
"Aku salah masuk. Aku akan pergi."
Tangan seseorang dengan cepat menghadangnya.
"Aku tidak menyangka akan kedatangan tamu. Aku akan senang jika kau mau duduk sebentar untuk menikmati secangkir teh denganku." Tirian menunjuk meja dan kursi yang tersedia.
Apa itu hangat? Pikiran Camelia mengkhianati tuannya. Bagaimanapun malam yang dingin dengan secangkir teh panas adalah kombinasi sempurna. Namun, di saat seperti ini harga diri masih jauh lebih penting.
Camelia menyarungkan kembali pedangnya lalu menatap lurus pria di depannya. "Terima kasih. Tapi aku tidak datang untuk itu."
"Sayang sekali aku tidak beruntung."
Seorang penjaga muncul membuat Camelia yang hendak berbicara mengatupkan kembali bibirnya.
"Tuan, sudah waktunya."
Camelia memahami perkataan itu. Ia menarik salah satu sudut bibirnya. "Seorang yang akan pergi tidak seharusnya menyambut tamu."
Camelia sudah berbalik, kali ini tidak ada yang menahannya. Namun, pria di belakangnya tiba-tiba bersuara.
"Akan kubuat pengecualian untuk tamu spesial."
Camelia mendengarnya tetapi tidak menganggap itu sesuatu yang berarti. Ia hanya menoleh sedikit sebelum melanjutkan jalan.
...••••••...
Festival yang dimulai setelah matahari terbenam sudah berlangsung selama dua jam. Pada posisi tengah dari semua tempat itu, api unggun mulai dinyalakan. Sekitar empat meter dari sana terdapat sebuah tanah lapang berpasir yang di pinggirnya dikelilingi kursi panjang, dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk tribun. Beberapa kursi sudah terisi sementara podium di sisi barat masih kosong.
Tenda milik Pyrgos yang dijaga oleh Aletta dan Fiola kebetulan berada di area itu. Niles yang sudah menyelesaikan tugasnya pergi berkunjung dengan membawa beberapa buah tangan. Tampaknya si falkon itu sudah membuat banyak kemajuan. Aletta bahkan langsung menyiku lengan Fiola saat melihat Niles mendekat.
"Penggemarmu datang."
Wajah Fiola masih datar saat ia mengangkat kepalanya. Namun, ketika ia menemukan presensi Niles, ia segera menunduk dan diam-diam menyembunyikan kedua tangannya yang saling meremas. Fiola bahkan tidak menjawab ucapan Aletta seolah ia tidak peduli.
"Nona-nona aku membawa oleh-oleh."
Ucapan itu seharusnya ditujukan untuk lebih dari satu orang. Namun, Niles hanya berhenti di depan Fiola, mempersembahkan tatapan dan senyuman paling hangat yang ia punya.
Aletta langsung mencibir. "Baiklah, anggap saja aku tiang."
Fiola menggeleng dan memberi kode agar Niles menjauh. "Kau menghalangi jalan untuk pelanggan."
Niles mundur dengan langkah elegan. "Tentu," ucapnya. "Kalian tidak ingin makan?"
Setelah beberapa saat menilai wajah Fiola, ia mengangkat dua kantong di tangannya. "Makanan ringan."
Aletta merebut salah satunya. "Biarkan aku menyimpannya."
"Kakak—"
Aletta mengabaikannya. "Minggir, ada pelanggan."
Melihat kakaknya yang sibuk dengan para pembeli, Niles mendekat ke Fiola dan berbisik kepadanya. "Apa makanan yang kau suka?"
Sayangnya seorang pembeli terlanjur merebut fokus Fiola sehingga Niles tidak mendapatkan jawaban. Namun, ia tidak menyerah. Niles terus mengekor ke mana Fiola pergi, memelototinya dengan tetap menjaga wibawa.
"Ayo katakan, apa yang kau suka?"
Niles masih berusaha, tetapi bahkan sampai para pembeli pergi, Fiola masih belum menjawab.
