The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 27


__ADS_3

Bodoh! Bodoh! Bodoh!


Niles duduk di halaman rumah Tirian sembari menongka kepala, tetapi tangan yang ia gunakan untuk menahan kepalanya justru sudah mengetuk-ngetuk dahinya beberapa kali. Wajahnya tampak gusar, sementara di dalam hatinya ia mengutuk pada dirinya sendiri.


"Kenapa aku sial sekali? Kenapa seseorang berwujud kelinci harus begitu cantik?"


Niles meluruskan badannya, lalu mengembuskan napas. "Baiklah! Kenapa harus dipikirkan? Seorang falkon sepertiku yang akan menjadi elang, kenapa aku harus menangisi seorang wanita kelinci? Dia pasti membenciku! Tentu saja. Aku terang-terangan mengatakan aku sangat suka memakan daging kelinci, tentu saja dia akan membenciku! Lalu biarkan saja! Kenapa aku harus pusing? Aku akan mencari wanita cantik lain! Apa susahnya!"


Kata-kata itu sangat lantang keluar dari mulutnya. Namun, beberapa detik kemudian keluhan yang lebih besar keluar dari mulut yang sama. Niles menjambak rambutnya, ia akan menangis.


"Ohh tidak bagaimana ini?! Beberapa hari ini aku sudah berusaha melupakannya tapi tidak bisa! Kenapa dia terus menghantui pikiranku?!"


Monolog itu masih terus berlanjut.


"Apa dia akan memaafkanku? Bagaimana caranya aku minta maaf?"


Setelah terus mengeluh, Niles akhirnya pasrah dan membaringkan kepalanya di meja.


Wajah sedihnya mendadak datar, tetapi suara itu masih saja putus asa.


"Matilah aku. Sepertinya harapanku menjadi kekasihnya hanyalah hayalan. Tentu saja, kucing dan tikus tidak akan pernah berbaikan."


Mata Niles terpejam saat ia mulai menenangkan pikirannya. Hanya sekitar setengah jam, keheningan yang ada telah tergantikan oleh keributan. Tiga pria muncul dan berdiri di depannya.


"Eh kebetulan sekali. Niles kami sedang mencarimu." Salah seorang dari tiga pria itu berkata. Lalu alisnya mengerut melihat Niles yang biasa berbadan tegap kini tertidur lesu .


Niles bangun dengan malas.


"Sana pergi latihan jangan ganggu aku."


Dalam keadaan baik-baik saja, Niles sudah terlihat menakutkan apa lagi dengan raut kusut itu. Tentu saja mereka tidak akan mau berdiri lebih lama di sana. Namun, salah seorang yang lain tiba-tiba berkata,


"Tentu,tentu, kami akan segera pergi. Tapi kau sudah membantu latihan kami kemarin. Kami merasa tidak enak kalau tidak memberi hadiah."


Niles sangat tidak tertarik, tetapi belum saja si falkon itu menolak, sesuatu sudah di lempar ke atas meja.


"Ini kelinci yang baru kami tangkap! Kami secara khusus berburu untukmu. Kami semua tahu kau sangat menyukai kelinci." Pria itu bersuara dengan sangat bersemangat. Ia bahkan tidak menyadari raut wajah Niles yang berubah syok.


"Ke-kenapa kalian membawa ini?! Cepat ambil kembali!"


Semua yang berdiri di sana tentu saja merasa heran. Seorang Niles tidak akan menolak makanan kesukaannya. Jadi mereka hanya bisa menebak.


"Tumben sekali. Apa kau sedang diet?''


Bercak darah yang menempel di permukaan meja, entah kenapa Niles menjadi ngeri untuk menyentuhnya.


"Cepat bawa pergi!"


Bukannya patuh, ketiga pria itu malah berbisik.

__ADS_1


"Mungkin dia hanya cangung."


"Iya biarkan saja. Nanti dia akan mengambilnya."


"Benar, ayo pergi saja."


Niles menjadi geram.


"Apa yang kalian bicarakan? Aku menyuruh kalian untuk membawanya!"


Ketiganya hanya menggaruk tengkuk dan tertawa kikuk.


"Ahaha itu untukmu. Kami tidak bisa mengambilnya kembali."


"Ah sudahlah. Kami akan pergi saja. Terserah kau mau membawanya ke mana."


"Ya ya. Kami akan pergi."


Niles bangkit untuk menahan mereka namun pria-pria itu sudah lebih dulu kabur. "He-heiii! Ti— kenapa kalian meninggalkannya ..." Wajah Niles memelas. "huh kenapa kau harus muncul di depanku."


Niles duduk menatap mayat kelinci itu dengan tatapan kosong. Saat ia tiba-tiba tersadar, ia mulai berkata, "Aku tidak melihatnya, aku tidak melihatnya."


Namun belum sempat Niles melangkah dari sana, seseorang sudah lebih dulu muncul dan melihat ke arahnya.


Fiola dengan raut cemberut segera melangkah pergi.


Niles kambali jatuh terduduk. Bahunya menjadi berat.


...••••••...


Sementara itu, di kediaman Kenan, Sean dan Camelia mengobrol berdua.


"Dulu saat menjadi asisten Tuan Tirian, hubungannya dengan Gerald cukup baik. Alaric tidak terlihat seperti pekerja bagi Gerald sebaliknya mereka berteman baik."


Camelia menganggukkan kepala. "Sepertinya posisinya sangat bagus. Kenapa dia berhenti berkerja?"


Sean sebenarnya jarang menggunjungi kediaman Tirian. Jadi selain nama dari pria itu, Sean tidak tahu lagi apa masalah yang Alaric hadapi. Jadi ia hanya menggeleng.


