The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 24


__ADS_3

Mentari belum sampai di puncak ketika Gerald berjalan di sekitar rumah Malfoy. Rumah itu sudah penuh oleh kerumunan orang sejak semalam. Kasus pembunuhan tidak terduga itu terjadi saat semua orang berpesta di Padang Savier. Kendati demikian kabar seperti ini selalu mendapat minat banyak orang. Beberapa yang berasal dari Troas bahkan langsung meninggalkan perayaan festival hanya untuk memastikan kebenaran dari insiden itu.


Beberapa kesatria juga berada di sana. Gerald mendekat pada salah satu kerumunan, menguping pembicaraan mereka.


"Siapa yang membunuh Tuan Malfoy. Dia adalah orang baik tidak seharusnya memiliki musuh." Seorang wanita berkata, raut wajahnya penuh dengan rasa kasihan, masih tidak percaya dengan semua yang terjadi.


"Itu sangat mengerikan, aku melihat mayatnya ...t-terlalu banyak darah. Seluruh keluarganya dibantai." Wanita lain ikut menanggapi.


Rekan di sebelah memandang dengan ngeri. "Jadi tidak ada satu pun yang tersisa?"


Wanita yang mengaku melihat secara langsung bagaimana mayat-mayat tergeletak, mengangguk mengiyakan. "Pembunuh itu bahkan tidak mengasihani anak kecil, semua anak asuh Tua Malfoy juga dibunuh."


Salah satu di antara kerumunan menampakkan raut terkejut. "Nory yang malang. Dia sudah lama ditinggalkan kedua orang tuanya. Aku pikir setelah dirawat oleh Tuan Malfoy, hidupnya akan menjadi lebih baik. Ternyata dia malah ikut terbunuh."


Wanita lain tiba-tiba menggeleng, dia ibu Luca, tetangga Nory. Ia yang pertama mengungkapkan kasus ini. "Tidak tidak. Nory tidak ada di antara mayat itu. Semua yang mati hanyalah anak laki-laki."


"Benarkah?"


Gerald yang berdiri tidak jauh dari sana pada awalnya hanya mendengarkan. Indentitas tentang Tuan Malfoy yang disebutkan ini masih agak buram. Sampai salah satu di antara wanita itu menyebutkan nama Nory, Gerald mengingat potongan memori yang hampir ia lupakan.


"Aku tahu banyak tentang Nory. Beri aku koin."


"Luca, anak kecil itu pernah menyebutkan sesuatu tentang Nory dan pria bernama Malfoy ini...." Gerald bergumam. Ucapan Luca hari itu mengisi pikirannya.


"Dia kotor ... dia merayu Tuan Malfoy!"


"Dia tidur dengan tuan Malfoy!"


Dengan pikirannya ini, Gerald mendekat ke kerumunan. Para wanita itu menoleh dengan heran kepadanya. Gerald merapatkan penutup kepalanya dan mulai bertanya. "Apa kalian yakin Tuan Malfoy tidak memiliki musuh?"


Ada jeda sesaat sebelum seseorang di antara mereka mulai menjawab.


"Tidak, aku yakin Tuan Malfoy orang baik. Dia sering berbagi makanan kepada kami. Tuan Malfoy bahkan merawat beberapa anak yang tidak lagi memiliki orang tua."


Semua orang di sana menunjukkan raut persetujuan. Namun, Gerald masih menyimpan banyak keraguan.


"Kalian mencurigai seseorang?"


Beberapa dari mereka hanya menggeleng sebagai jawaban, sementara dua lainnya menjawab dengan ragu. "Mungkinkah mereka perampok yang ingin mencuri harta Tuan Malfoy?"


Gerald tiba-tiba teringat tentang Alaric. Beberapa waktu lalu pria itu sempat mengikuti Nory dan Malfoy. Entah apa tujuannya, tetapi Gerald langsung memiliki pemikiran buruk tentang ini.


Apa Alaric terlibat?


Ucapan-ucapan di sekitar memutus lamunan Gerald.


"Benar. Pelakunya pasti lebih dari satu orang. Mereka membunuh Tuan Malfoy dan keluarganya lalu mencuri hartanya."


"Ya, apa lagi yang mereka cari. Mereka datang untuk mencuri."


Gerald agak ragu dengan ucapan itu. Namun saat ia akan kembali bertanya, sebuah suara dari seseorang yang membela kerumunan segera memutus niatnya.


