
Di hutan pegunungan Soulland, tidak mudah mencari binatang iblis dengan tindik bertanda yang di lepaskan oleh guru besar Elonel, karena nyatanya ada lebih dari seribu binatang iblis dari tingkat rendah hingga tinggi sengaja di biarkan hidup.
Ini juga sebagai bentuk perlindungan bagi akademi pedang suci agar tidak ada orang asing menyusup dari dalam hutan. Karena memang hanya ada dua jalan utama menuju ke atas akademi, pertama melalui anak tangan pintu masuk dan kedua melalui hutan pegunungan Soulland.
Namun pintu masuk memiliki rangkaian prasasti untuk mendeteksi setiap kehadiran semua orang yang berjalan melewatinya, dan hutan pegunungan Soulland dipenuhi binatang iblis berbahaya.
Dan sekarang, Sania bersama Wersno menuju arah hutan sebelah barat, tapi memang benar ujian kali ini sangat beresiko tinggi hingga bisa membunuh mereka.
Bahkan untuk sekarang, Sania baru mencari dalam beberapa jam, tapi dia sudah membunuh lebih dari dua belas Binatang iblis tingkat rendah hingga menengah.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sania mengambil setiap batu jiwa yang ada di dalam tubuh untuk nanti dia jual. Tapi sayangnya, dari semua Binatang iblis itu, tidak ada satu pun memiliki tindik bertanda yang di siapkan oleh guru akademi.
Namun melihat Sania yang membelah tubuh binatang iblis itu dan mengambil batu jiwa dengan tangannya sendiri, membuat Wersno jijik.
"Apa yang kau lakukan, itu jorok." Ucap Wersno.
"Jorok ?, Bukankah kau sering berburu binatang iblis." Balas Sania.
"Tapi aku tidak mau mengotori tangan ku dengan darah Binatang seperti ini."
Sania melihat Wersno malas...."Dasar, anak raja memang beda. Asal kau tahu, batu jiwa milik binatang iblis itu mahal, tergantung tingkat mereka, jadi untukku ini sangat menguntungkan karena bisa menukarkannya dengan uang."
Tetap saja, Wersno tidak tertarik dengan batu jiwa yang Sania dapatkan.
Mereka segera melanjutkan perjalanan, tapi tiba-tiba saja, sebilah tombak melesat dan menancap tepat di hadapan Sania. Itu bukan ketidaksengajaan tapi memang arah tombak ingin melukainya.
"Siapa kalian...." Ucap Sania yang tahu bahwa ada beberapa orang sedang bersembunyi di balik dahan-dahan pohon.
Tapi tidak ada jawaban, hingga Sania menarik pedang di tangannya dan melepas serangan energi dingin serupa tombak es yang menerjang lurus ke arah mereka.
Satu persatu menghindar dan melompat turun.
__ADS_1
"Aku tidak pernah mencari permusuhan di sini, tapi kenapa kalian ingin membunuhku." Tanya Sania
"Tidak ada maksud kami untuk melakukannya, hanya saja. Putri Xiumin memerintahkan kepada kami memberi anda pelajaran." Ungkap mereka.
"Jadi wanita itu... Padahal aku tidak pernah sekali pun mengusiknya." Rumit Sania memikirkan masalah yang datang.
"Kami tidak tahu soal masalah anda dengan putri Xiumin, kami hanya mendapat perintah saja." Jawabnya santai.
"Baiklah aku akan menunjukkan ketidaksenangan ku ini, karena itu yang dia inginkan." Jawab Sania.
Di sisi lain, Wersno terkejut, dia sebenarnya tahu jika Putri Xiumin sudah menargetkan Sania karena dia jauh lebih mendominasi perhatian semua orang.
Sebagai anak dari seorang raja, Wersno mengenal putri Xiumin cukup lama dan beberapa kali mereka bertemu di acara pertemuan bagi penguasa di daratan tengah ini.
Tanpa keraguan sedikit pun, Sania sudah siap untuk melawan, bahkan jika mereka berlima tidak segan-segan melukainya, itu tidak membuat Sania takut.
Hingga satu orang pun maju, dia merasa akan menjadi perlawanan yang mudah untuk menghadapi seorang wanita.
Tanah dan pepohonan di sekitar pun berubah menjadi es, termasuk orang yang menyerang Sania tidak lagi bisa bergerak, dimana saat ini dia sudah terkurung di dalam bongkahan es.
