
...Alaric masih tutup mulut. Kalau dia tidak kunjung bicara aku akan membawanya ke Elwood. Anak yang bernama Nory belum ditemukan. Kami masih mencarinya....
Gerald meletakkan sepucuk surat dari Sean. Seolah kebungkaman Alaric sudah ia duga, wajah Gerald tidak menunjukkan apa pun.
"Kami harus bisa membuatnya bicara. Keberadaan makhluk itu harus segera ditemukan." Gerald berkomentar.
Awalnya isi kepala Gerald dipenuhi masalah tentang Alaric dan Troas. Kasus pembunuhan ini entah bagaimana memungkinkan adanya keterlibatan Alaric, jadi Gerald tidak bisa mengabaikan begitu saja. Namun, setelah lama termenung, wajah Camelia tiba-tiba muncul mengganggu ingatannya. Ucapan Sean sebelumnya kembali terbayang.
"Siapa nama wanita itu? Dia yang terbaring di rumah kakakmu. Kau tahu asal usulnya?"
"Camelia." Gerald menggeleng. "Tidak."
Sean tampak berpikir keras, Gerald diam-diam meliriknya.
"Wanita ini tidak biasa. Aku merasakan energi yang kuat darinya. Mungkin sejenis energi alam tapi aku belum bisa memastikan."
Mendengar ini Gerald sepenuhnya menunjukkan keingintahuan.
"Apa maksudmu?"
Sean menggeleng. "Entahlah, aku hanya merasa wanita ini cukup kuat. Dia seorang wizard?"
Gerald terdiam sejenak. "Bukan."
"Bukan?" Sean dilanda kebingungan.
Pikiran Gerald memilah setiap ucapan Sean lalu segera ia hubungan dengan semua yang ia alami ketika bertemu Camelia. Setelah beberapa saat, Gerald langsung berkata, "Sean, dia yang membuat kalungku bersinar."
Untuk sesaat mulut sean tidak bisa mengatup.
...•••••...
Dalam waktu yang lama pikiran Gerald hanya diisi oleh wanita itu. Gerald ikut bertanya-tanya siapa sebenarnya Camelia ini. Di pertemuan pertama, Gerald memang melihat kalau Camelia adalah seorang amagine, wanita itu juga mengakuinya. Namun, bagaimana seorang yang bahkan tidak dapat mengelola meena bisa memberi perubahan pada kekuatan Gerald?
Belum lagi, di malam pertarungan itu Gerald sangat yakin kalau tubuhnya terhempas oleh kekuatan yang melibatkan elemen udara. Satu-satunya pelakunya adalah Camelia. Ia menyaksikannya sendiri. Namun, sejak kapan ia bisa menggunakan sihir?
Lalu kemarin Sean mulai membuat pernyataan aneh dengan menyebut Camelia sebagai wanita yang tidak biasa. Dengan semua itu, siapa pun tidak akan percaya kalau Camelia masih akan menyebut dirinya seorang amagine.
Jadi, siapa dia?
Terlalu larut dalam pikirannya, bibir Gerald tanpa sadar menyebutkan nama itu.
"Camelia? Siapa sebenarnya kau?"
"Aku? Kau memanggilku?"
Di kamarnya ini seharusnya tidak ada orang. Namun, mendengar suara wanita dari arah belakang, Gerald sontak berbalik.
Ia bahkan belum melerai rasa syoknya, tetapi Camelia sudah berjalan mendekat.
"Aku? Siapa aku?"
Gerald tersentak saat wanita itu tiba-tiba meletakkan lengannya di bahunya.
Kenapa dia di sini?!
"Lepaskan."
Camelia malah mengeratkan pegangannya.
"Kenapa kau bertanya? Kau lupa siapa aku?" Camelia tersenyum. "Aku kekasihmu."
Hanya butuh jeda sesaat, raut Camelia sudah berubah sendu.
"Bukan. Kau bukan kekasihku!" Camelia tiba-tiba merengek. "Kau begitu kejam. Kenapa kau terus menolakku."
"Kau—"
Belum sempat Gerald bereaksi, tangan Camelia sudah berpindah memeluk perutnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau melepaskanmu! Kalau kau tidak mau jadi kekasihku, aku akan terus memelukmu."
Gerald mengangkat tangannya tidak berani menyentuh Camelia. Pegangan Camelia terlalu erat, ia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya setelah mencium aroma lain dari tubuh wanita ini, Gerald baru menyadari kenapa Camelia bersikap aneh.
Gerald mengendarkan pandangannya ke sekeliling, begitu melihat botol anggur tergeletak di lantai, ia mengembuskan napas.
"Kau mabuk."
