The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 34


__ADS_3

Hubungannya dengan Nory akhirnya membaik. Walaupun awalnya Alaric kesusahan tiap kali anak itu menanyakan perihal ibunya. Tidak mungkin Alaric mengatakan yang sebenarnya kalau ibunya sudah ditumbalkan. Hanya saja pria itu akhirnya jengah, ia tidak bisa lagi menyangkal dengan mengatakan kalau ibunya sedang memenuhi sebuah urusan. Pada akhirnya ia jujur dengan mengatakan kalau wanita yang ia cari sudah tidak ada lagi di dunia.


"Ibumu sudah meninggal. Maafkan Paman," ucap Alaric saat itu.


Maafkan Paman karna tidak bisa jujur kepadamu. Maafkan Paman sudah membunuh ibumu.


Alaric masih tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana mungkin ia sanggup? Hanya dengan mendengar kabar itu saja Nory sudah mendekam di kamarnya beberapa saat bahkan tidak ingin menemui siapa pun. Apa jadinya kalau anak itu tahu makanan yang ia makan berasal dari tangan pria yang merenggut nyawa ibunya?


Rahasia ini akan ia simpan sendiri.


Hampir sebulan hidup normal di Troas, Alaric akhirnya kembali menumbuhkan rasa tanggung jawab yang sebelumnya telah lama ia lupakan. Ia tidak lagi mencuri. Alaric mulai mengumpulkan uang dengan bekerja serabutan. Alaric tidak peduli tubuhnya akan menjadi lebih gelap dan kurus. Ia hanya ingin menafkahi Nory dengan halal.


Semua berjalan dengan baik pada awalnya. Karena tidak ingin begitu menonjol. Alaric hanya datang untuk memastikan keperluan Nory tercukupi. Ia tidak begitu terbebani karena ternyata keluarga Malfoy— tempat sebelumnya ibunya bekerja— memberi perhatian lebih.


Namun di suatu waktu, karena bekerja sepanjang hari, Alaric kehabisan waktu untuk bertemu Nory dan hanya bisa mampir saat malam tiba. Itu sudah hampir tengah malam saat ia baru saja sampai di halaman samping rumah itu. Di sana ia menemukan Malfoy baru keluar dari rumah Nory. Entah kenapa Alaric merasakan sesuatu yang buruk.


sejak saat itu ia mulai mengintainya.


Karena Alaric tidak pernah datang saat malam hari, dan itu untuk pertama kalinya, ia baru menyadari setelahnya kalau hampir setiap malam Malfoy mengunjungi rumah Nory. Tidak ada yang aneh jika keluarga Malfoy peduli pada Nory, tapi....


Alaric tidak muncul beberapa hari untuk membuntuti keduanya. Ia menemukan pria tua itu sering membawa Nory jalan-jalan. Entah itu untuk makan atau mengajaknya bermain di rumahnya. Selama itu pula Alaric tidak menemukan sesuatu yang salah.


Ia akhirnya menyerah, tapi memutuskan untuk menanyakan langsung pada anak itu. Alaric mampir ke rumah Nory sore hari setelah pekerjaannya hari itu usai. Ia membawa sekantung besar jeruk juga beberapa buah manisan di saku celananya. Sudah tiga hari tidak bertemu, ia merindukannya.


Alaric mendorong pintu dan masuk dengan tanpa beban. Suasana hatinya secerah kulit jeruk di dalam sana.


"Nory akan menyukainya, gumamnya.

__ADS_1


Biasanya anak itu akan menyambutnya di ruang depan. Namun, kali ini ruangan itu tampak kosong. Alaric berpikir Nory sedang pergi bermain. Ia memutuskan untuk menyimpan semuanya di dapur.


Alaric baru berjalan beberapa langkah ketika sudah mendengar suara tangisan yang sangat kecil. Sangat kecil sampai ia hampir tidak bisa mendengar jika tidak memfokuskan indra pendengarnya.


Rupanya dia di kamar. Kenapa dia menangis. Apa dia merindukan ibunya?


Selama ini Alaric tidak pernah melihat Nory mengeluarkan air mata bahkan pada saat pertama kali mendengar kebenaran tentang ibunya. Ia sudah salah berpikir kalau Nory adalah anak yang tangguh. Wajar jika saat ini anak itu menangis. Bagaimanapun dia masih anak-anak.


Alaric melangkah pelan menuju kamar. Nory mungkin tidak ingin dilihat siapa pun dengan keadaan itu. Jadi Alaric memutuskan untuk mengintip saja dari celah dinding.