"Kau tahu sendiri wujud asliku adalah falkon." Terus diabaikan Niles mulai bercerita tidak peduli siapa yang akan mendengarnya.
Pada saat ini Fiola mulai meliriknya. Namun, ia bertingkah seolah tidak mendengar. Wajah songong Niles itu sebenarnya menyebalkan, tetapi anehnya Fiola harus menahan diri untuk tidak tertawa karena menganggap itu lucu.
"Sebagai calon elang, aku sangat menyukai daging. Aku biasanya berburu burung-burung kecil di lereng gunung."
Fiola tetap diam, tetapi di dalam hatinya ia memaklumi ucapan Niles. Siapa dari Klan Agrios yang tidak memakan daging? Tentu saja itu makanan kesukaan mereka. Namun, Fiola tertegun mendengar ucapan Niles berikutnya.
"Tapi dari semua itu aku lebih suka kelinci."
Kelinci?
Bukan hanya Fiola yang terkejut. Aletta bahkan menjatuhkan barang di tangannya. Ia menoleh pada Niles dan memelototinya.
Anak bodoh!
Sang kakak berusaha untuk membekap mulut tidak tahu tempat itu, tetapi Niles yang bersemangat malah menggantikan posisinya.
Ia kembali merebut kantung yang Aletta ambil dan membungkamnya. "Kakak yang baik hati. Biarkan aku mendapatkan ipar untukmu." Mata Niles itu bahkan berkedip.
"Bodoh."
Aletta berusaha menolongnya, tetapi seorang kesatria yang baru saja lewat di depan sana membuat ia mengurungkan niatnya.
Aron? Nama yang belum lama ia ketahui menggema di kepalanya.
Sementara itu Niles langsung mengeluarkan isi di kantungnya, beberapa tusuk sate digenggam dan dengan bangga diperlihatkan kepada Fiola.
"Sate kelinci kesukaanku. Ini yang terbaik pasti kau akan menyukainya."
Tentu saja Niles tidak menyadari mata Fiola yang mulai berair, tangannya bahkan sudah gemetar. Aletta tidak perlu memastikan untuk mengetahuinya. Namun, ia memiliki kesibukan mendesak yang tiba-tiba.
"Sudahlah, kisah cinta adikku sudah tidak bisa ditolong. Setidaknya aku harus berusaha sampai akhir."
Aletta sudah berlari setengah jalan tetapi tiba-tiba berhenti.
"Niles," teriaknya. "Semangat!"
Terima nasipmu.
Tepat setelah Aletta selesai mengucapkan kalimatnya, Fiola berlari ke samping tenda dan mengeluarkan isi perutnya di sana.
Niles dilanda kepanikan, ia memandang makanan di tangannya dan Fiola yang menunduk di tanah secara bergantian.
__ADS_1
"Apa yang salah?"
Niles lalu mendekat untuk bertanya, tetapi Fiola dengan cepat menahannya.
"J-jauhkan itu dariku!"
...•••••...
Api unggun mulai membesar ketika tribun itu telah terisi penuh. Beberapa orang juga terlihat sudah menempati podium.
Selepas beradu mulut dengan Tirian, Camelia mulai kembali berkelana, tetapi tidak menemukan Gerald yang ia cari dan malah berakhir di tempat ini. Dalam pikirannya pria itu mungkin saja turut menonton. Jadi ia naik pada tribun tengah dan mulai memantau dari sana. Matanya sedang menyapu sekitar ketika para penonton mulai berbisik di sekitarnya.
"Siapa yang akan memenangkan pertarungan tahun ini? Apakah dari Klan Agrios lagi?"
Camelia melirik, itu seorang wanita amagine.
Suara lain terdengar.
"Tentu saja. Mereka kuat dan bengis siapa yang akan mampu."
"Ah benar." Kali ini suara seorang pria ikut terdengar. "Sayang sekali, hadiah tahun ini cukup besar. Aku tidak bisa ikut karena mereka melarang penggunaan sihir."
