The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 25


__ADS_3

Salju turun semakin lebat. Rumah Malfoy sudah dibersihkan, tetapi masih ada beberapa kesatria yang berjaga di sekitar. Itu sudah berlangsung dua hari semenjak insiden terjadi. Sementara mereka berjaga di sana, Ramos dan anggota lain mencari informasi melalui pemimpin amagine dan para warga. Kesaksian mereka mungkin saja bisa memberi petunjuk.


Aletta sebagai orang yang mengenal kebaikan Malfoy cukup terpukul mendengar berita itu. Ia tidak bisa memikirkan penyebanya. Seperti yang orang-orang pikirkan tentang Malfoy ini, Aletta juga menganggap pria baik sepertinya tidak seharusnya berakhir tragis. Namun, Aletta menjadi bertanya-tanya saat mengingat Camelia pernah menanyakan sesuatu tentang pria itu. Awalnya saar mendengar perkataan Camelia, di pikirkan Aletta hanyalah adanya jalinan hubungan asmara di antara mereka. Namun setelah insiden yang terjadi, Aletta mulai memikirkan kemungkinan lain.


Mungkin saat itu Camelia tengah menyelidiki sesuatu. Aletta ingin sekali bertanya kepada temannya itu. Namun, Camelia tidak terlihat di mana pun.


Selain Camelia, tentu saja Aron masih menjadi yang utama di pikiran Aletta. Jadi dengan alasan membawakan minuman kepada para kesatria, wanita itu hampir tiap saat berkunjung di sekitar rumah Malfoy.


"Kemari-kemari, kalian sudah berjaga seharian. Udara sangat dingin. Datang dan hangatkan tubuh kalian dengan teh madu panas ini!"


Dua orang yang lebih dulu datang mengambil dan meneguk cangkir tanpa ragu.


"Nona Aletta, kau datang lagi."


"Salju ini hampir membekukan tanganku. Kami sungguh tertolong dengan kebaikanmu."


Aletta mengisi semua cangkir dengan cepat. Dia tidak terlalu mendengarkan sanjungan itu. Fokusnya tertuju pada cangkir yang lebih besar, begitu terisi penuh, ia mempersilahkan semua orang untuk minum dan membawa satu cangkir itu bersamanya.


"Kalian minumlah. Hangatkan tubuh kalian."


Aron sedang melihat-lihat di halaman samping ketika ia melihat seorang wanita memegang sebuah cangkir datang menghampirinya.


"Tuan Aron sudah bekerja keras. Aku membawa segelas teh madu panas. Aku tidak tahu apakah Tuan akan suka, tetapi ini akan baik untuk menghangatkan tubuh. Minumlah."


Aron sudah melihat wanita ini beberapa kali. Juga sudah mengetahui namanya. Ketika ia mengambil cangkir itu, Aron tidak memikirkan hal lain selain niat baik wanita ini.


"Panggil saja Aron." Ia menerima cangkir itu dan meminum beberapa teguk. "Salju akan menjadi lebat. Kau juga harus memikirkan badan sendiri. Jangan terlalu berkeliaran di luar rumah."


Oh sungguh. Bolehkah Aletta pingsan sekarang?


Mendapat perhatian dari orang yang disuka, Aletta tidak pernah merasa sebahagia ini.


Aletta memalingkan wajahnya karena malu. Ia bergumam, "Aku rela membeku asal bisa terus berdekatan denganmu."


"Maaf, kau bilang apa? Aku tidak dengar."


"Ah tidak-tidak." Seketika suhu tubuh Aletta naik hingga nyaris tidak merasakan dingin di sekitar. Sebelah tangannya memegang wajahnya, sementara tangan lainnya melayang pelan di udara.


"Ini tidak dingin sama sekali. Aku senang bisa membantu kalian."


Wajah Aron datar, tetapi ia menyambut baik niat Aletta ini. Kakinya sedikit bergeser karena tangan wanita itu hampir mengenainya.


"Kau memang orang baik."


Dipuji kedua kalinya, wajah Aletta langsung bersemu merah, sementara tangannya bergerak sekali lagi.


"Ah tidak perlu berlebihan. Aku hanya ingin membantu."


Kali ini Aron tidak waspada, ia terlambat menghindar saat tangan yang kesenangan itu membentur keras lengannya.


Dengan tidak rela, cangkir yang masih berisi setengah terlepas dari tangannya.


