The Heavenly Tale - Nameless God

The Heavenly Tale - Nameless God
Extra Chapter: Loyalty


__ADS_3

Tersebutlah seorang pria tua beranak 3 dan bercucu 4. Dia tinggal bersama keluarga putri sulungnya, karena istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu, sehingga dia kini diurus oleh putri sulungnya. Kakek ini bukan seseorang yang jahat, dan dia selalu menghindari kejahatan selama hidupnya. Namun dia keras kepala, dan sulit untuk meyakinkannya sesuatu yang di luar pemahamannya, jadi kadang orang-orang menilainya seolah dia orang yang buruk. Untungnya, dia tidak perah mempermasalahkan itu, dan keluarganya sendiri tidak menjauhinya karena tabiatnya tersebut, jadi hidupnya tidak pernah terbuang untuk mengurusi pendapat orang lain.


Dia adalah seorang pendongeng. Itu bukan pekerjaannya, tetapi dia senang bercerita, baik itu kisahnya saat dia muda, cerita yang dia dengar dari orang lain, atau cerita yang ia karang sendiri. Dan ketika dia sudah mendongeng, semua orang harus mendengarkan hingga ceritanya tamat. Dari dulu hingga sekarang dia selalu bercerita dengan menggebu-gebu, namun karena sekarang ia sudah sangat tua, ia seringkali mengucapkan kalimat atau menceritakan kisah yang sama berulang-ulang. Tidak semua keluarganya menyukai kisahnya, namun ada yang mencintainya. Tapi tetap saja, mereka harus selalu sabar ketika sang kakek mulai menceritakan kisah-kisah yang sama berulang kali dengan kata-kata yang terputus, sehingga mereka tidak yakin apakah kakek mereka dalam kondisi sadar atau tidak ketika ia bercerita. Tapi tetap saja keluarganya menghargai ceritanya.


Hari itu sudah agak gelap dan hujan sedang mengguyur kota. Si kakek duduk di kursi rodanya di dekat jendela, selimut di kakinya. Putri sulungnya sedang mondar-mandir di sekitar rumah menyelesaikan pekerjaan rumah, sedangkan suaminya sedang bekerja. Cucunya yang bungsu, seorang bocah laki-laki 6 tahun sedang bermain dengan buku gambar dan krayon di karpet di depan TV tidak jauh dari kakinya. Tak lama, cucunya yang kedua turun dari kamarnya dan duduk di sofa lalu menyalakan TV. Dia adalah seorang gadis mungkin pada usia sekolah menengah atas.


"Kau tidak keluar? Ini akhir Minggu." Si kakek bicara ketika melihat cucu perempuannya. Suaranya masih nyaring meski sudah serak.


"Tidak, aku tidak punya rencana," cucunya menjawab.


"Oh. Kau biasanya punya rencana," gumam si kakek.


"Mungkin. Jika mereka tidak membuat rencana sendiri."


Mata si kakek membulat. "Apa yang terjadi, sayangku?"


"Hm, tidak apa-apa," jawab cucunya. Dia terdiam sebentar sambil menatap layar televisi. Kemudian ketika menatap ke arah kakeknya beberapa saat kemudian, kakeknya tengah memberinya tatapan menghakimi. Dia tidak bisa tidak menggerling dan tertawa. "Sungguh kek, aku tidak apa-apa."


"Kau mau bercerita? Kita bisa bertukar," kata si kakek.


Cucunya tertawa algi. "Sungguh kek, aku tidak apa-apa, aku tidak ingin bicara."


"Kalau begitu kau bisa mendengarkanku," kakeknya berseru.


Cucunya terdiam lagi sejenak. Dia tahu dia tidak ingin berbicara, tapi dia merasa sangat sayang pada kakeknya dan tidak enak membiarkannya merasa diabaikan. "Baiklah," katanya kemudian sambil berpaling ke kakeknya. "Apa yang kakek tahu soal kekasih yang berselingkuh?"


