The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 32


__ADS_3

Baik Gerald maupun Camelia, keduanya tidak mengerti kenapa Nory berlari kabur saat mendengar nama Alaric disebutkan. Sebagai yang mendengar langsung bagaimana pengakuan pria yang menyebut dirinya pembunuh itu lalu melihat bagaimana sikap Nory ini, kekhawatiran kembali mengisi dada Gerald. Mungkinkah Alaric memang pelakunya? Ia membunuh semua keluarga Malfoy, dan Nory melihatnya?


"Dia kelaparan. Dia mencuri karena butuh."


Camelia berbicara pada Gerald yang juga sedang memandang Nory. Anak itu tengah melahap sepiring roti kukus.


"Dia tinggal sendirian di sini?" tanya Camelia lagi lebih kepada dirinya sendiri. Ia lalu beralih ke sekitar untuk menilai rumah yang mereka tempati. Gubuk, satu kata itu adalah yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana perawakan tempat mereka berdiri.


Saat itu, Nory berlari menghindari mereka. Beruntung Gerald dan Camelia masih sempat mengejar. Setelah mengikuti ke mana anak itu pergi, mereka berakhir di rumah reot ini. Tentu saja sangat tidak layak huni, tetapi masih lebih baik daripada terlantar di tengah salju. Dengan keadaan yang menyedihkan itu, Nory tidak berhasil memberontak lebih lama. Gerald dan Camelia berhasil membujuknya dengan sepiring roti kukus.


Tidak ada yang tahu apakah anak itu masih berpikir untuk lari setelah perut terisi. Jadi Gerald menghiraukan Camelia dan segera menghampiri anak itu. Melihat bagaimana Nory makan, Gerald langsung terenyuh. Ia tanpa sadar memegang kepala anak itu.


Hal yang tidak ia duga, sensasi familier tiba-tiba datang, itu menjalar dari tangannya. Sesaat kemudian pandangan Gerald mulai berkabut lalu saat kabut itu berangsur-angsur hilang keadaan sekitar sudah memperlihatkan hal berbeda, ia melihat Nory berjalan mengikuti seorang pria.


"Paman Alaric di mana ibu?"


Alaric berhenti lalu menunduk untuk menggenggam tangan anak itu.


"Mulai sekarang Paman akan menjagamu. Kau tidak perlu menanyakan ibumu lagi."


"Tapi Paman aku mau ibu."


"Nory—"


"Apa benar ibu sudah meninggal? Orang-orang berkata seperti itu."


Melihat Nory yang menunduk, kegelisahan dan kesedihan mengisi dada Alaric. Seolah Gerald juga dapat merasakannya, tekanan emosi itu membuat kepalanya berdenyut. Detik berikutnya ia tidak dapat mendengar percakapan itu lagi. Wajah Nory memudar tergantikan oleh orang lain lalu ia mendengar seseorang memanggil namanya.


"Gerald?"


Kibasan tangan Camelia yang melambai di depan wajahnya menarik seluruh kesadaran Gerald. Wanita itu dan Nory memandangnya dengan tatapan sama.


"Kenapa kau melamun? Kau melihat sesuatu lagi?"


Gerald biasanya memang cuek tapi kali ini ia tidak menjawab karena pusat kesadarannya masih memproses hal lain. Keringat mengisi permukaan pelipisnya. Ia merasa baru saja tidur dan bermimpi, tapi ia tahu ini adalah keadaan berbeda. Tanpa sadar ia meraih lengan Camelia.


Gerald berkata, "Alaric dan anak ini memiliki hubungan."


Alis Camelia mengerut. "Hubungan?"

__ADS_1


Camelia masih ingin bertanya, tetapi sensasi kejut listrik tiba-tiba merambat dari titik di mana Gerald menyentuhnya. Sekitar perlahan menjadi gelap lalu beban yang lebih berat membentur pundaknya saat kepala Gerald bersandar di sana.