"Kami sudah menyisir seluruh rumah korban, tidak ada barang hilang."


Itu Aron, ia menatap Gerald cukup lama sebelum beralih pada wanita-wanita itu.


"Siapa di antara kalian yang menemukan mayatnya?"

__ADS_1


Ibu Luca mengangkat tangan. "Aku."


Wajah tenang Aron menatapnya. "Apa yang kau lihat saat itu, jelaskan bagaimana kau bisa mengetahui ada insiden ini di rumah korban."


Raut wajah ibu Luca berubah dengan cepat. "A-aku. Malam itu aku tidak jadi pergi ke Padang Savier karena anakku, Luca, terserang demam. Aku keluar untuk mencari obat. Namun, semua orang tidak ada di rumah. Aku tidak tahu akan meminta bantuan kepada siapa, lalu saat aku lewat di rumah Tuan Malfoy. Aku melihat lampu mereka menyala dan pintunya tidak ditutup. S-saat aku masuk ... a-aku melihat potongan tubuh berserakan di mana-mana. Lantainya dipenuhi darah. "


Cerita ini sudah mereka dengar, tetapi wanita-wanita itu meringis dengan ngeri saat mendengar sekali lagi. Aron tidak menampakkan reaksi berarti, sepertinya ia juga sudah mendengarnya sebelumnya. Aron dengan santai kembali berkata, "Seperti yang kau katakan, pembunuhan ini terlalu brutal. Korban tidak hanya kehilangan nyawa tapi tubuhnya dipotong hingga beberapa bagian."


Aron menjeda ucapannya sebelum akhirnya melanjutkan. "Yang ingin aku katakan adalah jika pelaku hanya ingin mencuri harta korban, mereka tidak harus menyusahkan diri dengan memotong tubuh-tubuh itu. Bukankah seharusnya mereka hanya perlu mengambil barang berharga dan pergi? Mereka tidak berniat mencuri harta, pembunuhan ini tampak sudah direncanakan. Dendam yang ditujukan kepada korban."


"Tapi siapa yang menaruh dendam pada Tuan Malfoy?"


Bisikan-bisikan terdengar dari para wanita. Aron mengabaikan dan kembali bertanya. "Aku mendengar Tuan Malfoy ini merawat seorang anak perempuan. Dari hasil pencarian kami, tidak ada anak itu di antara para korban. Kalian tahu ke mana perginya dia?"


Pada saat ini Aron menatap wajah Gerald.


"Tidak, sampai saat ini tidak ada yang melihat Nory."


Aron sudah mendengarnya, tetapi tidak lagi peduli. Pandangannya masih menghadap Gerald, ia berkata, "Kau terlihat asing, tetapi sepertinya kau peduli dengan kasus ini."


Gerald mengangkat kepalanya dan balas menatap Aron.


"Ini adalah kasus yang tidak biasa. Korban dibunuh secara brutal. Siapa pun akan tertarik untuk datang melihat. Kau cukup lanjutkan tugasmu. Tidak harus peduli pada orang lewat sepertiku."


Raut wajah Aron berubah dengan halus. Namun, ia hanya membiarkan saat Gerald melewatinya.


...••••••...


Di kediamannya, Tirian berdiri memandang ke luar jendela, menatap puncak pohon yang sudah berwarna putih. Salju akhirnya turun.


"Tuan..."


Hanya ketika seseorang datang menghadapnya, Tirian baru mengalihkan pandangannya.


"Bagaimana? apa dia sudah sadar?"


Sosok yang memakai pakaian putih itu menunduk penuh penyesalan. "Ampun Tuan. Kondisinya sudah lebih baik, tapi dia belum sadar."


Tirian memejamkan matanya sesaat. "Kau boleh pergi."


...••••••...


Tirian memandang sosok wanita yang terpejam di ranjang. Pikirannya berkelana pada malam festival musim gugur.


Telunjuknya menggeser anak rambut yang menghalangi wajah Camelia. Dia berkata,


"Malam itu dia terlihat begitu kuat bahkan berani menantangku. Gerald tidak memberi penyerangan berlebihan, tapi kenapa dia tiba-tiba pingsan?"


Tirian lalu beralih pada tangan Camelia, menggenggamnya dengan hati-hati.


"Dingin sekali."


Saat Tirian baru menaikkan selimut yang menutupi tubuh itu, seseorang masuk dan berlutut tidak jauh darinya. Paham siapa yang datang, Tirian sudah lebih dulu berbicara. "Kau sudah mengirim pesan pada Gerald? Apa dia sudah datang?"


