
Aletta sedang menggiling beras untuk menghasilkan tepung. Sementara tangannya berputar dalam lingkup tiga ratus enam puluh derajat mengikuti putaran alat penggiling, pikirannya berkelana untuk menimbang-nimbang sesuatu.
Dalam lamunan itu mulutnya tanpa sadar bergerak. "Kekasih?"
Niles yang tiba-tiba lewat berhenti untuk mendengar. Ia nyaris terbahak tapi kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau harus memasang matamu baik-baik jika tidak ingin menggiling tanganmu. Tapi aku lebih menyayangkan penggiling itu yang mungkin sebentar lagi akan kehilangan lengan."
Mendengar ini, Aletta memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya menoleh dengan pelototan. "Mm kau juga perlu hati-hati. Tanganku yang spesial ini bisa saja TIDAK SENGAJA merobek mulutmu."
Niles tampak santai dengan mengangkat bahu. Wajah angkuhnya semakin menonjol saat ia menyisir rambut itu dengan tangannya ke belakang.
"Jangan lupa paruhku mungkin lebih kuat dari tulang-tulangmu."
"Oh, lenganku lebih panjang dari ukuranmu yang hanya sebesar ayam."
Disamakan dengan ayam, Niles langsung meradang. "Tunggu saja sampai aku berevolusi menjadi elang! Saat itu Kakak akan menyesal pernah merendahkan seekor falkon! Juga... jaga mulut besarmu itu atau Kakak tidak akan punya kekasih!"
Kekasih?
Emosi Aletta tiba-tiba saja menguap.
"Ah kekasih..." Ia melirik Niles. "Kau sudah punya kekasih?"
Setelah dibuat geram lalu berpindah topik dan suasana secepat ini, Niles benar-benar merasa geram.
"Tidak!"
"Menurutmu tipe pria seperti apa yang cocok untukku?"
Karena masih kesal, Niles dengan asal menjawab, "kau sangat cocok dengan seekor kera titan!"
"Sungguh?"
Melihat wajah polos sang kakak, Niles langsung tidak berdaya. "Ya pergi sana gali kuburannya."
Wajah Aletta masih saja serius. "Kenapa aku cocok dengan seekor kera titan?" Aletta bermaksud menyalin informasi ini untuk mengukur kriteria jodoh yang sesungguhnya nanti. Namun, Niles tidak menduga kakaknya akan begitu sungguh-sungguh menanggapinya.
"Dia kuat dan tubuhnya kekar." Niles menjelaskan. "...tanganmu yang spesial tidak akan berarti apa-apa untuknya dan kalian akan memiliki akhir yang bahagia."
Tentu saja Niles semakin syok melihat sang kakak menerima ucapannya secara terbuka.
"Aku mengerti. Lalu bagaimana denganmu?"
Pertanyaan ini lebih tidak terduga. Namun, Niles tetap membiarkan pikirannya berkelana. Sebelum menjawab ia membayangkan seekor phoenix yang gagah dan menawan. Seketika ia melupakan rasa kesalnya.
"Aku ingin kekasih yang kuat."
...•••••...
Aletta sudah selesai dengan tepungnya, tetapi tangannya masih setia mengaduk bubuk putih itu. Pikiran Aletta tentang kekasih muncul tiba-tiba karena akhir-akhir ini Camelia terlalu mengekspos hubungannya dengan banyak pria. Melihat temannya yang sudah sepuluh langkah lebih jauh darinya, Aletta mulai merasa iri dan memikirkan.
Lamunannya masih belum putus ketika ia mendengar keributan dari samping rumah. Karena penasaran ia keluar untuk memeriksa. Mangkok tempat tepung yang ada di meja bahkan ia bawa bersamanya.
Pemandangan dengan kerumunan langsung menyambutnya ketika pintu terbuka. Aletta mencegat seseorang yang lewat untuk bertanya. Melihat beberapa orang memakai baju zirah, Aletta berpikir sepertinya ini sesuatu yang serius.