Si kakek berseru 'ah!' Dengan dramatis. "Apakah seseorang telah menghianatimu?" Dia bertanya.


"Kurang lebih," jawab cucunya.


Si kakek melengkungkan bibirnya ke bawah selama beberapa detik sambil menatapnya, menunjukkan apa yang dia rasakan. "Aku tidak punya cerita soal kekasih yang berselingkuh, tapi aku punya cerita soal kesetiaan. Apakah kau masih mau mendengarkannya?"


"Apakah ini tentangmu dan nenek?"


"Tadinya tentang aku dan nenekmu, tapi sebenarnya cerita ini tentang seorang temanku."


"Oh," cucunya berseru rendah. Dia mencoba mengingat-ngingat semua cerita yang pernah disampaikan kakeknya dan berusaha menebak cerita mana yang akan ia sampaikan. "Seperti apa ceritanya?" Tanyanya kemudian.


"Ketika itu aku masih sangat muda, dan kami, aku dan nenekmu, beberapa kali bercekcok. Nenekmu sangat hebat, dia mengambil program belajar ke luar negeri selama tiga tahun, dan itu adalah hal yang besar bagi kami. Tapi itu yang dia inginkan, di sana masa depannya berada, jadi aku tidak melarangnya. Tapi kau tahu karena jarak dan perbedaan waktu, kami tidak jarang ribut. Jadi suatu hari, ketika kami sedang ribut, aku memutuskan untuk pergi menyendiri untuk berpikir. Hari itu aku pergi sendiri ke sebuah padang rumput di kampung halamanku di daerah perbukitan, hanya supaya aku dapat berpikir jernih.


"Ketika tiba, aku kira aku sendiri. Selama aku berjalan aku selalu menunduk atau meracau sendiri dan tidak memperhatikan sekelilingku. Tapi kemudian ketika aku tiba di salah satu bagian ladang, dan aku melihat ke balik sebuah pohon, aku melihat dua orang, laki-laki dan perempuan muda, sedang duduk di bawah pohon. Si laki-laki berbaring di rumput dengan kepala di pangkuan si gadis, dan si gadis menatapnya. Mereka sedang mengobrol, namun apapun yang mereka bicarakan, mereka tampak sedang bicara dari hati ke hati, hampir tanpa kata-kata. Payung besar terbuka di dekat si gadis, tapi tidak ada keranjang makanan atau barang -barang lain yang menunjukkan mereka sedang piknik. Mereka sungguh terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran dan menghabiskan waktu berdua untuk mengobrol. Oh betapa aku ingin aku ada disitu bersama nenekmu! Ketika aku sedang membayangkan itu, mereka melihatku dan melambai padaku. Jadi aku tidak punya pilihan untuk pergi, aku datang mendekati mereka.


"Ketika aku mendekat, semakin jelas aku bisa melihat paras mereka. Itu adalah paras yang sangat mengagumkan! Si pria, tinggi dan gagah dengan rambut dan mata sekelam malam, serta senyum yang misterius. Si gadis, dia bagaikan sinar matahari yang merembes dari sela-sela daun, berkilau, lembut, dan hangat. Mereka mengenakan setelan musim panas, si gadis dengan gaun selutut dan si pria dengan kemeja tipis dan kaus. Aku duduk bersama mereka. Dan mereka adalah orang yang sangat ramah, keduanya. Jadi bukan hanya paras mereka saja yang menawan, tapi juga kebaikan mereka.


"Mereka bertanya padaku kenapa aku berjalan sendirian, dan aku menceritakan masalahku dengan nenekmu, dan betapa aku ingin ada di posisi mereka sekarang. Mereka mendengarkan ceritaku baik-baik, dan kau tahu apa yang mereka katakan di akhir certaku? Mereka berkata bahwa aku hanya merindukan nenekmu! Dan aku hanya perlu bertemu dengannya supaya masalah kami selesai! Si gadis menjelaskan padaku dengan hati-hati, suaranya lembut bagai nyanyian, bahwa perempuan ingin melihat sejauh mana laki-lakinya akan berkorban untuknya, dan karena aku dan nenekmu sudah sangat dekat, kami tidak akan melakukan sesuatu untuk menyakiti satu sama lain, jadi jalan keluarnya adalah dengan bertemu. Dia memberitahuku untuk menabung dan memberikan kejutan untuk nenekmu dengan menemuinya di sana. Semudah itu!"


