The Over Lord : The New Phoenix Empress

The Over Lord : The New Phoenix Empress
pohon jatuh dengan buahnya


__ADS_3

Sania tidak merasakan niat buruk dari raja Jonzar, bahkan sifat antara anaknya sang pangeran mahkota Wersno dengan sang ayah jelas berbeda, bahkan berbanding terbalik.


Jika Jonzar adalah sosok penuh wibawa dan ketegasan, sedangkan Wersno sangat kekanak-kanakan, menunjukkan diri bahwa dia ingin mendapat pujian dari orang lain, meski secara khusus hanya kepada para wanita saja.


Itu yang dilihat oleh Sania antara mereka berdua.


Tapi pada kenyataannya, Wersno adalah cerminan dari dirinya sendiri, benar-benar mirip, ibarat 'pohon jatuh dengan buahnya'. Namun Jonzar sudah mencapai titik kedewasaan, dia tahu mana baik dan buruk, memahami soal kehidupan dan tahu bahwa istrinya akan marah jika terlalu banyak bermain-main.


Begitu pula saat Jonzar melihat Sania yang memiliki kecantikan begitu menakjubkan, dia masih bisa bersembunyi dari rasa terkejut itu dan melakukan poker face agar tetap menunjukkan wibawanya.


"Jadi nona Sania, apa tujuan anda datang ke kerajaan ini." Tanya Raja Jonzar menunjukkan sedikit senyum agar bisa mengikuti suasana.


Tujuan Jonzar kepada Sania memang bukan mencari permusuhan atau membuatnya tidak nyaman, sehingga dia harus memberi sedikit senyum agar bisa mencairkan suasana.


"Aku hanya singgah di kerajaan Fluel untuk melewati perbatasan ke akademi pedang suci. Harusnya aku bersama murid akademi pedang suci lain yang diutus oleh master akademi sebagai pengantar, tapi sebuah kejadian di hutan besar Tuwahun membuat mereka tewas." Sania menjelaskan tentang cerita yang dia buat sendiri.


Raja Jonzar mengangguk-anggukkan kepalanya..."Aku sudah mendengar berita itu dari prajurit yang melihat ke sana, tapi siapa sangka kau adalah calon murid akademi pedang suci, sungguh luar biasa."


Jonzar pun tahu seberapa sulit bagi orang-orang yang ingin mendaftarkan diri mereka sebagai murid akademi pedang suci, tidak hanya tentang ujian masuk memiliki resiko kegagalan tinggi, tapi juga pelatihan berat dari para master di sana, terbilang sangat berat.


"Terimakasih tuan, karena itu aku datang dari wilayah timur yang jauh agar bisa berlatih menjadi ahli beladiri." Sania memberi alasan kuat.


"Itu bagus, aku senang melihat anak muda yang memiliki keinginan besar daripada menjadi seorang pemalas dan menghabiskan waktu untuk keinginannya sendiri saja." Ucapan Jonzar tentu sedang menyindir Wersno.


Tapi seakan bocah itu tidak peduli atas perkataan dari ayahnya. Kini Wersno memikirkan hal lain untuk membuat Sania tertarik.


"Sungguh kebetulan sekali nona Sania, aku pun berniat menjadi murid akademi pedang suci saat pendaftaran nanti." Ucap Wersno penuh kebanggaan.


"Oh, benarkah ?." Balas Sania.


"Ya aku akan pergi ke sana..." Wersno bersemangat karena pertama kali bagi Sania bertanya secara langsung.


Jonzar terkejut, karena tahu bahwa Wersno hanya ingin membuat Sania tertarik, dimana sebenarnya berulang kali dia ingin mendaftarkan Wersno ke akademi pedang suci tapi selalu saja ditolak.


Namun kali ini secara terang-terangan Wersno berkata akan mengikuti pendaftaran murid akademi, tentu Jonzar merasa lucu, hanya karena seorang wanita itu membuat keegoisan anaknya hilang.


"Tunggu...bukankah kau menolak tawaran master akademi sebelumnya." Ungkap raja Jonzar.

__ADS_1


Wersno mencoba bersembunyi dari kenyataan..."Kata siapa ayahanda, aku sudah berniat untuk ikut ujian, jadi jangan menganggap perkataan ku ini hanya omong kosong belaka."


"Benarkah, apa kau yakin ?." Raja Jonzar meminta konfirmasi atas ucapan Wersno tersebut.


"Tentu saja, perkataan Wersno tidak akan berubah meski nyawa taruhannya." Tegas jawaban Wersno tanpa ragu.


"Aku senang mendengarnya, jadi lusa nanti akan ayah persiapkan semua kebutuhan mu."


