
Malam itu juga, tidak peduli hujan semakin deras mengguyur Zoeearth, Alaric memacu langkahnya yang tertatih. Troas dan Nory, kedua tujuannya itu bergantian disebutkan oleh bibirnya yang pucat.
Kendati seluruh tubuhnya sudah menggigil hebat, niat Alaric tidak luntur sedikit pun. Tubuhnya yang kotor telah bersih oleh air hujan. Bau tidak sedap itu bahkan sudah menguap. Tubuhnya lemah, tapi tertutupi oleh tekadnya yang kuat. Ia tidak berhenti bahkan untuk mencungkil pecahan botol yang menancap di telapak kakinya. Darahnya menjelma menjadi jejak, menggenang sebelum akhirnya tersapu air hujan.
Semakin malam, gigilan itu semakin hebat. Kemerahan di kulit Alaric ikut hilang bersama dengan tenaganya yang hampir mencapai ambang. Iya terseok-seok. Jatuh hanya untuk bangkit lagi.
"Nory." Nama itu kembali terucap di sela gemeletuk hebat yang mengguncang bibirnya.
Alaric membayangkan saat ia akan bertemu Nory. Memeluknya. Menumpahkan segala kata maaf untuk anak itu. Menyematkan sebuah janji untuk akan melindunginya selama sisa hidupnya. Memberikan segala yang ia punya. Merawatnya hingga ia dewasa.
"Nory."
Entah sudah berapa lama ia berjalan. Alaric tidak sempat menghitungnya. Namun, sinar fajar yang mengintip di cakrawala memberi sedikit pengetahuan akan tujuannya mencapai Troas sudah dekat. Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan bertemu Nory.
Alaric memacu langkahnya, tapi ia mungkin lupa mengukur tenaganya sendiri. Ia tergelincir saat menginjak tanah lincin. Lalu tubuhnya mulai menghianatinya saat matanya tidak lagi terbuka. Kesadarannya telah hilang.
...••••••...
"Nory."
"Nory."
Alaric tersentak dan bangun. Hal pertama yang ia lihat adalah kaki kirinya yang sudah terbalut kain. Pria itu lalu menyadari bajunya tidak lagi basah. Saat ia mengendarkan pandangannya, ia melihat seorang pria paruh baya sedang duduk di dekat tungku terlihat sedang memamaskan sesuatu.
"Siapa kau?"
Pria itu menoleh lalu berdiri membawa sebuah mangkuk berisi bubur panas. Itu ia letakkan di samping Alaric.
"Makanlah. Setelah tiga hari tertidur aku pikir kau tidak akan bangun."
"Tiga hari?" Alaric menatap pria itu tidak percaya. "Apa yang terjadi padaku?"
Pria di depannya tidak menjawab, tapi Alaric akhirnya menemukan jawabannya sendiri setelah mengingat semua yang terjadi.
Dari penilaiannya, mereka sedang berada di sebuah gubuk bambu yang beralaskan tanah. Alaric ragu di tengah kota ada rumah seperti ini jadi ia langsung bertanya, "Di mana ini?"
Alih-alih menjawab pria di depannya malah menggeser maju mangkuk bubur dan duduk di sampingnya.
"Makanlah. Kau pasti sangat lapar."
Alaric akui perutnya sudah sangat keroncongan. Namun, ia masih tidak tenang. "Kau belum menjawabku."
"Aku Aldwin, pemimpin ras amagine yang ada di Troas. Aku menemukanmu tidak jauh dari sini. Kita berada di tengah Hutan Forst. Aku tidak sanggup membawamu jadi aku hanya datang menjengukmu saat memberimu obat."
Troas?
__ADS_1
Mendengar nama kota itu, Alaric langsung tidak sabar untuk segera bangkit. Namun, denyut hebat di kepalanya menyadarkan kalau ia tidak punya tenaga.
"Kau belum makan apa pun." Aldwin kembali menggeser mangkuk itu. "Makanlah. Isi tenagamu."
Alaric terdiam sesaat sebelum akhirnya tergerak untuk meraih sendok. Perutnya terasa perih, rasa hangat yang memasuki lambungnya bahkan bisa ia rasakan dari luar. Kecepatan makannya bertambah seiring detik. Ia kelaparan.
Wajah Aldwin menampakkan sedikit kegelisahan. Saat bubur di piring Alaric hampir habis ia mengutarakan isi kepalanya.
"Apa yang kau lakukan di Death Valley?"
Seketika pergerakan Alaric terdiam. Ia menghindari tatapan si penanya.
Dia tahu tentang makhluk itu? Alaric membatin.
"Aku melihatmu di sana. Apa yang kau lakukan di Death Valley?" Aldwin kembali bertanya.
keraguan langsung menyelimuti. Alaric bertanya di dalam hatinya, apa dia juga bekerja untuk makhluk itu?
"Kau bukan orang Troas. Aku tidak mengenalimu. Hanya pekerja Pyrgos yang memiliki akses untuk mengunjungi tempat itu. Kau jelas bukan. Apa yang bisa kau jelaskan?"
Mendengar ucapan Aldwin itu Alaric menarik satu kesimpulan kalau arah pembicaraan mereka berbeda.
Dia tidak tahu tentang makhluk itu.
"Mungkin aku tersesat," jawab Alaric asal lalu terus melanjutkan makannya.
