The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 31


__ADS_3

"Dia kesatria amagine. Apa yang membuatnya seperti ini?"


Sementara Gerald berusaha menenangkan kesatria itu, Camelia mengais tas untuk mencari tali.


Kesatria tadi tidak lagi memberontak setelah Gerald memukul pundaknya. Camelia memberikan tali yang ia temukan.


"Cepat ikat."


Wajah kesatria itu memucat dengan warna hitam menghiasi sekeliling matanya. Ada urat gelap yang mencuat di sekitar leher hingga naik ke atas.


Camelia langsung mengambil dua kertas dan bergumam di depannya. Ia menyebutkan nama Lea dan Aron pada kertas yang berbeda sebelum akhirnya melipat keduanya menjadi kupu-kupu lalu menerbangkannya.


"Aku tidak pernah melihat kondisi orang dengan gejala seperti ini. Kau pernah?" Camelia bertanya pada Gerald yang dijawab dengan gelengan.


"Hati-hati." Wajah Camelia terlalu dekat saat ia mengamati kesatria itu. Jadi Gerald mengingatkannya.


Siapa sangka orang yang mereka kira pingsan tiba-tiba kembali mengamuk. Wajah Camelia memang dekat, tapi posisinya agak jauh karena ia hanya menunduk. Gerald yang tadi mengikat tangannya justru masih duduk di depan kesatria itu. Gerald bisa saja menghindar saat mulut sang kesatria tiba-tiba membuka untuk menjadikannya target.


Namun Camelia dalam pikiran pendeknya langsung menyodorkan lengannya hingga ia yang tergigit.


"Akh!!!"


Itu terlalu mengejutkan. Gerald yang refleksnya cepat bahkan membutuhkan waktu sebelum menarik paksa kepala kesatria menjauh. Karena tidak kunjung diam, Gerald memasukan segumpal kain untuk memblokir mulutnya yang terus menganga.


"Apa dia hewan? Kenapa dia sangat suka menggigit?!" Camelia meraung dalam kesakitan. Kondisi tubuhnya sudah tidak baik, gigitan ini malah memperburuk. Tidak sampai membuat darah mengalir deras, tapi jejak yang ditinggalkan telah mengekpos kulit dalamnya.


Beruntung lima orang kesatria lain sudah datang membantu. Gerald akhirnya punya kesempatan untuk beralih ke tangan Camelia.


"Kau tidak apa-apa?"


"Kau tidak lihat aku digigit?!" Camelia meradang.


Bekas gigitan itu tampak tidak terlalu buruk. Namun, karena Camelia sampai mengeluh kesakitan, Gerald menjadi ragu jika itu tidak akan menularkan sesuatu yang berbahaya.


Gerald menoleh pada kesatria yang baru tiba. "Kenapa dia seperti ini?"


Lima orang itu menggeleng. "Kami tidak tahu. Beberapa hari dia tampak tidak sehat lalu saat bangun tadi dia sudah bersikap aneh."


"Pergi dan periksa. Dia mungkin terinfeksi virus hewan."


Sementara para kesatria membawa temannya pergi, Gerald mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jubahnya. Ia mengoleskan cairan hijau itu pada luka Camelia. "Kenapa kau menyerahkan tanganmu untuk digigit?"


Ringisan Camelia tertahan karena marah. "Aku melindungimu bo—" Orang ini benar-benar— "Lihat...Aku sampai harus merelakan tanganku. Apa sekarang kau masih mempertanyakan ketulusanku?"

__ADS_1


Gerald tentu saja masih tidak percaya dengan pengakuan wanita ini. Namun, apa yang baru saja ia lihat menggerakkan pikirannya untuk mempertanyakan kembali semua itu.


Dia sungguh menyukaiku?


Gerald mempercepat balutan kain di luka Camelia lalu segera menjauh.


"Aku sudah mengoleskan eliksir, lukamu akan segera sembuh. Jangan lakukan itu lagi, aku tidak memintamu melindungiku."


Camelia membuang muka. Cih, dia bahkan tidak berterima kasih.


"Kakimu harusnya tidak apa-apa. Cepat berdiri kita harus melanjutkan pencarian"


Setelah mengatakan itu, Gerald sudah melangkah pergi.


Tatapan Camelia menunjukkan ketidaksukaan. "Kalau saja aku tidak memikirkan sumber energiku, aku tidak akan mengorbankan diri. Dasar pria tidak berperasaan."


Luka di lengannya sedikit berdenyut, tetapi itu tertutupi oleh rasa dingin. Tidak ada yang menyadari bahkan Camelia yang baru saja berdiri, kalau pada sebuah pohon yang tidak jauh darinya seekor burung yang bertengger sejak tadi baru saja terbang meninggalkan tempatnya.


...•••••...


Gerald memang mengatakan mereka akan mencari Nory. Namun, Camelia tidak tahu jika arti mencari seseorang dilakukan dengan tanpa perlu mampir untuk bertanya.


"Menurutku sampai musim berikutnya kita tidak akan menemukan anak itu."


Gerald yang berjalan di sisinya memasang wajah serius. "Kenapa bisa?"


Setelah susah payah menyeret kaki, mereka akhirnya menemukan kehidupan.


