The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Chapter 2


__ADS_3

Di antara hiruk pikuk tragedi, horor dan duka yang terjadi selama Hari Pembersihan, seorang gadis pemberani telah menemukan penghubung menuju kematiannya; seorang pria misterius yang bukan manusia, yang datang untuk mengambil jiwanya. Tetapi gadis itu tidak gentar. Ia menerima segala kemungkinan dan takdir yang akan menimpanya, sekalipun itu kematiannya.


Faith, sang gadis, bahkan tetap melanjutkan perjalanannya mencari tempat aman. “Tempat yang tidak terjamah amarah dewa” pada awalnya adalah sebuah pertanyaan retoris yang ia lontarkan sebagai kelakar atas rasa ingin tahunya. Dia tahu para dewa melihat semuanya, dan amarahnya pada manusia akan memusnahkan hampir semua anugerah yang pernah dilimpahkan dewa pada manusia. Jadi, mungkinkah ada tempat seperti itu? Hati kecilnya berkata ‘tentu saja tidak ada, apa aku bodoh perlu bertanya sesuatu yang mustahil seperti itu’ dengan suara mencemooh. Dia hanya berusaha mencari tempat aman untuk berlindung, setidaknya jika ia ditakdirkan untuk selamat, maka ia akan hidup, namun jika ternyata ia harus mati, maka jadilah demikian.


Namun ia kini meragukan dirinya sendiri dan mulai berpikir untuk bertanya dan mencari tahu lebih banyak. Pria misterius itu menyatakan bahwa kata-katanya tidak mustahil, dan si gadis mulai mempertanyakan banyak hal. Jika si pria bisa mengantarnya ke sana, maka ia akan ke sana untuk melihat dengan mata kepala sendiri “tempat yang tidak terjamah amarah dewa.” Dia tidak tahu di mana tempat itu, dan dia juga tidak bertanya. Pria misterius itu yang akan mengantarnya, membuatnya terdengar sebagai sebuah kejutan sekaligus jebakan.


Pria itu adalah bukan manusia yang akan mengambil jiwanya, bukankah kemungkinan besar justru si gadis akan jatuh ke dalam perangkap yang membunuhnya, supaya kemudian si pria bisa mengambil jiwanya? Ya, itu sangat mungkin, dan si gadis sudah mempersiapkan diri seandainya itu terjadi. Tetapi ia adalah gadis pemberani, ia akan menghadapi apapun yang akan menimpanya, tragedi, sukacita, musibah, anugerah, bahkan kematian.


Keberanian si gadis mengingatkan si pria kepada sebuah kisah yang terjadi lama sebelum ia turun ke bumi untuk mengambil jiwa si gadis. Imajinasinya membawanya ke sebuah angan-angan yang berjalan bagaikan sebuah cerita yang mengalir di kepalanya. Demikian kisah itu berbunyi;


Pada masa itu, dunia masih sangat muda. Para dewa yang berdiri di atas alam semesta dan seluruh isinya duduk di bawah perintah Allfather, Dia yang menciptakan segala sesuatunya. Seorang dewa memimpin para dewa lainnya, Pangeran Surgawi (Prince of Heaven) adalah statusnya. Dikatakan dia adalah dewa Penjaga Pintu, Permulaan dan Peralihan Waktu (Doorway, Beginning & Transition of Time). Parasnya mulia dan auranya agung, dan ia adalah satu-satunya yang dapat berbicara dengan Allfather. Namun karena kemuliaan yang diberikan padanya, Pangeran Surga atau Sang Pangeran sendiri dapat membuat keputusan atas Surga dan Bumi. Hanya saja, berbeda dengan Allfather, ia tidak bisa menciptakan sesuatu yang hidup seperti Allfather menciptakan manusia.


