
Ketika Sean masuk, ia menemukan Gerald telah mengenakan jubahnya. Kali ini penampilannya lebih rapih sehingga Sean menangkap itu sebagai sesuatu yang tidak biasa.
"Eittts, kau mau ke mana?"
Gerald tidak menjawab, hanya sibuk dengan urusannya.
"Festival musim gugur?" Sean terpaksa menebak.
"Kau tidak perlu bertanya jika tahu."
Sean melingkarkan lengannya ke punggung pihak lain. "Menjawab satu pertanyaan tidak akan membuat lidahmu kebas."
Saat tangan Sean tidak sengaja menyentuh leher Gerald, ia menghadap pria itu karena mengingat sesuatu.
"Kau tidak demam lagi? Baguslah."
Temannya itu tidak memiliki niat mengejek, tetapi Gerald dengan cepat menghindari tatapannya. Ia dengan dingin berkata, "Daripada mengajak binatang berbicara, pergi dan nikmati pesta agar kau tahu ada makhluk lain di dunia ini."
Sean langsung terbahak. "Ide yang bagus. Aku mungkin bisa menemukan satu bidadari di antara para wanita. Hei... tunggu aku!"
Ketika Gerald yang sudah lebih dulu berjalan berhasil ia susul, Sean melihat pedang tersampir di pinggang Gerlad.
"Kau mendapat tugas khusus?"
Sang pemberi titah yang dimaksud tentu saja aja adalah Tirian. Bertanya tentang pria ini, Sean melebarkan sedikit matanya saat mengingat ucapan yang ia dengar sebelumnya.
"Ah Gerlad, aku mendengar kakakmu menyebut nama Alaric. Ada apa dengan si misterius itu? Kau sudah bertemu dengannya?"
Gerald tidak menjawab, tetapi langkahnya sesaat terhenti. Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan langkah.
...•••••...
Festival musim gugur adalah perayaan tahunan yang diadakan oleh Klan Agrios dan mendapatkan dukungan khusus oleh Tirian.
Pesta ini menganut konsep berdasarkan naluri hewaniah dalam bertahan hidup. Beberapa hewan akan ngumpulkan makanan untuk persediaan selama musim gugur. Jadi alih-alih pesta dansa, festival musim gugur lebih terlihat seperti tempat berburu kebutuhan. Hampir setengah dari Padang Savier diisi oleh stan jualan dari berbagai penjuru.
"Luar biasa, ramai sekali."
Camelia yang baru tiba mengamati atap-atap kecil yang memenuhi pinggiran jalan. Itu adalah stan jualan yang seluruh dindingnya terbuat dari kayu serta memiliki bentuk unik dengan papan indentitas bergantung di atasnya. Setiap stannya berisi barang yang berbeda dari stan lainnya.
Ukuran tempat jualan yang hanya bisa diisi dua orang itu tampak padat dengan berbagai jenis barang dan makanan. Teriakan para penjaga yang berusaha menarik pembeli membuat suasana keramaian menjadi semakin hidup. Camelia yang melihat agak merasa sedikit ngeri.
"Si Tirian pengecut itu hanya meminta dua garnisun untuk menjaga area seluas dan seramai ini?" Camelia tidak habis pikir. "Sudahlah, walaupun sudah dibubarkan kami harus menjaga sebagai kesatria."
Selain lentera yang tertata rapi di langit-langit, obor tetap mengisi bagian yang kosong di beberapa titik. Pusat penerangan itu telah menyita perhatian. Tangan Camelia yang sudah bergesekan sedari tadi begitu tertarik ingin mendekat untuk membunuh rasa dingin. Musim dingin benar-benar kutukan baginya.
"Sial!" Camelia mengumpat tidak tahan. "Persetan dengan menjaga keamanan. Aku lebih baik mencari calon... jodohku." Camelia agak bersalah menyebut dua kata terakhir. Namun, biarlah. Jika ia berhasil menjadi penyihir seutuhnya, ia tidak akan menjadi pengecut dan melalaikan tugas hanya karena suhu rendah ini!
"Sejak kapan aku menjadi lemah!"
Klan Agrios. Di mana kucing besar itu berada?!
...•••••...