Pada titik ini, cucunya sudah benar-benar memutar tubuhnya menghadap si kakek. Ibunya yang masih mondar-mandir di sekitar rumah pun sesekali melempar pandang kepada mereka.


"Dia bilang bahwa kami hanya perlu bertemu dan mengobrol selama beberapa waktu, dan masalah kami akan selesai. Itu sangat sederhana, dan aku bahkan belum berpikir ke sana. Jadi aku berterima kasih lalu bertaya kepada mereka kenapa mereka bisa menyederhanakan hal yang begitu rumit menjadi hal sederhana, dan kali ini si pria yang menjawabku. Suaranya berat namun mengayun, jika suara si gadis seperti burung bernyanyi, suara si pria seperti gemuruh ombak. Mereka berkata padaku bahwa sebelum masa-masa ini, mereka juga terpisah oleh jarak dan waktu dan segala sesuatu sangat sulit. Mereka dalam perjalanan berpindah-pindah antar kota, hanya berdua, jadi aku pikir hidup mereka begitu romantis, tapi ternyata sebelum itu mereka selalu terpisah. Tapi kemudian si pria berkata bahwa dia mengusahakan segala cara agar dapat bertemu dengan putrinya. Tidak, kau tidak salah dengar, dia menyebut kekasihnya sebagai 'seorang putri'. Setelah beberapa waktu berlalu, putrinya juga melakukan usaha yang sama, dan akhirnya bisa bersama. Itu seperti aku dan nenekmu!


"Jadi aku bilang, 'oh aku mendapat seorang role model!' Dan mereka hanya tertawa menepisnya. Tapi mereka sungguh menawan dan seketika aku mendapat banyak inspirasi dari mereka. Jadi aku bertanya lagi, apa yang bisa aku jadikan pedoman untuk membangun hubungan yang baik dengan nenekmu. Kali ini si pria menjawab lagi, jemarinya sambil bermain di rambut panjang kekasihnya. 'Kau hanya butuh tiga hal,' katanya. Aku bilang 'apa?' Lalu katanya, 'kepercayaan, keyakinan, dan kesetiaan'.


"Dan itu, gadis tersayangku, adalah hal yang aku cari-cari. Kunci yang menjaga hubungamu dengan segala sesuatu menjadi baik. Dan lebih lagi si pria berkata kemudian, bahwa jika aku menemukan rintangan, masalah, atau kekecewaan, aku harus menganggapnya sebagai proses dari pembelajaran, dan aku harus menerimanya dengan tulus ikhlas!"


Cucunya mengangguk dengan pandangan lembut. "Itu sungguh menyentuh dan menginspirasi," katanya.


"Ya, ya! Mereka bukan pasangan yang menyerah oleh keadaan, dan aku tergerak oleh semangat mereka. Mereka mencari cara supaya dapat bersatu, melakukan banyak usaha dan pengorbanan, gagal dan jatuh, namun mereka bangkit lagi. Itu sungguh menginspirasi," sahut si kakek sambil mengangguk yakin. "Itu yang mendorongku untuk menghargai nenekmu sebesar mungkin dan mencintainya sampai sekarang. Jadi kalau kau bertemu masalah sekarang, jangan khawatir. Semua itu adalah bagian dari pembelajaran hidup, kau harus menerimanya dengan tulus. Percayalah, bahwa kau akan mendapat sesuatu yang lebih baik dari sekarang."


Cucunya bergumam pelan sambil tersenyum. "Di manakah teman kakek itu sekarang? Apakah kalian masih berhubungan?"