"Aku mencari Nory untuk mengungkap apa yang sudah ia lalui bersama Alaric dan keluarga Malfoy. Mungkin dengan bantuanmu aku bisa melihat semua kisah mereka...."


Awalnya Camelia tidak mengerti dengan ucapan Gerald itu. Namun, saat kegelapan di matanya berubah menjadi cahaya terang, itu langsung menghilang menyuguhkan pemandangan lain. Perubahan yang singkat itu memberi pemahaman penuh tentang apa yang Gerald sebut sebagai 'melihat semua kisah'. Karena sekarang...Camelia juga melihatnya.


...••••••...


Malam itu guyuran hujan membawa hawa dingin yang tidak tertahankan di Albama. Alaric duduk di sebuah bar, lima botol anggur sudah kosong saat tegukkan terakhir ia tuang ke dalam mulutnya.


"Tuan! Beri aku dua botol lagi!" Alaric sudah sempoyongan saat berusaha memanggil pelayan bar.


Seorang pria di seberang yang melihatnya menggelengkan kepala. "Hei! Kau sudah semabuk itu! Kau ingin minum sampai mati?"


Kesadaran Alaric sudah di ambang batas, tapi mendengar suara tinggi itu dadanya yang memanas tidak bisa ia tahan. Alaric berdiri dan menunjuk ke segala arah. "Siapa yang berkata seperti itu?! Beraninya dia mengurusiku! Apa aku makan dengan uangmu?!"


Langkahnya yang tidak stabil hampir menabrak seseorang di meja lain. Kontan ia didorong hingga menabrak meja, botol dan gelas yang ada di atasnya jatuh berserakan di lantai.


"Perhatikan langkahmu bodoh!"


Melihat kekacauan itu pemilik bar memerintahkan pelayannya untuk mengurusnya. Saat pelayan itu membantu Alaric berdiri, dua pria sebelumnya yang merasa teranggu langsung bersuara.


"Dengan tubuh lemahnya dia berani minum di sini? Usir dia!"


Di dalam papahan pelayan itu Alaric terus meracau.


"Dia membohongiku. Kenapa istriku tidak kembali! Aku sudah membawakan seorang wanita untuknya tapi kenapa itu tidak cukup!"


Kembalikan istriku! Pembohong! Dia membohongiku!"


Plak!


Pelayan bar mendaratkan tamparan ke wajah Alaric karena sudah tidak tahan.


Walaupun begitu Alaric tetap tidak bisa diam bahkan pada lantai di bawah sana ia masih merangkak dan terus berteriak. "Bagaimana aku menebus dosaku! Wanita itu akan menuntutku?! Bagaimana aku menebus dosaku?!"


Teriakan itu memenuhi seluruh ruangan. Pemilik bar yang mengkhawatirkan kenyamanan pelanggannya tidak tahan dan segera menghampiri mereka.


"Cepat bawa dia keluar. Ambil apa pun yang ada di sakunya. Dia minum sangat banyak tapi tidak berniat untuk membayar!" Kali ini pemilik bar yang meradang.

__ADS_1


"Tidak ada apa pun di sakunya."


Mendengar ucapan pelayan itu, emosi pemilik bar semakin meluap. "Cepat buang dia sebelum aku mencekik lehernya!"


Malam yang panjang dan berhujan itu telah menjadi rumah Alaric. Ia diletakkan begitu saja di dekat pembuangan sampah. Beralaskan tanah becek yang lembab, ia tidur dengan setengah tubuhnya hampir terendam air hujan. Kesadaran Alaric sesekali muncul, air matanya beriringan dengan tetesan hujan yang juga mengguyur wajahnya. Ia tidak tahu tangisan ini dilayangkan untuk istrinya yang ia rindukan atau untuk wanita lain yang membuatnya menanggung sebuah dosa besar.