Sementara itu, Sean yang kurang bersosialisasi dengan keramaian makhluk 'sejenis', ketakjubannya melihat seorang wizard memainkan trik sulap membuat ia terpisah dengan Gerald. Kini ia sibuk melakukan tur pesta dengan mengelilingi semua area. Ia akhirnya sampai pada tempat yang penuh dengan stan jualan. Senyumannya melebar.
"Wah begitu banyak orang." Sean berkata di
__ADS_1
sela tawanya. "Haha mereka seperti segerombolan semut. "
Ia akhirnya mulai melihat-lihat, berpindah dari satu stan ke stan lainnya. Kesenangan di wajahnya memudar saat menemukan sebuah tempat yang terdapat banyak hewan kecil di dalamnya. Ia seharusnya senang, awalnya memang begitu. Namun, saat menyadari kupu-kupu dalam kotak itu sudah tidak bergerak, Sean merasakan lututnya melemas.
"Tuan, aku memiliki banyak serangga yang sudah diawetkan. Kau bisa memanjangnya di rumahmu tanpa takut mereka pergi. Lihatlah dan pilih yang kau suka."
Ditawarkan dengan jarak dekat bahkan Sean bisa melihat detailnya, ia langsung tidak dapat berkata-kata. Sean mundur dan dengan cepat melangkah pergi.
"I-itu terlalu gila."
Sean disadarkan oleh keributan lain dari para pejalan kaki yang berdebat tidak jauh darinya. Mereka terlihat memperebutkan sesuatu. Tadinya Sean memiliki minat untuk melihat, tetapi pandangannya yang tidak sengaja menoleh menemukan sesuatu yang lebih menarik di ujung sana.
Begitu ia berhenti dan memfokuskan pandangannya ke depan, ia melihat seorang wanita dengan rambut ash brown tergerai anggun melangkah tenang di antara kerumunan sembari menenteng sesuatu di lengannya.
Seketika keributan disekitar mendadak senyap. Seolah hanya ada ia dan sesosok wanita yang melangkah ke arahnya, semua orang di sekitar hanya dianggap patung atau pohon mati.
Kegusaran yang Sean rasakan sebelumnya langsung sirna tergantikan oleh senyuman yang baru saja mekar.
Ucapan Gerald terngiang di kepala.
"Ternyata benar. Aku benar-benar bertemu bidadari."
Sayangnya langkah wanita itu tidak sampai kepadanya. Sosok itu malah berbelok menuju tenda yang sepertinya menjual tembikar. Sean tidak kehilangan keberanian, tetapi ia akan menunggu sebentar untuk mengamati.
"Dia lebih cantik dari rubah waktu itu."
...•••••...
Camelia mengitari seluruh area festival, tetapi tidak menemukan orang yang ia cari. Hanya setelah ia lelah membelah kerumunan, Camelia baru menemukan pemikiran untuk mencari pria itu pada tempat kemungkinan banyak terdapat penduduk Klan Agrios.
Di area barat festival, orang-orang dengan penampilan agak berbeda berkumpul di sana. Ini mungkin tempat yang tepat jadi Camelia berhenti untuk bertanya.
Sudah beberapa detik Camelia berdiri menunggu wanita di depannya untuk membuka mata, tetapi masih tidak ada pergerakan. Pada detik berikutnya Camelia mulai menyesal.
Apa orang ini waras?
Camelia membuang lirikan antara heran dan kasihan sebelum akan melangkah pergi. Namun, tepat satu langkah ia bergerak, suara serak seseorang membuatnya berhenti.
"Apa yang kau cari?"
Melihat wanita itu telah membuka mata, Camelia yakin dari sanalah asal suara. Namun, ia membutuhkan beberapa saat untuk berpikir sebelum akhirnya dengan ragu bertanya, "Aku mencari seorang pria dari Klan Agrios—"
"Kemarikan tanganmu."
Kerutan di dahi Camelia terbentuk, tetapi ia masih menganggkat tangannya. Rasa hangat menyentuh permukaan kulit saat telapak tangan itu menggenggam lengannya.
Camelia hampir memutar bola matanya.