Nada penyesalan terdengar dari seorang yang pertama berbicara. "Benar, kau tahu... pemenangnya akan mendapat seribu keping koin emas." Wanita itu tiba-tiba histeris, ia meremas tangan kemudian wajahnya sebelum melanjutkan, "dan yang paling penting pemenangnya berkesempatan untuk menginap di kediaman Tuan Tirian dalam beberapa hari!"
Beberapa wanita lain menampakkan reaksi sama.
"Aaaa..Aku iri."
"Lihatlah Tuan Tirian semakin tampan saja. Andai aku bisa memenangkan pertarungan!"
Wanita-wanita itu menunjuk ke arah depan dengan pandangan memuja. Camelia mengikuti arah itu dan menemukan dua sosok pria duduk berdampingan di podium seberang sana. Salah satunya adalah Kenan sementara seorang lagi tampak familier.
Setelah menyipitkan matanya sebentar, Camelia mulai tersenyum.
Aku mengerti. Jadi si mesum itu si adalah Tirian yang pengecut?
"Sudah dimulai."
Tepat saat suara itu jatuh, riuh teriakan penonton memenuhi udara. Hanya ketika suara yang lebih besar terdengar semua orang kembali duduk dan menahan antusiasme. Camelia menemukan sosok yang berdiri di ujung depan podium memegang sebuah jam pasir. Suara menggema itu berasal darinya.
"Setiap setahun sekali Tuan Tirian mengadakan festival musim gugur. Ia membuang-buang kekayaannya demi mengumpulkan kita semua dalam perayaan ini. Kalian bisa mengumpulkan apa yang kalian perlukan dan menunggu musim dingin dengan tenang di rumah. Apa hanya aku yang menganggap jika tindakan ini sangat mulia?"
Itu adalah sanjungan yang bagus. Teriakan yang menggetarkan tribun sekali lagi terdengar. Camelia bahkan mendengar beberapa orang menangis dalam keharuan. Ia mungkin satu-satunya yang merasa ini terlalu menjijikkan untuk diakui.
"Ckck, kaya dan tampan. Dia layak untuk menjadi populer. Tapi sikap pamer ini ..."
Gumaman itu menggantung saat pria yang ia duga seorang wasit yang memimpin pertarungan kembali bersuara.
"Aku tahu, kita semua memiliki pemikiran yang sama. Namun apa yang lebih baik dari perayaan ini selain pertujukan pertarungan menakjubkan? Bukankah kalian semua menantikannya?"
Semua orang berteriak dalam persetujuan.
Hakim itu kembali melanjutkan. "Jadi aku tidak akan menundanya. Siapa pun silahkan naik ke arena dan selesaikan pertarungan. Sang pemenang akan mendapatkan kehormatan untuk menunjuk lawan selanjutnya. Tidak harus ada mayat, cukup buat lawanmu tidak berdaya. Siapa pun yang bertahan sampai jam pasir di tanganku habis maka dialah yang keluar sebagai pemenang sesungguhnya. Berusahalah karena Tuan Tirian menghadiahkan seribu keping emas dan undangan khusus untuk berkunjung ke kediamannya."
Sang wasit melanjutkan, "Ah ini benar-benar kesempatan yang perlu dipertimbangkan. Siapa pun kalian...maju dan perlihatkan kemampuanmu!"
Jam pasir sudah dibalik. Bersamaan dengan itu, di arena berpasir di bawah sana dua orang pria berjalan dari arah berlawanan dan bertemu di tengah. Tanpa komando apa pun keduanya saling menyerang, membanting satu sama lain dengan tangan kosong. Ada ketimpangan dari ukuran tubuh keduanya.
Salah satunya memiliki tubuh lebih ramping, tetapi urat pada otot-otot itu terus mencuat sejak tadi. Sementara satu lainnya adalah pria tinggi dengan bobot tubuh lebih besar. Wajahnya sangar dan percaya diri.
Serangan keduanya masih imbang. Namun, semua orang dikejutkan oleh pria berbadan besar itu malah yang lebih dulu tersungkur di tanah.
Camelia menaikan sebelah alisnya. "Benar-benar tidak terduga."