Hiruk pikuk jantung Kota Fordland menyuguhkan keramaian. Itu bukan apa-apa andai Camelia menemukan pemandangan itu di cuaca yang tidak sedingin ini. Lalu ia tidak lagi mengherankan setelah mengetahui mereka memasuki area pasar.


"Mungkin hanya aku di sini yang terganggu. Dingin dan bertahan hidup jelas sesuatu yang berbeda."


Antara gigil di bibirnya dan denyut perih di lengannya, Camelia tidak tahu mana yang harus ia pedulikan. Ia lalu menjatuhkan pilihan pada sebuah kedai untuk pergi menyesap minuman hangat. Keberadaan Gerald tidak lagi ia pedulikan. Camelia bisa mencari dua orang sekaligus jika staminanya kembali terisi. Itu yang paling penting.


Aroma herbal jahe menyatu dengan rasa manis teh di dalam mulut. Camelia meminumnya dengan membiarkan mulut gelas menempel lama di bibir. Sensasi hangat yang menjalar dari tenggorokan hingga ke perut, tidak ada yang lebih baik dari ini sekarang. Namun, kesenangannya sedikit terusik oleh teriakan yang tiba-tiba menggelar. Bersamaan dengan itu suasana menjadi gaduh saat seseorang bertubuh mungil berlari membelah kerumunan.


"Tangkap anak itu!"


Camelia pergi untuk melihat, tetapi ia disambut pemandangan yang sangat kacau. Gerobak jerami menjatuhkan beberapa ikat muatannya sementara seorang pria tua di sampingnya baru saja bangkit dan membersihkan sikunya. Tidak sampai di situ, dua keranjang buah jatuh terbalik, jeruk dan apel menggelinding ke segala arah.


Teriakan cempreng seorang wanita tua menambah keriuhan. Ia menunjuk beberapa pecahan keramik yang berserakan di tanah sembari mencari siapa yang akan bertanggung jawab.


"Serahkan anak itu! Pencuri kecil, aku harus memberinya pelajaran!"

__ADS_1


Camelia akhirnya tahu siapa yang sedari tadi berteriak. Pria paruh baya bertubuh bongsor yang baru muncul itu terlihat sangat marah. Kerumunan orang menutup pandangan Camelia. Ia berusaha melihat dengan siapa pria di sana berbicara. Saat itulah Camelia menyadari Gerald sedang berdiri di tengah-tengah dengan menahan seorang anak kecil di sampingnya.


Camelia harus menunggu untuk orang-orang memberi celah baru ia bisa mengenali siapa dalang pembuat onar itu. Anak yang tengah Gerald tahan di sisinya, Camelia mengenalinya.


"Nory?"


Dengan itu Camelia memaksakan menghampiri mereka.


"Aku mengenal anak ini. Biarkan aku yang mengurusnya."


Mendengar penuturan Gerald, pria itu kontan meludah.


"Kau pikir dia bisa kabur begitu saja? Aku setidaknya harus memotong tangannya karena berani mencuri daganganku!"


Mulut besar pria itu terlalu berani digunakan pada anak-anak, pikir Camelia.


Ia menunduk untuk menilai Nory. Tubuh anak perempuan itu gemetar dengan pandangan tertunduk. Wajah dan pakaiannya dipenuhi noda. Jika terakhir kali Camelia menilai tubuh mungilnya dengan kata kurus, Camelia akan mengatakan kali ini Nory tak lebih dari kulit yang terbungkus tulang. Hal berbeda lainnya, kali ini Camelia tidak melihat adanya replika witchstone bersamanya.


"Pegang dia." Gerald berkata sembari melempar satu kantung koin kepada pria di seberangnya. "Seharusnya itu cukup?"


Melihat pria itu tidak protes dan pergi, Gerald beralih pada wanita tua yang memungut serpihan keramik. "Maaf membuat danggangan Anda rusak. Terima ini."


Wanita tua merampas kantung yang Gerald berikan. Tanpa berterima kasih, ia kembali mengurus barangnya.


Melihat aksi Gerald ini Camelia langsung bergumam, "Dia cukup kaya dan murah hati."


Camelia lalu beralih pada Nory. Ia memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang anak itu sembunyikan sedari tadi di tangannya. Alisnya langsung mengerut.


"Hanya dua buah roti kukus?" Camelia melirik dengan sinis pada tempat pria sebelumnya berdiri. "Dia berani mengatakan memotong tangan seseorang hanya untuk makanan ini?"


Camelia mengusap pelan puncak kelapa Nory dan membersihkan wajahnya. "Kau tidak perlu takut. Kau lihat Paman di sana...." Ia menunjuk Gerald. "Di masa depan kita akan ikut dengannya. Dia punya banyak uang. Kita tidak akan kekurangan makanan."


Nory hanya menyembunyikan roti kukus itu sebagai reaksi.


Camelia melanjutkan, "Jangan takut. Kami teman Paman Alaric. Di mana kau tinggal?"


Mendengar nama itu disebutkan mata Nory sedikit melebar. Tanpa diduga ia mundur lalu berbalik dan lari.


"Eh tunggu!"


Gerald tiba di sampingnya, jadi alih-alih mengejar Camelia malah menghadapnya dan melapor.


"Aku hanya menyebut nama Alaric tapi dia langsung kabur."

__ADS_1


"Kau tidak mengejarnya?"


"Ah iya."


__ADS_2