
Di masa lalu elang milik Alpha Samuel adalah raja burung yang paling ditakuti. Ia mendapat tugas khusus untuk menjaga wilayah sebelah barat Zoeearth, yang mana itu adalah tanah yang berbatasan langsung dengan Death Valley. Bisa dikatakan, ia adalah kesatria udara yang paling ditakuti.
"Mereka mungkin sudah punah sekarang, tapi aku yakin suatu saat nanti kalian bisa melihat pemandangan itu juga." Niles yang sedang menjelaskan menerawang, seulas senyum terbit di wajahnya.
Dua pelayan yang berstatus amagine tampak tidak berdaya di bawah tatapan Niles, duduk manis menjadi pendengar seolah ikut menikmati setiap kata yang anak itu sebutkan.
Salah satu dari mereka mungkin memang benar-benar mendengarkan dengan baik. Matanya langsung berbinar saat menanyakan kebenaran ucapan itu.
"Aku belum pernah melihat elang. Mereka pasti sangat gagah."
Niles tersenyum dan mengangguk. "Apa kalian pernah melihat wujud asliku?"
Dua pelayan itu tampak ragu, tetapi Niles pada akhirnya tidak memberi celah untuk keduanya menjawab. Ia berdiri dalam posisi tegak dan menongka kedua tangannya di pinggang.
"Tetap ingat aku, karena di masa depan kalian akan melihat keganasan seekor elang melalui diriku."
Tepat ucapan itu selesai, salah satu pelayan berusaha menahan batuk yang ingin keluar sementara satu lainnya berpikir dalam kebingungan. Masih dengan wajah polosnya ia tiba-tiba berkata. "Apa burung hantu bisa berevolusi menjadi elang?"
Burung hantu?
Keangkuhan Niles langsung jatuh. Dendamnya pada serigala yang sudah berusaha ia kubur kembali muncul.
Apa falkon yang kehilangan bulu ekor benar-benar terlihat seperti burung hantu?!
Setelah menggumamkan nama Gerald dengan gigi terkatup, Niles memandang pelayan yang baru berbicara.
"Kau masih ingin bekerja dengan Tuan Tirian? Cepat pergi dari hadapanku!"
...••••••...
Rumah Tirian yang tinggi dan besar dikelilingi halaman yang luas. Di sampingnya berdiri bagunan dengan dinding beton tanpa atap sebagai tempat yang disediakan untuk pelatihan.
Saat ini Niles sedang merenung di pintu masuk sembari memikirkan nasip ekornya. Bulu-bulu itu sedang dalam masa pertumbuhan. Walaupun memang akan kembali untuh pada akhirnya, tapi siapa yang bisa menghapus ingatan orang-orang yang lebih dulu melihatnya. Apa Niles masih harus bersyukur karena tidak ada yang menyebutnya ayam?
Semakin memikirkannya membuat ia bertambah kesal. Namun, semua itu menjadi lebur saat seorang gadis melangkah dari gerbang.
Juntaian kepang rambut rose gold di sana menyita perhatiannya. Tubuh yang tadinya lesu seketika menegak.
Tanpa sadar kakinya melangkah.
"Permisi, kau menghalangi jalan."
"Oh?" Niles menyisir rambutnya ke belakang. Badannya dibentuk setegap mungkin. Lalu dalam kepercayaan diri yang tidak terukur, dia mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan, aku Niles." Senyum itu tanpa keraguan. Tentu ia tidak mengharapkan penolakan. Namun, keberuntungan tidak memihaknya kali ini.
"Fiola." Gadis itu hanya memandang tangan Niles yang menggantung. Ia lalu melanjutkan, "tapi maaf tanganku penuh."
Ekspresi Niles berubah dengan halus. Ia menarik tangannya dan mencoba tetap profesional.
"Biasanya bukan kau yang mengantarkan pil." Niles melihat kotak di tangan Fiola.
