
Sebelum tiba di perbatasan kota pesisir, keduanya masih harus melewati reruntuhan sisa kota. Sang pria sudah mengingatkannya bahwa bahaya terakhir adalah wabah, harusnya ini sangat sederhana untuk dipahami. Namun si gadis tetap tidak bisa menahan rasa terkejutnya ketika ia menyaksikan di sepanjang jalan pemandangan orang-orang yang ‘diserang’ oleh wabah.
Tubuh mereka memucat dan bibir mereka menghitam, guratan pembuluh darah di sekitar tubuh mereka juga menghitam. Mata mereka tampak ditutupi selapis awan keruh, si gadis tidak yakin apakah mereka bisa melihat atau tidak. Tubuh mereka juga mengurus dan beberapa orang tampak seperti tulang berlapis kulit. Kadang, si gadis melihat orang-orang dengan bentuk tulang aneh seolah terpelintir. Tetapi mereka semua diam, tidak bersuara atau bergerak ketika si gadis dan si pria lewat di sekitar mereka. Mereka seperti mayat hidup.
“Wabah macam apa ini? Apakah wabah ini punya nama?” si gadis berbisik sepelan mungkin setelah dia melewati tiga orang yang tampak berkumpul di balik puing bangunan. Ketiganya sama-sama masih hidup dan tertular wabah, berjongkok seperti mayat lesu menyandar puing-puing. Ketiganya hanya memandangi keduanya sampai mereka menjauh. Meskipun Faith tidak yakin apakah mereka masih bisa mendengar atau tidak, dia tidak bicara apa-apa sampai mereka sudah cukup jauh dari ketiganya.
“Wabah ini tidak hanya nyata, tetapi juga bersifat mistis. Normalnya setiap orang yang terkena wabah akan mengalami beberapa tahap sebelum mencapai tahap paling parah lalu mati. Wabah baru turun ke bumi satu hari lalu, namun mereka sudah separah ini. Ini bukan pertanda baik. Kemungkinan besar yang bisa terjadi adalah bahwa mereka telah bertatap muka dengan wabah secara langsung.” Si pria menjelaskan dengan tenang, namun matanya menunjukkan kewaspadaan.
“Wabah adalah seseorang?” Faith bertanya lagi.
“Sesuatu yang bisa mengambil wujud sebagaimana fitnah meniru wujud manusia,” jawab si pria.
Itu adalah hal yang sungguh diluar pemahaman Faith. Dia memang sering penasaran, selalu mencoba mencari tahu dan akibatnya dia menjadi tahu banyak hal, meskipun ada juga kerugian yang dia rasakan. Tetapi dia masih muda, masih banyak yang dia tidak tahu. Malah, semakin banyak yang dia tahu, semakin sadarlah dia bahwa semakin banyak hal yang tidak dia ketahui. Tetapi meskipun begitu, dia tidak memaksakan kehendaknya, terutama untuk mengetahui hal-hal yang mungkin memang tidak untuknya ketahui.
Mereka masih melintasi ibukota selama beberapa jam, lalu saat memasuki awal hari kesebelas, mereka tiba di perbatasan ibukota dan kota pesisir. Sesuai dengan informasi yang si gadis terima, daerah itu tidak lagi diisi bangunan atau jalanan, semuanya luluh lantak disapu ombak besar. Ada beberapa pohon besar dan rumah yang masih berdiri, namun hanya itu yang bentuknya dapat mereka kenali. Sisanya hanya bentuk potongan batu dan beton, serpihan kayu, besi, dan segala sesuatu yang sudah mulai sangat lapuk. Air masih menggenang cukup tinggi, meskipun tidak begitu tinggi, si gadis yakin mereka tidak akan bisa berenang sampai ke tujuan.
Tetapi di antara kekacauan benda-benda itu, si gadis merasa pria di sebelahnya membawanya melewati puing-puing dengan hati-hati sampai kaki mereka hampir menyentuh air. Betapa dia terkejutnya ketika melihat sebuah perahu kecil dari kayu coklat tua berlabuh diam di hadapan mereka, seolah menunggu keduanya. Dari ukuran perahu itu, sepertinya dua orang cukup untuk naik secara bersamaan.
Pria tinggi itu memberikan payungnya kepada si gadis. “Bisakah kamu menjaga ini sebentar?” katanya. Ketika Faith sudah memegang payungnya, dia naik ke atas perahu dan mengisyaratkan si gadis untuk ikut naik. Si gadis naik dengan hati-hati, lalu berjongkok sejenak ketika si pria berjalan ke depan dan mengambil sebuah dayung dari bagian depan perahu.
