
Waktu ujian telah berakhir, setiap calon murid harus berkumpul saat suara gong terdengar keras dari istana utama.
Sania dan Wersno, keduanya berhasil mendapat dua benda yang menjadi tiket keberhasilan ujian dari dua binatang iblis serupa kura-kura tempurung berduri dan kelinci merah.
Dua binatang iblis itu sangatlah sulit untuk di kalahkan, kura-kura tempurung berduri memiliki pertahanan yang luar biasa keras, bahkan pedang platinum sekali pun hanya mampu menggores, tanpa bisa menembus tempurung itu.
Sania harus mengeluarkan duri-duri es tajam yang menembus bagian bawah kura-kura, karena itu adalah titik lemah dan bagian lunak.
Sedangkan kelinci merah, adalah salah satu makhluk tercepat di benua angin biru, sehingga Sania harus membuat satu jalur agar mengurung kelinci merah di dinding Es untuk membekukan tubuhnya.
Hingga saat ini, Wersno dan Sania menyerahkan tanda ujian ke petugas penjaga gerbang dan mereka diperbolehkan untuk masuk ke halaman luar istana pedang suci.
Di sana sudah berkumpul kurang lebih 130 murid yang telah berhasil melewati ujian ke tiga. Termasuk juga Joua dan ke empat saudara keluarga cabang klan Gong yang berada dalam satu baris dengan putri Xiumin Gong.
Putri Xiumin melihat ke arah Sania dengan tatapan mata penuh kebencian, tapi dibalas oleh Sania senyum mengejek karena rencana untuk membunuh dirinya telah gagal.
Tanpa perlu menunggu lama, sosok grandmaster Elonel pun muncul bersama lima master ilmu pengetahuan yang menjadi kurikulum pendidikan di akademi pedang suci.
"Selamat, aku secara pribadi mengucapkan selamat kepada semua calon murid yang telah dipastikan menjadi bagian dari akademi pedang suci... Jadi untuk selanjutnya, kalian harus memilih satu dari kelima master ilmu pengetahuan, alkemis, rangkaian prasasti, tempa senjata, pengobatan, dan bisnis."
Setiap murid pun melangkah ke masing-masing meja dimana para guru akan mendata setiap nama yang ingin menjadi bagian dalam kelas mereka.
Ilmu alkemis memiliki tiga puluh murid.
Ilmu tempa senjata dua puluh murid.
Ilmu rangkaian prasasti empat puluh murid.
Ilmu pengobatan dua puluh murid
Dan ilmu bisnis sepuluh murid.
__ADS_1
Setelah di daftarkan nama ke masing-masing mata pelajaran, kini di pilihlah dari semua murid untuk memasuki ke empat istana yang akan menjadi tempat mereka akan belajar.
Tapi ini bukan sekedar tempat belajar dan asrama biasa, dimana setiap istana seperti bersaing satu sama lain, setiap murid yang berada di dalam istana memiliki nilai khusus, dimana saat di jumlahkan dari keseluruhan nilai murid, itu akan menjadi poin tingkat bagi istana mereka.
Tentu bukan sekedar nilai, mereka akan mendapat banyak kompensasi ketika istana yang di tinggali memiliki nilai tinggi, seperti hadiah batu jiwa, pedang logam platinum, koin emas dan masih banyak lagi.
Sehingga masing-masing murid selalu berlomba meningkatkan kualitas diri agar mendapat banyak poin yang bisa menjadi sebuah keuntungan.
Di setiap ajaran baru akademi pedang suci, nilai istana akan kembali ke poin dasar, dan para murid mulai berlomba-lomba mencari poin peringkat.
Istana timur menjadi yang terbaik di tahun kemarin.
Dan istana selatan berada di posisi dasar karena nilai mereka sangat rendah.
Pembagian istana dilakukan berdasar undian, sebuah keberuntungan jika mereka mendapat tempat di istana timur, karena di sana ada banyak murid-murid jenius yang memiliki peringkat tinggi.
Sedangkan menjadi kesialan untuk siapa pun yang harus menerima nasib sebagai bagian istana selatan, karena murid di sana hanya sekelompok berandalan dan selalu berbuat onar saja.
