
Setelah berpatroli Camelia berencana untuk mampir sebentar ke rumah Lea . Ia sudah mengunjungi tiga rumah kosong yang katanya adalah milik korban hilang. Namun, seolah masalah ini hanya berputar antara kerajaan dan para kesatria, suasana yang ada di pemukiman penduduk tampak tenang dan damai. Rumah yang Camelia periksa—selain kondisi buruk karena sudah lama ditinggalkan—tidak ditemukan hal-hal mencurigakan di sana.
Camelia juga sudah mewawancarai beberapa warga, tetapi respons mereka datar seolah tidak peduli. Sementara Aldwin selaku pemimpin ras amagine tidak juga memberikan keterangan berarti.
Satu-satunya yang menyebalkan hari ini adalah cuacanya. Sudah memasuki awal musim gugur, Camelia tidak pernah memiliki masalah dengan suhu lingkungan tapi entah kenapa ia mulai terganggu dengan udara yang sedikit terasa dingin. Belum lagi untuk kesekian kalinya pencariannya hanya sia-sia. Camelia tidak mendapat apa-apa selain tangan yang penuh dengan debu.
"Apa-apaan ini? Ekspetasiku tidak serendah ini." Camelia memasuki rumah Lea dengan wajah tertekuk. "Bekerja sebagai garnisun tentu tidak akan sesantai ini 'kan? Ayolah aku butuh yang menantang."
Camelia baru selesai mencuci tangan dengan gentong air di halaman. Ia menyesal karena harus menanggung rasa dingin di tangannya.
"Ah sial. Salju bahkan belum turun tapi aku sudah akan membeku hanya dengan begini?"
Jadi ketika melihat sehelai kain di atas meja, tanpa berpikir Camelia bergerak untuk mengambilnya. Ia melihat sekeliling. Saat tidak menemukan Lea di ruang depan, Camelia baru menyadari ia masuk tanpa permisi.
"Lea... kau di dalam?"
Tidak ada balasan.
Setelah selesai dengan tangannya, Camelia baru menunduk untuk melihat kain apa yang ia pakai. Raut wajahnya masih datar, tadinya. Namun, tidak lagi saat ia menemukan sebuah ukiran huruf pada sulaman di ujung kainnya. Itu adalah huruf 'A'. Camelia tidak punya pengalaman asmara tetapi ia jelas paham ini adalah inisial nama seseorang.
Lalu saat pikirannya mengingat satu nama, Camelia refleks membuang saputangan itu ke meja.
Bukan aku, bukan aku. Aku tidak memakainya.
Pikiran Camelia masih terus menyangkal padahal tangannya yang tidak dicuci dengan baik telah meninggalkan noda coklat juga kondisi saputangan itu telah kusut oleh jejak basah sebagai bukti nyata. Namun, sang pelaku malah menjauh dari sana tanpa menurunkan pandangannya sedikit pun.
Rasa bersalah yang coba ia sangkal membuat pikirannya sesaat kosong. Camelia tentu tidak lupa jika sedang berada di rumah seorang wizard, tetapi wanita itu tetap terkejut melihat beberapa benda yang diduga adalah tas, terbang dari arah dalam. Beruntung wajah yang ia kenal segera muncul setelahnya, memutus pikiran linglung yang baru saja melandanya.
"Oh kau datang?"
Lea bertanya sebagai ungkapan sapaan, tetapi tidak mendapat sambutan hangat.
Camelia sedikit kesal dan dengan mudah melupakan dosanya. "Bagus sekali, kau nyaris membuat aku jantungan dengan benda-benda terbang ini."
Lea yang sibuk tidak menghiraukannya. Wanita wizard itu menangkap dan menyusun satu persatu benda yang sebenarnya adalah tas jinjing ke dalam wadah yang lebih besar untuk menampung semuanya. Ada sekitar dua puluh buah saat Lea menghitungnya.
"Kau ingin menjual semuanya?"
"Yah, tentu saja aku harus dibayar." Lea menjawab tetapi fokusnya masih pada barang-barang itu.
Camelia mencari kursi untuk duduk. "Sebanyak itu? Tumben sekali kau mau membuatnya."
''Kau ini lupa atau memang tidak tahu?"
Camelia menatap acuh. "Aku pilih keduanya, jadi apa?"
"Aku sangat heran jika ada yang tidak ingat tentang festival musim gugur." Lea sudah selesai dengan pekerjaannya dan menatap Camelia dengan melipat tangan di perut.
Seolah telah mendapat ingatannya yang hilang, Camelia menyebut 'o' dalam nada panjang. "Kau kekurangan uang sampai harus berdagang di sana?" tanyanya lagi.
Aletta memijat pelipisnya. Wanita itu langsung membatin, apa yang dia pikirkan akhir-akhir ini? kenapa otaknya jadi lambat berpikir?
