
"Rumah itu memang besar. Tapi aku tidak menyangka mereka memiliki banyak sekali anak laki-laki . Aku baru berjalan dua langkah, tapi dua anak lain sudah muncul di depanku. Tentu saja aku akan mengamankan mereka. Sayangnya mereka terlalu tidak patuh. Aku hanya bisa memukul anak-anak itu sampai pingsan karena terus berusaha kabur."
Cerita itu terhenti saat Alaric menunduk untuk menilai tubuhnya.
"Kau bertanya-tanya bagaimana aku berhasil melawan si Malfoy itu?" Alaric berdecih.
"Bagaimana orang-orang bisa begitu memujinya? Di malam seharusnya dia ikut serta dalam pesta, dia malah sibuk sendiri di mejanya bersama botol-botol anggurnya. Aku pikir dia sangat mabuk sampai tidak bisa mengenali orang, siapa yang tahu mulut hinanya masih bekerja dengan baik bahkan sangat fasih melontarkan makian. Aku sungguh muak. Aku seharusnya memecahkan dua botol sekaligus di otaknya yang dangkal itu!"
"Alaric!"
Bentakkan Gerald hanya disambut senyum sinis. Alaric tidak gentar melanjutkan.
"Yah...apa yang bisa diandalkan orang mabuk selain mulut sialnya? Bahkan sebelum kepalanya bersimbah darah dia sudah tidak bisa menunjuk dengan lurus. Tentu saja dia sangat mudah kuatasi. Aku belum selesai dengannya tapi seorang wanita sudah berteriak di belakangku. Istrinya yang malang. Aku hanya ingin menutup mulutnya tapi botol pecah yang kulempar malah mendarat di lehernya. Bukan salahku. Dia tidak becus menghindar."
"Kau membunuh mereka?" Buku-buku di tangan Gerald mencuat.
"Awalnya aku tidak berniat." Alaric memainkan tangannya di udara. "Namun, anggur-anggur itu begitu menggoda. Udara sangat dingin. Mana bisa aku menolak untuk tidak meminum mereka. Yah aku pun mabuk setelahnya. Dan itu cukup menumbuhkan keberanian untuk memutilasi tubuh-tubuh itu. Sayangnya aku tidak ingat bagaimana rasanya memotong daging sesama jenis, tapi aku pikir itu cukup menyenangkan."
"Kau sudah gila." Hanya itu yang mampu Gerald utarakan.
Tawa Alaric malah membesar. "Gila? Tentu! Kita perlu mengorbankan sedikit kewarasan untuk menghadapi dunia yang kejam ini. Haha bukankah sekarang kau sudah mempercayaiku?"
Melihat senyuman itu Gerald tidak tahan menatapnya terlalu lama. Ia bangkit dari sana tanpa memerdulikan pertanyaan itu. Walaupun begitu, setitik kepercayaan masih merobek semua pernyataan Alaric. Gerald masih mencoba meyakini kalau temannya tidak akan bertidak terlalu keji.
Suara debum di pintu terdengar saat Gerald sudah tak terlihat. Alaric hanya memandang kepergiannya dengan wajah yang tiba-tiba berubah datar.
...••••••...
"Tunggu!"
Gerald tiba-tiba keluar dan membanting pintu. Camelia tidak sempat menahannya karena pria itu sudah lebih dulu pergi.
"Kau mau ke mana?" Sean menahannya.
"Pergi menyusulnya. Lepaskan."
"Jangan—" Sean berusaha memegangnya tapi Camelia sudah berhasil kabur. "Dia tidak suka diganggu!"
Teriakan itu masih samar-samar Camelia dengar. Dengan cuek ia balas berteriak, "Aku tidak peduli!"
Sean dilanda antara rasa takjub dan heran, tetapi berikutnya alisnya sudah mengerut. "Kenapa kali ini aku tidak merasakan auranya?"
...•••••••...
Niles sedang menunggangi seekor kuda. Ia baru saja mengalihkan pandangan dari melihat seseorang ketika segumpal salju sudah mengenai belakang kepalanya.
"Aww. Siapa yang iseng itu?!"
Emosinya sudah tersulut. Ia sudah bersiap mengepalkan tinjunya, tapi Camelia tiba-tiba muncul di depannya.
"Turun," perintah Camelia.
Niles memutar bola matanya. Sembari membersihkan rambutnya ia turun dengan malas.
"Oh kau. Ada a—"
"Kau melihat seorang pria lewat sini? Ah Gerald kalau kau mengenalnya."
