The Over Lord : The New Phoenix Empress

The Over Lord : The New Phoenix Empress
buah mangga


__ADS_3

Keesokan harinya Sania coba berjalan-jalan di sekitar halaman istana.


Dia berkeliling untuk menikmati pemandangan taman-taman bunga yang dirawat oleh tukang kebun dengan rapi, ada pun hal lain adalah kebun di belakang istana, di sana dia menemukan banyak pohon-pohon sudah berbuah.


Tapi seperti biasa, tiap kali Sania pergi keluar kamar, sosok Wersno akan tiba-tiba saja muncul entah dimana pun dia berada.


Seperti sekarang, ketika Sania ke atas pohon mangga, orang itu muncul selagi bergelantungan di dahan. Sania sudah terbiasa menyaksikan hal-hal aneh yang pangeran ini lakukan.


Wersno melompat turun dengan dua buah mangga kuning keemasan di tangan.


"Apa kau mau ini, nona Sania." Ucap Wersno yang hendak memberi buah mangga kepada Sania.


"Aku tidak, terimakasih." Sania menolak meskipun sejak awal dia melihat ke atas pohon penuh keinginan mencicipi mangga yang sudah matang.


Hanya saja, Sania tidak ingin Wersno berhasil membuatnya senang, sehingga penolakan pun diberikan.


"Hmmm sayang sekali, padahal buah mangga ini terasa asam dan manis, sungguh pas dimakan saat masih segar." Ungkap Wersno agar Sania tertarik.


Tapi Sania tetap tidak peduli dan memilih pergi ke tempat lain.


Cukup dalam Sania masuk ke kebun buah di halaman belakang istana, dia bertemu dengan sosok kakek tua yang dikenalnya sebagai Kakek Sihu, ayah dari raja Jonzar.


Sania sadar, jika kakek Sihu adalah seorang ahli beladiri yang sangat kuat, dia telah melewati batas tingkat ahli beldiri raja tempur.


Begitu pula saat ini, kakek Sihu sedang melakukan meditasi di atas sebuah batu besar, aliran energi alam yang diserap masuk kedalam tubuhnya.


Tapi atas kehadiran Sania dan Wersno yang memperhatikannya dari jauh, itu membuat konsentrasi kakek Sihu sedikit terganggu dan perlahan mata mulai terbuka.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini." Tanya kakek Sihu melihat keduanya berdiri diam.


Sania membungkuk sebagai tanda hormat dan menjawab sopan..."Maaf kakek, apa aku mengganggu meditasi anda."


"Tidak perlu meminta maaf, gadis muda, kau tidak mengganggu waktuku, bahkan sedikit kesempatan aku bisa bicara denganmu." Ucap Kakek Sihu yang sudah berdiri dari duduknya.


Sania berjalan mendekat sebagai bentuk hormat kepada orang tua agar dia yang menghampiri kakek Sihu untuk mendengar perkataannya.


Nyatanya, Wersno pun mengikuti dari belakang dan membuat Kakek Sihu melihatnya bingung.

__ADS_1


"Kenapa kau masih di sini Wersno." Ucap Kakek Sihu dengan nada serius.


Wersno tersenyum pahit sebelum menjawab..."Ehhh apa itu tidak boleh kakek ?, Aku pun ingin tahu apa yang kakek bicarakan, jika memang ini adalah rahasia pribadi, tentu aku akan pergi."


Sebenarnya Wersno tidak peduli soal urusan kakeknya, dia seperti tidak ingin membuang kesempatan agar bisa dekat dengan Sania.


"Kakek tidak berpikir kau akan tertarik, tapi biarlah, ini bukan rahasia atau semacamnya, jadi kau boleh tetap disini." Balas kakek Sihu.


"Itu terdengar baik-baik saja." Wersno tersenyum cerah.


Pertanyaan kakek Sihu tentu tertuju kepada Sania, karena pada dasarnya dia sadar bahwa kejanggalan alam yang terjadi beberapa waktu lalu, kemungkinan besar berkaitan dengan kekuatan milik Sania.


"Jadi apa yang ingin kakek tanyakan." Sania bertanya.


"Dua hari lalu, ketika malam hari aku merasakan keberadaan aura kuat yang menyerap energi alam begitu besar, hingga membuat langit kota berubah menjadi aneh, apa kau tahu sesuatu, gadis muda." Kakek Sihu pun menceritakan kejanggalan yang dia lihat.


"Jika saat itu... Ya aku memang melakukan meditasi dan mencapai kenaikan tahap menengah, tapi aku tidak merasa ada yang aneh." Jawab Sania dengan jujur.


Sania memang tidak tahu apa pun, karena dia berada di dalam kamar, begitu fokus sehingga perkataan kakek Sihu tentang keanehan alam yang terjadi membuat Sania bingung.


