The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 7


__ADS_3

...🪄🪄🪄...


Secara garis besar wilayah Troas terbagi atas tiga bagian. Di arah barat adalah wilayah kerajaan termasuk Pyrgos. Sementara di arah utara adalah wilayah yang ditempati para penyihir, area ini hampir sama besarnya dengan wilayah kerajaan. Itu melebar hingga bertemu dengan area umum; tempat ras amagine dan penyihir berbaur. Sementara sisanya di arah selatan, hanya sekitar seperdua dari area para penyihir adalah kediaman para amagine. Posisi area umum secara alami terletak di tengah, ini terjadi begitu saja karena interaksi kedua ras. Populasi amagine di Troas memang sedikit. Berbeda dengan kota-kota lain seperti Albama dan Fortland. Sebaliknya populasi penyihir lebih kurang di dua tempat itu.


Tempat tinggal Lea sendiri berada di area umum yang berbatasan langsung dengan tempat para amagine. Jadi ia sudah terbiasa berbaur dengan mereka. Lea dan Camelia baru tiba di halaman rumah Lea ketika seorang anak perempuan tiba-tiba menabrak mereka. Dua wanita itu belum bereaksi, tetapi anak kecil itu langsung bangkit dan melegang pergi. Camelia tidak berkomentar hanya melihat ke mana arah anak itu berlari. Camelia tidak lagi peduli saat melihat ia telah bergabung dengan teman-temannya.


Lea juga melihat hal yang sama. Saat ia menoleh pada Camelia, ia melihat temannya sedang memungut sesuatu.


"Oh, dia menjatuhkan mainannya."


Camelia tidak merespons hanya menilik benda di tangannya. Ini bukan benda asing. Sebaliknya, Camelia sangat familier. Bahkan benda serupa masih ada satu di dalam tasnya; benda yang juga tertinggal yang katanya akan ia kembalikan tapi belum kesampaian hingga saat ini.


"Replika witchstone, kenapa aku sering sekali melihat benda ini?"


"Ya banyak yang menjualnya di pasar."


Camelia tahu itu, di pasar sebelumnya ia bahkan melihat beberapa stan menjualnya di sana. Namun, yang menganggu adalah kenapa benda berbahan kayu yang hanya berlabis cat begitu diminati banyak orang?


"Aku juga melihat orang-orang menggantung benda ini di rumah mereka. Kebanyakan para penyihir menggunakan benda ini, mungkin hanya kau yang tidak."


Lea refleks melihat ke arah rumahnya. Ia paham yang Camelia maksud ini. Para wizard memang senang menggantung replika witchstone tepat di depan pintu. Dan ia baru menyadari sekarang jika ia tidak tertarik untuk ikut-ikutan.


Lea memainkan rambut ash brown-nya saat ia mulai memiringkan kepalanya untuk berpikir. "Aku tidak tahu pasti alasannya tapi ini mungkin ada kaitannya dengan kontribusi witchstone di masa lalu. Kau tahu sendiri 'kan sejarahnya? Orang-orang sangat mengagumi para Elementis terutama Lady Gracelia. Pengorbanan Lady Gracelia melawan amukan laut hitam Death Valley juga bagaimana hilangnya witchstone akan menjadi kisah masa lalu yang tidak akan pernah hilang dari benak semua orang. Terutama para penyihir. Berdasarkan sejarah tersebut, sebagai bentuk mengenang pengorbanan Lady Gracelia, witchstone akhirnya dijadikan ikon tanda perlindungan. Mungkin orang-orang berasumsi bahwa keberadaan witchstone dapat menjauhkan diri dari bahaya. Aku juga tidak mengerti padahal mereka tahu itu hanya replika yang dibuat dari sepotong kayu. Walaupun begitu sejak dulu aku juga sangat mengagumi Lady Gracelia. Dia adalah definisi keindahan dan kecantikan yang sesungguhnya."


Camelia melihat Lea tersenyum saat menyebutkan kalimat terakhir. Dia hanya bisa berpikir, oh seperti ini pemandangan ketika orang cantik sedang mengagumi orang cantik?