“Aku bisa duduk di depan dan menunjukkan jalannya. Kau akan kesulitan melihat jika aku duduk di belakangmu,” kata Faith.
“Aku sudah terbiasa melihat dalam kegelapan, jadi aku akan baik-baik saja. Kamu sebaiknya duduk dan jangan lepas payung itu dari tanganmu selama aku masih mendayung. Jika kamu ingin tidur, tidurlah dengan nyenyak, perjalanan kita akan memakan waktu,” kata si pria itu dengan lembut. Dia tidak menghabiskan waktu untuk berbasa-basi, karena setelah itu dia langsung mendayung perahunya dan mereka mulai berlayar di antara lautan sampah.
Karena pada saat itu langit senantiasa gelap, Faith merasa dia sedang berlayar di kala malam. Tetapi kata-katanya terlalu puitis rupanya, karena dia menyadari tidak ada bunyi riak air atau suara ombak, dan ketika mendongak ia tidak melihat bintang. Dia benar-benar hanya berlayar di kegelapan. Sambil duduk, si gadis menyandarkan payung merah si pria di bahunya, dan tangannya memegang lentera dekat-dekat, berusaha menikmati kehangatan api kecilnya.
Setelah hening selama beberapa saat, si gadis mulai berkata, “Jika seandainya ada orang yang selamat dari bencana tsunami ini, mungkin mereka sudah lari ke ibukota atau kota lainnya. Jika kita bertemu korban selamat, apakah kita akan menolongnya?”
Pria itu mendayung dalam diam selama beberapa saat lalu berkata, “Aku ragu.”
Itu adalah jawaban yang seharusnya bersifat ambigu, namun bagi Faith jelas bahwa makna dalam kata-kata si pria berarti ‘tidak ada korban selamat’ dan bukannya ‘aku tidak tahu jika ada korban selamat atau tidak’. Gadis itu menutup mulutnya, merasakan ketegasan dalam suara si pria. Dia segera mengganti topiknya. “Jika Tuan Arwah merasa lelah, aku bisa menggantikanmu mendayung.”
Mendengar ini, pria itu melunak dan si gadis bisa merasakan kelembutan dalam suaranya. “Aku tahu maksudmu baik, tapi sungguh, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan tetap mendayung sampai kita tiba di tujuan selanjutnya.”
Selama perjalanan mereka dari hari pertama hingga hari ini, Faith merasa pria di depannya sudah melakukan banyak hal tanpa pamrih untuknya. Dia menemani Faith yang renta kemanapun dia melangkah, mencarikan tempat istirahat, dan memberinya pesan serta petunjuk untuk melindungi diri. Terutama satu hal yang selalu dia lakukan dengan setia; memayunginya. Memayunginya tampak seperti sebuah kewajiban baginya, dan dia tidak bisa melihat si gadis lepas dari naungan payungnya. Hanya ketika dia benar-benar harus berpisah dengan dirinyalah dia melepaskan gadis itu dari naungan payungnya.
__ADS_1
Pada mulanya, ketika mengingat semua hal-hal baik ini, si gadis merasa pria bukan manusia itu sebenarnya adalah sosok yang baik namun berlaku misterius. Segala sesuatu yang ia lakukan selalu berhati-hati dan penuh kesadaran, sehingga dia tidak pernah membahayakan si gadis. Namun, agaknya istilah ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga’ adalah benar adanya. Si gadis teringat mengapa ia bertemu dengan pria ini dan menuntun pada event-event selanjutnya; pria ini akan mengambil jiwanya.
Jika dipikir kembali, bisa jadi bahwa segala hal yang dilakukan si pria adalah melalui perhitungannya matang-matang untuk membawa si gadis ke kematiannya. Bisa jadi dia berbohong, atau berpura-pura baik agar si gadis tidak takut padanya, lalu menipunya. Bisa jadi dia sebenarnya hanya aktor pasif yang menemani si gadis, segala sesuatunya telah diatur oleh para dewa agar keduanya bertemu, lalu terjadilah perjalanan mereka. Pria itu bisa menjadi apa saja, termasuk pembunuhnya, lagipula, dia bukan manusia.