Itu baru beberapa menit ketika pria bertubuh kecil menginjak dada lawannya lalu mengangkat tangan untuk berteriak.
"Siapa pun yang punya cukup nyali! Naik dan lawan aku!"
Camelia melihat pria bertubuh besar yang di seret keluar arena. Ia bergumam, "Malang sekali, sepertinya dia hanya berburu koin tanpa mengukur kemampuan."
Para penonton di sebelah lagi-lagi berteriak.
"Dia pemenang tahun lalu!"
"Benar! Itu Barres. Siapa yang masih berani menantangnya?"
"Tidak ada yang bisa melawannya? Ayolah ini baru awal! Siapa pun lawan dia! Beri kami tontonan menarik!"
"Benar! Maju dan lawan dia!"
Seruan-seruan di sekitar menggelitik minat Camelia. Namun, waktu yang singkat tadi masih menyimpan keraguan di benaknya. Pria itu hanya menggunakan tangan kosong tetapi sudah mampu menumbangkan lawannya? Camelia tidak harus tergesa-gesa jika tidak ingin mempermalukan diri di bawah sana.
Pikiran Camelia dan keributan terputus saat seseorang akhirnya sudah menaiki arena.
Barres, pria pemenang sebelumnya tidak menunggu lawannya sampai ke tengah, ia menyambut dengan sebuah tendangan. Kaki itu awalnya ditangkis dengan mudah, tetapi keberuntungan penantang ke dua tidak berlangsung lama saat pundaknya menjadi sasaran lalu ia ditarik dari atas, diangkat dan berakhir dibanting di tanah.
Penantang ke dua itu membawa sebuah pemukul besi. Namun, tindakannya hanya sia-sia karena Barres telah mengambil alih.
sang penantang bangkit berjuang untuk melawan senjatanya sendiri dan hanya berakhir luka lebam mendarat di dahi perut dan pahanya.
Ketika Barres berhasil membuat lawannya tersungkur sekali lagi, ia mulai tertawa dan mengangkat tangannya penuh kebanggaan. Lawan yang memegang dadanya di tanah ia tatap dengan jijik.
"Apa hanya ini?! Beri aku lawan yang lebih kuat! Dasar lemah!"
Setelah meneriaki penonton, Barres berjalan mendekat pada lawan yang tampak sudah tidak berdaya. Tanpa ragu sepatu boots ia angkat untuk mendarat di perut pihak lain, menekannya sampai sang lawan kembali meringis.
"Beri aku lawan yang lebih kuat!" teriaknya lagi.
Di momen itu, tanpa semua orang duga, lawan yang sudah tidak berdaya melayangkan satu pukulan telak ke petis yang terus menginjaknya. Ia mungkin telah mengarahkan seluruh tenaganya karena setelahnya ia terbaring dengan nafas terengah-engah.
Namun usahanya tampak tidak sia-sia. Barres yang tadi masih penuh dengan kesombongan tiba-tiba jatuh berlutut dan memegang betisnya yang sakit. Semua yang melihat tidak bisa menerka seberapa kuat rasa sakit yang ia terima. Namun, semua orang menahan napas saat Barres tiba-tiba berubah murka dan mulai melampiaskan kekesalannya dengan memberikan bogem bertubi-tubi pada si pelaku.
"Keparat! Mati saja kau!"
__ADS_1
Pria yang terbaring terbatuk dengan napas tersengal oleh semua pukulan itu. Yang terlintas di pikiran para penonton hanyalah pria itu akan segera menjemput ajalnya. Kendati darah mulai keluar dari hidung dan bibirnya, sang pemberi pukulan tidak mengehentikan gerakannya. Barres hanya menjadi semakin brutal.
Camelia menyayangkan kemalangan orang yang akan segera mati itu. Namun, minat yang lebih besar menarik pikirannya. Ia memperhatikan pria yang menggila dengan pukulannya. Kedua sudut bibirnya tiba-tiba ditarik. Masih dengan senyum mengembang, ia berkata. "Ck yang terkuat sekali pun memang punya kelemahan."
"Dia akan mati!"