Kali ini, Sania tidak bisa membantu apa pun soal Wersno.
Masing-masing murid diantarkan ke setiap istana, Sania dan semua murid perempuan memiliki asrama mereka sendiri yang dimana di dalam kamar sudah ada satu senior untuk menjadi teman satu ruangan.
Tapi sebelum Sania pergi ke kamar, Grandmaster Elonel datang menghampirinya. Sebagai seorang murid tentu Sania memberi hormat saat saling bertemu.
"Grandmaster Elonel." Ucap Sania sopan.
Sosok Elonel dengan perawakan lelaki muda tampan menunjukkan ekspresi wajah tampak tenang dan santai, senyum lembut yang di perlihatkan langsung kepada Sania seakan ada maksud tertentu sehingga dia datang secara langsung.
"Putri Sania Avya, bisa kita bicara sebentar." Pinta grandmaster Elonel.
"Tentu grandmaster, murid ini akan mendengar apa yang ingin anda katakan." Balas Sania sopan.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari ikut aku..." Ucap Elonel membawa Sania pergi dari kelompok murid ke istana barat.
Bisa dikatakan sebuah kebanggaan untuk Sania karena seorang legenda hidup, sang pendekar pedang naga Elonel ingin bicara empat mata dengannya. Dimana Sania pun sudah mendengar sepak terjang Elonel sebagai pelindung benua.
Tapi beda lagi dengan Wilea, dia tidak menganggap Elonel sebagai sosok hebat, karena memang sebagai jiwa Phoenix biru yang hidup milyaran tahun, dia hanya memandang Elonel seperti anak kemarin sore.
Sania di bawa masuk ke satu ruangan khusus yang menjadi tempat bagi grandmaster Elonel bersantai. Sedikit basa basi menyajikan beberapa cemilan dan minuman oleh pelayan, Sania tidak tahu kenapa pendekar pedang naga tertarik untuk biagat dengannya.
"Aku melihat semua yang kau lakukan di setiap ujian, aku pikir kau sangat luar biasa, nona Sania." Puji grandmaster Elonel tersenyum senang.
"Terimakasih banyak grandmaster, pada akhirnya aku masih seorang murid yang belum memiliki pengalaman." Namun Sania masih merendah diri.
"Itu tidak benar, kau bisa menggunakan kekuatan domain skala besar di usia Enam belas tahun adalah prestasi yang hampir mustahil dilakukan oleh orang jenius sekali pun." Lanjutnya memberi pujian lain.
"Kalau begitu, aku dengan senang hati menerima pujian anda grandmaster." Jawab Sania tersenyum.
"Baiklah aku tidak akan banyak bicara, tujuanku membawamu kemari adalah ingin bertanya... Apa kau mau menjadi murid ku secara langsung." Ucap grandmaster Elonel tanpa pikir panjang.
Sania seperti mendapat keberuntungan besar, dimana menjadi murid langsung grandmaster Elonel adalah suatu kebanggaan yang tidak mungkin bisa dimiliki begitu saja.
Menurut kabar angin, pendekar pedang naga Elonel hanya memiliki lima orang murid sepanjang hidupnya, dan tiga diantara mereka kini masih berstatus sebagai murid akademi pedang suci peringkat tertinggi.
Sania merasa bingung...."Bukan aku ingin menolak grandmaster, tapi bukannya ini akan menjadi masalah besar, jika murid baru seperti ku mendapat kehormatan untuk menjadi murid langsung di bawah ajaran anda."
"Memang siapa yang peduli, ini adalah keinginan ku, tidak ada satu pun orang bisa membantahnya." Jawabnya tertawa.
"Tapi tolong katakan alasannya grandmaster."
"Alasan yang pasti adalah kau memiliki potensi besar di masa depan nanti, dan alasan lain adalah aku mengenal betul sosok paman mu, Rezar Avya." Ungkap grandmaster Elonel .
Sekali lagi nama Rezar Avya, paman Sania terucap, tapi kalo ini sosok pendekar pedang naga sendiri lah yang mengatakannya.
__ADS_1