Ia tidak memikirkan lebih lama dan beralih melihat anak pemilik replika witchstone sebelumnya. Jika ia tidak mengembalikan sekarang juga maka ia sudah memiliki utang kepemilikan terhadap dua anak sekaligus. Pikiran itu baru saja terlintas, tetapi itu berubah begitu saja saat melihat bagaimana rupa anak itu. Ternyata ia hanya memiliki utang pada satu orang anak, karena gadis kecil di sana adalah anak yang sama dengan yang pernah ia temui sebelumnya. Anak itu juga pemilik replika witchstone yang ada dalam tasnya.


"Witchstone ini juga populer di kalangan anak-anak? Berapa banyak replika witchstone yang dia punya?"


Camelia sebenarnya sedang berbicara pada dirinya sendiri, tetapi Lea dengan baik hati turut menjawab. "Aku tidak yakin soal itu. Aku jarang melihat anak-anak memainkannya."


Saat itu Camelia baru menyadari jika anak perempuan di sana tidak menghampiri teman-temannya untuk bermain. Ada jarak antara tempat gadis kecil itu berdiri dengan anak-anak lain yang sedang saling mengejar. Pikiran Camelia baru akan berkelana, tetapi fokusnya teralihkan saat melihat seorang pria menghampiri gadis kecil itu. Pria di sana tersenyum ramah bahkan tanpa ragu memegang pundak dan membelai wajah anak perempuan di depannya. Kedekatan ini membuat Camelia menebak jika ada hubungan ayah dan anak di antara keduanya. Jiwa anti sosialnya seketika menjerit, niat untuk menghampiri anak itu pun pupus.


"Akan aku kembalikan nanti. Dia sedang bersama ayahnya."


Lea tidak terlalu memperhatikan sebelumya, ia agak bingung sampai melihat pria yang Camelia maksud menuntun anak kecil itu pergi. Ia pun menggeleng. "Itu bukan ayahnya. Orang-orang memanggilnya Tuan Malfoy. Dia memang menyukai anak-anak."


Tidak ada yang aneh sebenarnya dengan itu. Mungkin rasanya sama seperti Camelia yang begitu menyukai hewan ataupun buah. Namun, ia ingat dengan jelas bagaimana saat itu dirinya sendiri di masa kecil sangat membenci berinteraksi dengan pria dewasa. Jadi ia menatap kepergian dua orang itu dengan alis mengerut.

__ADS_1


"Jika itu aku, aku tidak akan suka," tuturnya kemudian.


...🪄🪄🪄...


Di atas meja kayu beberapa replika hewan yang terbuat dari kertas saling menumpuk. Camelia sedang memainkan salah satu di tangannya, itu berbentuk seekor burung. Melihat wujudnya yang masih untuh, Camelia tahu origami hewan yang sebenarnya adalah sebuah surat ini sama sekali belum dibaca. Camelia sedang menganggur, ia mungkin akan berbaik hati membacakannya untuk Lea, tetapi ia perlu menimbang konsekuensinya.


"Kau yakin aku tidak akan muntah jika membaca ini?"


Lea sepertinya tampak tidak peduli, ia sedang sibuk memperhatikan benang dan jarum yang sedang bergerak-gerak di udara. Walaupun ia dapat melakukannnya dengan mata tertutup, sepertinya sesuatu yang ia sulam ini sangat spesial sehingga ia tidak ingin melewatkan satu pun sulamannya.


"Sebenarnya mereka semua sangat manis, tapi semakin aku membacanya rasa bersalah selalu menghantuiku. Aku tidak tahu bagaimana lagi harus membuat mereka berhenti."


Camelia baru membuka sedikit lipatan kertasnya langsung kehilangan minat.


"Biarkan saja kalau begitu, bentuk-bentuknya cukup cantik untuk hiasan ruangan. Rangkai saja, kau alihnya."


Lea mengerucutkan bibir. "Kau jahat sekali."


"Aku ingin memberi saran tapi aku tidak berpengalaman. Daripada aku menyuruhnu mengghunus pedang pada mereka, lebih baik terima saja salah satunya. Mungkin mereka terus mengganggumu karena kau masih belum menentukan pilihan."


Lea menarik sebagian juntaian rambutnya ke depan. Sembari menggerakan tangannya di sana, Lea membalas, "Tidak semudah itu Camelia. Di antara mereka tidak ada yang aku suka dan perasaan tidak bisa dipaksakan."