"Oh, aku tidak tahu. Mereka berpindah dari satu kota ke kota lain, siapa yang tahu sekarang mereka ada di mana. Tapi satu hal yang pasti, adalah bahwa aku tidak bisa melupakan mereka dari sini dan sini." Kakek itu menunjuk dada dan kepalanya. "Cerita mereka hidup di dalam sini. Oh, mereka juga berjanji jika suatu hari bertemu denganku lagi mereka tidak akan lupa dengan wajahku."


"Apakah mereka punya nama?" Tanya cucunya.


"Perempuannya adalah Faith, dan yang laki-laki Red."

__ADS_1


Si cucu bergumam dalam hati, tidak bisa mengingat jika kakeknya punya seorang teman bernama Faith ataupun Red. Tiba-tiba suara ibunya muncul dari belakang kepalanya. "Itu adalah cerita yang sangat bagus, kek. Kenapa kau tidak pernah menceritakannya sebelumnya pada kami?"


"Seperti katamu soal makan malam, simpan yang terbaik untuk yang terakhir," jawab si kakek. Ibu dan anak di seberangnya sama-sama tersenyum kecil. "Mereka sudah menjadi bagian dariku sampai sulit membedakannya dengan diriku sendiri."


"Baiklah. Ngomong-ngomong soal makan malam, aku akan membuat sup jagung kesukaanmu,” kata putrinya.


"Oh, terima kasih, sayangku."


Pembicaraan mereka selesai hari itu dengan sang cucu kembali ke kamarnya dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Cerita yang diceritakan kakeknya sore itu memberinya semangat baru, jadi dia tidak murung lagi setelahnya. Selama beberapa hari ke depan, kakeknya tidak pernah lagi menceritakan kisah itu, atau menyinggungnya sedikitpun, yang mana adalah normal dia lakukan. Mungkin dia lupa, mungkin juga dia sengaja, yang jelas cucunya masih mengingat ceritanya.


Sampai setelah hampir 2 minggu sejak kakek itu bercerita kepada cucunya, dia tiba-tiba menyinggungnya lagi. Hari itu 2 dari anak-anaknya sedang berkumpul di rumah tempat si kakek tinggal. Mereka membawa anak-anaknya sehingga hari itu rumah mereka terasa ramai. Cucunya yang lain sudah berusia 13 tahun, jadi dia sangat dekat dengan cucunya yang perempuan, sedangkan cucu laki-lakinya tetap asik sendiri dengan kegiatan mewarnai dan menggambarnya.


Hari itu cerah, memang hampir sore tetapi langit tidak menghalangi sinar matahari sama sekali. Si kakek sedang duduk di kursi rodanya di beranda rumah, sedangkan anak dan cucunya di dalam rumah. Tibat-tiba kakek ini berdiri dari kursi rodanya dan dengan rintih berjalan menjauh. Awalnya, tidak seorangpun melihatnya, tapi ketika si cucu paling muda berkata dengan polosnya "kakek berjalan,” semua orang berlari ke luar. Kakek mereka memang berjalan!


"Kakek, mau pergi ke mana?" Putri sulungnya bertanya sambil menahan agar si kakek tidak berjalan lebih jauh.


Di belakangnya, putra keduanya berseru, "Ayah baik-baik saja? Kau bisa jalan?"


Si kakek membuka mulutnya tetapi ia tampak terkejut dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Kedua anaknya berhasil membawanya kembali duduk di kursi rodanya. "Aku melihatnya, nak! Itu mereka! Itu mereka!" Si kakek akhirnya berhasil berkata-kata setelah ia kembali duduk.


"Siapa?" Kedua anaknya sama-sama bertanya, namun hanya putranya yang menoleh ke belakang.


"Itu dua temanku! Yang aku ceritakan pada cucu kesayanganku!"


"Siapa?" Putranya kembali bertanya. "Aku tidak melihat siapa-siapa di sana."


"Itu adalah cerita kakek beberapa minggu lalu," putrinya menjawab sekilas. "Jika mereka melihat kakek, aku yakin mereka akan mampir. Tapi kakek tidak boleh pergi keluar, kakek bahkan tidak bisa berjalan dengan baik."