Emosi Niles turun sedikit. Ia menunduk, melihat Camelia dengan curiga.
"Dia pergi ke arah sana."
Niles menunjuk ke sisi kiri tempat sebelumnya ia melihat Gerald menghilang.
"Kenapa kau mencarinya?" Alih-alih mendapat jawaban, ia malah dikejutkan dengan Camelia yang tiba-tiba menaiki kudanya.
__ADS_1
"Aku pinjam sebentar."
"Jangan—"
Niles tidak berdaya saat Camelia sudah memacu kudanya. Wanita itu hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik. Lutut Niles terasa lemas. Wajahnya berubah sayu.
"Itu bukan kuda yang bisa kau pinjam seenaknya!"
...•••••...
Arah yang ia ambil ini menuju kota Fordland. Camelia tidak yakin apakah ini jalan yang benar. Jejak Gerald tidak lagi ia temukan. Sebelumnya Camelia hanya mengikuti seekor hewan hitam yang mirip kucing. Walaupun di ingatannya sudah samar, Camelia masih meyakini itu adalah Gerald dalam wujud hewannya. Namun, setelah perjalanan yang panjang dan tiba di sebuah hutan, wanita itu tidak lagi melihat jejak siapa pun.
"Ke mana dia menghilang?"
Tali kekang sudah ia tarik saat Camelia merasakan pijakannya agak becek dengan rasa yang berbeda. Ia akhirnya punya waktu untuk merapatkan jubahnya. Ia tidak menyesal pergi membelah jalan di tengah taburan salju yang menghantam ini, tapi ia marah pada dirinya sendiri karena sudah mengeluh sejak tadi dengan rasa dingin yang menusuk.
"Sial, sejak kapan aku selemah ini."
Camelia turun begitu saja dan menilai sekitar.
Ada gundukan warna warni di balik salju yang memutih di bawah sana. Saat ia menggeser dengan sepatu botnya, ia akhirnya tahu kalau itu tumpukan buah yang sudah membusuk.
Melihat buah-buahan busuk itu sekali lagi, Camelia tiba-tiba berkata, "Ragash. Vampir tua itu mencari makan sampai ke sini?" Menggoyangkan telapak botnya yang kotor, Camelia melanjutkan, "dia harus belajar membersihkan sisa makanannya!"
Camelia tidak lagi memikirkannya lalu kembali pada niatnya. Baru saja ia akan berteriak memanggil nama seseorang, orang itu sudah menariknya dari belakang. Pandangan mereka bertemu dalam jarak hanya satu jengkal. Raut Camelia sedikit berubah, itu terlalu tiba-tiba.
"Kenapa kau mengikuti?" Suara Gerald dingin dan datar.
Camelia malah berdecak. "Kalau kau tahu dari tadi aku mengejarmu kenapa kau tidak berhenti? Aku hampir mati kedinginan."
Lengan Camelia sudah terlepas, tapi dalam pikiran pendek itu ia segera balas menangkap lengan Gerald. Wajah Camelia langsung penuh kelegaan. "Untungnya kau di sini."
Gerald hampir terbiasa dengan serangan tiba-tiba itu. Ia hanya memandang tangan yang tidak tahu tempat dengan tatapan miring. "Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku masih belum selesai..." Camelia mencoba meraihnya lagi, tapi Gerald tidak memberinya kesempatan.
"Jawab aku. Kenapa kau mengikutiku?!"
Nada tinggi yang terdengar akhirnya menampar sedikit kesadaran Camelia. Ia paham sekarang bukan waktunya untuk bercanda. Ia harus mencari alasan.
Ia mengambil langkah mundur dan mulai berdalih.
"Kau masih bertanya aku mengikutimu? Bukankah selama ini sudah kukatakan? Aku me—"
"Masih memakai alasan dengan menyukaiku?!"
Lengan Camelia tiba-tiba dijepit dengan keras. Tekanan itu menciptakan sensasi baru di tengah dingin yang menusuk. Namun, aliran hangat yang menjalar dari sana membuat ia bertahan.
Tanpa gentar Camelia menjawab, "Yah, aku memang menyukaimu."
Untuk pertama kalinya Camelia melihat Gerald menyeringai. Pegangan itu sekali lagi terlepas.
"Kau pikir aku bodoh? Aku masih bisa melihat dengan jelas niat terselubungmu itu."
