
Tetapi bukan kegelapan yang membutakan matalah yang ia lihat. Kegelapan yang ia lihat adalah bisikan halus dan jamahan lembut yang menggerayangi tubuh manusia. Seandainya dalam warna lain, kegelapan itu sama sekali tidak terlihat membahayakan. Tetapi Sang Putri telah diperkaya kebijaksanaan Surgawi, dan dia yakin bahwa kegelapan yang ia lihat adalah wujud kejahatan itu sendiri. Kegelapan tidak selalu datang dalam skala besar, tidak selalu berwujud sebagai musuh. Kegelapan merayap diam-diam dan menghasut siapa saja, menipu dan menjerat siapa saja, menjatuhkan siapa saja ke dalam Neraka.
Si pria meyakini bahwa kegelapan hadir di mana saja dan kapan saja. Bahkan, kegelapan sudah mampu hidup menyelinap di antara cahaya. Masih sambil memegang payungnya tinggi-tinggi, dia menatap ke ujung sepatunya. Langkahnya dan gadis di sebelahnya konstan, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Langkah mereka juga tidak terlalu besar sehingga kaki mereka selalu berada di bawah bayang-bayang payung merahnya.
Pada akhirnya, terserah manusia apakah mereka akan terjerat oleh kegelapan lalu tersesat, atau tetap berjalan tegak dalam cahaya.
Laki-laki itu terhuyung ke depan sedikit dan imajinasinya buyar seketika. Gadis di sebelahnya terhuyung lebih hebat, bahkan hampir jatuh. Sebuah gempa kecil baru saja terjadi. Perjalanan mereka terhenti dan keduanya sama-sama berusaha menyeimbangkan diri di atas gelombang ringan yang mengguncang tanah. Meskipun begitu, si pria tampak lebih stabil daripada si gadis.
“Apa itu barusan gempa?” Faith melontarkan pertanyaan retorisnya, semata-mata untuk menyadarkannya dari rasa pusing.
Si pria menatap jauh ke depan, entah jelasnya menatap apa. Dia kemudian membuka mulutnya dan berkata dengan hati-hati, “Bencana lain sedang terjadi. Kamu beruntung hanya merasakan gempa kecil ini.”
Faith memegang erat tas ranselnya—yang ia pinjam dari apartemen sebelumnya—seolah mencari pegangan supaya tubuhnya tidak goyah lagi. Kakinya masih berusaha menyeimbangkan diri. Sebenarnya, guncangan sudah berhenti, tetapi efek guncangan itu masih terasa olehnya sehingga dia merasa masih goyah.
“Apa yang terjadi?” kata gadis itu kemudian.
Pria itu menatapnya sambil tersenyum. Dia memindahkan payungnya ke tangannya yang lain kemudian menyodorkan tangannya yang kosong. “Tidak apa-apa, peganglah tanganku dan kita bisa berjalan seperti biasa.”
Gadis itu menatap sekilas tangan si pria yang tampak seolah bersinar pucat. Tangannya besar, jemarinya ramping dan panjang, tonjolan tulangnya sangat jelas. Rasanya, tangan itu tidak memancarkan kehangatan seperti tangan seorang ayah, begitu menurut si gadis. Melihat tangan yang ada di hadapannya, si gadis justru bertanya-tanya apakah ia pantas menyambut tangan itu? Tangan itu terlihat mulia. Sebuah perhiasan menyerupai gelang dari pelat perak lebar diukir dengan ukiran timbul tersemat di tangan pria itu. Ukirannya rumit dan ada sebuah permata warna merah terang di tengah-tengah ukiran. Dia selalu tahu pria ini mengenakan semacam gelang, dia selalu melihat kilatan perak dari pergelangan tangan kanan si pria ketika dia memegang payung dengan tangan kanannya. Namun ini pertama kalinya dia melihat perhiasan itu dari dekat, dan dengan cepat dia menilai bahwa perhiasan itu bernilai sangat tinggi. Ketika melihat perhiasan itulah dia semakin yakin bahwa pria ini adalah sosok yang mulia.
Tetapi dalam beberapa detik selanjutnya, Faith mengangguk dan menyambut tangan pria itu. Benar saja, tangannya tidak hangat seperti tangan seorang ayah atau seorang kekasih. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, tangan yang kini menggenggamnya mulai terasa nyaman. Mereka terus bergandengan tangan dalam diam, tidak menyadari bahwa mereka telah tiba di daerah yang agak jauh dari pusat kota sebelumnya. Dari sini, perjalanan mereka masih sangat jauh ke ibukota. Ada 2 kota lagi yang harus mereka lintasi sebelum akhirnya mencapai ibukota.