Oops.


Mata Aron berkedut memandang gelas yang tergeletak di bawa sana. Wajahnya masih datar tetapi syok yang tiba-tiba segera menyerang.


"T-tidak apa-apa."

__ADS_1


Aletta tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Rasanya ia ingin segera mencair dan menyatu bersama salju.


Tangan sialan ini!


Sementara itu di bawah pohon yang tidak jauh dari sana, Lea sedang berteduh dengan memegang payung. Ia memperhatikan dua orang itu sejak tadi. Sepertinya ia tidak melihat jelas apa yang baru saja terjadi karena ia tiba-tiba bergumam.


"Kenapa kisah orang lain selalu berjalan dengan mudah?"


...•••••...


Gerald tiba di kediaman Tirian bersama Sean. Temannya itu tengah bermain bersama seekor lebah sehingga saat keduanya tiba di pintu ruangan yang membawa mereka bertemu pemilik rumah, Sean hanya mengatakan untuk menunggu di pintu.


Di dalam sana Tirian berdiri di samping ranjang sembari menatap Camelia.


"Kakak."


Tirian bergeser dari posisinya dan melangkah menuju Gerald. "Kau sudah datang. Bagaimana keadaan di Troas?"


Gerald tidak yakin tentang jawabannya, ia hanya berkata, "Pembatantaian satu keluarga. Belum diketahui siapa pelakunya."


"Kau tidak masuk untuk memeriksa?" Tirian bertanya. "Mungkin saja kau bisa mendapatkan penglihatan dan bisa mengungkapkan pelakunya."


"Tidak perlu. Itu tidak ada hubungannya denganku."


Saat Gerald tidak sengaja melihat ke ranjang, kata-kata sudah sampai di tenggorokan ingin menanyakan kondisi Camelia, tapi saat itu juga Gerald kehilangan keberanian dan menelannya kembali.


Sementara itu, Tirian yang paham perangai adiknya tidak mempermasalahkan lebih jauh. Ia lalu mengingat rencana mereka.


"Bagaimana? Kau sudah menemukan Alaric?"


Gerald mengangguk. "Sudah. Sean melihatnya berkeliaran di sekitar Midland. Aku sudah meminta seseorang untuk mengurusnya."


Gerald melirik ke samping sejenak sebelum memandang kembali pada sang kakak.


"Kita harus membuatnya bicara. Tapi aku ragu dia akan menurut. Jadi aku akan merepotkan Kakak."


Tirian tersenyum. "Kau tahu aku selalu peduli padamu sejak kecil. Tapi kau selalu mengabaikanku dan tidak pernah membiarkan aku membantumu. Mendengarmu meminta bantuanku hari ini, aku baru saja berpikir kalau kau sudah dewasa."


Wajah Gerald yang tadinya antusias seketika berubah kesal. "Aku tidak muda lagi."


Mendengarnya Tirian terkekeh. "Haha baiklah, baiklah. Katakan apa yang bisa aku bantu."


"Aku ragu jika Alaric bisa mudah untuk jujur. Jadi bisakah kakak ikut bersama kami untuk membaca pikirannya?"


Dengan senyum masih menghiasi wajah, Tirian menautkan kedua alisnya, tetapi kemudian ia berkata, "Tidak masalah, apa kita berangkat sekarang?"


Dengan itu, kedua kakak beradik berjalan ke luar ruangan. Sean yang sedari tadi berdiri di pintu menyembunyikan tangannya saat melihat Tirian keluar bersama Gerald. Ia pun mengekor di belakang mengikuti mereka. Namun, Gerald tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Tolong tutup pintunya," pintanya pada Sean.


Pria yang disuruh hanya mengangguk dan mengikuti perintah. Ia tetap asyik bermain dengan teman lebahnya, tetapi saat ia baru menarik gagang pintu, pergerakan Sean terhenti saat merasakan aura aneh dari dalam ruangan. Sean awalnya agak ragu, tetapi rasa penasaran mendorongnya menemukan keberanian. Ia pun berjalan beberapa langkah melewati pintu.


Setiap langkah itu membawanya merasakan aura yang lebih jelas. Namun, kejelasan ini tidak dapat memberikan jawaban sepenuhnya. Karena Sean hanya tahu dari mana sumbernya, tetapi ia tidak yakin aura apa sebenarnya ini. Yang Sean rasakan ada energi kuat di dalamnya, tetapi itu tampak sangat samar.