Bagus sekali. Aku menuduh orang ini tidak waras tapi sekarang aku memberikan tanganku.
"Dingin ... masa lalu ... kekacauan. Jalan hidupmu berantakan."
Wanita itu tiba-tiba berbicara. Camelia langsung menarik tangannya begitu mendengar ucapan aneh itu.
"Apa maksudmu?"
Sosok di depannya membuka mata. "Di antara ketiganya ada hal yang harus kau hindari, kau jalani dan terpaksa kau hadapi."
__ADS_1
Dada Camelia penuh keraguan.
Wanita ini peramal?
Ia memandang dengan curiga. "Katakan dengan jelas."
"Jalan hidupmu berantakan. Sungguh malang. Kau bahkan kehilangan sesuatu yang berharga. Temukan apa yang harusnya menjadi milikmu dan hidupmu akan lebih mudah."
Sialan! Camelia mengumpat.
"Kau sudah puas mengataiku, setidaknya beri informasi dengan jelas!"
Emosi Camelia mulai tersulut. Ia menatap tidak suka. "Sudahlah, aku lebih bodoh karena mau berdiri di sini."
Tungkai Camelia sudah berjalan beberapa langkah ketika suara wanita itu kembali terdengar.
"Jalan lurus di belakangku, kau akan menemukan tenda besar di sana."
Camelia masih sempat mendengarnya. Ia tidak seharusnya percaya, tetapi ia masih memutar arah mengikuti petunjuk wanita itu. Siapa sangka, sekitar tiga meter di belakang area sebelumnya, Camelia menemukan ada tenda dengan ukuran cukup besar berdiri di depan. Melihat desain yang sebesar rumah Aletta, Camelia berpikir pemiliknya bukan orang biasa. Belum lagi beberapa pria bertubuh kekar berjaga di sekitar.
Pada saat ini keraguan Camelia tentang ucapan wanita aneh tadi menjadi goyah. Bagaimana jika perkataannya bukan sekedar bualan?
Menepis semua itu, Camelia membawa kebingungan di kepalanya dan memutuskan untuk mendekat di salah satu tenda. Namun, ia tidak menyadari seseorang dari arah berlawanan baru saja keluar dan melangkah pergi dari sana.
...••••••...
Begitu menyadari kehadirannya, para pria bertubuh kekar yang berjaga mulai mendekat untuk menahan. Camelia tidak sudi disentuh jadi ia mengambil langkah mundur.
"Siapa kau?"
Camelia melambaikan tangannya. "Aku tidak sedang mencari masalah. Aku hanya ingin memeriksa apa di dalam sana ada seekor kucing."
Camelia menyadari keambiguan dalam ucapannya. Namun, belum sempat ia menjelaskan, dua pria sudah akan mendorongnya.
"Pergi dari sini!"
"Hei!" Camelia membentak dan bersiap menghunus pedangnya. "Jika kalian menyentuhku aku tidak segan menebas leher kalian!"
Wanita hanya setinggi bahu tetapi berani mengancam? Tentu saja mereka akan menganggap ucapan Camelia sebagai lelucon. keduanya menyeringai tidak terintimidasi sama sekali.
"Sebaiknya kau pergi sebelum kami bertindak kasar."
Camelia melipat tangannya. "Aku tidak takut."
Kalian akan mendapat karma karena berusaha menghalangi garis jodoh orang lain!
"Biarkan aku lewat, " desak Camelia lagi.
"Keras kepala!" Dua pria itu melangkah maju. Camelia akhirnya menghunus pedangnya. Namun, pertikaian itu segera terhenti ketika suara berat dari dalam tenda sudah menginterupsi.
"Biarkan dia masuk."
Suara itu tampak familier, tetapi Camelia tidak ingat ia mendengarnya di mana. Hanya ketika berhasil masuk dan melihat sosok itu dari dekat. Camelia menghembuskan napas penyesalan.
"Aku benar-benar sial. Tadi bertemu dengan wanita aneh dan sekarang harus melihat pria mesum ini lagi?!"
Pria di depannya malah terkekeh. "Apa dulu aku lupa memperkenalkan namaku? Aku mendapat julukan ketiga yang ... mn lebih buruk."
__ADS_1
...••••••...