"Tidak tahu. Dia memang misterius."


Camelia memandang ruangan di depannya. Kenapa kita tidak boleh masuk?"


Sebelumnya ketika melihat Camelia tertidur, dengan wajah menawan itu, Sean berpikir Camelia adalah wanita yang lugu. Namun, siapa sangka begitu ia bangun ia sudah menjadi sosok yang hiperaktif. Sadar jika Camelia tidak mudah dihadapi, Sean memutar otaknya mencari alasan agar wanita di depannya ini mau menerima ucapannya.


"Ekhem." Sean berdeham sebelum memulai. "begini ... Alaric sangat sulit untuk buka mulut. Terakhir saat kami menginterogasinya dia tidak mengatakan satu kata pun. Gerald sepertinya tidak mudah percaya kalau Alaric mampu melakukan pembunuhan separah itu, jadi dia berniat menanyainya secara langsung."


Camelia memotong tidak sabar. "Jadi?"


"Mm ... seperti yang kukatakan di awal, mereka berdua berteman. Maksudku adalah mungkin kalau terlalu banyak orang Alaric masih tidak mau bicara. Berbeda kalau hanya ada Gerald. Dia mungkin lebih mau terbuka."

__ADS_1


Alasan Sean masuk akal. Pikir Camelia. Namun, bagaimana pun ini berhubungan dengan Troas. Kasus Malfoy dan Nory ini sempat diselidiki olehnya. Setelah sebelumnya tidak menemukan apa-apa lalu saat terbangun Camelia sudah mendapati bahwa Malfoy dan keluarganya sudah mati dibunuh sementara Nory hilang dan belum ditemukan, tentu saja Camelia tidak akan tetap diam.


"Tapi aku harus menemukan informasi juga."


"Kita akan memperoleh informasi kalau Gerald sudah keluar. Tunggu saja."


Camelia belum setuju, tapi ia tidak menjawab lagi.


...•••••...


Sudah lama sekali semenjak terakhir kali mereka duduk berhadapan seperti ini. Alaric bahkan memalingkan wajahnya ke samping. Bagaimana pun orang-orang yang sudah lama tidak bertemu pasti akan memiliki kecanggungan. Namun, Gerald tidak berpikir akan menjadi seperti ini.


"Bagaimana kabarmu?"


Gerald memutus kesunyian dengan pertanyaan yang sepertinya tidak pantas.


Alaric menoleh dan melihatnya. Pria yang sedikit lebih tua dari Gerald ini tampak kurus dengan mata dalam dan kulit yang lebih gelap.


"Itu bukan pertanyaan yang seharusnya. Jadi tidak perlu aku jawab. Lagi pula kau bisa melihatnya sendiri."


"Jujurlah kalau kau memang tidak melakukannya. Untuk apa semua tindakanmu ini?"


Alaric tersenyum. "Berhenti bertidak seolah kau yang paling mengenalku. Menurutmu apa tujuanku berada di sini? Kemarin kalian memaksaku untuk bicara, tapi begitu aku datang untuk menyerahkan diri kau malah mempertanyakan tindakanku?"


"Apa masalahmu dengan pria itu?" Gerald bertanya.


"Tidak ada. Dia hanya pantas mati."


"Kau bukan orang seperti itu." Gerald mengambil jeda untuk memejamkan mata sesaat. "Kenapa kau mengikuti anak perempuan itu? Apa hubunganmu dengannya?"


"Aku tidak mengikutinya."


Gerald kehilangan kesabaran.


"Kau bilang kau membunuh mereka. Jelaskan."


"Aku berkeliaran di alam bebas tanpa pekerjaan. Aku tidak punya pakaian apalagi uang. Sudah cukup lama aku berada di Troas. Malfoy begitu disanjung oleh penduduk di sana. Katanya pria itu kaya dan dermawan.


"Siang itu aku datang untuk meminjam uang padanya. Tapi siapa sangka orang yang aku pikir adalah malaikat penolongku malah menghinaku bahkan meludah di depanku. Ya itu memang aneh. Aku juga sangat syok. Ternyata kita tidak boleh percaya omongan orang lain sebelum datang melihatnya sendiri. Pria baik hati seperti yang orang-orang katakan ... haha dia hanya makhluk kejam dengan topeng sandiwara di wajahnya."


Alaric mengambil jeda untuk menyeringai sebelum melanjutkan, "Karena kesal aku menaruh dendam pada rumah itu. Istrinya bahkan berperangai lebih buruk. Waktunya begitu tepat. Ketika semua orang pergi keluar untuk berpesta, aku bisa melancarkan aksiku."


"Kau berbohong." Gerald menyuarakan keraguannnya.


Alaric tertawa. "Kau ingin aku menceritakan detailnya?"


"Jujurlah padaku. Aku akan memahamimu."


Alaric mengabaikan ucapan Gerald, tetap melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Setelah mendapat hinaan aku menjadi gelap mata lalu berencana untuk merampok rumahnya. Aku masuk melalui jendela di lantai satu. Di sana aku menemukan seorang anak laki-laki yang sedang tertidur. Aku pikir dia tidak akan bangun, tapi siapa sangka setelah melihatku anak itu ingin berteriak. Tentu saja aku tidak ingin ketahuan. Jadi aku mengambil bantal untuk membungkam mulutnya. Aku tidak sadar kalau telah menutup wajahnya terlalu lama. Saat aku membukanya dia sudah mati."


Gerald tidak percaya Alaric mengatakannya dengan sangat santai. Namun, ia tetap diam untuk terus mendengarkan....


__ADS_2