The Last Elementis

The Last Elementis
TLE 5


__ADS_3

Tas pinggang yang sering Camelia pakai adalah tas berbahan kulit dengan ukuran hanya sejengkal orang dewasa. Itu menyatu dengan ikat pinggang sehingga ia bisa bergerak tanpa merasa terganggu. Warnanya coklat gelap. Ada hiasan di sisi depan; sebuah motif bunga yang memiliki dua belas kelopak, sisi luar bunga itu dikelilingi sulur tanaman dan duri tajam menempel di sela-sela daun. Terhitung ada lima duri yang mengisi celah, sekilas yang melihat akan mengira itu benar-benar duri. Namun jika lebih memusatkan pandangan, itu sebenarnya wujud dari tiruan benda padat yang memiliki bentuk runcing di kedua sisi. Merupakan sebuah lambang yang akan orang lihat ketika berurusan dengan pihak kerajaan. Tas ini istimewa karena dibuat oleh seorang pengrajin dari penyihir wizard. Disebut spesial karena dapat menampung benda apa pun tidak peduli seberapa besar ukurannya. Dari semua kelebihan yang ada, Camelia paling menyukai kemampuan tas itu dalam mengawetkan makanan. Orang-orang yang sering bersamanya akan mengira ia membawa kulkas portabel, karena kebiasaan mengeluarkan makanan di mana pun dan kapan pun nyaris setara dengan bagaimana ia selalu mengeluarkan senjata dari sana.


Walaupun sebenarnya terlihat sembrono dan kadang merepotkan, Camelia hanya ingin mempermudah pekerjaan dengan tidak membawa banyak barang di tubuhnya. Karena itu ia terus memasukan barang secara acak, termasuk benda penting yang baru ia keluarkan. Itu sebuah lencana giok berbentuk persegi, pendar biru menguar di antara keseluruhan warna mint-nya. Tampak polos jika dilihat dari jarak jauh, tapi sebenarnya lambang serupa terukir di kedua permukaan lencana itu.


Saat ini Camelia berdiri di depan sebuah hutan. Sekitar lima belas meter di belakang, bangunan-bangunan penuh kubah berlapis emas berdiri megah di kelilingi tembok besar yang menjulang. Camelia mengambil jalan pintas menghindari tembok-tembok itu untuk sampai di sini. Sekilas di depannya ini memang hanya ada hutan, tetapi begitu Camelia mengangkat lencana gioknya, sebuah gerbang transparan muncul. Seolah mengkonfirmasi keberadaannya, jalan masuk pun terbuka memudahkan Camelia melangkah ke dalam. Ini jelas jalan yang tidak dapat diakses sembarangan orang, lihat saja gerbang menghilang tepat saat Camelia ditelan tabir transparan itu. Pemandangan pun berganti memperlihatkan halaman luas dipenuhi tanaman warna-warni, sebuah bangunan tinggi bertahta di tengahnya. Semua orang menyebut tempat ini Pyrgos, tanah keberadaan menara alkemis.


Camelia langsung pada tujuannya. Ia mengendarakan pandangannya mencari tanaman yang pas. Masih tentang Aletta, daun gotu kola tidak akan berkhasiat maksimal jika tidak dicampur dengan bahan yang mengandung sihir. Jadi ia ke sini untuk mendapatkan tanaman yang pas. Walaupun ia tahu penjaga kebun belum tentu memberinya begitu saja. Namun, selalu ada celah di setiap situasi. Kesempatan yang mungkin dipikir tidak ada akan Camelia manfaatkan selagi ia bisa. Maka kita lihat saja apa yang bisa Camelia dapatkan karena ia tidak mungkin pulang kosong.


"Jadi tumbuhan apa yang pas untuk campurannya?"


Fox adalah produk pengecualian yang sebenarnya tidak sesuai dihasilkan di menara alkemis mengingat identitas mereka. Penyihir alkemis seharusnya hanya terlibat dengan tanaman obat-obatan dan ramuan. Namun, keajaiban tak terduga selalu lahir dari tangan-tangan itu maka tidak mungkin karya seperti fox juga lahir.


