
"Tidak." Gerald membuka paksa pegangan Camelia. "Beri kami dua kamar."
Camelia memberengut. "Kau tidak perlu khawatir aku tidak akan merebut tempat tidurmu. Aku bisa tidur di mana saja."
Gerald mengabaikannya. "Tuan tolong antar kami ke kamar masing-masing."
Tangan Camelia langsung merentang, jalan di blokir. Ia beralih pada sang penjaga pintu.
"Tuan. Kau tidak melihat usahaku? Kenapa tidak membantuku dengan mengatakan hanya ada satu kamar yang tersisa?"
Pria itu terjebak dalam kebingungan. "Maaf Nona, Anda tidak mengatakannya sebelumnya."
Camelia memelototinya. "Kau yang tidak peka."
Pria itu menggaruk tengkuk. "Jadi satu kamar atau dua?"
"Satu."
"Dua."
Gerald sudah kehilangan kesabaran. Ia memaksa masuk. "Tuan antarkan aku ke kamarku. Biarkan wanita itu mengurus dirinya sendiri. Dia bisa tidur di mana pun."
"Kau—" Camelia melipat tangannya dengan kesal. "Pelit sekali. Kalau cuacanya tidak sedingin ini aku sudah meninggalkanmu sejak tadi. Dasar pria es!"
Karena Gerald tidak memberinya kesempatan, Camelia terpaksa mencari kamar lain.
Namun sebelum masuk, Camelia merasa ada sesuatu yang janggal. Ia seperti menghilangkan sesuatu, tetapi setelah berpikir lagi ia tidak menemukan apa pun. Dengan gampang Camelia langsung memutuskan untuk melupakannnya.
...••••••...
Semakin malam cuaca menjadi semakin dingin. Camelia masuk membawa satu teko teh jahe panas untuk menghangatkan diri.
Ruangan di dalam itu sederhana. Hanya ada satu tempat tidur, satu kursi panjang dan sebuah fox yang bergantung sebagai penerang. Camelia duduk di dekat wadah besi yang diisi arang. Kehangatan dari pemanas itu tidak cukup baik, tetapi Camelia masih menghargainya. Lebih buruk jika tidak ada sama sekali.
Setelah merasa cukup hangat, Camelia tidak memiliki ide untuk mengambil aktivitas lain. Rasa dingin memaksanya untuk berbaring di tempat tidur. Lagi pula hari ini ia sudah bersentuhan beberapa kali dengan Gerald. Ia tidak perlu mengisi perut jadi memilih untuk tidur saja. Namun, setelah cukup lama terpejam, wanita itu tiba-tiba membuka matanya.
Di sisi lain, kamar yang Gerald tempati memiliki suasana yang berbeda. Tampaknya tingkat penerangan ruangan itu sengaja diturunkan. Pemiliknya sudah terbaring di kasur. Namun hanya matanya yang terpejam, karena pikirannya berkelana memikirkan peristiwa yang ada.
Dari semua yang berkelidan di kepala, Gerald paling banyak mencari cela pada semua ucapan Alaric. Ia masih enggan percaya. Entah kenapa ia yakin Nori masih bisa memberinya kenyataan lain.
Setelah lewat tengah malam, Gerald masih juga belum bisa tidur. Ia tidak memaksakan untuk membuka mata. Posisinya juga tidak berubah banyak. Jadi ia masih bisa mendengar pergerakan dari arah pintu.
Camelia mengendap-endap di dalam kegelapan. Setelah memastikan Gerald sudah tertidur, ia beralih ke fox untuk menambah penerangan. Ia akhirnya bisa melihat dengan jelas ke sekeliling. Namun, saat ia berbalik, seseorang sudah duduk tegap di kasur.
Tertangkap basah, Camelia hanya menyengir. "Ahehe ada yang mau kubicarakan denganmu."
Tidak menunggu Gerald bereaksi, Camelia segera berpindah ke kursi dan duduk menghadap ke arahnya. Ia berkata, "Kau tidak penasaran bagaimana aku bisa mendapat energi darimu tiap kali kita bersentuhan?"
Gerald hanya melihatnya sebentar sebelum berbalik untuk tidur. "Tidak."