"Tapi aku baru saja berjalan!" Sang kakek berseru. "Dan mereka ingin aku mengikutinya."


Putrinya terdiam sejenak. "Baiklah, kita tunggu mereka datang di dalam. Jika mereka datang lagi, aku akan mengantar kakek."


Kakek itu bergumam selama ia didorong oleh putrinya masuk kembali ke dalam rumah. Ketika matanya bertemu mata cucu perempuannya, dia berkata, "Mereka mengingatku! Faith dan Red!"


Putrinya lalu meletakkan kursi rodanya di dalam di dekat jendela, lalu kembali ke ruang makan di mana sisa keluarga sudah berkumpul lagi. "Ibu pikir kakek benar? Soal temannya?" Cucu perempuannya bertanya ketika ibunya duduk di sebelahnya.


Lagi, topik itu berhenti selama beberapa waktu. Anaknya atau cucunya tidak menyinggung cerita itu lagi, dan mungkin si kakek sendiri lupa, jadi topik itu terlupakan begitu saja. Sayangnya, sekitar 2 minggu kemudian, sang kakek jatuh sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Kakek itu memang sudah tua, jadi keluarganya sudah merasa bahwa tubuhnya akan melemah cepat atau lambat, jadi meskipun mereka sedih, mereka sudah mempersiapkan diri. Mereka menjenguknya dan menunggunya di rumah sakit secara bergantian, kadang anak-anaknya kadang cucunya, tergantung siapa saja yang kosong pada hari itu. Biasanya sang kakek selalu menyambut mereka dengan tenang kapanpun mereka datang. Tapi hari itu, ketika cucu perempuannya yang menjenguknya, dia terlihat bahagia.


"Bagaimana sekolahmu?" Si kakek bertanya ketika cucunya meletakkan tas sekolahnya di sofa, seragamnya masih lengkap dikenakan, dan wajahnya terlihat lelah. "Apa mungkin kau sedang sedih?"


Cucunya menggeleng. "Tidak kek, aku hanya lelah. Bagaimana kabar kakek? Apa kakek merasa lebih baik? Sudah minum obat?"


"Para perawat datang sebelum dirimu, dan aku sudah makan, jadi aku merasa lebih baik.” Kakeknya berkata dengan wajah ceria.


Melihat ini cucunya tersenyum lagi. "Kau terlihat senang."


"Oh ya aku senang sekali hari ini. Aku benar kan, temanku memang sedang berada di kota ini. Faith dan Red mengunjungiku sebelum makan siang tadi. Itulah kenapa aku sangat senang!"


"Oh." Cucunya terkejut dan tertegun sejenak. "Mereka datang ke sini?"


"Ya, mereka berdiri di sebelah sini dan bicara padaku." Kakek itu menunjuk. "Mereka masih seperti yang aku deskripsikan padamu, sama-sama menawan."


Cucunya mengangguk pelan. "Kakek tidak mengundangnya ke rumah? Kita bisa menyambutnya jika kakek sudah sembuh. Dengan begitu aku juga bisa berkenalan dengan mereka."


"Oh mereka sangat sibuk, mereka masih hidup berpindah-pindah kota. Mereka bilang besok mereka harus pergi ke kota lain lagi, jadi hanya hari ini mereka dapat mengunjungi kakek," jawab kakeknya. "Tapi jangan khawatir, aku sudah bercerita banyak hal pada mereka dan mereka akan menganggap keluargaku sebagai keluarganya sendiri!"


Mendengar itu cucunya tidak bisa tidak tersenyum sambil terenyuh. Dia sungguh-sungguh merasa senang ketika melihatnya kakeknya masih bisa bersemangat seperti itu. Meskipun begitu dalam hatinya, ada suatu keraguan yang tidak bisa dia sembunyikan. Dia masih muda, dan dia sedang dalam usia di mana dia harus bersikap kritis, jadi dia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. Tetapi karena dia menyayangi kakeknya dan tidak mau merusak kebahagiaan kakeknya, dia tidak bertanya saat itu. Hanya kemudian ketika dia keluar untuk membeli makanan di kafeteria rumah sakit, dia memberanikan diri bertanya kepada suster penjaga di lantai kamar kakeknya.