Dalam pikirannya, dia menimbang kemungkinan terburuk dan kesempatan terbaik yang dia punya. Sebenarnya, toh dia akan mati juga suatu hari nanti, tidak masalah siapa atau apa yang membunuhnya, begitu pikirnya. Jadi meskipun pria ini sebenarnya menipunya dan menuntunnya ke kematiannya sendiri, dia tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Dia akan merasa sedih tentu saja, namun dia tidak boleh lari. Jika nantinya pria ini benar-benar menipunya untuk membunuhnya sekaligus mengambil jiwanya, maka dia harus menerimanya, dia sendiri yang setuju untuk berjalan bersama si pria. Namun, jika keberuntungan sedang berpihak padanya dan ternyata pria ini benar-benar sosok yang tulus, maka dia akan sangat senang menerima kematiannya. Jalan manapun yang harus si gadis lalui, dia harus menerima kematiannya.
Ketika tersadar dari lamunannya yang hampir membuatnya tertidur, Faith menyadari bahwa perahu mereka berhenti bergerak. Dia mendongak, untuk sesaat tertegun ketika melihat si pria juga berhenti mendayung. Tubuhnya tampak tegang.
“Tuan Arwah?” dia bersuara.
“Ssh!” pria itu mendesis menyuruhnya diam. Dia terpaku sebentar, lalu tiba-tiba berbalik sambil berseru, “Matikan lenteranya!” sambil mendesis. Dia merangkak ke samping si gadis, lalu keduanya duduk berdempetan di bawah naungan payung. Lentera sudah mati, dan kegelapan serta kesunyian menyelimuti mereka. Untuk sesaat mereka terdiam dengan tegang, lalu si pria menundukkan kepala si gadis dengan hati-hati. “Tutup matamu.”
Kata-katanya kembali terdengar tegas, dan si gadis dengan segera mengikuti perintah itu. Dia menunduk sambil memejamkan mata rapat-rapat, berjaga-jaga jika sesuatu yang tidak dapat dipahami manusia akan terjadi lagi, sama seperti insiden cekungan bukit batu. Tangan si pria di kepalanya kemudian bergerak turun ke bahunya dan mencengkramnya kuat, namun tidak menyakitinya. “Jangan buka matamu. Jangan bicara.”
Tidak lama setelah berkata demikian, sosok putih berkelebat dari arah kanan mereka. Sosok itu tampak berjalan dari jarak yang agak jauh dari mereka, namun jaraknya semakin dekat dan akhirnya terlihat bahwa sosok putih itu akan melintasi mereka. Bukan hanya itu yang semakin jelas, namun wujud sosok itu juga semakin jelas, dan sungguh sebenarnya sosok putih itu tidak berjalan, tetapi melayang di atas air. Sosok itu tinggi seperti manusia, mengenakan baju putih panjang yang menutupinya sampai ke ujung kaki. Dia memiliki kepala, namun kepalanya seluruhnya dibalut semacam perban, dan ujung perbannya menggantung di belakang kepalanya. Wajahnya ditutup topeng berwarna putih, dan hanya ada lubang mata berupa titik kecil di topengnya. Saking besarnya bajunya, dia tampak tidak memiliki tangan. Sosok putih melayang itu semakin mendekat, lalu saat dia berdiri beberapa meter di hadapan perahu si pria dan si gadis, dia berhenti. Kepalanya menoleh dengan cara yang ganjil, menatap ke perahu.
Pria itu mengeratkan cengkramannya di bahu si gadis, menarik gadis itu lebih dalam ke pelukannya, namun dia tidak berkata apa-apa. Tangannya yang bebas bergerak ke penutup mata sebelah kirinya, lalu mengangkatnya dan balas menatap sosok putih. Bola matanya berwarna merah darah segar, lebih merah daripada langit sebelumnya, dihiasi garis-garis kecil disekitar pupil matanya. Karena saat itu sangat gelap, matanya seolah bersinar. Keningnya mengkerut selama beberapa saat, terlihat marah juga menantang.
Sosok putih yang juga menatapnya tampak membelalak, namun itu tidak seperti bagaimana manusia membelalak. Lubang kecil untuk mata di topengnya membulat besar perlahan, dan guratan-guratan muncul dari dalam sana, sehingga matanya terlihat seperti benang kusut. Kedua sosok itu saling beradu pandang selama beberapa saat, namun tidak ada yang terjadi di sana. Setidaknya itu yang bisa dilihat dengan mata telanjang manusia.