"Camelia sayang ... aku tidak akan merubah profesi sebagai pedagang." Tiap katanya Lea tekan namun masih dengan nada yang tetap tenang. "Bibimu sendiri yang memesan semua ini. Kau tahu di mana tempat festival itu diadakan?"
Camelia menggeleng.
"Bagus. Festival yang ini akan diadakan di Bree. Kau tahu berapa jarak dari Troas ke Bree?"
Camelia mengangguk. "Yah, cukup jauh."
__ADS_1
"Jadi kalau penduduk Troas ingin berpartisipasi ke sana dan butuh membawa banyak barang, apa yang mereka butuhkan?"
Camelia sedikit berpikir lalu menyentuh benda yang melingkar di pinggangnya. "Tas mm ajaib...oo..." Mulut itu kembali membulat. Menyadari kelambanannya, Camelia tiba-tiba bertanya, "apa aku terlihat bodoh?"
Lea menatapnya penuh kasihan lalu mengangkat bahu. "Bukan aku yang bilang begitu."
Camelia termenung sesaat, sebelum menggeleng dengan cepat. "Baiklah, sebelum aku menjadi lebih bodoh dan melupakan semua hal, cepat jawab aku." Anehnya ia malah tiba-tiba terdiam. "Eh tunggu apa yang mau aku tanyakan?"
...•••••...
Pikiran Camelia akhir-akhir ini seperti benang kusut. Ia mencoba mencari benang merah dari masalah yang ada. Mulai dari ditemukannya rumah kosong yang diduga karena penghuninya hilang, lalu hubungan tiga arah antara si kucing serta pria yang diikutinya, hingga kasus matinya salah satu penduduk ras amagine secara tiba-tiba. Semua itu tampak sederhana, tetapi setelah dipikir lagi, Camelia merasa hal ini tidak biasa.
Camelia sampai butuh waktu sebentar untuk berbaring guna membantunya menemukan apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan.
Ketika melihat Camelia bangkit mengambil posisi duduk, Lea mengalah dengan kesibukannya lantas bertanya, "Sudah ingat apa yang mau kau tanyakan?"
"Kenyang!" Camelia berucap cepat, seolah ia akan kembali melupakan jika terlambat sedikit. Kerutan di dahi Lea sudah terbentuk, untungnya Camelia dengan segera menjelaskan.
"Beberapa kali aku merasa kenyang tanpa makan dan setelah mencari tahu alasannya, aku menemukan itu disebabkan karena aku bersentuhan dengan seorang pria. Menurutmu ada hal semacam ini?"
Dahi Lea yang hampir lurus kembali mengerut."Kau yakin? Kau tidak sedang mengarang?"
Lea meninjau ekspresi Camelia, sayangnya tidak ada jejak canda di sana. Wanita itu lantas melanjutkan, "Jika kasus ini dialami seorang penyihir maka masih masuk akal. Hal ini memang bisa terjadi untuk beberapa orang. Tapi .... " Ada jeda sesaat. "Siapa tepatnya pria ini?"
Camelia berdeham, sedikit tersinggung dengan kalimat awal Lea.
Apakah identitasku sebagai seorang penyihir telah dihapus?
Namun, ia mencoba berdamai dan menjawab, "Dia hanya seekor kucing dari Elwood. Mm... maksudku dia dari klan Agrios."
Mendengar ini wajah Lea menjadi serius.
Bagus sekali, Lea akhirnya melarat kata-katanya dan mengakuinya sebagai penyihir tapi entah kenapa Camelia merasa lebih baik wanita itu tidak mengatakannya.
"Kejujuranmu terlalu menusuk," celetuk Camelia.
Ia mencoba tidak mempermasalahkan lebih jauh dan mencerna inti ucapan Lea. Karena wanita itu mengatakan bahwa mustahil kasus ini terjadi karena orangnya adalah pria dari Klan Agrios, bukankah itu berarti hal semacam ini bukan tidak mungkin terjadi? Bahwa yang ia alami tidak benar-benar sesuatu yang mustahil?
Minat Camelia semakin tumbuh.
"Seandainya kasus ini aku alami dengan penyihir juga ... bisa kau jelaskan bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?"
Lea mulai perbikir. "Aku tidak tahu pasti, tetapi yang kau alami ini dapat disebut sebagai 'menyerap energi orang lain'. Kenyang secara tiba-tiba yang kau rasakan diakibatkan oleh adanya energi yang masuk ke tubuhmu. Tidak banyak yang aku tahu, tetapi aku pernah mendengar para Elementis melakukannya. Mereka bisa menyerap energi penyihir lain dengan kekuatan lebih rendah selama energi mereka cocok. Mungkin kasus yang kau alami ini sama dengan itu."
