
Dan kini sampailah mereka di tempat tujuan, dimana ada sebuah monumen batu besar dengan anak tanggal yang menjulang naik ke atas gunung.
"Kita sudah sampai, nona mari turun...." Ucap ucap Wersno selagi membukakan pintu untuk Sania.
"Apa kau yakin jika ini adalah tempatnya." Tanya Sania.
"Tentu saja, nona bisa lihat, tulisan di sana... Itu dikatakan sebagai pintu masuk ke akademi pedang suci." Jawab Wersno sembari menunjuk ke arah lain.
Alasan Wersno diperkuat dengan ukuran huruf yang bertuliskan akademi pedang suci di sisi luar monumen batu. Kali ini Sania tidak membantahnya, karena jelas dia pun melihat tulisan yang di tujuk oleh Wersno.
Terlebih lagi, di sekitar monumen batu sudah ada banyak orang yang mulai naik ke atas dengan melewati anak tangga.
Kehadiran Sania menjadi pusat perhatian semua orang di sana, mereka tidak lepas memandang ke arahnya, tampak takjub dan sampai lupa untuk bernafas.
Meski di sekitar mereka pun terdapat banyak wanita tapi Sania jelas berada di tingkah yang berbeda.
Salah satunya adalah putri Xiumin Gong dari klan Gong, yang memang di kenal sebagai kecantikan luar biasa. Tapi Putri Xiumin terlihat kesal ketika sosok Sania datang, dimana perhatian para lelaki yang sebelumnya tertuju kepadanya, kini berbalik arah dan menganggap dia di kalahkan.
"Siapa dia ?." Tanya putri Xiumin sinis.
"Aku tidak tahu nona, sepertinya dia bukan orang terkenal." Jawab satu wanita yang ada di samping Xiumin.
Dari cara Xiumin melihat Sania, ada perasaan tidak senang karena tersaingi.
Lupakan soal putri Xiumin dan kembali ke Sania.
Jika dari bawah tempat Sania dan Wersno turun hanya terlihat pegunungan biasa dengan kabut putih menutupi puncaknya, tapi anak tangga itu adalah cara agar dia bisa menuju Akademi pedang suci.
Setelah Wersno dan Sania sudah sampai ke tujuan, para prajurit penjaga dan kereta kuda pun berpamitan untuk pergi. Sekarang Wersno harus bisa melindungi dirinya sendiri tanpa bantuan kekuasaan nama besar dari kerajaan Fluel.
Di akademi pedang suci, entah apa latar belakang mereka dan dari mana asalnya, para pangeran, ahli waris klan, anak-anak bangsawan atau seorang raja sekali pun, di akademi semua akan disetarakan oleh pertarungan yang berlaku.
Namun satu hal yang menjadi perbedaan adalah nilai mereka di mata para master, semakin banyak pencapaian dari seorang murid maka itu akan memberi peringat tinggi.
Tentu ada perbedaan antara murid berperingkat rendah dan tinggi, salah satunya adalah sumber daya yang di berikan oleh akademi.
__ADS_1
Sania dan Wersno melangkah menyusuri anak tangga untuk naik ke atas. Wersno pun mulai bicara agar tidak membosankan.
"Nona ada hal yang harus diperhatikan saat kita sudah menjadi murid nanti." Ucap Wersno.
"Apa itu ?."
"Jangan sekali-kali mengusik para murid peringkat atas." Jawabnya.
"Memangnya kenapa ?." Sania balik bertanya.
"Ya bukan tentang kenapa, melainkan mereka terlalu kuat untuk di lawan." Wersno pun mengakuinya.
Sepuluh peringkat teratas akademi pedang suci, adalah sosok-sosok berbakat tinggi, mereka ibarat jenius sejati sejak lahir atau pemilik kekuatan khusus.
Memang terdengar tidak adil, tapi itu adalah kenyataan, murid dengan bakat di bawah rata-rata hanya bisa berusaha untuk latihan keras, sedangkan murid yang di anugerahi bakat tinggi mendapat kemuliaan dengan mudah.
Hanya saja Sania tersenyum mengejek..."Aku tidak terlalu peduli, aku di sini untuk berlatih, tapi jika mereka mengganggu, tentu aku akan melawan."
