The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 29


__ADS_3

Sementara itu, di balik ketenangan pemandangan salju yang memutih, di dalam menara alkemis suara Cartos sudah meninggi beberapa kali. Hanya ada dia dan August di ruangan itu. Entah apa yang membuat suasana menjadi memanas, tapi berbanding terbalik dengan Cartos, raut sang kepala menara tampak lebih tenang.


"Apa yang kau khawatirkan? Kau hanya perlu memperbanyak tanaman sihir. Jika bunga nerfiss tidak bisa lebih banyak menghasilkan bubuk, semai tanaman sihir lainnya."


"Tidak bisa Tuan August." Cartos mencoba menetralkan ekspresinya. Tangannya sudah gemetar karena tekanan itu. "Ada banyak tumbuhan di halaman Pyrgos. Produk menara ini bukan hanya fox. Belum lagi, fox—lampu sihir— tidak sedang dalam prioritas produksi. Kita tidak perlu terburu-buru. Jika tamanan sihir mendominasi halaman, bagaimana dengan pembuatan ramuan? Paparan energi sihir bisa menghilangkan kealamian tanaman lain. Itu tidak boleh terjadi."


"Fox memberi keuntungan lebih banyak. Kau tidak mempertimbangkan itu, Cartos?"


Mulut Cartos komat-kamit, tapi dalam jeda yang singkat itu ia tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana ia menjelaskan agar kepala menara itu mengerti?


"Tapi ramuan harus dihasilkan tiap hari. Tuan August, aku sudah memikirkan untuk mengganti fungsi fox ini dengan barang lain. Percuma jika kita berhasil mendapatkan bubuk nerfiss dalam jumlah melimpah kalau stok serbuk zafeer hampir habis."


August terdiam sejenak sebelum menjawab, "Jangan pikirkan itu. Batu zafeer adalah urusanku. Kau hanya perlu melakukan bagianmu."


Diskusi itu tampaknya belum mencapai kesepakatan, tapi August sudah akan meninggalkan ruangan.


Cartos agak tidak senang dengan ucapan yang ia dengar sebelumnya, jadi ia dengan cepat berbicara, "Tuan August ... kurangi dosis penggunaan serbuk zafeer."


Ucapan Cartos sempat membuat langkah August terhenti sesaat, tetapi pria itu tidak memberi jawaban dan segera meninggalkan ruangan.


Di sisi lain Aletta yang tidak sengaja lewat sudah menguping sejak tadi. Namun, saat mendengar nerfiss dan zafeer diperdebatkan, teman Camelia itu langsung menunduk untuk memandang dua botol di tangannya dengan khawatir. Tanpa berpikir lebih jauh ia segera melangkah pergi dari sana. Botol-botol itu ia sembunyikan dengan rapat.


...••••••...


"Baiklah. Ini seharusnya pas. Saat itu aku melebihkan konsentrasi salah satu dari kedua bahan ini dan itu berhasil meledak." Aletta berdiri di balik pohon sambil terus bermonolog. Sesekali ia mengintip ke kejauhan untuk memantau satu di antara pria yang berteduh di sana.


Namun, ia tiba-tiba terdiam.


"Tunggu, tapi konsentrasi mana yang seharusnya lebih banyak?"


Benda bulat di tangannya ia angkat. Sembari menimbang di pikiran, ia berkata, "Harus bubuk nerfiss atau serbuk zafeer yang banyak?"


Tidak sempat. Aletta tidak sempat memperbaikinya andai sudah tahu solusi mana yang harus ia ambil karena Aron sudah akan berjalan ke arahnya. Ia dengan cepat berlari ke jalan depan dan menjalankan misi. Setelahnya ia kembali bersembunyi di balik pohon untuk menunggu Aron. Tepat saat pria itu akan lewat, Aletta berlari seperti angin.


"Berhenti!"


Aron terkesiap. "Nona Aletta? Ada apa?"


"Tuan Aron, di-di sana ada ranjau!"


"Ranjau?" Aron seharusnya khawatir, tapi kewarasannya menuntut ia berpikir. "Siapa yang akan menanam ranjau? Bagaimana kau bisa tahu?"


"Ah itu." Aletta tidak menyiapkan alasan untuk ini, jadi ia sempat tergagap. Karena tidak menemukan jawaban ia dengan cepat menunduk untuk mencari sesuatu. Salju sudah menutup semua jalan, untungnya ia masih menemukan sebuah batu setelah mengais sangat dalam.


"Ini." Aletta menunjukan batu yang ia pungut. "Aku punya firasat kalau ada yang akan meledak jika seseorang melintas di sana. Tenang saja, aku akan menjadi penyelamatmu. Kau akan melihat saat aku melempar batu ini."


"...."


"Aku akan melemparnya."


Batu itu langsung melayang di udara dan ...


Tidak terjadi apa-apa.


Aletta menoleh untuk melihat Aron. Pria itu juga balas menatapnya.


"Ahaha, batu yang aku lempar sangat kecil. Ranjaunya tidak akan bereaksi."

__ADS_1


Situasi itu membuat Aletta gugup. Sudah kehabisan akal, ia melepas sebelah alas kakinya.


"Ehe..Ini saja, sendalku cukup kuat."


Aron hanya melihat dalam diam ketika benda kedua itu sudah melayang di udara.


Dan....


Masih tidak terjadi apa-apa.


Aletta menggaruk tengkuknya. Cengiran yang dipaksakan menghiasi wajahnya. "Ranjaunya sepertinya bermasalah. Aku coba periksa dulu."


Aletta menggerutu di dalam pikirannya.


Harusnya kuperiksa dulu! Bagaimana kalau aku salah mencampurnya?


