
Jauh di tempat lain....
Seorang lelaki dengan pakaian tampak lusuh, kotor dan dekil seakan-akan belum mandi selama berhari-hari, kini berada di depan gerbang masuk sebuah kerajaan yang di jaga ketat oleh para prajurit.
Dia adalah Raynor Avya, dimana sedang menatap serius ke atas bendera, kibaran lambang bunga merah tiga belas kelopak dengan tangkai berduri mengelilingi sekitar, jelas tidak tahu apa maksudnya itu.
Tapi lelaki yang cukup lama berdiri di sana, perlahan menganggukkan kepala, sembari bicara sendiri... "Tidak salah lagi, ini adalah kota."
Wajah tampak bahagia, tersenyum lebar hingga keluar air mata, hanya sebagian kecil bagi lelaki satu ini mengekspresikan diri karena telah menemukan sebuah tempat yang di sebut peradaban.
Bagi orang lain itu bukan hal spesial, bahkan akan dianggap gila jika terlalu senang untuk sekedar datang ke kota. Namun beda cerita tentang Raynor Avya.
Dia telah tersesat sepanjang perjalanan dari kerajaan Losborn di wilayah daratan timur hingga tidak tahu dimana dirinya sekarang.
Namun di sisi lain...
Para prajurit sudah mengawasi Lelaki itu sejak awal kemunculannya dari arah jalan luar kota antara ladang-ladang pertanian sekitar gerbang, hingga kini dia sedang berdiri diam selagi menatap ke arah bendera atas menara.
Sebagian besar dari mereka hanya menganggap jika Raynor Avya yang kini berdiri dengan wajah bingung itu, tidak lebih seorang gelandangan, tunawisma, pengemis atau semacamnya dan berniat memasuki kota.
Tidak ada yang salah dari anggapan mereka, karena siapa pun orang melihat pakaian sobek-sobek di kiri kanan depan hingga belakang sudah menjadi bukti pasti tanpa bisa dibantah lagi.
Perlahan Raynor melangkah kaki ke depan, begitu pula dengan salah satu prajurit yang datang menghampirinya.
Prajurit itu pun bertanya..."Tuan maaf, ada keperluan apa anda berada disini ?."
"Aku ada dimana ?." Dibalas oleh Raynor pula dengan pertanyaan lain.
Meski tidak senang karena pertanyaannya di potong dan belum di jawab, tapi prajurit itu coba bersabar... "Kau sekarang ada di kota Ransah, wilayah kerajaan Werna daratan tengah, jadi apa yang kau lakukan di sini ?."
Tiba-tiba saja Raynor itu jatuh dan menangis seketika, entah karena terlalu bahagia atau ada yang salah di dalam otaknya.
__ADS_1
Para prajurit melihat kebingungan, tidak tahu apa yang terjadi sehingga lelaki gelandangan di depan mereka begitu emosional.
"Akhirnya aku sampai di daratan tengah ini hebat." Teriak Raynor penuh rasa syukur.
Penjaga itu terkejut..."Tuan ada apa ?."
Tatapan mata berkilauan dan senyum bahagia yang belum lunas di wajah.
"Sudah tiga bulan aku pergi dari daratan timur menuju daratan tengah, tapi aku selalu saja tersesat dan tidak tahu pergi kemana." Jawab Raynor Avya.
Prajurit pun semakin terkejut, atau lebih tepatnya dia tidak habis pikir tentang Raynor....."kota Ransah ini ada di ujung selatan daratan tengah, bagaimana mungkin kau sampai di sini tanpa melewati perbatasan timur."
Secara logika memang begitu adanya, tapi kisah perjalanan Raynor jelas di luar logika akal sehat manusia biasa.
"Aku pun tidak tahu kenapa, karena aku hanya mengikuti arah angin." Jawabnya begitu mudah.
"Apa kau bodoh ?, Orang tersesat pun akan bertanya arah, tapi kau ....." Di maki pula lelaki itu dengan keras dan berujung lemas.