"Kau tidak akan mengerti. Aku menyukai orang lain."


"Ya itu benar. Aku memang tidak mengerti perasaan apa yang kau maksud itu. Tapi yang aku tahu tidak baik mengganggu pria yang sudah beristri."


Lea tiba-tiba saja kehilangan fokus, benang dan jarum jatuh ke pangkuannya begitu saja. Tidak berselang lama suara isakan terdengar.


"Jadi aku harus bagaimana? Aku berusaha melupakannya tapi aku tidak bisa." Lea menumpahkan air matanya.


Camelia benar-benar tidak mengerti situasi ini, ia ingin memberi hiburan tapi otaknya tiba-tiba buntu. Jadi dia hanya berkata,


"Kau ingin aku membunuh istrinya?"


Melihat Lea menoleh Camelia berpikir jika itu bukan ide yang buruk. Namun, alisnya langsung mengerut saat tangis Lea menjadi  semakin pecah.


Baiklah, baiklah, membunuh sangat tidak manusiawi.


Menatap Lea yang kini tertunduk dengan bahu bergetar, alih-alih terenyuh, Camelia malah mengembuskan napas.

__ADS_1


Kecantikan memang hanya membawa petaka.


Tentu saja ia berkata tanpa bercermin lebih dulu. Camelia sering memuji pria tampan, tapi untuk kecantikan seorang wanita, Lea masih yang pertama di matanya. Abaikan rupa Lady Gracelia yang katanya bak seorang dewi. Camelia belum pernah melihatnya jadi ia tidak perlu membandingkan dengan sesuatu yang sudah tidak ada.


Rambut ash brown dan iris mata toska milik Lea tentu tidak didapat begitu saja. Darah nyhimp—peri pohon—mengalir di dalam tubuhnya. Dengan identitasnya dan sebagai satu-satunya keturunan nyhimp, ia layak dipuja banyak pria. Namun, sayangnya Lea tidak seberuntung penampilannya. Seolah terjebak oleh cinta masa lalu belum cukup sial, nasib Lea menjadi lebih pahit karena kembali bertemu dengan sosok yang tidak dapat ia lupakan. Semua menjadi semakin buruk karena ia hanya bertemu dengan sosok yang sepertinya sama tapi ingatan, hati bahkan nama adalah milik orang lain. Bagaimana ia bisa mengharapkan persaannya berbalas? Mungkin Camelia benar. Terlalu bodoh menyukai pria yang sudah beristri. Lea yang malang.


Setelah mendengar tangis Lea mereda, Camelia yang hampir dibunuh rasa jenuh kini mulai mengeluh. "Apa kau sudah selesai menangis? Jangan diam saja. Aku mulai bosan."


Lea mengangkat kepalanya. Walaupun lidah Camelia terlalu tajam untuk menjadi teman yang menemani di kala sedih, anehnya tidak ada raut kesal di wajahnya. Sebaliknya ia bersimpati.


"Apa kau lelah? Kau ingin tidur duluan? Aku masih harus fokus menyelesaikan saputangan ini."


Melihat mata sembab Lea, Camelia hanya semakin ingin mengeluh. "Sepertinya kau yang harus istirahat. Sudahlah aku akan tidur saja."


Camelia sudah beranjak dari tempatnya. Di rumah ini hanya ada satu kasur. Untungnya ia masih punya kesadaran untuk tidak membuat sang pemilik rumah berbaring di kursi. Walaupun sebenarnya ia melakukan ini karena terbiasa tidur di sembarang tempat saat masa latihan dulu.


Camelia sudah merebahkan diri pada sebuah kursi panjang berbahan rotan ketika sesuatu yang terbang di udara menuju ke arahnya. Itu adalah seekor murai. Seolah paham burung itu memang akan datang untuknya, Camelia mengangkat tangannya membiarkan murai itu mendarat di sana. Camelia terlihat tidak terkejut saat murai yang seluruhnya berwarna putih tiba-tiba menjadi kaku saat menyentuh permukaan kulitnya. Ia jelas familier. Murai yang sebenarnya adalah sebuah surat ini akan berubah menjadi kertas begitu sampai pada yang dituju. Begitulah cara semua orang menyampaikan pesan. Namun, replika burung murai ini hanya berasal dari kerjaan.