Sekilas, pria itu tampak memutar bola matanya seolah mencari sesuatu. “Jalanan mulai sepi, ya,” katanya. Dia tidak sedang membicarakan tentang orang, tetapi jumlah rumah dan bangunan yang mulai berkurang.
“Kita memasuki jalan menuju perbatasan dengan kota sebelah. Di depan sana ada jalan tol yang menghubungkan dengan kota sebelah. Mungkin dengan berjalan kaki sekitar tiga atau empat jam lagi,” jawab si gadis.
“Kalau begitu kita berhenti saja lebih cepat hari ini.”
“Hm?” Faith mendongak dengan wajah kebingungan. Mereka baru berjalan mungkin sekitar 8 atau 9 jam, dan dengan perbekalan yang dibawanya, rasanya dia bisa melanjutkan berjalan hingga malam tiba. “Ada apa?”
“Ingat ketika aku bilang kamu harus menghindari tanah dan kegelapan? Di jalur penghubung antar kota mungkin kita tidak akan menemukan bangunan bertingkat lagi. Kita bisa berhenti di salah satu bangunan di depan nanti dan memulai lagi esok ketika sinar matahari pertama muncul,” jelas si pria pelan-pelan.
Oh, jadi itu. Tidak berpikir lama, gadis itu menyetujui perkataan si pria. Mereka menghabiskan perjalanan sekitar 2 jam, namun rumah-rumah yang berdiri di sana tidak dibangun bertingkat. Mereka memiliki halaman yang luas, taman dan garasi, tetapi tidak ada yang bertingkat. Jadi setelah menghabiskan waktu lebih banyak lagi, si pria menunjuk salah satu rumah dan mereka memutuskan untuk beristirahat di sana.
__ADS_1
Faith masuk ke dalam rumah mewah bercat putih itu. Dia mengitari bagian rumah itu dan mendapati isinya masih bagus. Ada retak dan barang pecah di sana sini, tetapi secara keseluruhan rumah itu masih sangat nyaman ditinggali. Taman di halaman depan dan belakangnya sedikit rusak, tetapi ia tahu dulu taman itu sangat cantik. Langkah kakinya membawanya ke dapur dan secara spontan membuka lemari es. Ada lebih banyak makanan kaleng di sini. Dia tersenyum.
Dia tidak sadar pria itu sempat berpisah dengannya. Dia baru kembali sadar ketika pria itu mengetuk meja makan di dekat kulkas. Pria itu berdiri sambil bertumpu pada payungnya. “Kesini,” kata pria itu. Faith mengikuti langkah pria itu yang membawanya ke tangga menuju loteng. Dia mempersilakan si gadis naik duluan. Loteng rumah itu cukup luas dan diisi kardus serta meja-meja tak terpakai. Ada bagian yang kosong di tengah ruangan yang bersih, dan tempat itu bisa digunakan untuk berbaring 2 orang.
Si gadis membuka ranselnya dan mengeluarkan selimut yang dia bawa dari apartemen sebelumnya. Dia menggelarnya dengan maksud membuatnya sebagai alas tidur. Dia kecil, dia bisa meringkuk dan hanya akan menghabiskan sedikit ruang, jadi si pria bisa menggunakan sisa bagian selimut yang besar. Dia sudah menata dan mengeluarkan minumannya, lalu memeriksa isi kardus-kardus di sekitarnya ketika si pria naik sambil membawa selimut super tebal dan bantal di kedua tangannya. Payungnya dia taruh di atas selimut. Langkah kakinya ketika menginjak atap kayu loteng membuat si gadis terjaga. Dia terkesima sebentar. Pria itu jelas telah naik ke tangga loteng tanpa berpegangan apapun.
Pria itu meletakkan barang bawaannya di lantai loteng. “Kamu akan merasa lebih nyaman dengan ini,” katanya.
“Oh, um, aku bermaksud menyiapkan tempat tidur untuk dua orang. Apakah kamu mau menggunakan salah satu selimut?” tanya Faith.