Para prajurit tidak tahu harus berkata apa, karena baru pertama kali melihat seorang manusia yang buta arah begitu parah.
Tapi jika ada seorang gelandangan yang hendak memasuki kota, tentu para prajurit tidak mungkin membiarkannya masuk.
"Tunggu tuan, memang ada urusan apa anda di daratan tengah ini." Ucap prajurit itu bertanya.
"Hmmm aku harus pergi ke akademi pedang Suci." Jawab Raynor.
Sekali lagi senyum kaku di wajah prajurit tampak tidak percaya dengan ucapan lelaki itu..."Kau benar-benar gila, akademi pedang suci ada di Utara pegunungan Soulland, kau tersesat terlalu jauh, ini selatan, dari perbatasan timur kau sudah bisa melihat pegunungan Soulland."
"Jangan khawatirkan hal sepele, Utara dan Selatan memang apa masalahnya, hanya dua arah yang berbeda saja." Entah dari mana Raynor memiliki jawaban begitu simpel.
Namun asal semuanya tahu, Tersesatnya Raynor sekarang belum seberapa, karena dia yang buta arah benar-benar tidak biasa, dia selalu saja bingung memilih kiri atau kanan, jika bertanya kepada seseorang pun masih saja salah arah.
__ADS_1
Bahkan kalau Raynor tersesat penuh semangat, jangankan daratan tengah, dia bisa sampai di benua seberang secara ajaib.
Prajurit tetap menahan Raynor untuk tidak masuk.... "Meski begitu, tuan tidak bisa masuk ke kota Ransah ini."
"Kenapa ?, Aku tidak berniat mencuri atau melakukan hal jahat lainnya, aku hanya ingin singgah sebentar."
"Tetap saja, penampilan anda sangat mencurigakan." Itu sudah menjadi alasan.
"Kenapa manusia selalu menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, ****** ***** ku saja masih bagus, akan aku tunjukkan jika kau ingin melihat." Dia mencibir dengan ekspresi wajah kesal.
"Itu tidak perlu, Karena memang menilai penampilan adalah standar yang di tentukan oleh dunia ini, jika kau tidak bisa mengikutinya maka kau hanya akan di singkirkan."
"Baiklah, aku tanya, bagaimana cara aku masuk ke dalam kota ?." Tanya Raynor tanpa basa basi.
"Hmmm jika kau bisa membayar pajak masuk, kami tidak keberatan." Jawabnya.
"Pada akhirnya semua adalah soal uang." Tersenyum Raynor menganggap itu adalah hal mudah.
Tanpa ragu atau pun bimbang, Raynor melempar satu koin emas kepada penjaga itu dan berkata..."Ambil saja kembaliannya."
Siapa yang menyangka, seorang berpenampilan tak ubah seperti gelandangan dan pengemis cukup mudah memberi satu koin emas. Sedangkan biaya masuk kota sendiri hanya sepuluh koin perak, itu pun sudah full servis.
Tapi sebelum Raynor melewati gerbang masuk, prajurit itu memberi satu kartu tanda pengenal, atau bisa di sebut sebagai ijin tinggal sementara bagi para pelancong dan pengembara yang ingin singgah ke dalam kota Ransah.
"Tuan tolong jaga kartu ini jangan sampai hilang, setiap tujuh hari sekali, anda harus melapor dan memperbaharui status izin tinggal anda."
"Baiklah aku mengerti, jangan khawatir...". Santai saja Raynor menjawabnya dan pergi dengan melambaikan tangan.
Raynor memang tidak berniat berlama-lama di kota Ransah ini, dia hanya ingin bersantai sejenak karena sudah terlalu lama hidup mengelilingi hutan.
Satu hal yang dia sadari sejak awal masuk kota adalah mata orang-orang menatapnya penuh rasa jijik, sehingga Raynor paham tujuan awal untuk dia mencari pakaian baru.
__ADS_1
Tanpa perlu peduli soal urusan orang-orang, Raynor segera mencari satu toko pakaian terdekat.