"Kau tidak berbohong?"
Alaric meletakkan sendok di mangkuk kosong. "Aku seorang pria yang baru kehilangan istri. Aku mengembara ke sembarang arah untuk mengalihkan kesedihanku. Kau seharusnya mempercayaiku karena kau sudah menilai sendiri dari bagaimana kau menemukanku."
Ada kelegaan yang tersirat di wajahnya, Aldwin berkata dalam intonasi tenang, "Jadi ke mana kau pergi sekarang?"
Jeda sesaat. Alaric sempat menerawang sebelum akhirnya menjawab, "Pergi menebus dosa." Suaranya kecil. Ia lalu beranjak untuk pergi. "Terima kasih," ucapnya saat di ambang pintu.
Aldwin tidak menahannya kali ini, tapi pria paruh baya itu melemparkan beberapa kata. "Bagaimana kau membalas budi?"
Sontak langkah Alaric terhenti. "Apa maumu," tanyanya?
Aldwin melihatnya dan menjawab, "Ucapanku tentang Death Valley hari ini, anggap aku tidak pernah mengatakannya."
...••••••...
Alaric melangkah menelusuri jalanan menuju rumah Nory. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi ia bersemangat ingin melihat anak itu, tapi di sisi lain rasa bersalah mengerumuninya.
Rumah itu sudah dekat. Alaric hafal betul jalanan ini. Siapa yang tidak akan ingat? Jika rumah itu saja sudah ia intai selama hampir dua pekan. Penyesalannya saat ini kenapa belas kasihnya terhadap anak kecil tidak muncul sedari awal saat ia menargetkan ibunya? Mungkin saat itu ia tidak tahu namanya. Namun, wajahnya ... Alaric bahkan langsung tahu seorang anak perempuan yang berdiri sendiri di pinggiran jalan sana adalah anak yang ia cari.
__ADS_1
"Nory."
Seperti sebelumnya dia selalu terlihat sendirian.
Langkah Alaric terhenti. Ia kehilangan kemampuan untuk bergerak. Hingga seorang pria dewasa menghampiri Nory, niat Alaric untuk menghampiri anak itu benar-benar surut.
"Besok, aku akan datang lagi besok."
...••••• ...
Keesokan harinya, Alaric datang dengan sekantung manisan. Ia tidak melihat Nory di halaman jadi ia langsung menuju rumahnya. Kali ini pria itu datang dengan tekad kuat. Ia tidak boleh lari lagi. Tanggung jawab harus ia tunaikan.
Mulai hari ini aku harus merawat Nory. Anak itu sendirian sekarang.
Acap kali mengatakan itu, pendiriannya kembali kokoh. Didorongnya pintu kayu di depan. Deritnya terasa ngilu sampai ke tulang Alaric. Dia sedikit gugup.
Hanya ketika ia memasuki ruangan, keresahan yang ia alami hilang tergantikan oleh perasaan pilu. Di depannya seorang anak perempuan tengah memasukkan air ke dalam mangkuk berisi nasi yang teksturnya agak lengket, mencampurnya dengan tangannya lalu memakannya. Melihat Nory bahkan mengais sisa butir nasi di mangkuknya, Alaric tidak bisa lagi membendung air matanya.
Dia masih terlalu kecil untuk hidup sendirian.
"Nory."
Anak itu mengangkat kepalanya, memandang Alaric dengan wajah datar. Alaric pergi mendekat.
"Paman membawakan kau sekantung manisan. Ambil dan makan. Semuanya untukmu."
Ekspresi Nory tidak berubah. Ia hanya memandang kantung manisan itu, tapi tidak menyentuhnya.
"Paman siapa?"
Air mata yang baru ia hapus sekuat tenaga ia tahan agar tidak turun kembali.
"Namaku Alaric. Aku kerabat jauh ibumu. Ibumu pernah berpesan kalau dia belum sempat kembali, Paman yang akan menjagamu."
Raut wajah Nory berubah dengan halus, itu bukan sesuatu yang baik. Ia menunduk dan tidak memandang Alaric. Nory bahkan tidak menjawab pertanyaan Alaric lagi. Pria itu diabaikan sampai ia pergi.
Tidak menyerah, Alaric datang lagi dan lagi. Namun, reaksi Nory masih sama.
Sudah hari keenam. Uang yang ia simpan dari hasil curian sudah habis. Ia membawa lima buah kue beras dan ini yang terakhir.
Alaric tetap masuk walaupun ia merasa sudah tidak punya harapan. Nory ada di dalam sana, memainkan sesuatu di tangannya. Alaric mendekat dan meletakkan bawaannya di samping Nory. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak juga pergi keluar. Alaric duduk di sudut ruangan lain dan merenung. Ia menekuk lututnya dan membenamkan kepalanya di sana.
Alaric sudah berpikir untuk pergi. Tentu saja kehadirannya tidak diharapkan. Namun, ia ingin istirahat sebentar. Sebentar saja untuk memikirkan bagaimana lagi ia harus membujuk Nory.
Setelah waktu yang lama, saat ia mengangkat kepalanya dan mengumpulkan niat untuk pergi, Alaric menemukan tangan kecil sedang menyodorkan sepotong kue beras.
__ADS_1
"Ini satu untuk Paman. Aku tidak bisa menghabiskannya."
Saat itu juga, Alaric tidak bisa menahan air matanya.