan desahan kecil. “Tempat yang tidak terkena amarah dewa itu tidak lain adalah di bawah payungmu, bukan? Lebih tepatnya, Surga sekalipun tidak bisa melihat menembus payungmu, karena itu mereka tidak bisa menumpahkan amarahnya ke sana. Kau hampir menipuku.”
Roh Merah tertawa. “Bagaimana jika aku bilang bahwa aku menipumu supaya aku bisa menghabiskan banyak waktu denganmu? Akankah kamu percaya?”
Sang Putri Dewa mengangkat tangannya ke depan mulutnya, menutupi mulutnya dengan ujung lengan bajunya yang lebar. “Kau tidak pernah berbohong.” Mendengarnya, Roh Merah tersenyum lagi. “Kenapa kau menjadikanku seorang dewa? Aku sungguh-sungguh bertanya.”
“Hm… aku tahu kamu sangat menyayangi manusia, dan seterpuruk apapun hidupmu selama menjadi manusia, kamu tidak pernah kehilangan keyakinanmu. Aku ingin kamu melanjutkan apa yang kamu yakini, untuk menyebarkan semangatmu kepada manusia dari tempat yang jauh. Aku sudah di sini sejak awal, aku tidak akan membawamu ke Neraka karena kamu tidak pantas berada di sini. Jika kamu bisa melindungi manusia dari Surga, aku yakin kamu akan menjadi sosok yang luar biasa. Apakah kamu menikmati hari-harimu sebagai dewa?” kata Roh Merah.
“Aku sudah mulai terbiasa. Terima kasih atas perbuatanmu,” jawab Putri Dewa singkat. “Tapi kita tetap menjadi dua makhluk yang bertentangan. Apakah kau… tidak mau pergi ke Surga?”
Roh Merah membuka matanya seolah terkejut, namun ia sebenarnya hanya berpura-pura. “Bersama para dewa? Tidak, terima kasih.”
“Maksudku, jika kau mati, aku bisa mencari jiwamu dan membawamu ke Surga,” kata Putri Dewa.
“Dan kehilangan seluruh ingatan tentangmu? Aku tidak mau. Aku lebih baik hidup di Neraka dengan semua memori tentangmu, daripada mati dan disambut di Surga namun kehilangan semua memori tentangmu. Aku akan hidup dengan cara seperti ini. Itulah kenapa aku mengubur jantungku.” Roh Merah menjawabnya dengan tegas namun tenang.
Putri Dewa mengerjap beberapa kali, lalu bergumam, “Kenapa kau begitu menyukaiku?”
“Aku sudah bilang, kamu adalah segalanya bagiku,” jawab Roh Merah sambil tersenyum.
Putri Dewa terdiam lagi. “Kau sepertinya cukup terkenal di Surga. Para Dewa di sana memanggilmu dengan sebutan Sang Roh Merah, dan mereka masing-masing mempunyai respons yang beragam ketika mendengar namamu, rata-rata buruk. Apa yang kau lakukan pada Surga sehingga kau menerima predikat yang buruk?”
Roh Merah bergumam sebentar. “Lebih tepatnya; apa yang Surga lakukan padaku sehingga aku harus menakuti mereka? Tapi itu tidak penting bagimu, sayangku. Aku sudah terkenal di Surga dan Neraka dengan cara yang sama, jadi kamu tidak perlu mengetahui alasannya. Hanya saja, aku harap kamu tetap percaya padaku. Apapun yang kamu dengar dari dunia manapun, aku yang bersama denganmu adalah aku yang kamu kenal. Tolong nilai aku menurut penilaianmu sendiri.”
Putri Dewa mengangguk kuat-kuat. “Kau adalah Tuan Arwah yang kukenal.”
Keduanya masih bertatapan sampai ketika Roh Merah tiba-tiba mendongak menatap langit. “Dewa-dewa sedang turun ke Neraka, kemungkinan mencariku,” katanya. Dia kembali menatap Putri Dewa, matanya melembut. “Pergilah. Kita bisa bertemu lagi lain waktu. Kamu akan tahu kapan saatnya tiba.”
Wajah Putri Dewa tampak netral, namun ia sebenarnya berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. Dia berjalan mundur meninggalkan Roh Merah beberapa langkah lalu berkata, “Kau harus berjanji padaku.”
“Di langit,” jawab Roh Merah. “Kamu akan melihat janjiku di langit.”
Putri Dewa tersenyum mendengar ini lalu mengatakan salam perpisahannya dan berjalan menjauh. Namun baru beberapa langkah menjauh, dia tiba-tiba berputar kembali dan bertanya. “Tuan Arwah, kau bilang kau punya banyak nama. Lalu, apa arti nama ‘Sang Roh Merah’? Kenapa kau dipanggil demikian? Apakah karena kau mengenakan setelan serba merah?”
“Oh. Di Neraka aku dipanggil banyak nama, dan salah satu yang tersohor adalah ‘Roh Merah’, dan begitu salah satu cara Surga mengenaliku. Bisa dikatakan, nama itu bermula dari Neraka. Pada suatu hari para iblis memotong pergelangan tangan kananku, dan darah merahku membanjiri tanah Neraka.”
Dia mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan gelang perak panjang yang membungkus tangannya dari balik jubah terluarnya. Ketika mendapat penglihatan penuh terhadap gelang di pergelangan tangannya, Sang Putri Dewa menyadari bahwa itu sebenarnya adalah vambraces dari pelat perak, bagian dari baju baja untuk beperang yang berfungsi untuk melindungi lengan bagian bawah.
“Oh… baiklah,” kata Putri Dewa. Namun dia berhenti bicara dan tertegun lagi. “Darah merahmu membanjiri tanah Neraka? Tapi tidak ada makhluk Neraka yang berdarah merah, darah mereka hitam. Makhluk yang berdarah merah hanya para dewa dan makhluk hidup di bumi termasuk manusia.”
Roh Merah membulatkan mulutnya berkata ‘oh’ dengan cara sederhana namun misterius. “Itu rahasiaku, Putri. Jika kamu ingin tahu, kamu harus mencari tahunya sendiri.”
Sang Putri Dewa tampak terkejut, namun dia tidak memaksakan dirinya. Dia sudah sangat terbiasa berinteraksi dengan pria itu dan tahu kapan untuk menahan diri. “Baiklah. Sampai bertemu nanti.” Dengan demikian dia pergi.
Sang Roh Merah terus memandangi Sang Putri Dewa yang berkilau emas sampai dia menghilang dari pandangannya. Senyum tidak berhenti menghiasi pandangannya. Dalam keheningan itu, tiba-tiba muncul suara entah dari mana yang berbisik tepat di telinganya.
“Hanya itu yang akan dia ketahui.”
Roh Merah mendengar suara ini dan terkekeh ringan. “Tentu saja, kawanku. Tentu saja. Kamu sudah menuntaskan janjimu dan itu cukup,” dia berkata dengan ringan, lalu memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Di dalam kepalanya, sebuah kisah lain berputar layaknya film. Itu adalah kisah tentang monster yang makan besar selama 40 hari di Neraka, menghabisi iblis dan hantu tanpa pandang bulu. Dia menjadi tak terkendali dan seluruh Neraka takut padanya karena kekejamannya. Dan monster itu tidak bisa mati, bagaimanapun dia terluka, tubuhnya akan kembali sembuh dan dia terus hidup. Pada akhir hari ke 40 dia telah menghabiskan lebih dari ratusan ribu iblis dan hantu, dan menjadi sama kuat dengan iblis berlevel tinggi.
Jadi pada hari ke 41, dia memutuskan untuk mengamuk di Surga.