"Permisi, boleh aku bertanya sesuatu? Apakah sebelum ini, mungkin sebelum atau setelah jam makan siang sebelum aku datang, ada sepasang orangtua, mungkin sepasang kakek nenek, yang menjenguk kakekku? Kamar kakekku ada di sebelah sana." Gadis itu bertanya sambil menunjuk.


Suster penjaga itu bertanya pada temannya dan memeriksa buku tamu yang ada di sisinya. "Saya rasa tidak ada, miss. Kami tidak mencatat ada kunjungan untuk kamar kakek Anda hari ini, kecuali Anda,” jawabnya.


Hampir seperti sudah menduga jawaban itu, si gadis tersenyum dan mengangguk ramah. "Baiklah, terima kasih," katanya. Ketika dia meninggalkan pos suster penjaga, wajahnya tertunduk dan ada kesedihan di wajahnya. Dia sejenak terlihat lemah, namun pikirannya tangguh. Jika itu adalah nyata bagi kakeknya, maka dia harus mempercayainya. Jika itu adalah kebahagiaan bagi kakeknya, maka dia harus mendukungnya.


Jadi, meskipun dia tahu banyak hal, dia memutuskan untuk diam.

__ADS_1


Sebulan kemudian, keluarga itu harus mengalami kesedihan mendalam ketika sang kakek akhirnya meninggal dunia. Dia tidak sakit, dia meninggal secara natural karena ia sudah tua. Anak-anaknya bersedih, namun karena mereka sudah menyadari sejak lama bahwa suatu hari ayah mereka akan meninggalkan mereka, maka mereka menerimanya dengan lapang hati. Cucu-cucunya juga bersedih, terutama 3 cucu pertama karena mereka sudah mengerti situasi yang terjadi, sementara cucu bungsunya juga bersedih, namun dia tidak sepenuhnya menyadari situasinya. Meskipun begitu, mereka semua tahu bahwa mereka harus melepas sang kakek untuk kebaikan sang kakek dan mereka sendiri, dan mereka diam-diam menguatkan diri dengan berkata 'kakek akan bertemu nenek di sana, jadi dia tidak akan kesepian'. Dan begitulah mereka mengobati kesedihannya.


Ketika keluarga itu mengadakan penghormatan tetakhir di rumah putri sulungnya, seluruh keluarga, kerabat, dan kawan-kawan kakeknya hadir di sana. Mereka dilanda duka yang sama, dan perasaan mereka campur aduk ketika menyaksikan jenazah sang kakek di dalam peti. Semua orang mengerti bahwa kepergian sang kakek mungkin adalah awal dari kehidupannya yang lain, tapi ini juga akhir dari kehidupannya di sini. Beberapa menangisi kepergiannya, beberapa menghibur mereka yang terlalu berduka.


Tetapi hal yang berbeda di lakukan sang cucu bungsu, bocah 6 tahun yang hobi menggambar dan mewarnai. Mungkin karena dia terlalu muda, dia tidak begitu mengerti situasi yang tengah terjadi. Dia bersedih dan banyak terdiam, tidak merengek atau meminta agar diizinkan pergi ke kamarnya untuk menggambar. Dia hanya berjalan-jalan di sekitar rumah, beberapa orang dewasa menepuk kepalanya dengan sayang dan mengasihaninya karena kehilangan sosok seorang kakek yang ia sayangi.


Pada suatu waktu, ketika ia hampir bisa mengingat seluruh wajah orang-orang yang ada di rumahnya, dia berhenti berjalan-jalan di dalam rumah, lalu memutuskan untuk keluar. Dia melihat beberapa orang duduk di bangku di halaman kecil rumah mereka, lalu berjalan menyebrangi jalan yang kosong. Rumah mereka berada di dekat pertigaan jalan, dan di seberang rumah mereka ada sebidang tanah kosong yang ditumbuhi pohon tinggi dan besar. Saat itu sudah masuk musim gugur, jadi daunnya mulai menguning di banyak tempat.