"Hmmm aku mengerti sekarang." Mengangguk kepala kakek Sihu paham.


Sedikit kesal kakek Sihu atas sikap Wersno yang seenaknya sendiri bertanya..."Kau terlalu banyak tanya, untuk orang yang hanya sekedar mendengarkan saja."


"Aku tidak berpikir itu salah, karena aku pun melihat apa kejadiannya." Jawab Wersno.


Sekali lagi, Wersno berbohong, dia tidak tahu soal keanehan alam di atas langit kota kerajaan Fluel, dia terlalu sibuk berkhayal di dalam kamar akibat pertemuannya dengan Sania saat siang.


"Nona Sania, tingkat apa yang kau miliki sekarang ?." Kembali kakek Sihu bertanya.


Tidak ada alasan untuk Sania berbohong..."Raja tempur tahap tengah."


Seketika Kakek Sihu terkejut, tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Dan Sania menjadi bingung.


"Apa ada yang aneh dari jawabanku."


"Itu tidak aneh, aku tertawa karena menertawakan diriku sendiri yang tidak berguna ini, sungguh orang tua seperti ku sakan kalah oleh seorang anak muda." Ungkap kakek Sihu tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Kenapa baru sadar sekarang." Celetuk Wersno asal saja dengan lirih menyindir.


Tapi kakek Sihu mendengar perkataan lirih dari Wersno, tatapan mata tajam menembus sum-sum tulang belakang yang membuat Wersno merinding karena merasa terancam.


Wersno segera bersujud memohon ampun tanpa perlu bicara.


"Kakek terlalu merendah diri, pada akhirnya kakek sudah menjadi sosok hebat dengan tingkat lebih tinggi." Sania berusaha menghormati.


"Kau benar sekali, tapi jika dibandingkan denganmu yang mungkin belum mencapai siklus usia dua puluh tahun dan sudah memasuki tingkat raja tempur, tentu aku merasa malu." Balas kakek Sihu sedikit mengeluh.


Telah banyak waktu, usaha dan pengorbanan diberikan oleh kakek Sihu untuk meningkatkan kekuatan hingga di titik seperti sekarang. Tapi jika dibandingkan dengan Sania. Dia masih muda namun sudah memiliki kekuatan diatas rata-rata orang satu generasi di usianya.


Terpikir jika Sania berada di usia yang sama seperti kakek Sihu, seratus dua puluh tahun, bisa terbayang seberapa tinggi kekuatannya saat itu terjadi.


"Kakek terlalu banyak memuji, pada akhirnya aku hanya anak kecil yang belum memiliki pengalaman."


Kakek Sihu tidak menyembunyikan rasa penasaran untuk melihat langsung bagaimana keahlian beladiri milik Sania. Tanpa basa basi kakek Sihu berkata.


"Apa bisa kau menerima permintaan dari orang tua egois ini." Kakek Sihu meminta.


"Tentang apa itu kakek." Sania balas bertanya.


"Biarkan kakek melihat dan merasakan langsung pertarungan melawan mu." Itu yang kakek Sihu minta.


Sania ingin menolak, tapi dia berubah ragu-ragu karena permintaan itu langsung dari kakek Sihu dengan ekspresi wajah penuh harapan.


"Baiklah kakek, tapi jangan berharap terlalu banyak kepada ku." Jawab Sania yang masih menjaga rasa hormatnya kepada orang lebih tua.


Tanpa perlu menunggu lama, tempat mereka sekarang sudah cukup menjadi arena latihan, dan Wersno berdiri di sisi lain seperti seorang wasit.


Kakek Sihu mengangkat tangannya dan sebuah tongkat kayu terbang jatuh untuk ditangkap.


Tongkat kayu milik kakek Sihu bukan senjata sembarangan, senjata khusus yang terikat kontrak dengan tuannya. Terlebih lagi, itu adalah tongkat yang berasal dari pohon Aszika.


Salah satu pohon keramat yang dimana memiliki kemampuan khusus untuk menyerap energi dari musuh. Itu karena keberadaan pohon Aszika di sebuah hutan adalah bencana.


Pohon Aszika menyerap sumber energi alam begitu besar, sehingga pepohonan dan makhluk hidup yang berada di sekitarnya akan mati akibat kehabisan energi.

__ADS_1


Kakek Sihu bersiap dalam kuda-kuda menyerang, Sania pun menarik pedang logam pamor berwarna perak kebiruan dari sarungnya.


Mata kakek Sihu bisa tahu seberapa mengagumkan pedang di tangan Sania, hingga mereka berdua saling berhadapan satu sama lain, bergerak maju untuk satu langkah cepat dan pertarungan pun dimulai.


__ADS_2