The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 23


__ADS_3

"Sean ... Kau pernah berkata tentang hubungan Klan Agrios dengan para Elementis. Bisa ulang kau jelaskan?"


"Hubungan dengan para Elementis? Tumben sekali, saat itu kau bahkan tidak ingin mendengar saat aku bercerita kepadamu."


"Ulangi saja."


"Hubungan Klan Agrios dengan para Elementis ... singkatnya para Elementis adalah asal dari bagaimana Klan Agrios terbentuk...."


Dahulu, saat pertama kali witchstone terbentuk dan memilih tuannya untuk terikat, di wilayah selatan Zoeearth adalah tempat yang dihuni binatang buas. Mulanya semua baik-baik saja. Namun, aura gelap yang entah berasal dari mana membuat para binatang buas itu terpengaruh sehingga mulai bertindak kejam dan mengancam sekitar.


Saat itu hanya para Elementis yang mampu menenangkan keadaan sementara ras lain menginginkan kemusnahan seluruh bintang buas. Tidak terkecuali ras nymph dan ras druid. Boleh dibilang mereka adalah ras yang paling dekat dengan alam. Namun, keduanya bahkan menyetujui adanya pembantaian untuk mereka.


Ras Elementis sebagai pemilik energi murni, mereka tidak menginginkan adanya pertumpahan darah. Mereka menganggap sekeji apa pun suatu makhluk selama mereka masih bernapas, siapa pun bisa menuju jalan yang terang jika dibimbing dengan benar.


Atas pemikiran inilah untuk menghindari kekacauan, para Elementis memutuskan untuk tinggal bersebelahan dengan tempat hunian binatang buas. keberadaan para Elementis di sana sebagai titik penengah untuk menjaga para binatang buas baik untuk menghindari momok orang-orang ataupun ancaman yang mungkin datang dari luar.


Karena hidup berdampingan terlalu lama, para binatang buas mulai terpapar energi kehidupan milik Elementis. Lambat laun mereka mulai memiliki kesadaran bahkan beberapa dianugerahi sebuah kekuatan spesial.


"Perubahan ini kemudian membawa para binatang buas yang terlantar di alam liar telah memiliki otoriternya sendiri. Ada pun bagaimana sekarang dapat disebut Klan Agrios, itu berkat leluhurmu yang perkasa, Alpha Samuel. Dia dianugerahi kekuatan cahaya bulan sehingga Ratu Elementis mengangkatnya sebagai alpha yang memimpin Klan Agrios. Begitu kira-kira kisahnya. Kenapa kau menanyakan ini?"


Gerald terdiam untuk waktu yang lama.


Ia tiba-tiba berkata, "Sean...apa mungkin liontin di kalungku ini benar-benar batu sihir with..stone?"


Sean sempat terdiam. Keterkejutan tampak di wajahnya. "Tidak mungkin, witchstone bukan apa-apa jika para Elementis tidak ada. Witchstone hanya bereaksi pada pemilik energi murni. Para Elementis sudah lama punah."


"Bagaimana jika keturunan Elementis ternyata masih ada?"


Sean mengangkat kepalanya untuk menatap Gerald. Semua kata-kata di tenggorokannnya hanya semakin tidak bisa keluar.


Gerald kemudian berkata, "Sean... Aku merasa kekuatanku mulai muncul."


...••••••...


Setelah pertemuannnya hari itu dengan Camelia, Gerald dilanda demam yang tinggi. Kendati ia baru saja mengalami kondisi fisik yang buruk, tetapi begitu ia sembuh, ia merasakan perubahan aneh pada tubuhnya. Jika biasanya ia akan mudah kelelahan hingga terserang demam, kini ia bisa berlari menaiki gunung tanpa khawatir tubuhnya akan berkeringat, rasa lelah yang biasa ia rasakan hampir tidak ada.


Tidak hanya tentang stamina tubuhnya yang membaik, perlahan Gerald mulai menyadari ada banyak perubahan lain yang ia rasakan.


Gerald awalnya keheranan ketika di suatu senja yang hening indra pendengarnya tiba-tiba mendengar suara aliran air di tempat biasa ia mendaki yang mana sebelumnya ia tidak pernah mendengarnya. Lalu ketika langkahnya menuruti ke mana asal suara, ia menemukan di puncak bukit yang jauh sebuah air terjun mengalir di sana.


Ini bukan tentang pemandangan baru yang ia temukan, tetapi sejak kapan indra pendengarnya begitu peka?


Bahkan kemampuan penyembuhan yang ada pada dirinya kini berkembang pesat. Refleks yang ia ambil selalu tepat. Kecepatan gerakannya tidak bisa ia duga.


Dengan semua perubahan itu, Gerald tidak bisa memikirkan penyebab lain selain wanita yang sering ia jumpai beberapa hari di belakang. Terlebih reaksi kalung di pertemuan terakhir dengan Camelia ... Gerald tidak akan salah mengira lagi, liontin itu benar-benar bersinar saat wanita itu menyentuh lengannya.