Fiola turut menunduk. "Benar, aku kebetulan bekerja di Pyrgos, jadi mulai sekarang ini menjadi tanggung jawabku. Di mana Tuan Tirian?"
"Itu bagus."
__ADS_1
"Hah?"
"Eh?"
"Aku ingin bertemu Tuan Tirian. Bisa kau minggir?"
"Oh tentu."
Melihat kepergian Fiola, Niles merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
Dalam kesendiriannya itu, ia mulai merenungkan apa yang baru ia lihat. Rambut rose gold dan bulu mata lentik itu jika dilihat dari dekat ... Niles tiba-tiba membayangkan bulu indah phoenix.
Melupakan kriteria yang pernah ia sebutkan, Niles membatin, wujud aslinya pasti sangat cantik.
...••••••...
Gerald melangkah ke ruangan yang ia ingat sebagai tempat ia mendapatkan penglihatan. Ia menyentuh dinding kayu itu, ingin memeriksa opininya. Lalu saat tidak terjadi apa-apa, ia mulai ragu dengan kemampuan melihat sesuatu hanya dengan menyentuh.
Camelia masih bersamanya, memperhatikan tingkah laku Gerald yang tengah mengabsen setiap sudut rumah Nory. Satu pemikiran muncul di kepalanya. Tanpa ragu ia melangkah ke arah Gerald lalu menyentuh lengan pria itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Mengisi energi.
"Tidak, tadi ada nyamuk."
Camelia segera mengambil jarak sebelum mendapat amukan lebih. Ia mengamati Gerald yang kembali fokus ke sekitar.
Orang ini benar-benar barang bagus. Hanya menyentuhnya sebentar energiku langsung terisi penuh?!
Apa dia yang dikirim semesta untuk membantu mengembalikan kecacatanku?
Camelia mengangguk. Dia harus menjadi milikku.
Camelia mulai kembali mendekat.
"Ekhem, karena kau sudah menolongku, aku akan berbaik hati menawarkan untuk kau menjadi temanku. Jadi siapa namamu?"
Menjadi teman, Camelia kembali membatin. Tentu, dia akan terkejut kalau aku langsung menyinggung tentang jodoh. Kita harus memulai dari hubungan yang paling dasar.
Sayangnya bahkan waktu berpikirnya telah habis, ia masih belum menemukan jawaban.
"Baiklah," ucap Camelia pada akhirnya. "Nama tidak penting. Aku bisa memanggilmu 'Hei', 'Kau' atau 'Kuc—"
Belum sempat Camelia menyelesaikan ucapannya, bunyi pintu mengalihkan perhatian keduanya.
Seorang anak perempuan masuk dengan wajah tertunduk. Camelia menilai sedikit penampilannya. Pakaian yang dikenakan ini sangat bersih dari yang terakhir ia lihat. Semua tampak baik-baik saja kecuali tulang pipi anak itu yang terlihat menonjol.
Nory mematung ketika melihat ada dua orang di rumahnya. Anak itu mundur perlahan, wajahnya datar. Mulutnya terkatup rapat.
Camelia menoleh pada Gerald sebelum berjalan menghampiri anak itu.
Dengan jarak yang dekat, Camelia baru menyadari jika anak itu sangat kurus. Sebaik apa pun ia dibalut dengan pakaian baru, sosok itu tetap terlihat menyedihkan dengan lingkar mata yang dalam.
"Nory? Kau dari mana?"
__ADS_1
Pertanyaan Camelia mendapat pelototan sebagai jawaban. Tampak jelas jika Nory sangat ketakutan. Gerald mendekat setelah beberapa saat. Ia melihat tangan Nory menggenggam erat sesuatu, sangat erat sampai buku jarinya yang kecil itu mencuat seluruhnya.
Camelia baru menyadari itu setelahnya. Ia meraih tangan Nory untuk melihat apa yang ada di sana. Itu hanya perlu terbuka sedikit untuk Camelia sadari bahwa lagi-lagi Nory menggenggam sebuah replika witchstone.