"Ada apa? Kenapa begitu banyak orang?"
"Katanya ada mayat yang ditemukan di tepi hutan."
Mendengar ini ekspresi Aletta bercampur rasa terkejut. Namun, ia tidak turut ikut ketika orang yang ditanya tadi pergi bergabung bersama kerumunan.
__ADS_1
"Pantas saja ada banyak kesatria kerajaan di sini."
Aletta belum beranjak dan masih melihat-lihat. Ia hanya menggeser sedikit pandangannya ketika seseorang telah masuk dalam bidang pandangnya. Sosok itu bergerak ke arahnya. Seketika Aletta merasa dunia sekitar bergerak melambat. Langkah demi langkah yang ia lihat itu begitu menawan, seolah membawa serta cahaya yang jatuh tepat di tanah yang terpijak. Mungkin agak berlebihan, tapi dalam pandangannya sosok itu diliputi pelangi dengan gliter-gliter emas berterbangan seperti kapas. Mulut Aletta membuka untuk waktu yang lama.
Aku menemukan jodohku.
"Permisi?"
"Nona?"
Bahkan suara itu terdengar seperti seruling di pegunungan. Begitu membuai sampai pria itu harus memanggil beberapa kali untuk Aletta dengar.
"Kau mendengarku, Nona?"
"Y-ya?"
"Aku Aron, salah satu kesatria kerajaan. Kami menemukan mayat Tuan Sade di pinggir hutan sana. Aku ingin meminta keteranganmu. Sebagai tetangganya apa kau pernah mendengar Tuan Sade memiliki riwayat penyakit tertentu?"
Lupakan tentang memberi jawaban, Aletta hanya memandang Aron. Rasa kagum telah membuat telinganya tertutup.
"Nona?"
"I-ya? Maaf apa yang kau katakan?"
"Apa kau mengenal Tuan Sade? Apa dia punya riwayat penyakit tertentu?"
Aletta mengangguk lalu menggeleng. "Ah, aku mengenalnya tapi aku tidak tahu tentang penyakit yang kau maksud."
Melihat wajah linglung orang di depannya. Aron menyerah untuk bertanya. Ia hendak pergi tetapi sesuatu di kakinya membuat ia menunduk.
Aletta mengikuti arah pandang itu hanya untuk melihat warna putih tepungnya telah memenuhi permukaan boots di bawah sana.
Mulut Aletta melebar. "Ma-maafkan aku."
Aletta menggigit bibir bawahnya.
"Sudah, biarkan saja." Aron menarik diri, tidak nyaman dengan posisi itu. Wajahnya tetap datar, tapi ia memandang sepatunya dengan tatapan penuh arti.
"Aku akan membersih—"
Aron mundur tanpa kata. Setelah mengangguk sebagai ungkapan maaf dan tanda berpamitan, ia lekas pergi dari sana.
Aletta memandang punggung itu dengan wajah memelas. Napas yang ia keluarkan terdengar gusar.
"Takdir sungguh kejam."
...•••••...
Kabar tentang mayat yang ditemukan cukup mengagetkan, tetapi Camelia lebih memilih untuk mengejar seseorang.
Camelia melihat Alaric mulai setengah berlari saat melewati restoran. Dari arah yang Camelia ikuti ini sepertinya pria itu akan pergi ke rumah Nory. Namun, ia tiba-tiba berbelok pada lorong sempit yang Camelia yakini ujungnya akan membawanya pada area sepi.
Apa yang dia lakukan?
Tadinya Camelia hanya ingin memantau tanpa melakukan apa-apa. Namun, ketika akhirnya keluar dari lorong itu dan menemukan Alaric masih mematung di sana, Camelia merubah niatnya. Terlebih reaksi pria itu kini berubah tenang juga seperti tidak sedang menunggu seseorang. Karenanya Camelia memutuskan untuk menghampiri ingin meminta sedikit keterangan.