"Hentikan dia! Hei! Kenapa dia terus memukulnya!"
"Pria itu sudah gila!"
Beruntung ucapan-ucapan itu tidak serta merta teramini. Di bawah sana dua pria berbadan kekar berlari memasuki arena langsung melerai pertarungan satu arah itu.
Camelia tidak begitu peduli sejak tadi jadi ia mencari pemandangan lain untuk menghiburnya. Ia lalu menyadari sesuatu. Rupanya bukan hanya ia yang tidak tertarik, orang-orang di podium sana tampak tenang. Camelia bahkan melihat sudut bibir pria yang baru ia ketahui namanya masih terus mengembang. Kesenangan Camelia bertambah.
Ia lalu melirik jam pasir yang sudah turun seperempat. Camelia menyeringai. "Jadi mereka hanya akan terus menonton dan tidak melakukan apa-apa sampai jam pasir itu habis? ... Menarik."
Setelah melihat wajah Tirian lagi, Camelia tiba-tiba bersemangat. Sebuah ide muncul di kepalanya. Senyumnya semakin melebar saat melihat pria yang menggila tadi masih bertahan di arena dan kembali menunggu penantang.
Tanpa menunggu lagi, Camelia mengangkat tangannya dan berteriak, "Lawanmu di sini!"
Sontak semua orang menoleh ke arahnya. Ia mengabaikan semua mata yang tertuju padanya. Memasukan jubahnya ke dalam tas, rasa dingin yang menyapa tidak begitu mengusik. Ia menaiki arena dengan perasaan senang.
Seperti dugaannya wajah lawannya masih memerah oleh amarah. Ia melirik kaki pria itu dan kembali tersenyum. Memandang lawannya yang masih bergeming, ia berkata,
"Kau perlu istirahat? Kita bisa menunggu sebentar. Mungkin kau lelah."
Terbiasa memenangkan pertarungan lalu mendengar belas kasih dari seorang lawan perempuan, pria itu meludah dengan jijik.
Kepalan Barres mendongak ke langit. Tawa keras terdengar. "Kau bisa menyerah sebelum terlambat. Orang tuamu menunggumu di rumah. Pulanglah sebelum aku membuatmu merengek di hadapan mereka."
"Ah sungguh?"
Camelia memerhatikan kaki pria itu sedikit pincang saat ia melangkah. Tangannya mengambil besi yang tergeletak. Camelia tetap tenang walaupun langkah lawannya sudah mendekat.
"Bagaimana yah, aku tidak tahu cara merengek."
Dingin besi menyentuh dagu Camelia ketika pria itu mengangkat besi di tangannya. Ia menilik wajah Camelia.
"Lihatlah para penonton di atas sana. Mereka sudah tidak sabar agar aku menumbangkan lawanku yang manis ini. Tapi..." Besi itu berhenti di bibir Camelia. "Wajah cantikmu ini aku tidak tega melukainya."
Camelia menyeringai dan menepisnya.
"Atau mungkin kau takut?"
Senyuman di wajah Barres seketika menghilang. Ia menjatuhkan besi dan sebagai gantinya mencengkram dagu Camelia dengan tangannya.
"Kau terlalu banyak bicara! kau pikir kau siapa!"
Tanpa menunggu pria itu berkata lagi Camelia menghunus pedangnya dan mendaratkan gagangnya di perut Barres. Pria itu tidak sempat menghindar dan hanya bisa meringis. Namun, selanjutnya ia menargetkan besi yang dianggurkan sebagai senjata berikutnya. Sayangnya Camelia memutus keinginannya dengan menginjak salah satu ujung besi hingga itu terangkat untuk ditangkap olehnya.
"Oops maaf, siapa cepat dia dapat."
Kesal. Barres memukul pasir sebelum bangkit kembali menerjang. Camelia terpaksa menyarungkan pedangnya dan menggunakan besi sebagai senjata.
Dengan gerakan yang cepat, pincang di kaki Barres semakin nampak terlihat. Namun, dengan keadaan itu Camelia mengakui kalau serangannya ini bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Tidak heran ia bisa dengan mudah menumbangkan lawan-lawannya.