Jika memang hal baik datang kepada Wersno saat berada di dekat wanita yang dia suka, tentu Jonzar ingin memanfaatkan kesempatan itu agar anaknya bisa berubah.


Wersno sedikit terkejut, tapi dia tidak bisa menarik perkataannya karena sudah bersikap sombong di hadapan Sania.


"Terimakasih ayahanda." Membungkuk hormat Wersno.


"Nona Sania, karena tujuan anda sama dengan Wersno, bukankah lebih baik jika kalian berdua berangkat berdua." Ucap raja Jonzar demi membuat Sania nyaman.


Dan tetap sania berusaha menolak..."Itu tidak perlu tuan raja, aku akan pergi sendiri."


"Jangan menolak permintaan dari orang tua ini, setidaknya semua kebutuhan mu dalam perjalanan akan kami sediakan." Ungkap Raja Jonzar agar Sania mau.


"Baiklah, jika memang tidak merepotkan anda, aku akan menerimanya." Sania pun setuju.


"Itu bagus. Aku akan meminta pelayan menyiapkan tempat istirahat di istana."


Hanya perlu satu tepukan tangan, para pelayan cantik berjalan keluar dari ruangan sebelah, mengantarkan Sania ke satu tempat yang akan menjadi kamarnya untuk beristirahat.


Pelayanan yang diberikan oleh sang raja tidaklah terlalu buruk, bahkan terbilang mewah, karena di istana ini memiliki banyak hal untuk digunakan Sania dan juga makanan pun terasa enak, tentu Sania merasa beruntung.


Meski pun, dia harus bersabar menanggapi setiap perkataan Wersno selama makan malam yang dimana lelaki itu selalu menyombongkan banyak hal, meski sebenarnya Sania tidak tertarik untuk tahu.


Sania tidak ingin terlena akan kesenangan yang dia dapat di istana ini, lepas makan malam, ketika berada di kamarnya.


Dia ingin kembali melakukan meditasi dan menyerap energi alam yang ada di sekitar.


Namun apa yang dia lakukan, ternyata menarik perhatian semua orang di dalam istana, terlebih lagi kakek Sihu karena bisa merasakan aliran energi sangat kuat, dia pun keluar dari pelatihan dan mencari asal energi itu.


Nyatanya tepat di sebuah kamar yang dia ingin datangi, sudah berkumpul beberapa orang di luar. Jonzar dan Wersno, mereka tampak ragu-ragu saat berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan..." Tanya kakek Sihu kepada mereka berdua.


"Kakek..." Wersno terkejut


Begitu pula dengan Jonzar..."Ayah.... Kami tidak...."


"Ah aku tahu, kalian berdua merasa tertarik dengan kekuatan energi milik orang ini." Tanya kakek Sihu.


"Ya itu, itu benar ayah." Jonzar menjawab yakin meski bet senyum palsu darinya.


"Tepat sekali, kakek benar-benar bisa tahu isi pikiran ku." Begitu pula dengan Wersno.


Keduanya benar-benar mirip, sama-sama menyembunyikan tujuan asli mereka dan terpaksalah tertawa meski itu terlihat kaku.


"Aku penasaran siapa orang yang menghasilkan energi sekuat ini, apa kau tahu Jonzar." Tanya kakek Sihu.


"Ya... Ini adalah kamar tamu Wersno, dia seorang wanita bernama Sania." Jawab Jonzar.


"Sania kah .... Aku merasa jika energi yang dia miliki mirip dengan keanehan alam saat malam kemarin." Pikir Kakek Sihu serius.


"Benarkah itu ayah." Jonzar terkejut.


"Tidak salah lagi." Kakek Sihu pun meyakininya.


Tapi selagi mereka saling bicara satu sama lain, pintu kamar Sania terbuka, sosok kecantikan tiada tara yang bahkan membuat keindahan alam malu, kini keluar dengan pakaian santai serupa gaun tidur namun tertutupi oleh kain selimut.


"Maaf tuan-tuan, apa yang kalian lakukan di depan kamarku." Tanya Sania.


"Ah tidak, maaf nona Sania jika kehadiran kami menganggu waktu anda, tapi kami merasa tertarik dengan energi yang anda miliki." Ucap Kakek Sihu terang-terangan.


Senyum Sania terlihat rumit...."Aku memang sedang melakukan meditasi, apa itu tidak boleh ?."


"Tentu saja boleh, sangat boleh, anda bisa melakukan meditasi kapan pun nona Sania mau." Jonzar menjawab.


"Terimakasih kalau begitu."


Perhatian Sania beralih ke sosok lelaki tua yang sedang menatap dengan serius, dia bisa merasakan aura kuat di atas ahli beladiri tingkat Raja tempur, namun Sania tetap tenang dan membalas dengan sedikit senyuman.

__ADS_1


__ADS_2