Sebagaimana seharusnya juga nama yang akrab dengan mereka, yang tumbuh di Tanah Pyrgos pada dasarnya hanyalah tanaman herbal yang akan diolah menjadi berbagai ramuan dan obat. Kebanyakan memang tanaman biasa. Namun, keberadaan beberapa tumbuhan magis membuat warna semua tanaman merata. Baik bunga daun dan batang pun berubah menyesuaikan warna dasar yang sudah ada. Entah itu kuning, coklat, merah, ungu, biru, satu yang pasti, tidak ada warna hijau di sini. Sehingga di dalam Pyrgos tanaman biasa pun tidak ada bedanya dengan tumbuhan magis.


Untuk tumbuhan magis, Camelia hanya familier dengan bunga nerfiss. Berbeda dengan tanaman lainnya yang tidak sepenuhnya mengandung energi sihir, bunga nerfiss tumbuh dengan energi sihir penuh. Ada beberapa lagi, tapi Camelia terlalu malas mencari tahu. Tidak tahu pasti dari mana bibit-bibit ajaib itu datang, mereka sama misteriusnya dengan batu zafeer yang hanya ditemukan dan diolah di Pyrgos. Lagi pula bukan itu yang ia butuhkan. Camelia mencari tumbuhan dengan manfaat yang pasti. Ia menargetkan tanaman biasa yang jelas sudah berubah warna karena ikut terkontaminasi.


Setelah menilik lebih jauh, pandangan Camelia jatuh pada tumbuhan mirip bunga aster. Seluruh kelopaknya berwarna kuning pucat, Camelia tahu itu yang ia cari, tetapi wanita itu belum bergerak dari tempatnya.


"Benar, bunga chamomile adalah campuran yang tepat." Sedemikian pun Camelia yakin, ia tidak langsung menghampiri tanaman itu. Sebaliknya alisnya mengerut ketika ia terus mengerling seperti menunggu kehadiran seseorang.


"Lama sekali, biasanya langsung muncul."


Dalam penantiannya, Camelia teringat pouch berisi daun gotu kola yang ia masukan lebih dulu. Walaupun masih dalam kemungkinan kecil untuk memperoleh apa yang ia inginkan, Camelia memiliki pemikiran untuk menyediakan wadah karena tumbuhan berharga harus diamankan secepat mungkin. Penutup tas segera ia buka. Namun, baru saja sebelah tangannya masuk, sesuatu dari dalam keluar dan tanpa persiapan jatuh menghantam tanah.


Bunyi prang benda pecah sangat jelas menyapa pendengaran. Camelia langsung menoleh hanya untuk menemukan sisa bongkahan stoples transparan yang sudah tak berbentuk di tanah sementara sebagian lainnya lagi sudah menguap menyatu dengan udara. Camelia menatap sedih pada ulat bulu yang terkapar di tanah; baru berhasil mengambil posisi setelah sebelumnya tubuhnya jatuh terbalik. Intonasi itu terdengar sedih saat ia berkata, "Maaf Lea ... sayang sekali padahal itu barang yang bagus." Tapi tidak ada sedikit pun raut penyesalan tergambar di wajah.


Camelia malah tersenyum. "Aku tidak berbohong, kan?" Ia menatap ulat bulu seolah menatap teman bicara. "...bagaimana? Bukankah ini rumah yang sangat bagus?" Senyum Camelia semakin melebar melihat ulat bulu yang sudah bergerak pergi. Ia masih ingin menikmati pemandangan itu ketika sebuah suara tiba-tiba menyentak tegas. Sangat jelas amarah yang dikeluarkan, tapi suara paraunya tidak menggertak sama sekali.


"Aku menghitung semua daun yang ada di sini. Jadi jangan mengira aku tidak akan tahu jika kau mengacau lagi!"


Alih-alih ketakutan, Camelia malah berbalik dengan tidak sabar.


"Paman sedikit terlambat kali ini." Ia menilik penampilan pihak lain. "Aku sedikit bertanya-tanya, tapi sepertinya Paman Castor tampak sehat-sehat saja. Paman tidak memakai tongkat hari ini."