"Rupanya aku salah meremehkanmu."
Dengan duel ini, Camelia menilai Barres tidak hanya kuat, tetapi ia pandai menangkis serangan bahkan gerakannya cepat. Sayang sekali Camelia harus menyarungkan pedangnya karena ia tidak bisa membunuh orang ini. Keadaan tidak menguntungkan, tetapi Camelia punya peluangnya sendiri.
Ia menargetkan betis yang sama sejak tadi, tetapi sepertinya ia masih harus mengulur waktu.
"Kau tidak ingin menyerah? Bukankah hadiah tahun lalu seharusnya belum habis?" Camelia berkata di sela serangannya.
Pengalihan dengan mengajak ngobrol lawan tampaknya masih belum efektif. Tangan kosong Barres bahkan tidak mengeluh beradu dengan besi yang Camelia ayunkan.
"Kenapa?" Barres tersenyum meremehkan. "Oh jadi kau wanita cantik yang serakah? Kau bersih keras melawanku demi kepingan emas itu?" Barres berhasil menangkap besi. Tatapan keduanya bertemu. "Menyerah saja. Menyerah dan layani aku, aku janji akan memberikan semuanya padamu."
Camelia tidak langsung mengumpat. Ia menilai secara kilat penampilan pihak lain. Lalu sesaat kemudian ia mengangkat kakinya dalam putaran besar yang berakhir menendang profil samping wajah Barres. Ekspresi kepuasan langsung ia tampilkan saat Barres nyaris tersungkur dengan wajahnya.
"Itu jawabanku, "ucap Camelia tegas. "Aku hanya menyukai pria tampan dan kau sangat-sangat tidak!"
Tidak membiarkan Barres bangun Camelia melempar besi itu hingga menumpuk rasa sakit kembali di wajahnya.
"Sudahlah, aku lelah meladenimu. Ah dingin sialan ini!"
Camelia mendekat untuk memberi serangan terakhir, tetapi siapa sangka Barres bangun dan berhasil memblokir serangannya. Keduanya berakhir dengan kedua tangan Camelia diapit dari belakang.
"Sudah kubilang, menyerah dan jadi istriku."
Beberapa saat Barres tidak mendapatkan jawaban. Namun, Camelia tiba-tiba terkekeh.
"Kau kalah," ucapnya.
Belum sempat Barres tertawa karena ucapan yang ia anggap bodoh itu, kaki Camelia sudah mengayun dan mendarat tepat di betis Barres yang sakit. Ringisan tertahan nyaris tidak terdengar lalu beberapa detik kemudian, Barres jatuh karena kehilangan keseimbangan.
Melihat itu, Camelia dengan santai berkata, "Kram otot?"
Camelia mengabaikan semua tatapan penonton yang memandangnya tidak percaya. Ia bahkan tidak peduli dengan kemenangannya atas Barres. Camelia langsung memeriksa jam pasir di podium sana. Lalu saat melihat itu baru habis setengah. Camelia tersenyum dan berteriak, "Seperti yang kalian lihat aku memenangkan pertarungan jadi aku berhak menunjuk siapa lawanku."
Pandangan Camelia berhenti pada beberapa orang di podium. Lalu saat tatapannya bertemu dengan Tirian, ia mengangkat telunjuknya dan ia arahkan kepada pria itu.
"Aku mengundang Tuan Tirian untuk berduel denganku!"
Keterkejutan semua orang tidak bisa ditutupi. Bahkan raut wajah Tirian menunjukkan hal yang sama. Namun, belum sempat ada jawaban dari undangan itu, suara seseorang dari arah belakangnya yang baru saja memasuki arena memutus semua itu.
"Aku yang akan menerima tantanganmu."
Suara yang sangat familier, Camelia mengenalnya. Ia langsung berbalik hanya untuk menemukan sosok pria yang ia cari sejak tadi rupanya sudah berdiri di depannya.
Kucing?
Camelia belum menjawab tetapi ia tiba-tiba tersenyum.
__ADS_1