Di sana ia melihat Nory benar-benar membasahi wajahnya dengan air mata. Celah itu membuatnya kesusahan untuk melihat dengan jelas.


"Kenapa dia berbaring di lantai?" Alaric bergumam saat melihat keanehan dari posisi Nory.


Celah yang kecil membatasi lingkup pandangannya. Saat ia bergeser sedikit, ia sudah bisa melihat leher hingga ke tulang belikat dan seluruh area bahu anak itu yang tanpa tertutup pakaian. Alaric masih memproses pikirannya saat tiba-tiba tangan besar yang entah dari mana muncul dan membangunkan tubuh Nory.


Mata Alaric membola sempurna.


Alaric berhenti melihat. Kepalanya dipenuhi benang kusut.


Siapa? Apa yang dia lakukan bersama Nory?


Suara ******* lagi-lagi terdengar.


Denyut jantung Alaric bertalu dengan sangat keras. Tidak ingin pikirannya salah menafsirkan keadaan, ia beranjak pada celah yang lebih besar di pintu kamar, memusatkan penglihatannya di sana.


Namun, ia hanya menemukan kenyataan yang lebih pahit.

__ADS_1


Bak tersambar petir, Alaric jatuh terduduk dengan tangan membekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Beraninya dia meletakkan tangannya di atas tubuh anak-anak! Malfoy! Dia lebih hina dari binatang!


...•••••••...


Di gubuk, tempat sebelumnya Aldwin merawatnya, Alaric terbaring dengan tatapan kosong. Botol anggur berserakan di dekat tempat ia berbaring. Aroma minuman pemabuk sangat kuat memenuhi seluruh ruangan.


Sudah empat hari, setelah melihat adegan menjijikkan itu, Alaric merasa dirinya lebih memalukan. Ia tidak berguna. Ia tidak mampu merawat dan menjaga Nory. Bahkan setelah melihat anak itu dilecehkan di depan matanya, ia hanya pergi melarikan diri tanpa melakukan apapun.


Alaric bersumpah, ia sangat membenci Malfoy bahkan sampai ingin membunuhnya. Namun, ia lebih membenci dirinya sendiri. Bukannya menuntut pria sialan itu ia malah mendekam di sini seperti seorang pecundang.


Sejak empat hari lalu ia tidak bergeser dari tempatnya. Ia terlalu malu untuk pulang. Ia tidak sanggup untuk menatap Nory.


"Kau sudah selesai menebus semua dosamu?" Suara Aldwin terdengar begitu ia melangkah masuk. Tangannya refleks terangkat menutup hidungnya saat aroma anggur yang sangat kuat meresap masuk.


"Kau sangat menyukai anggur? Setidaknya perhatikan kesehatanmu."


Hanya menatap kosong, Alaric tetap bergeming. Bibir keringnya lalu perlahan bergerak. "Orang yang gagal menebus dosa apa masih pantas untuk menikmati kehidupan?"


Tangan Aldwin sibuk menyalakan api. Saat asap mulai menyeruak dari sela-sela kayu, ia berbalik dan menatap Alaric. "Kau masih bernapas artinya kau masih memiliki kesempatan. Terkadang seseorang diberi hidup panjang agar ia menuntaskan apa yang belum selesai."


"Bahkan untuk orang yang paling hina?"


"Siapa yang tidak memiliki dosa di dunia ini? Kau begitu putus asa seolah seluruh kesalahan di dunia ini diberatkan untukmu seorang."


Mendengar itu Alaric tiba-tiba tertawa. Ia lalu tersedak oleh tawanya sendiri. Setelah batuknya usai ia, bangkit tetapi masih menatap kosong. Ia bergumam, "Benar, siapa yang tidak memiliki dosa. Dia bahkan lebih hina, tapi dia tidak terlihat menyesal sedikit pun. Kenapa aku harus putus asa atas tindakan yang bukan aku lakukan? Dia harus menebusnya. Kelakuan buruknya itu ...dia akan menebusnya."

__ADS_1


Dengan itu Alaric bangun lalu berjalan keluar. Ia tidak menoleh ataupun meninggalkan sepatah kata. Aldwin juga tidak menahannya, tidak juga berkomentar.


Setelah Alaric sudah tidak lagi terlihat, Aldwin kembali pada tumpukan kayu yang sudah menyala. Ia bergumam, "Orang yang menangisi nasip memang menyedihkan, tetapi ia akan berubah menjadi orang lain ketika menuntut dendam."


__ADS_2