Langkah Camelia sudah ia pacu. Namun, baru saja ia akan meraih pundak itu, Camelia merasakan kehadiran seseorang di belakang. Ia yang tidak punya persiapan langsung diserang hingga terpental. Lengan wanita itu yang ia pakai untuk menangkis serangan tak luput dari jejak pijakan.
Camelia mendarat dengan ringisan. Ia berdecak melihat Alaric sudah pergi meninggalkan tempat.
"Tidak sopan!" pekik Camelia. Ia bangkit dan menoleh. "Siapa si pengecut ini?"
__ADS_1
Sementara Camelia memindai penampilan sang lawan, tangannya sibuk mengais tas untuk menemukan pedang.
Waktunya tidak tepat tentu saja jika baru mencari sekarang. Walaupun Camelia akhirnya menemukan gagang pedangnya, serangan lain sudah lebih dulu datang memutus pegangan itu bahkan sebelum berhasil ditarik keluar.
Sialan!
Camelia terpaksa berjuang dengan tangan kosong. Ia mengutuk dalam hati dan berjanji akan mengoreksi cara ia menyimpan pedangnya.
"Siapa kau?!"
Camelia menyesal bertanya karena tentu saja tidak ada yang akan menjawab. Malah sebagai gantinya sebuah tendangan meluncur lurus. Camelia memutar tubuhnya ke belakang untuk menghindar. Ujung kakinya ia manfaatkan untuk menendang kaki lain. Namun, tanpa diduga sang lawan memutar dengan cepat hingga kaki yang seharusnya menargetkan kepala turun mendarat diperutnya. Sesaat setelah Camelia baru saja mendarat, ia kembali terdorong ke belakang.
Camelia terjatuh dengan tangan di perut. Ia jelas dirugikan dengan tidak adanya senjata apa pun. Menoleh ke samping, Camelia menemukan sebatang kayu lalu dengan cepat bangkit berniat menggunakan itu sebagai senjata.
Duel itu mulai imbang, tetapi Camelia tidak memiliki pemikiran baik tentang dampak dari pukulan yang ia berikan. Benar saja, saat Camelia memberi hantaman keras pada kepala pihak lain, kayu itu terpotong menjadi dua dan jatuh ke tanah.
Karena kesal Camelia memberi tendangan kuat sebelum akhirnya memilih mundur.
Lawannya ini memakai jubah hitam dengan seluruh wajah tertutup yang hanya menyisakan mata. Ketika sosok itu mendarat dengan setengah berlutut yang berarti tendangan Camelia tidak begitu berpengaruh, anehnya Camelia malah tersenyum. Ia kemudian berkata, "Aku tidak akan bertanya lagi."
Sesuai dugaannya, setelah mendengar ucapannya sang lawan sesaat terdiam. Camelia memanfaatkan momen itu untuk menarik pedangnya. Ia tiba-tiba memiliki firasat buruk.
Tepat saat pedang itu berhasil dihunus, sesuatu yang menekan di udara mendorong Camelia mundur. Saat Camelia menyadari, angin dengan gelombang kencang telah mengacaukan keadaan di sekitar. Camelia melakukan penyelamatan dengan menusuk pedangnya ke tanah, berusaha memblokir badai angin di sekitar area pedang. Dengan juntai rambut yang telah menutupi sebagian wajahnya, Camelia mendongak untuk menatap sang lawan.
Seorang wizard, batinnya.
Badai itu mengalami penurunan tekanan, tetapi kewaspadaan Camelia tidak urung sama sekali. Seorang wizard selalu memanfaatkan elemen yang ada ketika bertarung. Camelia merasa ini hanya pengalihan sejenak sebelum elemen yang lain akan menyerangnya. Kekhawatiran itu terwujud saat tanah di bawahnya mulai bergetar.