Pada awal penciptaan manusia, para dewa begitu bahagia. Pada waktu itu para dewa berlomba-lomba memberikan anugerah kepada manusia. Berbagai keterampilan dalam banyak bidang, paras yang indah, ilmu pengetahuan, berbagai sifat dan karakter yang menyerupai para dewa, dan sebagainya. Mereka sangat menyayangi manusia dan melimpahkan banyak-banyak karunianya untuk manusia.


Pada masa itu, ada banyak dewa yang mengisi kursi Surga selain Sang Pangeran, dan beberapa di antaranya lebih menonjol daripada yang lain. Sang Pangeran memanggil dewa-dewa ini ‘Jenderal’, namun mereka semua sejatinya adalah dewa. Para Jenderal Dewa (God’s General) yang menonjol antara lain adalah Dewa Perang dan Kebijaksanaan (War and Wisdom), Dewa Pertumpahan Darah & Dendam (Blood Feuds & Vengeance), Dewa Pemelihara dan Pelepas Marabahaya (Preservation & Deliverance of Harm), Dewa Ilmu Sihir (Necromancy), dan lainnya. Ada juga dewa-dewa elemental seperti Dewa Angin, Dewa Air, Dewa Bumi, Dewa Api, bahkan Dewa Hantu, Dewa Kegelapan. Ada terlalu banyak dewa untuk didaftar satu demi satu, dan mustahil untuk mengingat bagaimana wujud dan kekuatan masing-masing dewa di seluruh Surga.


Intinya, pada mulanya, para dewa yang sekian banyaknya itu menganggap semua manusia sebagai anak-anaknya.


Lama kelamaan, seiring dengan bertambahnya umur dunia, para dewa mulai memilih manusia kesukaannya masing-masing. Entah karena mereka adalah manusia yang menonjol dengan kelebihannya masing-masing, atau karena mereka memiliki kemiripan yang signifikan dengan dewa-dewa tertentu, manusia-manusia ini adalah mereka yang beruntung. Mengapa mereka beruntung? Ini akan berkaitan dengan konflik yang terjadi sepanjang cerita.


Ketika ada kebaikan, ada pula kejahatan. Ketika ada Surga, ada pula Neraka.

__ADS_1


Sama seperti Surga, Neraka merupakan sebuah tempat di mana dewa-dewa berkuasa. Bedanya, bukannya dewa, melainkan raja kejahatanlah yang berkuasa di sini. Bukannya jenderal dan pasukan tentara Surgawi, hantu dan iblis yang tinggal di sini. Bukannya harmoni, kekacauan yang meliputi seluruh tempat ini. Menyadari kecintaan para dewa terhadap manusia, hantu dan iblis berusaha turun ke Bumi untuk mengkorupsi segala keagungan manusia yang telah dilimpahkan oleh dewa.


Menghadapi kemunculan teror dari dunia kegelapan, Surga membuat barikade tembok magis untuk menghalang hantu dan iblis turun ke bumi. Beberapa yang sudah turun ke bumi sangat disayangkan oleh Surga, namun mereka tidak bisa secara terbuka turun ke bumi dan berperang di sana. Allfather menghendaki manusia untuk melawan iblisnya sendiri, dan membatasi campur tangan langsung dewa dengan manusia di Bumi. Iblis-iblis ini hanya bisa mewujud apabila mereka berhasil menghasut manusia ke dalam pemikiran-pemikiran jahat dan culas sehingga membuat mereka jatuh ke dalam kegelapan. Allfather menghendaki manusia untuk membuktikan kemuliaannya sebagai makhluk dari cahaya. Mereka harus melawan bisikan iblis dan mencegah iblis menjelma di bumi dengan kekuatannya sendiri. Bagi manusia yang beruntung karena disukai dewa-dewa, mereka mendapat kesempatan untuk bergabung sebagai penghuni Surgawi, dan diselamatkan dari kesengsaraan yang akan dibawa kegelapan ke Bumi. Sisanya, harus berjuang sendiri.