Poin yang Camelia tangkap adalah "cocok". Namun, dari ia yang gagal menjadi penyihir lalu dikaitkan dengan seekor kucing dari klan Agrios, di mana tepatnya letak kecocokan itu?
Camelia tiba-tiba berpikir tentang garis jodoh. Konon katanya segala hal menjadi mungkin dengan adanya ikatan jodoh.
Apakah dia jodohku?
Dengan pikirannya, Camelia tiba-tiba menggeleng.
Tapi aku belum berencana menyukainya.
Lalu sesaat kemudian dia mengangguk.
Tidak masalah. Sepertinya tidak masalah. Kalaupun aku harus terjebak dengannya karena garis jodoh itu, aku tidak akan begitu dirugikan. Karena dia mm... cukup tampan.
Melihat Camelia yang terdiam, Lea segera bertanya, "Pertanyaanmu sudah terjawab?"
__ADS_1
"Mn, sedikit."
Mendengar ini Lea yang baru mengingat sesuatu lantas kembali bertanya, "Ngomong-ngomong kau ingat stoples gelembung yang pernah aku pijamkan padamu? Aku ingin memperlihatkan kepada para penduduk sebagai contoh."
Sudah pecah.
"Oh itu yah." Camelia berusaha menetralkan ekspresinya. " Sepertinya ada di rumah Aletta."
Camelia langsung berdiri dari tempatnya.
"Aku hampir lupa jika aku punya janji. Sepertinya aku akan pergi sekarang."
Lea tampak bertanya-tanya, tetapi kemudian memaklumi. Ia hanya berkata, "baiklah. Tolong bawakan jika kau ingat."
Saat itu Camelia sudah melewati pintu, tetapi kemudian memunculkan kepalanya kembali hanya untuk berkata, "bisakah kamu tidak menunggu? Sepertinya aku tidak akan ingat."
Lalu dalam sekejap ia segera menghilang dari sana.
...••••••...
"Jadi kau tidak bergabung menjadi garnisun bersama anggota yang dipimpin Ramos?"
Setelah kabur dari rumah Lea, Camelia akhirnya bertemu dengan Aron yang sedang menjalankan tugas.
Aron menggeleng sebagai jawaban. "Aku tidak dipilih."
Camelia tidak yakin kualifikasi apa yang digunakan untuk menunjuk seorang garnisun, tetapi baginya Aron tidak kekurangan apa pun untuk tidak dipilih. Selain dia memang memiliki ketangkasan fisik yang mumpuni, Aron juga seorang wizard. Jika Camelia dan Aron diadu secara serius, walaupun Camelia dianugerahi pedang anti sihir, itu belum menjamin ia akan benar-benar bisa mengalahkan Aron. Jadi saat hal ini terjadi, Camelia tidak bisa tidak merasa heran.
"Aku yakin ada yang tidak benar di sini."
Sebaliknya Aron tidak merasa keberatan dengan keputusan itu, jadi ia tidak menanggapi ucapan Camelia dan malah menanyakan hal lain.
"Apa yang kau temukan sejauh ini?"
Camelia langsung menyesuaikan dengan obrolan baru itu. "Tidak ada," ucapnya. "aku belum menemukan apa pun."
Mendengar ini ekspresi Aron tidak menunjukkan apa pun. Setelah jeda sesaat, ia berkata, "Ramos sedang mencurigai Alaric."
"Alaric?"
Aron mengangguk. "Dia seharusnya tinggal di Elwood, tapi akhir-akhir ini dia berkeliaran di Troas. Entah apa tujuannya namun dia telah menarik kecurigaan Ramos."
"Apa dia pria yang si kucing itu ikuti?" Camelia berbicara pada dirinya sendiri, tetapi sesaat kemudian Aron sudah mengamini ucapannya.
"Dia di sana."
Camelia mendongak mengikuti arah pandang Aron. Ia tersenyum.
"Jadi memang dia?"
Pria yang baru saja Camelia ketahui namanya itu terlihat tergesa-gesa. Camelia tertarik untuk mengikutinya. Aron pun sepertinya akan melakukan hal yang sama. Namun, belum saja mereka melangkah, ucapan seseorang menginterupsi gerakan keduanya.
"Aron!" Suara seseorang terdengar diikuti kemunculan kesatria yang mengenakan baju zirah senada dengan Aron. Camelia mengenali sosok ini.
"Ada apa Killy?" Camelia bertanya.
Kesatria bernama Killy membungkukkan sedikit badannya ke arah Camelia. Setelah mengatur napas, ia berkata, "Ada mayat yang ditemukan di dekat hutan. Gejalanya sama dengan orang yang sebelumnya."
Camelia dan Aron langsung saling pandang.
__ADS_1
Lagi?