__ADS_1


Pria bernama Castor ini hanya setinggi bahu Camelia. Memiliki julukan tukang kebun karena secara pribadi ia yang merawat semua tanaman di sini. Walaupun begitu, penampilannya tidak benar-benar menggambarkan profesinya. Kemeja putih yang dibalut rompi marun juga blazer hijau di bagian luarnya, semua tampak selalu bersih dan rapi. Warna cinnamon pada celana yang hanya selutut melengkapi penampilannya. Siapapun akan tahu kalau ia adalah pribadi yang penuh pertimbangan, tentu saja cara memadukan warna pakaian adalah pengecualian. 


Kepala Castor nyaris plontos tapi janggut putihnya sangat lebat. Itu bergerak ombang-ambing karena tubuhnya yang pendek berusaha menanggung kecepatan kakinya yang sangat terburu-buru. Ia berteriak lagi. "Apa yang kau lakukan di sini! Jangan menyentuh tanamanku." Lengan pria itu bergetar oleh tekanan emosi saat memberi intruksi agar Camelia tidak mendekati satu pun tanaman. Ia bahkan bertindak seolah sudah ada yang harus disesali.


Camelia tidak menanggapi itu dan hanya tersenyum ramah. Ia berkata, "Bagaimana aku begitu tega merusak tanaman-tanaman berharga ini. Ah Paman Castor terlalu berlebihan."  Melipat kedua tangannya di perut, ia melanjutkan, "tadinya aku memang ingin meminta satu tanaman untuk aku bawa pulang. Aku akan menanamnya kembali di rumah sehingga tiap kali aku melihatnya nanti aku akan merenungi kepiawaian Paman dalam merawat seluruh Pyrgos. Tapi Paman Castor tidak perlu resah, karena aku adalah seorang yang jujur dan patuh, aku tidak akan membawa apa pun jika tidak dibolehkan."


Mendengar ini, pertahanan Castor sedikit melonggar. Namun, raut kesal di wajahnya tidak langsung hilang. "Benar, jangan meminta apa pun karena aku tidak akan memberikannya. Sebaiknya kau pergi dari sini."


Ekspresi Camelia berubah memelas. "Huh, aku tidak heran Paman begitu membenciku setelah sepuluh tahun lalu aku tidak sengaja melepas seekor iguana di tengah lautan tanaman ini. Tapi apa yang akan dimengerti anak berusia belasan tahun?"


Perkataan Camelia membuat ingatan Castor mengembara. Urat-urat di pelipisnya membengkak.


Tidak sengaja kau bilang?! Castor meradang.


Jika tidak memikirkan siapa wanita di depannya ini, rasanya Castor ingin mengusirnya secara tidak hormat. Ia ingin melempar beberapa keluhan lagi, tapi Camelia sudah lebih dulu menyela.


"Aku paham Paman Castor sangat memikirkan kepentingan menara. Sampai memohon secara khusus kepada Tuan  August untuk tidak mempekerjakan aku yang rajin ini. Paman memang bijaksana. Namun, bukankah keterlaluan jika Paman Castor juga melarangku melihat-lihat di di sini." Camelia menekan pada kata pengulangan.


Semakin mendengar Camelia berbicara rasanya semua syaraf di tubuhnya menegang. Memijat pelipisnya, Castor yang putus asa berkata, "Kau bahkan memegang lencana berwarna biru dan kau masih mengeluh? Seharusnya kau hanya mendapatkan lencana yang sama dengan para pekerja!"


"Hei aku tidak-- apa yang kau lakukan?!"


Castor kehabisan akal saat melihat Camelia kembali mendekat pada tanaman. Ia bahkan  berjalan masuk mengikuti sela-sela tanah yang tersedia. Napasnya ikut berhenti tiap kali tangan Camelia hendak mendekati sehelai daun.


"Baiklah, baiklah kau dapat melihat-lihat tapi jangan sentuh apa pun," Castor berkata dengan putus asa. Pria itu mengerutkan kening khawatir saat mendengar teriakan cemas Camelia yang tiba-tiba.


"Paman! Bagaimana ini?" .


"Ada apa?!"


Pria itu langsung bergegas mendekat. Camelia menunjuk pada batang chamomile.