Jadi, para dewa yang tidak bisa turun langsung ke bumi untuk secara langsung melindungi manusia hanya bisa bertarung secara terbuka di batas barikade magis antara Neraka dan Bumi. Barikade magis itu meskipun tinggi dan kokoh, dia tidaklah bertahan lama. Secara rutin tembok itu harus diperbaiki, dan ketika diperbaiki itulah tembok itu menjadi sangat lemah. Jadi, beberapa dewa akan turun ke Neraka untuk berhadapan langsung dengan para iblis dan hantu, sementara dewa-dewa lainnya memperkuat tembok. Hingga tembok kembali kokoh barulah para dewa yang berperang bisa kembali ke Surga.


Kekuatan Tentara Surgawi pada masa itu menjadi paling menonjol karena peperangan dengan iblis merupakan isu yang nyata dan siap terjadi kapan saja. Para Jenderal Dewa memilih pasukannya dari barisan penghuni Surgawi, mereka yang memiliki kemuliaan, hati yang bersih, serta kepercayaan yang kuat kemudian dilatih menjadi prajurit Tentara Surgawi. Mereka bahkan diberikan kekuatan serupa dewa oleh para Jenderal Dewa. Masing-masing Jenderal Dewa memiliki prajuritnya sendiri, dan setiap prajurit Jenderal Dewa memiliki keistimewaan masing-masing.


Dengan peperangan yang konstan dengan iblis ditambah kewajiban masing-masing dewa sesuai kekuatannya, dan tugas melindungi manusia di Bumi, pekerjaan para dewa bertambah. Pada satu titik, setelah mereka melewati 2 kali peperangan panjang dengan iblis di Neraka yang berlangsung bertahun-tahun waktu Surga, mereka mulai kewalahan ketika mendapati beberapa iblis dengan level yang lebih tinggi dapat melewati portal antara Surga dan Neraka. Kini, ancaman mendatangi Surga sendiri.


Tetapi di antara kekacauan ini, sebuah insiden surgawi terjadi.


Petir besar bergemuruh di langit Surga yang sejatinya selalu diwarnai corak keemasan. Hari itu, cahaya emas yang lebih menyilaukan dari langit keemasan Surga menggelegar dan menyentuh Aula Besar Surgawi, dimana Sang Pangeran menyimpan kursi-kursi dalam formasi lingkaran bagi para dewa untuk berkumpul. Seorang anak telah lahir.


Segera setelah Sang Pangeran menerima instruksi itu, kabar tentang ‘kelahiran’ seorang Putri Surgawi (Princess Daughter of Heaven) menyebar luas. Sesama dewa tidak pernah tahu bagaimana diri mereka lahir. Mereka semua diambil dari jiwa-jiwa mulia pilihan Allfather. Ada dewa yang diciptakan sejak awal mula penciptaan, ada dewa-dewa yang dipilih dari jiwa-jiwa di Surga dan naik setelah beberapa dewa diciptakan. Namun mereka tidak pernah merasakan menjadi ‘anak kecil’ sebelumnya. Tidak ada yang pernah mendapat wujud anak kecil seperti sang putri. Oleh karenanya, mendapat tugas untuk mengasuh sang putri hingga ia dewasa dan menjadi seorang dewa adalah hal yang baru bagi seluruh dewa.


Para dewa-dewa perempuan pergi untuk mengasuhnya dan memberinya kasih sayang serta kelembutan seorang wanita. Dewa Kecantikan, Dewa Cinta, Dewa Perlindungan Rumah Tangga, Dewa Pelindung Anak-anak, semua maju untuk menunjukkan cinta kasihnya kepada sang putri yang masih anak-anak. Ketika dia beranjak remaja, sang putri sudah dikaruniai kemuliaan Surgawi yang besar dan ia berhasil menguasai banyak ilmu serta keterampilan. Dia selalu mengunjungi para dewa dan mencari tahu pekerjaan serta tanggung jawab mereka masing-masing, dan kemanapun dia pergi semua orang pasti memanggilnya dengan hormat, ‘Putri Surga Kami’. Di kemudian hari, dia dikenal sebagai Sang Putri.