Camelia ikut tersenyum. "Aku tidak berbohong. Aku memang menyukaimu.... Niat terselubung kau bilang? Memangnya salah kalau menyukai seseorang dengan niat tertentu? Bukannya wajar seperti itu? Semua orang menyukai karena memiliki alasan. Entah itu karena menginginkan sesuatu atau hal lain."
Sudah kuduga dia memang tidak menyukaiku.
Seringaian Gerald semakin dalam."Apa yang kau cari dariku?"
"Kau tampan. Jadi aku menyukaimu."
"Aku tidak bodoh. Katakan."
"Aku menyukai energi yang kau berikan tiap kali kita bersentuhan." Camelia tidak merasa itu sesuatu yang perlu ditutupi. Jadi ia terus berbicara. "Aku seorang penyihir yang cacat. Entah bagaimana tiap kali kita bersentuhan ada sesuatu yang membuat energi di tubuhku bertambah. Aku pikir itu bisa membuatku sembuh. Jadi aku memutuskan untuk menyukaimu."
__ADS_1
Gerald cukup terkejut dengan penuturan itu, tapi ia lebih tidak percaya dengan kalimat terakhirnya.
"Dengan semua itu kau masih bisa mengatakan kau menyukaiku?"
Camelia merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya. "Tentu. Aku sudah menilai. Semua orang menyukai karena mempunyai alasan. Karena aku membutuhkan sesuatu darimu, maka itu artinya aku menyukaimu."
Gerald tidak tahan untuk tidak membatin, apa wanita ini sebodoh itu?
"Jangan asal menyimpulkan." Pada saat ini, emosi Gerald sudah memudar. Bagaimanapun kekuatannya yang bertambah memiliki keterkaitan dengan wanita di depannya. Semuanya belum jelas. Ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Apa yang kau mau?" Gerald bertanya.
Camelia agak terkejut dengan perubahan intonasi itu, tapi ia dengan cepat menjawab, "Biarkan aku mengikutimu."
"Baiklah."
Tentu saja Camelia tidak menyangka ia akan langsung mendapat persetujuan. Jadi ia segera menyipitkan matanya dan bertanya, "Semudah itu?"
Gerald tidak menjawab.
Camelia belum puas. "Tumben sekali. Tidak biasanya kau sebaik ini ... apa jangan-jangan kau menyukaiku?"
Mata Gerald seketika melebar.
"Jangan harap!"
...•••••••...
Sementara itu di kediaman Tirian, Niles sedang berlutut di depan sang tuan rumah.
Wajah yang biasa sombong kali ini tampak sangat gusar.
"Bagaimana? Apa Dark makan dengan baik?"
Niles penuh keraguan. "I-iya Tuan. Tapi ..."
Mendengar jawabannya ini, Tirian merasa tidak baik. Ia berkata, "Aku tidak akan senang kalau kau menghilangkannya."
Niles sudah menduganya. Dark adalah kuda kesayangan milik Tirian. Tentu saja menghilangkan Dark sama dengan cari mati. Walaupun kuda itu belum benar-benar hilang, tapi tidak ada di sisinya sekarang, Niles tetap tidak tenang.
"Itu Tuan. Seseorang membawanya pergi."
"Membawanya? Siapa?"
"Dia seorang wanita. Namanya Camelia, dia teman kakakku. Tadi aku bertemu dengannya. Wanita itu memang keras kepala. Aku sudah melarangnya tapi dia merebut Dark dariku dan membawanya pergi."
Ekspresi Tirian awalnya datar. Namun, begitu mendengar nama itu disebutkan, entah kenapa ketidaksenangannya sedikit menguap.
Camelia? Jadi dia mengenalnya.
Tirian melipat tangannya. "Hmm...apa aku boleh senang sekarang? Tapi...aku masih tidak tenang kalau Dark belum kembali. Kau bisa menjaminnya?"
Sejujurnya Niles juga tidak yakin. "Aku, aku akan segera mencarinya."
"Aku mungkin bisa memaafkanmu. Kalau kau mau melakukan sesuatu untukku."
Mendengar ini Niles langsung mengangkat kepalanya. "Tentu. Apa pun itu akan aku lakukan."
Tirian berpikir sejenak. "Mmm...wanita yang kau sebut tadi, kau mengenalnya dengan baik?"
Niles tidak menduga kalau Tirian malah menyinggung hal ini. Perasaannya semakin tidak enak saat melihat tatapan pria itu.
...•••••••...
.
__ADS_1