Aroma busuk yang masuk ke lubang hidungnya membuat kesadaran Alaric kembali. Berendam dengan lumpur semalaman membuat tubuhnya hampir tidak bisa dikenali. Punggungnya dipenuhi tanah dan bekas jejak kaki. Rintik hujan tidak lagi terlihat, tetapi pria itu enggan beranjak dari sana. Ia hanya bergerak sedikit untuk menegakkan punggung. Sebuah gundukan tanah yang menggunung ia jadikan sebagai sandaran. Menyatu seperti itu dengan sampah-sampah ini, ia tidak ada bedanya lagi dengan mereka.


Alaric sudah sadar sepenuhnya. Gejolak di perutnya ia abaikan. Hari semakin terik, bahkan tanah yang menempel di kulitnya sudah mengering, pria itu tetap tidak bergeming. Ia hanya menatap kosong satu arah di depan. Sesekali ia akan tertawa lalu berikutnya suara isakan akan terdengar.


Alaric sudah kehilangan keinginan untuk hidup. Ia berada di titik di mana ia tidak sanggup melakukan apa pun bahkan untuk memutus nadi di tangannya. Orang-orang yang datang bergantian membuang sampah juga tidak memedulikannya. Alaric juga tidak mau repot untuk menghindar. Dalam satu hari, siapa pun tidak lagi bisa melihat kalau ada sosok pria di balik tumpukan itu.


Senja yang mendung datang lagi. Alaric masih di sana tidak peduli bahkan badai akan ada sekali pun. Hanya ketika malam sudah menyapu seluruh kota, hujan yang deras kembali mengguyur Albama. Pandangan Alaric yang tertutup sayur busuk akhirnya bergeser, setengah tubuhnya akhirnya terlihat.


Ketika hujan hanya meninggalkan jejak rintik, pendengaran Alaric yang hampir tuli kini menemukan suara-suara jejak kaki. Di sanalah pria itu mendengar sebuah percakapan yang membuat pandangannya mau bergeser sedikit.


"Jadi wanita itu benar diculik? Aku dengar dari tetangga sekitar wanita itu sudah kehilangan kewarasan. Kemungkinan dia berpergian terlalu jauh hingga lupa jalan pulang."


"Iya, awalnya memang itu yang orang-orang Troas katakan. Wanita yang bernama Nelina itu awalnya dikira meninggalkan rumah atas kehendaknya sendiri, tapi beberapa hari ini ada yang mengatakan dia diculik oleh seseorang dan dibunuh."


"Siapa yang tega melakukan itu pada wanita yang sudah tidak bersuami? Aku dengar dia memiliki seorang anak perempuan."


Air mata Alaric kembali tumpah. Kenapa itu terdengar seperti mereka menceritakan dirinya langsung di depannya? Rasa bersalah yang hampir padam bersama tubuhnya yang mati rasa kini terasa kembali disayat. Tidak ada yang lebih tahu dari dirinya sendiri bagaimana wanita malang itu berakhir.


Penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Ucapan itu terus menggema di kepalanya. Tentu saja. Sudah terlambat untuk menyesal. Itulah yang Alaric pikiran. Namun, melalui percakapan itu, secerca harapan menariknya kembali dari kegelapan yang suram ini.


Seorang anak?


Alaric sudah benar-benar putus asa dengan hidupnya. Hanya sampai dua orang yang lewat ini menyebutkan sesuatu tentang anak, kepedulian Alaric yang sudah mati akhirnya perlahan tumbuh. Ia mengerakkan tubuhnya yang kaku, berusaha mendengar obrolan lewat yang sudah hampir menjauh. Lutut dan telapak tangannya ia paksa untuk merangkak.


"Benar. Anak yang malang. Sekarang dia harus tinggal sendirian."


"Kau mengenalnya?"


"Aku sering datang ke Troas untuk mengantar barang. Aku pernah bertemu dengan anak perempuan itu. Siapa yah namanya? Ah itu ... Nory."


Gerakan Alaric tiba-tiba terhenti. Bibirnya yang kering perlahan mulai membuka. Suaranya sangat serak saat ia berkata,


"Nory?"

__ADS_1


__ADS_2