“Aku baik-baik saja,” jawab si pria. Dia membantu si gadis membereskan barang-barangnya. Selimut tebal ia jadikan alas tidur dan yang tipis akan menjadi selimutnya. Dia kemudian membuka payungnya dan meletakkannya secara terbuka di bagian bantal.
Faith menatapnya dengan kebingungan. “Untuk apa payung itu?”
“Untuk menyembunyikanmu.”
Pertanyaan-pertanyaan mencuat di kepala si gadis, namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. “Apakah kau akan pergi lagi malam nanti?”
Sang Pria duduk sambil bersandar ke salah satu kaca kecil kotak di loteng. Matanya menatap ke depan, ke cahaya kelabu yang bersinar melaluinya. “Tidak,” jawabnya. “Aku akan tinggal di sini.”
Pria itu tersenyum tipis. “Silahkan. Apapun yang kamu mau.”
“Apakah yang akan terjadi selama sebelas hari Hari Penghakiman ini akan memusnahkan semua umat manusia? Apakah ini artinya bumi akan dibangun kembali dari nol?”
Pria itu bergumam sebentar. “Hm, apa yang kamu tahu?”
“Aku tahu Hari Penghakiman akan melenyapkan manusia-manusia berdosa, sementara mereka yang terpilih akan mendapat tempat di Surga. Tetapi aku tidak tahu detail apa-apa; apakah itu artinya bumi akan kosong? Apakah masih akan ada sisa manusia di bumi? Apakah para dewa akan membuat bumi baru? Aku tidak tahu…”
“Itu adalah sikap yang baik. Dengan kamu meragu dan bertanya, semakin kamu percaya,” kata si pria segera setelah Faith selesai bicara. “Aku bisa menjelaskan padamu secara singkat. Para dewa akan membangun ulang bumi dan manusianya. Mereka yang berdosa akan binasa, mereka yang terpilih akan dipanggil, dan mereka yang tersisa akan dibimbing di bumi. Dengan pemikiran seperti itu, maka akan ada manusia yang tersisa di bumi setelah sebelas hari Hari Penghakiman untuk melanjutkan kehidupan di bumi.”
Faith membulatkan mulutnya dan mengangguk pelan. “Jadi para dewa benar-benar akan menyeleksi manusia,” gumamnya.
“Iya. Seperti orangtua yang pasti memiliki anak kesayangan, masing-masing dewa memiliki manusia kesukaannya. Tidak aneh jika mereka nantinya akan memilih anak-anak kesukaannya untuk masuk ke Surga,” jawab si pria.
__ADS_1
Faith kembali menampilkan wajah penuh tanda tanya. Pria itu tengah menatapnya, jadi dia tahu betul. “Jadi… apa yang kau lakukan? Memilih jiwa kesukaanmu?” si gadis membuka mulutnya beberapa detik kemudian. Matanya menatap lurus si pria, namun ia tampak bingung, dan separuh ragu.
Pria itu sama-sama membelalakkan matanya melihat wajah keheranan si gadis. Dia tertawa seketika. “Hahaha! Aku bukan dewa!” katanya geli di sela-sela tawanya. Dia membalas wajah keheranan si gadis dengan senyum lebar yang menampilkan deretan giginya. Dia menggeleng seolah tidak percaya pada pertanyaan si gadis, lalu berhenti tertawa. Meskipun begitu dia masih tersenyum lebar. “Aku bukan dewa,” ulangnya.
Gadis itu tampak melengos sedikit, ekspresinya tampak tidak puas. “Kalau begitu boleh aku memanggilmu Tuan Arwah? Kau bukan manusia, bukan juga dewa. Aku tidak tahu apakah kau iblis atau bukan, tetapi kau tidak terasa seperti iblis. Apakah Tuan Arwah cukup sopan untukmu?”
Tanpa menghilangkan senyumannya, pria itu menjawab, “Sejatinya segala makhluk hidup memiliki roh atau arwah. Aku rasa sangat tepat jika kamu mau memanggilku demikian.”