Terdistraksi oleh hal-hal yang menghantui pikiran, Gerald tidak yakin apa yang ia rasakan. Namun, sesuatu di hatinya mendorong ia untuk mencari sosok wanita penyebab perubahannya. Seolah itu begitu kebetulan, di malam festival yang ramai ia menemukan Camelia turut menjadi peserta dalam pertarungan musim gugur kali ini. Hanya saja keadaannya begitu tidak terduga, kenapa Camelia tiba-tiba menginginkan Tirian untuk menjadi lawannya? Gerald begitu menghormati Tirian, tentu saja Gerald tidak rela melihat wanita menyebalkan itu menjatuhkan harga diri kakaknya.


...••••...


Wajah Gerald datar, tidak menampakkan apakah ia enggan atau tulus berdiri di atas arena. Namun, mata pria itu menatap lurus kepadanya. Semua yang melihat akan tahu jika itu tatapan permusuhan. Alih-alih marah, Camelia hanya semakin merasa senang.


"Lucu sekali yah."


Suara kekehan masih dapat Gerald dengar di akhir kalimatnya. Ucapan itu terlalu tidak biasa untuk tidak merasa bingung. Namun, Gerald hanya sedikit mengerutkan alisnya. Sisa raut di wajah masih tetap datar. Ia menggeser sedikit pandangannya saat wanita di depannya kembali bersuara.


"Momen saat terkahir kita bertemu sangat tidak bagus. Kau meninggalkanku begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku. Walaupun itu sangat memalukan untuk diingat tapi kuharap kau tidak lupa."


Gerald tetap diam.


"Apakah ini tidak terlalu aneh?" Camelia mengecilkan suaranya saat melanjutkan. "Beberapa hari lalu aku masih menyatakan perasaanku dan sekarang tanpa aku mendapatkan jawaban pasti, kau sudah berdiri di depanku sebagai musuh. Mm apa ini pertanda buruk untuk perasaan sepihakku?"

__ADS_1


"Jam pasirnya akan segera habis."


Camelia maju perlahan. Sambil berjalan ia berkata, "Kau sangat ingin melawanku?"


Kau berniat melawan kakakku. Aku tidak bisa membiarkan harga dirinya dipermainkan olehmu.


"Ah begini saja." Sebuah senyuman jahat menghiasi wajah Camelia. Ia menghunus pedangnya lalu diangkat dan diarahkan ke wajah Gerald. "Aku akan menyerah dan membiarkanmu menang, tapi kau harus setuju untuk jadi kekasihku..."


Gerald hanya bergeming dan menunggu ucapan itu selesai.


"Tapi jika kau tetap mau melawanku ... kau boleh menangkis pedang ini."


Camelia bahkan belum berkedip ketika pedang itu telah ditepis oleh sang lawan. Kekehan Camelia lagi-lagi terdengar. Menyeringai, ia menatap Gerald dengan sedikit lebih serius.


Camelia lalu melempar besi yang baru ia pungut untuk diberikan kepada Gerald. Ia berkata, "Kalahkan aku atau aku semakin tidak mau melepasmu."


Dengan itu, denting pedang bertemu besi sudah terdengar. Camelia tidak ragu-ragu dengan serangannya. Namun, setelah sepuluh menit berduel Camelia menyadari jika tidak ada serangan balik. Kesal, Camelia mengunci pergerakan Gerald dengan ujung pedangnya tepat di dekat leher Gerald.


"Kau meremehkanku?! Kau memutuskan untuk melawanku, tapi kenapa kau tidak menyerang?"


Hanya ketika mendapat ancaman, Gerald akhirnya memberi perlawanan. Ia mundur dan dengan cepat menghindari serangan Camelia lalu berakhir menahannya dari belakang.


"Daripada menjadi kekasihmu, ini masih lebih baik."


Bisikan itu anehnya menyulut emosi Camelia.


"Kau—"


Camelia menyiku perut Gerald dan bebas dari sana. Ia berkata, "Apa kau bahkan pernah menggunakan otakmu untuk berpikir? Kau yakin kau tidak akan menyesal?"


Gerald tidak menjawab hanya mengayunkan besinya. Debu dari pasir yang di aduk di bawah sana memenuhi udara. Kali ini Gerald benar-benar memberi perlawanan.


Siapa sangka Gerald menjadi sulit untuk ditangkap.


Camelia menyeringai. "Kau boleh juga."


Jika sebelumnya Camelia berpikir Gerald meremehkannya, maka ia akan menarik kata-katanya. Gerald sudah memberi serangan bertubi-tubi bahkan Camelia mulai kesulitan mengimbangi kecepatan Gerald.


"Jam pasirnya akan habis!"


"Benar! Apa yang mereka lakukan! Kenapa belum ada pemenangnya?!"


Teriakan para penonton sedikit mencuri fokus keduanya. Baik Camelia maupun Gerald, mereka sama-sama menoleh untuk memeriksa jam pasir.


Benar-benar akan segera habis.


Dengan itu, tekad Camelia dipicu secara penuh. Ia kembali mengayunkan pedangnya, benar-benar mengambil gerakan serius.