"Dia ketakutan."
Camelia menoleh untuk melihat Gerald.
"Aku tidak menggertaknya. Sungguh."
Gerald sudah memiliki pemikiran buruk sejak ia mendapatkan penglihatan itu. Lalu melihat ketakutan anak ini, Gerald merasa ada sesuatu yang tidak benar telah terjadi pada orang-orang di rumah ini. Dengan pemikiran itu, tangan Gerald terulur untuk menyentuh Nory.
Melihat itu Camelia tidak berpikir tentang sesuatu yang baik, jadi ia menahan tangan Gerald yang lain, khawatir ia akan melakukan tindakan tak dinginkan.
"Apa yang kau laku—"
Tepat saat tangan Gerald menyentuh puncak kepala anak itu, Camelia terkejut melihat Gerald tiba-tiba jatuh terpejam.
...•••••••...
Gerald kembali tersentak oleh rasa kejut listrik yang tiba-tiba. Ia tidak tahu bagaimana, tapi saat ini ia melihat Nory berjalan-jalan dengan seseorang menggenggam tangannya. Mereka berhenti di sebuah toko, lalu saat mereka keluar, Nory telah berganti pakaian dengan yang lebih baru dan sebelah tangannya menggenggam sekantong manisan.
Saat Gerald berkedip pemandangan itu telah berganti dengan sebuah ruangan kayu yang tampak familier. Di sana Nory tiba-tiba di dorong hingga jatuh ke lantai. Pemandangan berikutnya adalah sesuatu yang tidak sanggup untuk ia lihat.
Pakaian yang tadinya melekat di tubuh mungil itu hilang entah ke mana. Mata Nory memerah oleh air mata. Adegan demi adegan tergambar tanpa bisa ia tepis. Gerald merasa sesuatu di perutnya bergejolak ingin dikeluarkan. Pemandangan itu sungguh menjijikkan. Bagaimana tangan besar itu mengabsen setiap inci tubuh kecil Nory ....
Hingga sampai pada ambang batas ketahanannya, Gerald tersentak lalu membuka mata.
"Ada apa?"
Kerutan di wajah Camelia menyambutnya. Gerald bangkit untuk mencari keberadaan Nory, tapi anak itu sudah tidak ada di tempat
"Dia sudah pergi," suara Camelia menghentikan keresahan Gerald. Pria itu tiba-tiba mematung dengan pandangan kosong. Setelah jeda waktu yang lama, Camelia mendengar suara dingin Gerald memecah kesunyian.
"Kematian terlalu ringan untuk menghukum kebejatan orang ini!"
...••••••...
Camelia lagi-lagi ditinggalkan sendirian. Nory dengan wajah pucatnya, sementara Gerald dengan raut marah atau entah apa.
Setelah mengingat lagi ucapan Gerald, Camelia kembali dilanda kebingungan kosong. Ketika tidak tahu harus mencari jawaban ke mana, ia tiba-tiba teringat nama seseorang.
Alaric?
Camelia bergegas untuk pergi. Namun, baru saja ia sampai di depan pintu, sesuatu berwarna kuning yang terbang seperti kupu-kupu bergerak mendekat ke arahnya. Ia lantas berhenti untuk mengulurkan tangan.
Setelah replika kupu-kupu itu kaku di tangannya, Camelia mengambil dan membuka lipatan-lipatan itu hingga yang tersisa hanya kertas dengan satu bait tulisan di dalamnya. Rupanya pengirimnya adalah Aron. Ekspresi Camelia yang lurus langsung berubah begitu membaca isinya.
...Cepat kembali, pelaku penculikan sudah ditemukan....
"Sudah ditemukan?" Alis Camelia nyaris bertaut. "Aku bahkan belum bekerja lebih keras."
Aneh, seharusnya tidak semudah ini, kan?
...••••••...
__ADS_1