Senyum muncul di wajah Faith, itu adalah senyum pertama sejak ia pertama bertemu si pria. Senyumnya singkat dan tipis, tetapi ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dia berpikir nama ‘Tuan Arwah’ sangat konyol karena dia hanya mengada-ngada nama itu di kepalanya. Tetapi mendengar respons pria itu dia betul-betul terkejut. Terkejut oleh si pria yang begitu berlapang dada dan logis, dia juga terkejut oleh kekonyolannya sendiri. Dia menunduk dan menghilangkan senyumnya lalu bertanya, “Jadi Tuan Arwah, apakah kau punya cerita yang bisa kau ceritakan padaku? Aku berasumsi bahwa kau tahu segala hal tentangku karena kau mau repot-repot meluangkan waktu untuk menemuiku dan mau mengikutiku sampai aku mati. Sebaliknya, aku tidak mengenalmu sama sekali. Ini pertama kalinya aku bertemu sesuatu yang bukan manusia. Jadi…”
Mendengar ini, pria itu seolah mendapat sebuah ide. Matanya berkilat. “Kalau begitu, aku akan menceritakanmu sebuah kisah yang bisa aku ingat. Kamu boleh berbaring karena ceritaku akan memakan waktu.”
Tetapi kemudian gadis ini menggeleng. “Aku akan mendengarkannya,” katanya.
Pria itu tersenyum lagi. “Baiklah kalau begitu. Aku akan menceritakanmu sebuah kisah tentang Surga. Aku harap kamu mau mendengarkanku hingga aku selesai. Jika kamu punya pertanyaan, kamu boleh bertanya setelah aku selesai bercerita. Jaman dahulu saat usia dunia masih muda, seorang putri hidup di Surga, dia dikenal sebagai Sang Putri Surgawi, atau sederhananya Sang Putri. Dia dibesarkan di Surga sejak kecil dengan segala cahaya ilahi dan kelimpahan Surgawi, karenanya, ia tidak pernah melihat kegelapan.
Tetapi suatu hari, Sang Putri menyaksikan kegelapan yang turun di atas manusia. Dia selalu tahu bahwa para dewa sangat mencintai manusia, dan mereka adalah ciptaan dewa yang dikatakan paling mulia. Tetapi melihat kegelapan yang menggerogoti manusia, Sang Putri terbebani oleh satu pertanyaan; jika dewa dan Surga mencintai manusia, mengapa mereka membiarkan manusia terjerumus ke dalam kegelapan?
Itu tidak sepenuhnya benar karena ia tahu Surga sedang berperang dengan Neraka untuk mencegah iblis dari Neraka turun ke Bumi dan mengkorupsi keindahan dan kemuliaan dunia dengan kegelapan mereka. Namun ia juga tahu bahwa banyak iblis yang lolos dan akhirnya menyebabkan perpecahan dan peperangan di bumi. Ia pernah turun sendiri ke Neraka dan menyaksikan usaha mati-matian iblis untuk turun ke bumi, makanya ia tahu betul bahwa iblis akan selalu mencoba, dan kegelapan akan selalu turun di atas Bumi.
Sebagai seorang putri yang tumbuh dengan kebaikan Surga, Sang Putri ingin mencari jalan keluar untuk semua ini. Meskipun hatinya bersedih, dia ingin percaya bahwa manusia bisa menolak kegelapan. Sang Putri yang juga dikaruniai keilahian seorang dewa, ingin mencari cara agar ia dapat menjadi kekuatan bagi manusia. Jadi, dia pergi meminta izin untuk turun ke bumi.
Dia turun ke bumi bersama dua orang prajurit Tentara Surgawi, bertiga mereka menyamar di tengah-tengah manusia. Dia menyaksikan sendiri bahwa manusia hidup dengan susah payah di tengah peperangan dengan binatang buas dan sesama manusia. Tetapi, banyak manusia yang berkumpul dan bersama-sama mereka menghadapi tantangan hidup tanpa pamrih. Sang Putri sangat menyukai ini. Tetapi pada masa-masa tertentu, kumpulan manusia ini juga bersama-sama berbuat egois dan serakah, serta melakukan kejahatan bersama-sama. Hal ini tidak disukai Sang Putri dan ia memutuskan untuk meninggalkan kumpulan itu.