Keadaannya sudah sangat tidak terduga. itu bertambah buruk saat Gerald baru menyadari kalau pintu kamarnya sedang terbuka.
Gerald semakin gelisah. Seketika ia tidak bisa memikirkan hal lain selain pergi menutup pintu itu. Ia berusaha meraih gagang pintu, tetapi Camelia tidak mau melepasnya.
"Hiks... Kau mau ke mana? Jangan tinggalkan aku!"
Gerald menutup matanya frustasi.
"Lepaskan aku dulu."
"Tidak mau. Kalau kulepaskan, kau pasti akan meninggalkanku."
Kegelisahan Gerald bertambah. Bagaimana jika ada yang memasuki kamarnya?
"Baiklah, baiklah, lepaskan aku dulu. Aku tidak akan pergi."
Pelukan Camelia semakin erat. "Bohong."
Kehabisan akal, Gerald tidak tahu lagi harus melakukan apa. "Aku berjanji. Aku hanya akan pergi penutup pintu. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Mendengar ini Camelia tiba-tiba mendongak menatap Gerald. Senyuman jahat terbit di wajahnya. "Kenapa kita harus menutup pintu? Apa kau ...."
"Tidak!" Gerald akhirnya menahan pundak Camelia. "Tunggu sebentar, aku hanya akan menutup pintu."
Camelia masih dengan senyuman itu, tetapi ia mulai patuh. Walaupun begitu, ia tidak membiarkan Gerald begitu saja. Camelia mengekor di belakangnya.
Begitu pintu berhasil ditutup, Camelia langsung memeluk pria itu. Gerald bahkan belum siap. Tekanan yang diberikan Camelia membuat Gerald yang tidak waspada hanya bisa pasrah tubuhnya terhimpit di dinding.
"Jangan pergi lagi." Camelia kembali merengek.
"Kenapa kau minum kalau kau bahkan tidak sanggup menahannya." Gerald mengusap wajahnya. "Wanita menyebalkan ini!"
Camelia tiba-tiba mengeluarkan suara tangisan. "Aku kedinginan. Kenapa udaranya sangat dingin!" Masih menempel di tubuh Gerald, Camelia kembali merengek. "Tidak adil, tubuhmu sangat hangat. Kenapa kau tidak membiarkan aku memelukmu lebih lama? Aku sungguh kedinginan."
Anehnya Gerald tiba-tiba tertegun.
Ia baru menyadari kulit wajah Camelia yang menyentuh lehernya memang sangat dingin.
Gerald hanya diam mendengarkan Camelia menangis. Sampai pada napas Camelia mulai teratur, Gerald baru berani meliriknya.
Dia tertidur?
Mata Gerald kemudian bergerak untuk menatap Camelia. Kewaspadaan pria itu perlahan memudar.
Kenapa tubuhnya dingin sekali?
Tanpa sadar Gerald meletakkan tangannya di puncak kepala wanita itu. Gerald memejamkan matanya lalu tangannya mulai bergerak membelai rambut Camelia.
...•••••...
"Bagaimana keadaannya?"
Camelia sudah dipindahkan di ruangan sebelumnya. Tirian, Gerald serta seorang tabib berdiri di sisi ranjang.
"Dia seharusnya sudah baik-baik saja." Sang tabib menjawab. "Sekarang dia sedang tidur karena pengaruh anggur yang diminumnya. Sebentar lagi dia akan segera bangun."
"Dia mungkin sangat kedinginan dan menggunakan anggur untuk menghangatkan tubuhnya. Tapi dia tidak mengukur kemampuannya sendiri." Sudut bibir Tirian sedikit ditarik saat ia mengatakannya.
Mendengar kata dingin yang diucapkan, Gerald menoleh melihat sang kakak. Awalnya ia ragu, tetapi Gerald akhirnya mengungkapkan kegelisahannya.
"Kenapa suhu tubuhnya masih saja rendah?"
__ADS_1
Tirian juga baru menyadari. Kedua Kakak beradik itu menoleh menunggu jawaban.
Raut sang tabib sedikit gelisah. "Ampun Tuan. Mengenai kondisi suhu tubuhnya saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Saya sudah membuat ramuan bahkan meminta pil mujarab dari Pyrgos tapi itu sama sekali tidak bereaksi."
"Apa karena pengaruh cuaca yang memang sedang turun salju?"
Sang tabib menggeleng. "Keadaan ini bukan pengaruh dari luar, tetapi berasal dari dalam tubuhnya. Maaf Tuan, saya benar-benar tidak bisa memberi penjelasan. Kondisi Nona ini benar-benar langka."