Namun baru setengah langkah wanita itu berjalan, Aron sudah menahan lengannya dan mendahuluinya. Pria itu sebenarnya tidak yakin, tetapi ia terus berjalan untuk memeriksa. Saat ia melihat ujung dari jejak sepatu, ia berhenti di sana.


"Di sini?" tanya pria itu.


Aletta mengangguk ragu. "Hati-hati."


Aron mengeluarkan pedangnya untuk mengaduk salju. Sebuah benda bulat akhirnya muncul di permukaan. Pria itu melirik Aletta sekilas sebelum menunduk untuk mengambilnya.


"Ini. Aku tidak bisa menemanimu bermain. Aku harus segera pergi."


Bermain?


Wajah Aletta berubah lesu.


"Jangan terlalu lama di luar. Saljunya semakin lebat."


Setelah mengatakan itu Aron sudah melangkah pergi. Aletta terlalu malu untuk menahannya.


"Apa yang salah?" Aletta menilik benda peledak buatannya.


"Aakhh, kenapa kau tidak bisa diajak kerja sama. Sebelumnya kau meledak di wajahku kenapa kali ini ... huh aku sudah mencuri bubuk nerfiss dan serbuk zafeer agar misiku untuk menjadi pahlawan di depannya berhasil, tapi benda sialan ini malah tidak mau bereaksi.''


Karena kesal Aletta melempar asal benda di tangannya. "Sudahlah, harus pikirkan cara la—"


Bum!!!


Suara ledakan tiba-tiba terdengar. Aletta dengan cepat menoleh.


Beberapa ekor domba berlari entah dari mana. Lalu ia menyadari ada kandang yang rusak saat beberapa ekor domba lain berlarian keluar.


Aletta dilanda syok.


Teriakan seseorang seketika menyadarkannya.


"Siapa yang merusak kandangku!!!"


Setelah berkedip tiga kali, Aletta merangkak mengambil sepatunya dan pergi dari sana.


"Aku tidak mau membuat bahan peledak lagi!"


...••••••...

__ADS_1


Tempat terakhir yang diantarkan Sean untuk bertemu Alaric adalah di Kota Fordland ini. Dalam kasus pembunuhan itu, Nory tidak menjadi korban. Entah kenapa Gerald merasa perlu mencari anak perempuan itu. Sepertinya Alaric menaruh perhatian lebih padanya. Nory mungkin saja ada di tempat kejadian. Kesaksiannya sangat diperlakukan.


Gerald dan Camelia sudah berjalan sejak tadi. Dengan cuaca yang ada, Camelia yang kedinginan hanya bisa mencuri kesempatan sesekali pada lengan Gerald untuk mendapatkan kehangatan.


"Kalau kau tidak mau menjawabku setidaknya beritahu aku apa rencanamu sekarang."


Camelia bertanya sejak tadi apa yang Gerald bicarakan dengan Alaric. Namun pria itu tidak memberi jawaban apa pun.


"Kau boleh pergi kalau kau berubah pikiran."


Mereka sudah berjalan sejauh ini. Tentu saja Camelia tidak akan menyerah.


"Baiklah. Aku akan menurut. Lagi pula kau tidak akan berhasil mengusirku...tapi setidaknya kau harus mengambil waktu istirahat. Hari sudah sore dan salju turun semakin lebat. Apa kau tidak kedinginan?"


Gerald terus berjalan dan tidak menghiraukannya. Ia berkata, "Aku tidak menyuruhmu ikut."


Camelia mendengus. "Aku jadi ragu kalau aku pingsan sepertinya kau akan menelantarkanku."


"Bukan ide buruk."


Bukannya tersinggung, Camelia malah tertawa. "Kata-kata itu memang sangat cocok denganmu."


Di dalam pikirannya ini, Gerald sibuk memikirkan benang merah dari semua masalah. Namun setitik salju yang mengenai hidungnya langsung menarik semua fokusnya. Itu memang dingin. Tanpa sadar ia mendongak untuk menilai sekitar. Lalu gumaman Camelia kembali terdengar.


"Aku juga ragu kalau aku tidak akan pingsan sebentar lagi."


Suara Camelia itu sangat kecil, tapi Gerald masih bisa mendengarnya.


Gerald tiba-tiba saja memutar arah dan berhenti di depan sebuah bangunan.


Camelia yang sama sekali buta dengan rencana perjalanan mereka ini hanya bisa terus mengekor. Melihat rumah di depan mereka, Camelia tidak bisa tahan untuk bertanya, "Ada yang kau cari di sini?"


Gerald tidak menjawab hanya menggerakkan telunjuknya ke udara.


Saat itu Camelia baru menyadari ada papan yang bertuliskan "penginapan" bergantung di atas sana. Ia menjadi paham dan tersenyum.


"Kita akan istirahat?"


Gerald mengabaikannya dan memilih masuk.


Seorang pria menyambut di pintu.


"Selamat datang Tuan dan Nona, salju di luar sana sangat lebat. Kalian mendatangi tempat yang tepat. Masuk dan hangatkan tubuh kalian."


"Beri kami kamar."


Pria itu mengangguk patuh. Namun, ada kebingungan yang seketika menghiasai wajahnya.


"Tuan dan Nona ini ...."


Gerald memahami pandangan itu. "Apa yang kau pikirkan?"


Pria itu terkekeh. "Tuan datang bersama seorang wanita. Siapa yang tidak akan mengira bahwa kalian pasangan."


Gerald menyela, "Kami tidak—"


Tanpa diduga Camelia segera meraih lengannya. Ia berkata, "Kami pesan satu kamar."

__ADS_1


__ADS_2