Tanah adalah elemen yang paling sulit untuk ditaklukkan. Tidak banyak wizard yang bisa menguasai dan mengontrol kekuatan itu. Dengan duel yang sudah mereka lakukan, Camelia mengetahui teknik bela diri milik lawannya adalah sesuatu yang familier. Sehingga ia dengan yakin menebak jika lawannya ini merupakan seseorang dari kesatria kerajaan. Jadi Camelia mulai menimbang siapa di antara juniornya yang memiliki kekuatan seperti ini?
Camelia segera mencabut pedangnya dan menancapkan sekali lagi. Guncangan itu perlahan mereda. Namun, Camelia harus khawatir dengan bobot tanah yang terbang ke udara dan menargetkan dirinya.
Itu terlalu cepat. Namun, Camelia bisa mengimbangi dengan memindahkan pedangnya ke udara. Gerakannya yang cepat berhasil memblokir tanah-tanah itu. Memotongnya menjadi serpihan yang berserakan di tanah.
Camelia mengayunkan pedangnya, lagi. Membuat sisa angin yang mengamuk benar-benar menghilang. Itu adalah waktu yang singkat sebelum tanah berbentuk glester kembali datang menerjang.
Camelia mundur perlahan. Ini tidak begitu sulit, tapi terlalu merepotkan. Alih-alih kalah karena terluka, Camelia akan menderita kelelahan dan pegal-pegal. Namun, ketenangan Camelia seketika memudar saat serangan yang lebih besar datang dengan kecepatan tak terduga. Mata Camelia sampai membelalak. Ia yakin masih bisa menebas semuanya, tapi ....
Set!
Rasa dingin yang entah bagaimana melandanya menyerang lutut hingga seluruh tulang. Itu membuat pertahanan Camelia sedikit goyah. Kesadaran Camelia kembali setelah merasakan satu sayatan merobek bahunya. Yang terburuk, satu lagi menabrak pergelangan tangannya membuat Camelia linglung sampai bunyi prang terdengar ketika pedangnya jatuh menyapa tanah.
Camelia dengan cepat mendongak hanya untuk memastikan sudah terlambat untuk menghindar ketika glester tanah telah datang mendekat. Dengan kondisi mengancam itu, Camelia refleks menutup tubuhnya dengan tangan walaupun ia sadar gerakan itu tidak akan membantu sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Camelia merasa benar-benar tidak berdaya.
Camelia tidak lagi peduli entah sudah seberapa sering ia mengumpat, tetapi kali ini ia sungguh-sungguh ingin mengutuk rasa dingin yang tidak tahu tempat ini!
Sial!
Mata Camelia refleks menyipit sementara tubuh lainnya mulai memikirkan berapa besar rasa sakit yang akan ia tanggung. Namun, di momen seharusnya ia terluka, Camelia malah merasakan sebuah tangan memeluknya dari depan. Itu membawa kehangatan, memutus rasa dingin yang menggerogoti. Lalu sesaat kemudian Camelia mendengar bunyi debum teredam dalam jumlah banyak. Sementara ia tidak merasakan apa pun.
Camelia langsung mendongak untuk memeriksa. Ketika kepalanya terangkat, pandangan Camelia bertemu dengan wajah seseorang. Mata amber itu menatapnya kosong. Masih indah seperti pertama kali Camelia melihatnya. Namun kali ini ada tekanan yang memaksa Camelia merasakan rasa sakit dari tatapan itu. Seolah senja yang baru ditawarkan direnggut secara paksa, kekacauan di sekitar kembali menyadarkan Camelia ketika mata yang indah itu perlahan terpejam.
"Kau..."
Belum sempat Camelia menyelesaikan ucapannya, kepala yang tadinya tegak jatuh menyapa pundaknya.
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
...•...
Maaf kalau chapternya singkat-singkat. Kondisi real life benar-benar tak tertolong. Semoga masih bisa dinikmati^^