"Tapi bukankah lebih baik kalau kita bisa berhubungan baik." Balas Wersno.
Sania cukup senang untuk bersahabat dengan orang lain, tapi dia benci jika nantinya akan dimanfaatkan.
Langkah kaki mereka semakin naik ke atas pegunungan, tidak terhitung lagi yang mungkin sudah mencapai ratusan anak tangga, hingga sebuah perasaan tidak nyaman pun muncul.
Wersno tampak lelah, dia berkeringat dan langkahnya semakin pelan, bahkan saat disadari Sania sudah berjalan lebih jauh yang dimana sejak awal mereka beriringan.
"Nona tunggu, apa kau mau meninggalkan ku." Teriak Wersno menghentikan langkah Sania.
"Kau terlalu santai, berjalan lah lebih cepat lagi." Kesal Sania melihat ke arah Wersno yang tampak lemas.
Bagi Sania, dia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, bahkan harusnya ahli beladiri sekelas Wersno cukup kuat hanya sekedar naik turun gunung dua kali bahkan tanpa istirahat.
"Ini aneh, aku merasa ada tekanan hebat yang membuat langkaku menjadi berat." Wersno beralasan.
"Mungkin hanya perasaan mu, lihat aku masih baik-baik saja sampai sekarang." Jawab Sania.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong, sungguh."
Tentu Sania tidak merasakan tekanan itu karena kekuatan tenaga dalam yang dia miliki jauh lebih tinggi dari Wersno. Sejujurnya dia malas menyibukkan diri untuk mengurus masalah Wersno, tapi mengingat bahwa dia adalah cucu dari kakek Sihu, sedikit Sania ingin membantu.
'Bagaimana menurut mu, Wilea... Apa dia berbohong ?.' Sania meminta Phoenix di dalam jiwanya untuk memastikan.
'Tidak, bocah itu berkata jujur, anak tangga ini telah di pasang rangakaian segel prasasti untuk menyaring setiap orang yang berusaha naik ke atas.' Jawab Wilea melalui pikiran.
Sania pun paham....'Jadi begitu, bisa dibilang ini adalah ujian pertama yang mereka berikan untuk calon murid baru.'
Seperti yang dijelaskan oleh Wilea, bahwa hanya orang-orang dengan kekuatan tenaga dalam di tingkat khusus saja yang tidak terpengaruh.
Sehingga untuk Sania dia sudah dipastikan lolos dari rangkaian segel prasasti ini, tapi Wersno harus berusaha keras agar bisa menahan semua tekanan sampai ke puncak.
Dari belakang tempat Sania, tiga sosok wanita melangkah maju hingga berpapasan dengan mereka.
"Mengecewakan, kau terlalu sombong karena semua lelaki terkagum-kagum kepadamu, tapi lihat kau sudah merasa lelah di pertengahan jalan." Ucap putri Xiumin mengejek dan lanjut pergi meninggalkan mereka.
Sania bingung, dia mendengar perkataan yang di arahkan kepadanya itu seperti sedang marah, tapi tidak merasa sedang mencari permusuhan.
"Siapa dia ?." Tanya Sania ke Wersno.
Wersno terkejut..."Kau tidak kenal ?."
"Tidak, memang penting untuk mengenalnya ?." Sania bertanya dengan ekspresi wajah aneh.
Wersno seakan bingung karena Sania tidak peduli...."Ya aku anggap itu memang penting, karena dia adalah putri dari klan Gong, dan juga adik dari Yang Gong, salah satu murid peringkat atas."
"Entah kenapa aku merasa jika dia terganggu oleh kehadiran ku disini." Tersenyum Sania mengejek.
"Tapi sebaiknya, nona Saina tidak menganggu putri Xiumin, karena dia memiliki banyak pengagum yang bisa saja membuat masalah." Perjelas Wersno.
"Aku tidak tertarik sama sekali."
Aliran energi tenaga dalam di tubuh Sania menyebar ke sekitar, termasuk juga Wersno yang berada di belakangnya. Dia secara sengaja memberi bantuan agar tekanan rangakaian segel prasasti berkurang sehingga Wersno bisa kembali berjalan kembali tanpa pengaruh apa pun.
__ADS_1