Faith membuka matanya dan berkedip beberapa kali sebelum mendongak. Dia segera menatap ke sekelilingnya untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang terjadi, atau dia memang tidak bisa memahaminya. Setelah itu dia menatap si pria. “Apa yang terjadi?” katanya tenang, namun kebingungan.
Si pria tampak menimbang untuk sesaat sebelum menjawab, “Tadi itu adalah wabah, tampaknya sedang menikmati waktunya.”
Sekelebat rasa bingung di wajah Faith muncul lalu menghilang cepat dan dia ber’oh’ria. Dia ingin bertanya banyak hal, tetapi dia menahan dirinya. “Apakah itu sebabnya kau melarangku membuka mataku?”
“Benar.” Pria itu menatapnya tenang sambil mengangguk kecil.
“Terima kasih,” kata si gadis.
Pria itu membalasnya dengan senyuman. Mereka masih bertahan dengan posisi sebelumnya, tangan si pria melingkar di bahu si gadis, dan si gadis mendongak menatapnya. Hanya beberapa detik dalam posisi seperti itu, Faith tiba-tiba bicara.
“Aku tahu ini sangat gelap dan agak mustahil membenarkan pandanganku, tetapi ini pertama kalinya aku menatapmu dari dekat dan aku tidak bisa tidak menyadari banyak hal. Kau tampak bersinar, dan sebenarnya kau seperti… menarik.” Si gadis berhenti dan mengejap sekali, mempertanyakan apakah ia sebaiknya melanjutkan kata-katanya atau tidak. Di lain pihak, si pria mengangkat alisnya, terkejut sekaligus heran.
“Kulitmu pucat, tetapi tampak ada cahaya putih yang bersinar dari dalam sana, rambut hitammu lebih hitam daripada malam, namun dia berkilau seperti perak. Kau mengenakan merah dan emas secara mencolok, namun tidak menyakiti mata. Tapi aku tidak mengatakan bahwa kau terlihat feminim, tidak, kau terlihat menawan dengan cara maskulin. Jika aku bisa mendeskripsikanmu dengan satu kata, mungkin aku akan mengatakan ‘ilahi’. Aku mengatakannya sebagai pujian dari seorang perempuan manusia biasa, kau seperti makhluk ilahi paling menawan yang pernah aku lihat.”
__ADS_1
Mendengar ini si pria semakin tertegun. Matanya tidak bisa berpaling dari mata si gadis, dan tubuhnya tidak bisa bergerak. Matanya masih menunjukkan rasa terkejut dan keheranan, seolah dia masih berusaha mencerna apa yang si gadis katakan barusan. Pujian yang mengalir dari mulut si gadis adalah pujian yang tulus, karena dia benar-benar terpana, dan itu semua tercermin dari mata si gadis. Dengan demikian, si gadis bebas dari perasaan apapun selain kekaguman ketika dia mengatakannya. Dia juga bebas dari tudingan atau maksud tersembunyi, karena kata-katanya begitu jelas dan tidak berbelit, makna yang ingin ia sampaikan sesuai dengan kata-katanya.
Gadis itu hampir terlihat memiringkan kepalanya. “Apa aku menyinggungmu?”
Seketika pria itu menggeleng. “Oh, tidak, bukan itu.” Dia berhenti lagi, matanya masih menatap si gadis, dan mulutnya sedikit terbuka. “Aku punya banyak nama dan terkenal karena banyak hal; daya tarik dari penampilan fisikku adalah salah satunya, dan aku dijuluki Bunga Bakung Merah Dari Lembah (Red Lily of the Valley). Banyak makhluk memujiku, namun mereka selalu menyembunyikan maksud tertentu, sehingga aku sangat terbiasa menerima pujian kosong. Mendengarmu mengatakannya dengan cara seperti itu, aku merasa ditarik dari akal sehatku dan aku kehilangan kata-kata. Aku rasa… terima kasih.”
“Oh…” Faith mengangguk-angguk. “Mm, kupikir kau pantas mendapatnya, selamat kalau begitu,” katanya kemudian dengan agak canggung. “Tapi itu nama yang cantik.”
Pria itu kemudian terkekeh pelan dan menarik tangannya. “Sebenarnya bunga itu adalah bunga beracun.” Dia kembali ke depan perahu dan mulai mendayung kembali.
Kata-kata terakhir si pria membuat si gadis larut dalam pikirannya lagi. Jika nama cantik itu sebenarnya berarti bunga beracun, apakah dia boleh berasumsi bahwa semua kebaikan yang dilakukan pria itu adalah jebakan dan tipuan? Apakah benar jika sosok pria ini sebenarnya seseorang yang berbahaya?