Ia dan prajuritnya pergi ke tempat lain di mana manusia hidup dengan kesulitan lain. Kelompok manusia ini dijajah oleh kelompok lainnya, dan mereka harus hidup berduka sebagai budak. Dia mengasihani para manusia ini dan dia membangun sebuah gua di mana orang-orang bisa meminta untuk dijauhkan dari petaka. Pertama-tama ia menghasut dua atau tiga orang untuk mengunjungi tempat itu dan mengatakan permintaan mereka, lalu ia mengabulkannya. Selanjutnya, berita ini menyebar dan semakin hari semakin banyak orang-orang datang untuk memohon sesuatu. Dalam selang waktu dua tahun, gua itu berubah menjadi kuil yang disembah secara diam-diam oleh para budak. Sang Putri masih mengabulkan permintaan-permintaan mereka, namun lambat laun ia mulai mendengar permintaan yang serakah, egois, jahat, sesat, bahkan kemudian para manusia memberinya nama-nama yang tidak dia sukai. Dia tidak mau mengabulkan permintaan-permintaan itu, dan dia marah melihat manusia yang dikasihinya menjadi tamak dan manja. Jadi, melalui bencana alam besar Sang Putri menghancurkan gua itu dan menghilangkannya dari muka bumi. Ketika peperangan meletus di daerah itu, dia mendengar orang-orang memanggil nama dewa sesat mereka, tetapi dia memalingkan mata.
Pada suatu hari, ketiganya tiba di sebuah kelompok manusia yang lebih modern. Mereka memiliki pemimpin dan para petinggi yang membantu jalannya kehidupan kelompok mereka dari berbagai macam aspek. Ketika bertemu dengan para pemimpin, ketiganya menyadari bahwa seorang petinggi, sang ahli nujum, adalah iblis yang berkulit manusia. Sejauh ini mereka belum pernah bertemu iblis secara langsung, dan pertemuan pertama ini membuat mereka terkejut dan yakin bahwa iblis ini adalah salah satu yang berlevel tinggi.
Dalam usaha mereka membongkar identitas sang iblis kepada manusia dengan maksud menyadarkan manusia bahwa iblis sudah ada di tengah-tengah mereka, sang iblis berhasil meyakinkan orang-orang bahwa ketiga orang ini adalah malapetaka yang dikirim untuk menghancurkan tempat-tempat yang mereka datangi. Orang-orang mempercayai sang ahli nujum dan berbalik menyerang Sang Putri dan kedua prajuritnya yang pada saat itu menyamar sebagai manusia biasa. Ketiganya yang turun ke bumi diikat dengan aturan bahwa mereka tidak boleh menggunakan kekuatan ilahi mereka secara langsung di hadapan, terhadap dan untuk manusia. Jadi, untuk melindungi diri, mereka hanya bisa lari. Dalam pelarian ini, salah seorang prajurit mengorbankan diri untuk memberi kesempatan dua lainnya untuk lari. Dengan berat hati, keduanya melarikan diri dan kembali ke Surga.
Kesedihan meliputi keduanya ketika kaki mereka kembali menginjak aula Surga. Sang Putri mengirim kembali prajuritnya ke dalam pasukannya dengan berat hati, sementara dia sendiri merenung lama dalam kesunyian. Dia pergi ke Bumi dengan maksud mengenal manusia secara lebih dekat supaya ia dapat membantu mereka. Tetapi langkahnya dan caranya mungkin salah sehingga ia berakhir tidak bisa melakukan apa-apa. Dia teringat sang ahli nujum iblis yang berhasil meyakinkan manusia kepada kebohongan, tanpa harus menunjukkan wujud atau kekuatan aslinya. Dia berpikir dan merenung lama, sampai akhirnya ia merasa sedih dan harus mengakui bahwa manusia sendirilah yang memilih untuk menerima kegelapan.”
Pada saat ini, sang pria berhenti bicara. Langit sudah lebih gelap dari sebelumnya, besar kemungkinan sekarang sudah memasuki permulaan malam. Ia menerawang jauh ke langit yang mulai terasa familiar. Setelah 2 hari bersama si gadis, dia mulai agak bisa mengenali bagaimana manusia melihat segala sesuatu. Masih dengan tangan menopang dagunya, dia menoleh ke arah si gadis dan mendapati gadis itu sudah tertidur meringkuk, wajahnya masih menghadap dirinya, namun matanya tertutup dan nafasnya konstan.
__ADS_1
Dia bangkit berdiri mendekati si gadis. Tangannya dengan lembut mengambil selimut tipis yang terlipat di dekat kaki si gadis, lalu menyelimuti gadis itu dengan hati-hati, tangannya tidak pernah menyentuh tubuh si gadis. Dia duduk berselonjor kaki di samping si gadis, tangan bertumpu pada lututnya, lalu matanya memandang si gadis dengan tenang, seperti orang tua yang memandang anaknya tidur.
Pada saat itu, meski kegelapan menyelimuti mereka dan seluruh bumi, dia hanya bisa merasakan kedamaian