Bawahan itu mengangguk, tetapi kemudian menggeleng.


"Sudah Tuan. Tapi Tuan Muda belum tiba."

__ADS_1


Tirian melepas pegangannya. "Jadi siapa yang datang?"


Sebelum bawahan itu menjawab, seorang wanita sudah berjalan melewati pintu. Melihat itu Tirian segera bangkit dan memasang senyuman.


"Ratu Serafina ... maaf aku tidak tahu kau datang. Aku tidak sempat menyambut."


Langkah Ratu Serafina tampak tergesa-gesa, tetapi wajahnya dipaksakan untuk tenang. Ia langsung menunju ranjang tempat Camelia berbaring.


Tirian bergeser saat Ratu Serafina ingin meraih tubuh Camelia.


Ini bukan demam, sang ratu membatin.


Setelah memastikan suhu tubuh Camelia, Ratu Serafina berbalik untuk menyapa sang tuan rumah. Senyuman yang terbentuk di wajah datarnya tampak sedikit dipaksakan. "Aku seharusnya yang berterima kasih karna kau sudah mengabariku. Kau bahkan mau merawat keponakanku."


Tirian membalas senyuman itu. "Tidak perlu sungkan. Aku hanya bersikap tulus."


Mendengar ini Ratu Serafina sedikit tertegun. Ia menangkap makna lain dari ucapan itu, tetapi langsung ditepisnya. Masih ada hal yang lebih penting.


"Kenapa jadi seperti ini? Tirian, apa yang terjadi padanya?"


"Dia mengikuti pertarungan..." Tirian mulai menjelaskan. Mengingat bagaimana Camelia mengakhiri duel itu, Tirian memiliki pertanyaan yang langsung ia tanyakan. "Ratu, kau mengatakan jika keponakanmu tidak bisa menggunakan sihir?"


Raut wajah Ratu Serafina berubah gelisah. "Apa dia terkena sihir?"


Tidak, sebaliknya dia yang menyerang dengan sihir, Tirian membatin.


Melihat reaksi Ratu Serafina ini, entah kenapa Tirian enggan menjelaskan apa yang dialami Camelia.


Sebagai gantinya ia berusaha menenangkan wanita itu. "Selain suhu tubuhnya yang rendah, dia baik-baik saja. Ratu tidak perlu khawatir."


Ratu Serafina tidak menjawab hanya terus memandang keponakannya.


Jeda yang lama itu membuat Tirian berinisiatif untuk bertanya. "Apa dia punya riwayat penyakit sebelumnya?"


Mendengar pertanyaan ini ekspresi Ratu Serafina berubah cepat. "Tidak ada." Sang Ratu mengangkat gaunnya, ia melanjutkan,"Tirian, terima kasih kau sudah mengobatinya. Aku akan membawanya pulang sekarang."


Baru saja Ratu Serafina hendak melangkah, seseorang sudah menahan lengannya.


Sang Ratu menoleh dan memandang Tirian dengan bingung.


"Ada apa?"


Tirian melepas pegangannya. "Biarkan dia tetap di sini. Tabib pribadiku sudah meresepkan obat. Suhu tubuhnya rendah, di luar sedang turun salju. Jika Ratu memaksakan untuk membawanya pulang, dengan perjalan Elwood ke Troas, takutnya kondisinya akan semakin buruk."


Ratu Serafina merasa curiga dengan tindakan Tirian ini. Sejak kapan dia begitu peduli pada orang lain sampai sejauh ini? Namun, bagaimana pun ucapan pria itu benar.


"Baiklah." Sang ratu dengan enggan mengizinkan. "Aku harus tetap pergi. Ada masalah lain di Troas. Aku akan menitipkannya kepadamu."


Tirian menarik sudut bibirnya. "Tentu, aku akan menjaganya."


Ratu Serafina jelas sangat enggan. Itu terlihat dari bagaimana ia memandang lama ke arah Camelia sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.


Hanya ketika Ratu Serafina meninggalkan tempat, raut wajah Tirian berubah dengan halus.


"Gejala sama dengan yang dulu?" Tirian menatap Camelia. Ia sempat membaca pikiran Ratu Serafina, tetapi ia hanya dibuat bingung dengan pikiran tidak jelas itu.


"Siapa yang Ratu Serafina maksud dan gejala seperti apa?"

__ADS_1


__ADS_2