Sudut bibir Camelia ditarik begitu selesai membaca isinya. Ia menatap Lea yang masih duduk di kursi seberang. "Masa liburku sepertinya sudah selesai. Besok aku akan pulang."


...🪄🪄🪄...


Mentari perlahan mulai beranjak ke puncak. Cahayanya jatuh tepat dari sisi barat menerangi pilar-pilar istana yang berdiri kokoh. Dua orang ditemani dua cangkir teh duduk di balkon istana mengobrol dan menikmati pemandangan. Salah satunya adalah seorang pria dengan penampilan rupawan. Dada bidangnya hanya dilapisi kain tipis yang tidak terawang, tetapi jubah luar panjang berbahan sutra membuat penampilan sosok berambut golden brown lebih mewah dan elegan. Bulu coklat yang bertatah di pundaknya tampak tidak terlalu penting, tetapi secara tidak langsung memberi aura tegas. Tidak ada ketimpangan yang pantas dibandingkan jika dihadapkan dengan wanita di depannya. Dua sosok ini hampir setara dari segi penampilan.


Tidak jauh di bawah sana, para kesatria yang dipimpin oleh Ramos sedang melatih pertahanan diri. Pria yang menonton latihan itu sejak tadi baru mengalihkan pandangannya setelah salah satu dari dua yang bertarung menjatuhkan lawannya. Menjaga rambut golden brown-nya tetap rapi, ia menoleh dan melanjutkan obrolan.


"Aku pikir pemandangan istana di pagi hari akan sangat tenang, siapa sangka denting pedang sudah beradu bahkan sebelum teh di cangkir kosong. Ratu Serafina adalah orang yang lembut, tidak kusangka kepemimpinan Anda sangat berbanding terbalik."


Wanita di depannya meletakkan cangkir tanpa menimbulkan suara, senyum tipis menyebar di wajahnya. "Mansion ini mungkin tidak tepat untuk menjamu tamu. Namun Tuan Tirian datang tanpa peringatan sehingga kami tidak menyiapkan tempat dengan baik. Area ini tempat yang paling dekat dengan pintu masuk, Anda mungkin terlalu lelah sehingga tidak ingin pindah ke mansion yang lebih jauh."


"Tidak masalah. Aku hanya memikirkan itu secara acak. Aku sedang sensitif dengan angin jadi memilih jalur darat. Namun, Aku dan rombongan terlalu ceroboh tetap memaksakan berangkat di siang hari dari penginapan terakhir, sehingga kami bahkan terlambat menikmati pemandangan senja di Troas. Sebuah kehormatan Ratu Serafina masih memberi kami tempat untuk tidur."


Ratu Serafina terkekeh. "Kau terlalu sungkan, Tirian. Sudah sejak lama aku membebaskan kau dan Kenan memanggilku dengan namaku. Aku tidak hanya menghargai persahabatan ini, aku bahkan menganggap Klan Agrios bukan orang asing."


Tirian ikut tersenyum. "Anda sudah begitu baik. Mungkin Kenan masih pantas, tapi aku yang jarang berkunjung ini semakin merasa tidak enak. Apa aku masih layak disebut teman?"


Intonasi itu seharusnya terdengar seperti seorang yang sedang meminta pengampunan, tetapi Ratu Serafina tidak merasa heran ketika tidak menemukan itu di sana. Ia mengabaikannya dan menjadi lebih serius. "Tiap festival musim gugur tiba kau selalu datang sendiri untuk mengundang rakyat Troas berpartisipasi ke dalamnya. Namun, kali ini kau terlihat tidak hanya datang untuk mengundang. Ada yang berbeda tahun ini?"


Ekspresi Tirian berubah dengan halus. Ia menatap di kejauhan sebelum kembali pada lawan bicaranya. "Aku ingin pesta yang lebih meriah. Aku tidak sengaja mendengar orang-orang berbicara tentang klan kami yang katanya sangat tidak ramah. Aku benci omongan sampah seperti ini menyebar di masyarakat. Jadi aku ingin membuat pesta yang besar dan mengumpulkan semua ras untuk berbaur. Mereka harus meluruskan kesalahpahaman ini."

__ADS_1


__ADS_2