Memandang sosok yang berbaring di ranjang, Sean tidak bisa tidak berkata, "Siapa sebenarnya wanita ini?"


...•••••...

__ADS_1


Menggunakan bantuan dua ekor binatang buas yang sudah berevolusi, ketiganya akhirnya sampai di pinggiran Kota Midlan dengan perjalanan jalur udara yang memakan waktu hampir setengah jam.


Binatang terbang yang ditunggangi oleh Sean dan Gerald adalah seekor heyna yang bisa menumbuhkan sayap, sementara Tirian menggunakan wujud aslinya yang juga memiliki kemampuan sama. Ketiganya mendarat di halaman sebuah gubuk kecil yang dikelilingi pohon cedar.


Sean langsung menuntun mereka masuk.


Seorang pria yang familier duduk di tepi ranjang dengan kaki dan tangan terikat.


Tirian tidak suka berbasa-basi. Namun, suasana hatinya sedikit baik membuat ia melemparkan beberapa sapaan.


"Lama tidak bertemu Alaric. Setelah berhenti berkerja denganku, aku tidak pernah lagi melihatmu. Apa yang kau lakukan selama ini?"


Tidak ada jawaban dari pertanyaan itu. Namun, Sean langsung membunuh kesunyian.


"Setiap melihat pria ini aku merasakan aura gelap darinya."


Tirian mengangkat kepalanya lalu kembali menunduk untuk menatap Alaric.


"Bagaimana? Kau bisa jelaskan ini?"


Gerald sudah tidak sabar. "Katakan apa yang kau sembunyikan maka kami akan melepasmu."


Keinginan mereka diabaikan, Alaric malah membuang muka ke samping.


"Dia tidak akan berbicara."


Gerald sudah yakin tentang itu. Namun, Tirian terlihat belum mengalami kebosanan. Jadi ia masih melempar pertanyaan.


"Ada yang melaporkan beberapa pekan lalu seseorang melihatmu sering berjalan ke arah Death Valley. Jika kau mau menjelaskan apa yang kau cari di sana. Seandainya itu bukan sesuatu yang menggangu, aku akan membiarkan kau pergi. Tapi kau harus menjawab dengan benar. Teman adikku mengatakan ada aura gelap dari tubuhmu. Mm cepat yakinkan aku agar aku tidak berpikir buruk."


Sayangnya Tirian masih harus kecewa Karena lagi-lagi Alaric tidak mau membuka mulutnya.


"Kakak—"


"Baguslah. Akhirnya kedatanganku berguna."


Tidak menunda lagi, Tirian berjalan mendekat lalu mencengkram kulit pundak Alaric yang tereskpos. Tirian tiba-tiba terkekeh saat pegangannya di tekan semakin dalam.


"Biasanya aku tidak menggunakan energi lebih untuk mencuri pikiran orang lain. Namun, karena kau sedikit nakal, aku akan memberimu hadiah spesial."


Setelah mengatakan itu, teriakan memilukan keluar dari mulut Alaric. Itu tidak berlangsung lama, tetapi begitu Tirian melepas pegangannya, Alaric langsung kehilangan kesadaran.


Sean memandang dengan ngeri tidak bisa menebak seberapa kuat rasa sakit yang diterima pria itu.


"Gerald." Tirian akhirnya bersuara. "Tampaknya kita harus khawatir sekarang. Pria ini memang menyembunyikan sesuatu .. yang sedikit merepotkan untuk diatasi."


Mata Gerald sedikit melebar karena terkejut. "Jadi makhluk itu benar-benar ada?"


Tirian tidak menjawab, tetapi tawanya sudah memperjelas semuanya. Sean tidak tahu apa masalah sebenarnya jadi ia hanya menatap dengan alis bertaut. Gerald sendiri tenggelam dalam pikirannya. Namun, fokus semua orang teralihkan saat Tirain kembali bersuara.


"Gerald, mengenai masalah di Troas—"


Tirian menjeda ucapannya, tetapi karena ia telah menyinggung soal Troas, Gerald tidak bisa menutupi gerakan di tubuhnya yang menunjukkan ketertarikan.


"Perjelas Kak."


Tirian berbalik untuk menatap mereka.

__ADS_1


"Sepertinya kau harus bertanya padanya saat dia bangun nanti mengenai apa yang terjadi di sana."


__ADS_2