Tidak terima diabaikan, Camelia bergerak ke sisi ranjang dan menariknya. "Aku belum selesai bicara!"
Suara tinggi Camelia memaksa Gerald cepat bergerak. Ia duduk dan memelototinya. "Kau ingin membangunkan semua orang?"
__ADS_1
Posisi mereka akhirnya berhadapan dengan Camelia berdiri di depan.
"Kau tidak mau mendengarku."
Ranjang itu tidak terlalu tinggi, jadi berbicara seperti ini membuat Camelia harus menunduk untuk menatap Gerald.
Tidak ingin memancing keributan lebih jauh, Gerald memalingkan pandangannya dan berkata, "Cepat katakan."
Camelia berpikir sejenak. Dengan Gerald membiarkannya ikut bersamanya sudah merupakan keanehan. Camelia menyimpan keraguan ini sejak tadi. Ia harus menanyakannya.
"Kau tidak mungkin mengizinkanku ikut begitu saja. Katakan alasanmu."
Pertanyaan itu tidak ia duga. Gerald langsung berpikir rupanya wanita ini tidak terlalu bodoh. Namun, tentu saja Gerald tidak ingin mengatakannya.
Gerald masih memikirkan jawaban apa yang harus ia pilih ketika ia merasa Camelia maju terlalu dekat ke arahnya. Saat ia menoleh wajah Camelia hanya tinggal beberapa inci di depannya. Gerald refleks menjauhkan badannya hingga ia terpojok di kasur. Namun tubuh Camelia tetap maju bahkan menindih tubuhnya.
Itu terlalu tiba-tiba. Ritme jantung Gerald berdegup tak terkontrol. Pikirannya bahkan sudah berkelana. "Apa yang kau lakukan?"
Yang tidak ia ketahui, Camelia susah payah bangkit sembari memijat pelipisnya. "Ah, kepalaku tiba-tiba pusing."
Gerald dengan cepat bergeser ke sisi lain ranjang. Walaupun ia akhirnya paham situasi, Gerald masih belum tenang sehingga memilih pergi dari sana.
Namun baru saja ia ingin membuka pintu, sensasi kejut listrik familier tiba-tiba menjalar ke tubuhnya. Kali ini Gerald mulai memahami apa yang terjadi, jadi ia dengan pasrah bersandar ke dinding sebelum akhirnya merosot ke lantai. Berikutnya gambaran seperti film berputar di kepalanya.
Itu semua berakhir dengan cepat. Juga kali ini Gerald tidak kehilangan kesadaran. Ia sepertinya sudah bisa mengatasinya. Begitu pandangannya kembali mengenali sekitar, Gerald langsung mengumumkan satu nama, "Nory."
Ya. Itu yang ia lihat. Alaric dan Nori pernah menginap di sini.
...••••••...
Ia makan sendirian. Tadi malam Gerald pergi begitu saja hingga saat ini Camelia belum melihatnya. Bagaimanapun mereka adalah rekan sekarang. Atau lebih tepatnya, Camelia membutuhkan Gerald di sisinya. Namun, sudahlah. Camelia lebih mementingkan kondisinya saat ini. Daripada bermain kucing-kucingan bersama pria es itu, Camelia lebih memilih duduk manis di meja makan.
"Nanti juga dia akan kembali." Begitulah cara Camelia menghibur diri.
Untungnya ucapan itu seperti doa yang langsung terkabul. Saat Camelia menelan suapan terakhir dari santapannya, ia sudah melihat Gerald lewat menunju pintu keluar.
Dengan cepat ia pergi mengejar. Tidak lupa tudung jubahnya ia angkat untuk menutup kepalanya.
"Hei! Kau mau ke mana? Jangan lupa sekarang aku rekanmu!"
Gerald hanya menoleh sedikit, tapi tidak berhenti barang sejenak. Ia lalu berkata, "Aku pikir kau akan tetap tinggal."
"Omong kosong. Sudah kubilang kita rekan sekarang. Jadi kau tidak boleh meninggalkanku."
"Jika kau tidak bisa membantu, setidaknya jangan jadi beban."
Beban?