Anak itu pergi ke sana, lalu berhenti di dekat pohon. "Oh, halo anak kecil! Lihat betapa lucunya dirimu! Apa yang kamu lakukan di sini?" Seorang perempuan berlutut di hadapannya. Di belakang perempuan itu berdiri seorang laki-laki yang memayungi keduanya. Tidak, bukan kedua orang itu yang menghampiri si bocah, tetapi si bocah yang menghampiri keduanya.


Bocah itu tersenyum riang dan matanya memicing karena dia harus mendongak ketika menatap si pria, dan sinar matahari terlalu terik baginya. "Aku baru keluar dari rumah," jawab bocah itu.


"Oh? Kabur dari rumah?" Perempuan itu bertanya dengan wajah bingung.


Si bocah menggeleng, lalu menunjuk ke belakangnya. "Itu rumahku. Rumahku sedang penuh jadi aku keluar supaya orang-orang bisa bebas bergerak."


"Kenapa banyak orang di rumahmu?" Tanya perempuan itu lagi.


"Kakek baru saja meninggal, jadi teman-teman kakek berkunjung untuk melihat."


Perempuan itu tersenyum dengan rasa iba. "Aku ikut bersedih untuk kakekmu. Tapi tahukah kamu, aku percaya kakekmu tidak akan meninggalkanmu begitu saja, dia akan terus mengawasi kalian dari langit sebagai bintang. Jadi ketika kamu merindukannya, pada malam hari kamu bisa memandang langit dan bicara padanya!" Kata si perempuan.


"Oke," bocah itu menjawab dengan tenang. "Kenapa kalian di sini? Kalian mau masuk bertemu kakek?"


"Oh, kami sebenarnya di sini untuk menjemput seorang teman. Dia orang yang baik," jawab perempuan itu.


"Apakah kalian menemukannya?"


"Ya, tentu saja! Kami hanya sedang menunggu sebentar selama dia masih berpamitan." Perempuan itu tersenyum lebar dan manis. "Kami agak kesepian tadi, tapi denganmu di sini, kami tidak lagi kesepian. Betapa baik hatinya kamu, sayangku. Aku berterima kasih sekali." Perempuan itu kemudian memeluk si bocah erat-erat. Matanya terpejam dan tangannya mengusap kepala si bocah. Ketika melepas pelukannya, si bocah terkekeh geli.


"Sama-sama," jawab si bocah. "Aku harap kalian bertemu dengan teman kalian. Jika kalian sudah bertemu, kalian bisa datang ke rumahku. Kami punya biskuit dan susu."


"Oh itu akan sangat menyenangkan! Sebenarnya, kamu mau tahu sesuatu?" Perempuan itu mendekat untuk berbisik di telinga si bocah dengan gaya kekanakkan.


Pada hari itu, saat tubuh sang kakek didoakan bersama-sama di rumah putri sulungnya sebelum dimakamkan, seluruh anggota keluarganya menangis. Cucu perempuan kesayangannya juga menangis di dalam kamarnya, tidak bisa keluar kamar selama beberapa waktu karena terlalu sedih dan malu. Dia mengenakan kemeja hitam dan berusaha sebisa mungkin menghapus air matanya dengan tissue supaya tidak menodai kausnya. Jika ada air matanya yang menitik, dia akan menghapusnya dengan tissue dengan gerakan kasar, seolah itu adalah noda berwarna yang akan mencela seluruh dukanya.