"Masuk akal," Tirian menanggapi. "Jika hanya karena lingkungan, seharusnya dengan pakaian tebal dan penghangat ruangan yang ada Camelia tidak seharusnya begitu menderita. Seperti yang kau katakan, tubuhnya memang bermasalah."
Gerald biasanya tidak peduli, tetapi kali ini ia tetap berdiam di sana dan ikut mendengarkan. Gerald bahkan menunggu penjelasan tabib berikutnya.
"Benar Tuan. Karena dia seorang amagine, sangat wajar jika fisiknya lemah. Namun, ini terlalu berlebihan. Apa Ratu sudah menjelaskan bagaimana asal-usul Nona ini? Kita mungkin bisa menemukan akar masalahnya dari sana."
"Asal-usul?" Tirian mengulang kata itu, tetapi raut wajahnya tidak berlebihan. Sebaliknya, Gerald merasa sangat penasaran.
Ada apa sebenarnya?
...•••••...
Salju di jalanan sudah mulai tebal, tetapi Aletta dengan kukuh melawan rasa dingin. Ia merapatkan jubahnya. Seperti biasa, ia menuju ke rumah Malfoy.
Ubin rumah pria yang dituju bahkan belum ia lihat, tetapi kesatria yang biasa ia temui sudah melewatinya di jalanan ini. Aletta keheranan. Apa kasusnya sudah terungkap? Atau mereka ini sedang berganti shift?
Tidak ingin menderita penasaran, Aletta menahan salah seorang kesatria yang ia kenal untuk memberinya beberapa pertanyaan. Aron berada di antara orang-orang itu. Namun Aletta menghentikan langkahnya sebelum sampai di sana. Gestur Aron yang menghindarinya sangat jelas bisa Aletta baca. Namun, biarlah. Aletta masih kehilangan wajah untuk mengahadap sang pujaan itu!
"Kalian mau ke mana? Apa tugas kalian sudah selesai?" Aletta bertanya pada seorang kesatria yang ia kenal.
Wajah kesatria itu begitu sumringah saat menjawab pertanyaanya.
"Nona Aletta tidak perlu membawakan kami minuman lagi. Kami sudah bebas tugas."
"Bebas tugas? Kenapa? Pelakunya sudah ditemukan?"
"Benar Nona. Dia dari Klan Agrios. Panglima Ramos sudah mengabarkan kalau Tuan Tirian sendiri yang meminta kepada Ratu Serafina agar pelakunya dihukum oleh mereka. Jadi kami bisa kembali untuk istirahat.
"Oh begitu? Dari klan Agrios? Tapi siapa?"
...•••••...
"Alaric."
"Alaric?"
"Aneh bukan? Aku baru meninggalkannya sebentar, tapi saat aku kembali, aku sudah tidak menemukan keberadaannya. Awalnya aku mengira dia melarikan diri, siapa yang tahu kalau dia sudah menghadap Tuan Kenan untuk menyerahkan diri."
"Apa yang kalian bahas?" Camelia muncul entah dari mana langsung menerobos pembahasan Gerald dan Sean. Wanita itu sudah sadar beberapa jam lalu.
Ujung mata Gerald berkedut mengingat kejadian itu, tapi ia lebih syok memikirkan sikap wanita ini. Bagaimana Camelia masih bersikap biasa saja setelah sebelumnya ia memanjat di tubuhnya? Apa Camelia tidak merasa malu bertemu dengannya?
Gerald mengabaikan ucapan wanita itu dan hanya melanjutkan. "Kakakku sudah tahu?"
Sean mengangguk.
Situasinya sebenarnya agak aneh. Tirian seharusnya bisa mengatakan di awal kalau memang Alaric adalah pelakunya. Namun, Tirian tidak melakukannya. Itu artinya Alaric belum tentu tersangka sebenarnya. Namun, pria itu secara tiba-tiba sudah menyerahkan diri, Gerald benar-benar tidak bisa yakin sebelum memastikannya langsung.
"Kita ke rumah Tuan Kenan sekarang."
Melihat mereka tiba-tiba pergi, tentu saja Camelia tidak akan tinggal diam.
"Aku ikut."
Sean tidak yakin ia punya wewenang untuk mengiyakan, jadi ia hanya diam menunggu reaksi Gerald. Sean malah sudah menebak kalau Camelia akan diabaikan. Siapa sangka Gerald malah berhenti dan berbalik.
"Tidak bisa. Tubuhmu masih belum pulih."
Kalimat itu jelas-jelas sebuah penolakan, tapi anehnya Camelia malah tersenyum.
Biasanya dia akan menolak tanpa alasan, tapi jawabannya ini ....
__ADS_1
Camelia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Mengabaikan tatapan keduanya, Camelia berjalan lebih dulu lalu menarik tangan Gerald.
"Ayo berangkat!"