Sang Putri memiliki sifat terbuka, dan ia mengenali seluruh penghuni Surga sebagai keluarganya. Secara personal ia memanggil Sang Pangeran sebagai ‘ayah’ dan para dewa sebagai ‘paman atau bibi’. Para prajurit ia kenali sebagai ‘saudara laki-laki atau perempuan’. Dia mulai membuat Surga layaknya rumah, dan beberapa dewa yang memiliki kedekatan khusus dengan Sang Putri sedikit demi sedikit mulai merasa bahwa mereka adalah bagian dari keluarga Sang Putri.


Pada usianya yang ke 15 tahun menurut ukuran manusia, dia sudah meraih kebijaksanaan setara seorang dewa. Kemudian, karena kepeduliannya pada isu yang tengah berlangsung antara Surga, Neraka dan Bumi, dia meminta untuk diajarkan seni berperang.

__ADS_1


Sang Pangeran menyadari bahwa meskipun Sang Putri sudah remaja dan ditakdirkan menjadi dewa, Allfather tidak pernah memberitahunya apa-apa mengenai hal Sang Putri akan menjadi dewa atas apa. Dia sudah menduga dengan banyaknya sifat kewanitaan serta tingginya ilmu pengetahuan dan keahlian yang ia miliki, mungkin Sang Putri akan menjadi dewa sastra dan keindahan, atau semacamnya. Tetapi mengingat kemungkinan masih terbuka lebar bagi Sang Putri, Sang Pangeran mengizinkannya mempelajari seni berperang.


Adalah Dewa Perang dan Kebijaksanaan, serta Dewa Ilmu Sihir yang mengambil Sang Putri secara khusus di bawah pengawasan dan bimbingannya. Dewa Perang dan Kebijaksanaan mengajarkannya ilmu berpedang, bela diri, serta siasat dan strategi perang. Dewa Ilmu Sihir mengajarkannya ilmu sihir dan kekuatan magis yang bersumber dari energi di setiap makhluk hidup dan mati. Sang Putri adalah murid yang cerdas, dan meskipun ia banyak bertanya dan berdebat, ia tidak pernah melawan kata-kata ‘paman’nya dan dapat menguasai materi apapun yang diberikan padanya.


Pada tahun ke 7 Sang Putri mempelajari ilmu berperang, dia berhasil memenangkan lawan tanding dengan kedua pamannya. Dalam waktu yang sama, setelah mengamati potensi Sang Putri dalam waktu lama, Sang Pangeran memutuskan untuk memberi status kepadanya. Status adalah nama resmi seorang dewa. Selama ini Sang Putri hanya memegang status sebagai Princess Daughter of Heaven, dan belum berkuasa atas apapun. Pemberian status akan memberikan kekuatan dan batas kekuasaan seorang dewa.


Ketika di hadapkan dengan ‘ayahnya’ namun begitu, Sang Putri meminta izin untuk mendapatkan status sendiri. Ini membuat Sang Pangeran Surga keheranan sekaligus terkejut. Meskipun ia dan dewa lainnya adalah sama-sama dewa, tidak ada yang pernah menentang keputusannya selama ini, karena ia dianggap lebih terhormat oleh dewa lainnya. Sementara Sang Putri dengan beraninya mengajukan proposisi sendiri, ketika seluruh Surga sudah setuju dengan keputusan Sang Pangeran.


Terkesima oleh ‘putri’nya sendiri, Sang Pangeran mengabulkan permintaannya. Sang Putri akan berkelana ke seluruh dunia untuk mencari lebih banyak ilmu, keterampilan, dan kebijaksanaan. Ia akan melakukan kebaikan dan kebajikan. Ia ingin mengenal lebih banyak jiwa-jiwa. Pada akhirnya, semua pengalaman hasil berkelananya akan menjadi bahan perenungan baginya untuk menemukan statusnya sendiri. Jadi untuk sementara waktu, dia tetap dikenal sebagai Sang Putri, atau Putri.