Orang-orang lain yang masih melihat terkejut seketika, mereka tahu tingkat kekuatan masing-masing saudaranya, bahkan lawan Sania itu adalah raja tempur tahap awal, hampir mustahil kalah hanya dengan satu serangan saja.
Kenyataan tetaplah menjadi kenyataan, dimana tubuh saudara mereka kini menjadi sebuah patung Es dan cukup mudah untuk Sania membunuhnya.
Namun tepat sebelum Sania melakukan itu, dua saudara klan Gong yang lain bergerak cepat untuk menyerang bersama-sama. Ayunan dua pedang pun melesat dari dua sisi berbeda. Sania coba menangkis, tapi kekuatan mereka cukup mampu mendorong mundur dirinya secara paksa.
Satu orang membantu menyelamatkan saudaranya, dan satu orang lain kini sudah bersiap dalam kuda-kuda untuk kembali menyerang.
"Awalnya aku meremehkan mu karena kau bukan orang yang terkenal di daratan tengah, tapi siapa sangka, kau tidak hanya memiliki kecantikan saja, tapi juga ahli dalam pengendalian energi dingin." Jawab satu orang tersenyum sendiri.
"Bukan aku yang kuat, tapi kalian semua hanya sekumpulan orang lemah." Sania secara terang-terangan memprovokasi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, biar aku hancurkan kesombongan mu sekarang."
Satu lelaki yang ingin melawan Sania adalah seorang ahli beladiri tingkat raja tempur tahap akhir. Joua Gong, dia berada satu langkah di atas Sania dan merasa tersinggung ketika mendengar ejekan itu.
Seperti yang dikatakan olehnya, bahwa Sania bukan sosok terkenal sehingga mereka tidak tahu secara pasti tentang kekuatannya. Karena tanpa mereka ketahui, Sania adalah seorang jenius di atas rata-rata.
Dia bisa bersaing melawan orang yang memiliki kekuatan di atasnya, bahkan jika dalam kondisi jiwa dikendalikan oleh Wilea, sang Phoenix biru. Sania mampu mengalahkan seorang ahli penguasa tempur tahap tengah.
Dan kali ini, Joua bergerak maju untuk satu serangan lurus ke arah tubuh Sania, kecepatan kecepatan langkah kaki Joua tidak bisa di ikuti oleh mata manusia biasa.
Di tambah lagi, pedang yang ada di tangannya pun di selimuti oleh energi petir sebagai penambah daya hancur untuk setiap kali ujung pedang bersentuhan dengan suatu benda.
Serangan pedang berselimut energi petir menerobos duri-duri es yang berada di sekeliling Sania, semua hancur dalam sekejap. Tapi yang berbahaya adalah kecepatan pergerakan Joua, dimana Sania pun merasa kesulitan saat harus mengimbanginya.
Tapi bukan berarti Sania akan kalah, dia memang kurang di bidang kecepatan, namun untuk urusan kekuatan energi tenaga dalam, dia jauh lebih yakin.
Tepat sebelum Joua mendekat di jarak 1 meter, Sania segera melepas energi dingin yang lebih besar sehingga menutupi tanah dengan duri tajam menjulang tinggi menyamai pepohonan belasan meter.
Joua tidak bisa menerobos, pedangnya berdenting keras karena kepadatan es yang Sania ciptaan jauh lebih kuat dari sebelumnya dan dia pun harus melompat mundur, menghindar dan menyelamatkan diri sebelum duri-duri es menancap di tubuhnya.
Berada cukup jauh dan aman, ini membuat Joua tertawa dengan maksud memprovokasi Sania...."Apa kau hanya berniat main-main di dalam es mu saja, nona.. keluarlah ."
"Aku akui kau kuat, tapi itu belum cukup, karena setelah ini kau akan tahu kemarahan dari seorang wanita."
"Wahhh, Aku takut ... " Jawab Joua mengejek.
Masih ada kesempatan bagi Joua dan ke tiga saudara-saudaranya itu untuk tertawa sekarang. Karena setelah mereka puas tertawa Kabut dingin berwarna putih menyebar di atas pijakan kaki Joua dan semua orang.
"Domain beku : dunia dingin keabadian."
Di saat semua orang sadar, kini hutan di sekitar sudah berubah menjadi daratan es yang tidak biasa.
__ADS_1