“Tuan Arwah, boleh aku bertanya sesuatu? Di awal pertemuan kita, kau bilang kau akan mengambil jiwaku. Tapi sekarang kita bersama-sama melalui Hari Penghakiman sampai hari ini, hari kesebelas. Kau terus berjalan bersamaku tanpa lelah, bahkan melindungiku dengan nasihat-nasihatmu, dan terakhir yang aku tahu, kau menyembuhkan luka-lukaku. Apakah kau sebenarnya ingin menuntunku kepada kematianku? Ataukah kau sebenarnya ingin menyelamatkanku?”
Faith akhirnya menyuarakan isi kepala dan hatinya. Dia hanya ingin tahu, untuk menjawab kebingungannya. Namun jika seandainya pria itu menolak untuk menjawabnya, dia tidak bisa dan tidak akan memaksa. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk menerima jalan apapun, termasuk kematiannya yang pasti, jadi dia tidak akan gentar.
Mengejutkannya, pria itu menjawab si gadis. “Aku datang untuk mengambil jiwamu, dan aku tetap akan melakukannya di akhir hidupmu nanti. Aku juga bilang padamu bahwa meskipun kamu ditakdirkan mati hari ini, jika kamu berbuat kebaikan dan mau menebus kesalahanmu, dewa bisa memberikan belas kasihnya dan memperpanjang hidupmu. Kamu sudah bertanya sebelumnya, apakah kamu akan mati selama Hari Pembersihan atau tidak, dan aku bilang kita harus melihatnya sendiri. Lihatlah, sekarang sudah memasuki hari kesebelas dan kamu masih hidup. Tetapi ingat, hari ini belum berakhir. Dalam beberapa jam ke depan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padamu, apakah kamu akan bertahan hidup atau harus mati. Aku tidak bisa menjawabmu dengan sederhana apakah aku melindungimu atau tidak, tetapi aku katakan kepadamu, bahwa segala sesuatu yang aku lakukan adalah kehendakku sendiri, dan aku tidak berbohong.”
Suatu perasaan lega dan gembira yang menyejukkan menyelimuti hati si gadis ketika mendengar jawaban ini. Lagi, dia terpesona, tapi bukan kepada paras si pria, melainkan kepada ketulusan dan keberanian dalam kata-katanya. Dia tidak bisa menggambarkan bagaimana bisa suara seseorang membuatnya merinding, namun itu yang terjadi padanya.
“Tuan Arwah, aku tidak tahu makhluk apa kau sebenarnya, mungkin aku tidak berhak tahu atau menilainya. Tetapi makhluk apapun itu, aku yakin kau adalah seseorang yang bijaksana dan tulus serta jujur. Aku bisa melihat lebih banyak kebaikan dari dirimu meskipun aku tidak bisa menyebutkannya.” Kata-katanya mengalir bagai air.
Faith tidak melihatnya, tetapi pria itu tersenyum. “Terima kasih. Kamu sungguh seseorang yang pemberani.”
Si gadis juga tersenyum. “Aku akan merasa sangat bersyukur dan mendapat kehormatan jika Tuan Arwah yang akan mengambil jiwaku. Aku harap dengan kematianku, aku bisa mengingat semua kebaikanmu, dan semua tentang dirimu.”
“Aku akan membuatmu mengingatnya,” jawab si pria dengan tenang.
Masih tersenyum, Faith membiarkan rasa hangat dalam hatinya meresap dalam-dalam. Sebagai kelakar, dia bertanya, “Bagaimana kau berencana mengambil jiwaku? Meninggalkanku sendiri lalu kembali setelah aku mati? Atau menonton selama aku sekarat?”
Mendengar itu, sebuah senyum lebar tersungging di wajah si pria. Senyumnya yang begitu lebar itu bahkan terasa dalam nada suaranya. “Aku akan membuatmu menjadi seorang dewa.”
Apa?
Meskipun bertanya sebagai kelakar semata, si gadis tidak bisa pura-pura acuh dan menganggap perkataan si pria sama bercandanya dengan pertanyaannya. Dia tidak bisa menahan raut wajah kebingungannya. “Apakah itu serius?” dia menimbang-nimbang dan tampaknya pertanyaan ini yang paling tepat.
__ADS_1
“Siapa yang tahu.”