Harga diri Camelia terasa dicoreng. Ia akan protes, tetapi menjadi urung saat melihat sekitar dan mengingat kondisinya. Ia hanya berkata, "Seandainya kita memiliki kuda. Mungkin keadaannya akan lebih baik."
Ngomong-ngomong soal kuda, Camelia akhirnya ingat kalau sebelumnya ia membawa kuda.
"Bagus sekali." Camelia meratap dengan tidak tulus."Maaf Niles. Semoga kudamu tahu jalan pulang."
__ADS_1
Rasa bersalah yang entah ada itu membuat Camelia memicu jalannya.
"Baiklah. Aku harus mengandalkan diri sendiri."
Setelah langkahnya hampir sejajar dengan Gerald, ia langsung bertanya, "Jadi ke mana kita pergi sekarang? Bukankah kau terlalu keterlaluan kalau terus membuatku berjalan tanpa tujuan seperti ini?"
"Mencari Nory." Gerald akhirnya menjawab.
"Nory? Anak perempuan itu? Kenapa mencarinya?"
"Aku menemukan penglihatan Nory dan Alaric pernah menginap di penginapan. Anak perempuan itu pasti tahu sesuatu. Dia dulu diasuh oleh Tuan Malfoy. Aku sudah menanyakan pada pemilik penginapan. Nori terlihat di kota ini."
Camelia mengangguk untuk ucapan yang menyinggung tentang pria malang itu, tetapi setelahnya Camelia memutar bola matanya.
"Kau dengan murah hati menjelaskan itu semua tapi kau tidak mau aku mendengar apa pengakuan Alaric."
Gerald menyadari kesalahannya, tetapi ia tetap diam.
Camelia kembali bersuara, "Tadi kau mengatakan penglihatan? Kudengar Klan Agrios memang memiliki kekuatan khusus. Jadi itu kekuatanmu? Ternyata kau memang bukan kucing biasa."
Camelia menabrak punggung Gerald karena pria itu tiba-tiba berhenti.
Ia berbalik. "Aku bukan kucing."
"Sungguh?" Camelia tanpa sadar tertawa. "Sepertinya kau begitu terusik sampai kali ini kau akhirnya mau repot-repot mengoreksi."
Kesal. Gerald berbalik dan pergi.
Camelia menyadari wajah Gerald yang memerah. "Hei! Jadi kau itu apa?!" Camelia pergi mengejar. "Kau marah karena itu? Hei! Aku tidak akan memanggilmu begitu jika kau tidak suka!"
Camelia berhenti sejenak untuk tertawa. "Lucu sekali....hei tunggu aku!"
Ketika ia akan melanjutkan jalan, Camelia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Dengan santai ia menoleh untuk memeriksa. Rupanya itu seorang kesatria istana yang bertugas di kota ini.
Camelia tidak tertarik untuk menyapa jadi ia akan segera pergi. Namun, ia baru menyadari kalau kesatria itu bergerak ke arahnya. Camelia akhirnya menunggu sebentar. Saat kesatria itu sudah lebih dekat, Camelia menemukan pergerakan kesatria itu terasa ganjil. Camelia bahkan mendengar suara geraman tertahan keluar dari mulutnya.
"Dia mabuk sepagi ini?"
Kewaspadaan Camelia muncul saat kesatria itu berlari dengan cepat ke arahnya sembari menyodorkan tangan. Camelia menghindar hingga tubuh kesatria itu jatuh menyapa salju. Saat Camelia ingin menolongnya, Gerald muncul di belakang dan segera menahan tangannya.
Tidak terduga, kesatria tadi bangkit dengan cepat dan kembali menyerang. Yang mengejutkan, darah tiba-tiba keluar dari kedua bola matanya.
Gerald juga tampak terkejut. Itu jelas bukan sesuatu yang baik, jadi saat kesatria itu bergerak ke arah mereka, Gerald refleks menendangnya.
Kesatria yang terkapar di tanah malah menggeliat dengan brutal.
Camelia tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya.
"Apa yang terjadi?"
Namun, Gerald di sampingnya tidak lebih baik darinya. Pria itu juga menyimpan pertanyaan sama.
"Menjauh, dia bisa menggigitmu."
__ADS_1