Saat ia akan berhasil meraih lengan Gerald, siapa sangka pria itu berhasil menghindar bahkan mendaratkan pukulan di punggung Camelia.


itu terlalu tiba-tiba sehingga Camelia luput memperhatikan langkahnya. Ia nyaris terjatuh ketika seseorang sudah menahan lengannya.


Saat ia sadar Gerald sudah menariknya hingga Camelia menabrak dada pria itu.


Tanda tanya besar memenuhi kepala Camelia. Namun, belum saja ia mempertanyakan tindakan Gerald, sensasi dingin yang hebat menjalar ke lengannya hingga seluruh tubuh. Itu menusuk hingga ke tulang sampai Camelia tidak sanggup menahannya.


Refleks Camelia mendorong tubuh Gerald lalu ia duduk terjatuh di tanah. Pikirannya kosong oleh rasa tidak nyaman yang menyerang tubuhnya. Namun, teriakan penonton menarik kembali kesadaran yang hampir hilang.


"Dia memakai sihir."


"Sihir, wanita itu memakai sihir!"

__ADS_1


"Yah kemenangannnya tidak sah!"


"Dia harus didiskualifikasi!"


Camelia awalnya tidak mengerti maksud dari ucapan itu. Namun, saat ia mengangkat kepalanya, ia baru menyadari kalau Gerald yang tadi ia dorong kini tersungkur beberapa meter di depan sana.


Camelia terkejut karena merasa tidak mengeluarkan tenaga penuh, tapi bagaimana bisa Gerald terdorong sejauh itu?


Sihir?


Camelia menatap kedua tangannya.


Kenapa bisa?


...••••••...


Sementara itu di jalan-jalan area festival yang mulai senggang, Aletta mengayuh langkahnya dengan tidak bersemangat. Kepalanya menunduk menatap jalanan dengan pandangan kosong. Ketika ia sampai di depan sebuah tempat pameran, dahinya tidak sengaja menabrak sesuatu yang padat. Saat ia mengangkat kepalanya, seorang pria sedang berdiri memandang ke arah depan.


Sesaat Aletta melupakan masalahnya saat melihat pria itu tetap bergeming seolah tabrakan tadi bukan apa-apa. Aletta lalu ikut melihat ke depan. Ada sebuah panggung yang tidak terlalu tinggi di sana, beberapa orang sedang memainkan sebuah peran.


Walaupun Aletta hanya menemukan potongan adegan, tetapi ia bisa memahami jika kisah ini menceritakan seseorang yang patah hati karena cintanya tidak berbalas.


Dalam sekejap, bahu Aletta kembali menjadi berat. Ia mengembuskan napas gusar.


"Hah ... tidak semua orang berhasil dalam cinta."


Tanpa diduga suara seseorang menyahutnya.


"Benar. Aku pikir saat aku sudah menentukan pilihan, aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Tentu saja tidak, semua hal perlu usaha. Aku yang baru melihat dunia luar tidak mungkin bisa langsung memiliki orang yang aku suka di pertemuan pertama. Ini sebenarnya tidak bisa disebut pertemuan. Aku bahkan belum tahu namanya, tapi sudah lebih dulu mengetahui pria yang dia suka. Aldwin, pria itu sangat beruntung."


Aletta menoleh dengan heran. Pria ini tampak asing. Refleks ia bertanya, "Siapa namamu?"


"Sean."


Pria itu menjawab tanpa menoleh.


Wanita berambut ash brown yang sudah mencuri perhatian Sean di pandangan pertama tidak lain adalah Lea. Namun, saat Sean meminta seekor capung untuk membantunya mengikuti ke mana arah Lea pergi, Sean menemukan kenyataan pahit di sana. Siapa sangka wanita yang ia puja tengah mengobrol dengan seseorang yang ia sukai?


Detik berikutnya Aletta kembali mengembuskan napas, kali ini terdengar lebih berat.


"Huh! Aku sudah mengetahui namanya, sudah beberapa kali bertemu tapi selalu kehilangan kesempatan untuk menyapanya. Dia kesatria kerajaan, saat aku mengejarnya tadi dia sudah buru-buru pergi."


Mendengar ini, Sean akhirnya menoleh.


"Bagus juga setidaknya aku tidak sendirian."


Aletta turut meliriknya, "Terasa aneh berbagi kemalangan dengan orang asing."


Berikutnya tidak lagi terdengar obrolan di antara mereka. Dua insan yang tengah berbagi kemalangan larut dalam tontonan di depan sementara pikiran turut berkelana. Hanya ketika keributan dari orang yang tiba-tiba berlari melewati mereka terdengar, keduanya memandang dengan bingung.


Sean menahan seseorang untuk bertanya.


"Ada apa?"


Pria yang dihadang masih tergesa-gesa saat ia menjawab, "Tuan Malfoy dan keluarganya ditemukan tidak bernyawa di rumahnya."


"Tuan Malfoy?"


Sean jelas tidak mengenal siapa pria yang disebutkan ini, tetapi Aletta langsung membelalakkan matanya.


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2