Beberapa waktu sebelum Sang Putri memenangkan lawan tanding dengan kedua pamannya, peperangan di batas barikade memanas. Segera ketika ia mendapat restu untuk memilih statusnya sendiri, hal pertama yang ia minta adalah untuk terjun langsung ke peperangan di Neraka. Permintaan ini dikabulkan, dan ia turun bersama kedua paman sekaligus gurunya.


Medan perang di Neraka sudah menjadi tempat yang mengerikan, dan pertempuran itu sendiri lebih mengerikan daripada latihannya dengan gurunya. Tetapi dengan yakin dia berdiri di depan tembok dan melawan semua iblis yang siap menerjang tembok. Itu tidaklah lama sebelum akhirnya dia menyadari bahwa pertempuran ini tiada henti dan selalu saja ada iblis yang lolos. Para prajurit Tentara Surgawi berguguran di sana-sini, tubuh mereka terangkat menjadi cahaya ketika mereka mati, dan Sang Putri menyaksikan sendiri puluhan cahaya naik dalam waktu bersamaan, dan itu tidak terjadi hanya sekali atau 2 kali.


Hatinya bersedih. Dia sendiri belum kehilangan apa-apa tetapi dia merasa kehilangan.


Dalam kesedihan dan keputusasaan, sendirian bermandikan emas dan kemilau sementara sekutunya kewalahan dan bermandikan darah serta kegelapan, Sang Putri menjatuhkan pedangnya dan menggunakan tubuhnya sendiri untuk memukul mundur hampir seribu iblis secara bersamaan. Kekuatan spiritualnya yang besar memungkinkannya melakukan itu. Kemudian dengan seluruh tenaganya, dia membangun lapisan barrier kedua, sebuah tembok magis yang sama tingginya dengan tembok barikade para dewa. Tembok ini menghalangi para iblis yang hendak menjebol tembok utama, sekaligus menjebak iblis yang sudah terlanjur terlalu dekat dengan tembok utama. Dia meminta para dewa untuk memanggil pasukannya dan menghabisi iblis yang terjebak di antara 2 tembok. Dan itu semua terjadi dalam waktu singkat.


Sementara dia sendirian menguatkan barrier kedua, para Tentara Surgawi dan para Jenderal Dewa membantai iblis yang terjebak di antara kedua tembok. Dia membuat sedemikian rupa supaya iblis dan hantu manapun yang menembus barrier ini akan kehilangan setidaknya satu anggota tubuhnya dan energinya akan berkurang. Beberapa waktu yang panjang berlalu baginya, namun ketika ia mendengar sorakan riuh dari belakangnya, ia berhenti dan memutar tubuhnya. Jenderal Dewa dan prajurit Tentara Surgawi bersorak riang. Mereka berhasil membantai habis semua iblis yang terjebak. Rasa lelah tampak di wajah mereka, namun rasa bangga dan lega yang luar biasa menutupi semua emosi lainnya.


Sang Putri jatuh terduduk di tanah Neraka yang kemerahan dan kotor dengan darah hitam para iblis. Kemilaunya tidak memudar, namun ia terlihat lelah. Meskipun begitu, sambil menatap paman, bibi, serta saudara-saudaranya yang merayakan kemenangan, senyum ikut menghiasi wajahnya yang senantiasa berkilau. Kemudian dia berbisik pelan. “Kalian masih harus memperkuat barikade penghalang utama.” Tepat setelah itu, dia hilang kesadaran.

__ADS_1


Hari pertama ia turun dari Surga, dia sendirian membangun barrier yang mencegah iblis turun ke bumi untuk menodai manusia.


__ADS_2