Dia masih menangis selama beberapa hari ke depan setelah jenazah kakeknya dimakamkan. Dia tidak mengakuinya, tetapi dia sangat menyayangi kakeknya. Dia selalu tinggal bersama kakeknya sejak kecil, jadi kehilangan sosok itu sungguh berat baginya. Dia merindukan sosoknya yang meskipun pasif karena selalu duduk di kursi roda, tapi tetap memancarkan semangat hidup yang mengalahkan bahkan orangtuanya. Di atas semuanya, dia merindukan ceritanya.


Dia sedang duduk di atas kasurnya sambil membuka-buka buku hariannya ketika pintu kamarnya diketuk dan kepala adik laki-lakinya menyembul dari sela-sela pintu. Dia sangat mungil, dia harus memanjangkan tangannya untuk meraih gagang pintu. Mata bulat dan lucunya menatap sosok kakaknya sebelum dia mendapat izin untuk masuk dan segera melompat ke kasur kakaknya. Dia membawa selembar kertas di tangannya, lalu satu tangannya yang bebas memeluk kakaknya.


"Apa kakak masih sedih?" Tanyanya dengan lucu.


"Hm? Kenapa aku harus sedih?" Tanya kakaknya.


"Karena kakek sudah tidak ada," kata adiknya pelan.


Kakaknya menghela nafas sebentar. "Jika aku sedih, apakah kau akan sedih juga?" Adiknya mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu aku akan berhenti bersedih."


Mendengar ini adiknya tersenyum. "Aku punya hadiah untukmu, supaya kakak tidak sedih lagi." Dia menunjukkan selembar kertas yang dibawanya. Itu adalah gambar seorang laki-laki dengan baju merah dan celana panjang memegang payung, seorang perempuan berambut panjang dengan gaun coklat muda selutut, dan di atas mereka ada sesuatu yang menyerupai bintang 2 buah.


Gambar itu sangat sederhana dan maknanya mudah dimengerti siapa saja. Namun, sang kakak bertanya sambil tersenyum. "Siapa ini?"


"Ini Faith, ini Red, dan ini kakek dan nenek." Adiknya menunjuk ke gambar perempuan, laki-laki, lalu kedua bintang. "Mereka bersama sekarang, dan mereka tidak kesepian, jadi kakak jangan sedih."


Selama beberapa detik, kakaknya terdiam memandangi gambar itu. Dia tidak bodoh, jadi dia mengerti betul apa yang adiknya katakan. Namun karena dia tidak bodoh juga, dia memutuskan untuk bertanya. "Bagaimana kau tahu siapa itu Faith dan Red?"


"Mereka teman kakek. Mereka di sini saat teman-teman kakek berkunjung."


Jika yang dimaksud adiknya adalah ketika doa bersama dan penghormatan terakhir sebelum kakeknya dimakamkan, maka sang kakak memutar otaknya. "Aku tidak melihatnya. Apa mereka ada saat pemakaman?"


"Tidak, mereka pergi duluan."


"Apa mereka terlihat seperti ini?" Kakaknya menunjuk gambar di kertas. Adiknya mengangguk. "Dengan baju merah dan dress coklat? Membawa payung?" Adiknya mengangguk lagi. "Di mana kau melihat mereka?"


"Aku bisa menunjukkanmu." Kata si adik, tanpa menunggu lama segera turun dari kasur dan meninggalkan kamar. Kakaknya mengikuti dengan langkah tidak sabar. Mereka berhenti di teras rumah, lalu adiknya menunjuk ke pohon di seberang jalan. "Mereka berdiri di sana."

__ADS_1


Sang kakak memandang arah yang ditunjuk adiknya, lalu seketika memori berterbangan di kepalanya. Dia memandang ke belakang, ke salah satu titik kosong di beranda rumah, lalu kembali ke depan. Saat itu dia mengingat moment ketika kakeknya masih hidup dan berjalan dari kursi rodanya, mengklaim bahwa ia melihat kedua temannya dan mereka mengajak si kakek untuk mengikutinya. Arah yang ditunjuk adiknya sekarang adalah arah yang dituju ketika kakeknya berjalan pada waktu itu.


Kakeknya tidak berbohong. Orang lain hanya tidak bisa melihatnya.


__ADS_2