Begitu menyadari sesuatu yang menempel di sana, Castor langsung mondar-mandir, gelisah.

__ADS_1


"Uh ulat bulu?" Camelia menatap Castor. Ekspresi khawatirnya tampak dibuat-buat.


"Si-singkirkan itu," Castor hampir memekik.


Camelia menunduk membawa wajahnya lebih dekat pada tanaman itu, sudut bibirnya tertarik. "Bagaimana ini? Dia sudah memakan batangnya."


Castor memegang kepalanya karena panik sementara Camelia terus memberi tekanan.


"Ah aku tidak bisa membayangkan jika dia memakan semua tanaman yang ada di si--"


"Cepat bawa dia pergi! Apa lagi yang kau tunggu!"


Camelia menetralkan ekspresinya, mempertahankan intonasinya dengan baik. "Haruskah aku mencabut bunga chamomile yang malang ini? Dia sudah tercemar."


Raut Castor langsung sulit diterjemahkan, antara tidak rela tapi juga tidak memiliki pilihan. Pria tua itu lantas menyerahkan sebuah sekop kebun yang entah ia dapat dari mana. "Cabut, cabut semuanya yang sudah dia hinggapi," ucapnya kemudian.


Memanfaatkan semua kesempatan itu Camelia langsung mengamankan ulat bulu ke dalam kotak kayu kecil yang dikeluarkan dari tas. Ia mencabut hampir segenggam bunga chamomile dan memasukkan ke dalam kantung karung goni yang sedikit lebih besar, juga langsung ia amankan.


"Kenapa selalu ada masalah setiap kali anak ini datang?" 


Gumaman itu, Camelia mendengarnya dengan jelas tapi ia malah memamerkan senyum lebar. "Sayang sekali padahal aku masih ingin melihat-lihat, tapi karena kesibukanku, aku harus meninggalkan Paman Castor di sini."


Kalimat itu jelas melegakan. Castor mengibaskan tangannya ke udara. "Pergilah." Wajahnya tampak lelah seolah baru mengerjakan pekerjaan berat. " ...pergilah," ulangnya lagi.


Camelia masih mengatakan salam perpisahan walaupun Castor sudah tidak melihatnya. Pria itu menghadap pada seseorang yang baru mendekat. Itu Tuan August sang kepala menara. Camelia tidak merasa perlu menyapa pria itu jadi ia langsung melenggang pergi. Aroma kayu manis menyapa indra penciumannya begitu ia berbalik, yang ia yakini berasal dari tubuh sang kepala menara yang baru tiba. Tidak sering berpapasan, tapi Camelia mengenali aroma tubuh yang khas itu. Bukan sesuatu yang penting memang untuk diingat. Camelia sedikit tertarik karena selalu menangkap sesuatu yang samar di balik harumnya aroma kayu manis. Tidak aneh, tapi mampu membuat Camelia menyimpan ingatan tentangnya dalam kepalanya.


"Seperti biasa. Mungkinkah orang menara selalu membawa aroma batu zafeer di tubuhnya?" Tepat gumaman itu ia lontarkan  pikiran Camelia menyangkal kalimatnya sendiri.


Sejauh ini hanya dia, ia membatin.


Ketika Castor selesai berbicara dengan August ia sudah tidak menemukan presensi Camelia. Pria itu sudah cukup tenang sehingga kembali mengingat apa yang sudah ia lupakan; niat awal berjalan di halaman ini karena ingin mencari pewarna ekstrak ungu dari bunga yang ada. Karena butuh yang benar-benar alami, Castor sudah menandai gerombolan bunga ungu liar yang tumbuh di luar gerbang. Jadi ia langsung menuju ke sana. Namun, saat ia sampai, hanya tanah kosong yang ia temukan.


"Seingatku kemarin aku melihat bunga kencana liar di sini. Ke mana perginya mereka semua?" Castor menggaruk kepalanya yang botak. Tanah yang ada ini terlihat gembur seolah ada yang baru dicabut dari sana. Namun, Castor hanya mempertanyakan sifat pelupanya.

__ADS_1


Apa aku salah ingat? batinnya ragu.


...🪄🪄🪄...


__ADS_2