
Sudah berulang kali Sania mendengar betapa hebatnya sosok Rezar Avya, pamannya sendiri. Rezar juga yang telah membawa nama klan harimau merah untuk di kenal banyak orang, dia pula menjadi pahlawan dalam peperangan melawan sekte tanah neraka dan kerajaan Balasumpang.
Kontribusi besar sebagai seorang ahli beladiri tingkat Sovereign dan satu langkah lagi menuju tingkat saint, tentu tidak banyak orang mampu mencapainya.
Tapi saat Pendekar pedang naga Elonel, mengenal sosok Rezar Avya dengan sangat baik, itu menunjukkan betapa hebat sosoknya di belahan benua angin biru.
"Grandmaster Elonel, kenapa tuan bisa mengenal paman Rezar, apa yang sebenarnya membuat tuan tertarik." Tanya Sania serius.
"Kau tahu, aku pernah menawarkan posisi sebagai murid langsung di bawah kekuasaan ku dan suatu hari nanti dia pula yang akan menjadi penerus gelar penjaga benua..." Jawab Elonel sedikit tertawa.
Sejenak Sania tertegun...."Aku baru tahu soal itu."
"Ya tentu saja, karena ini adalah pembicaraan pribadi yang hanya kami berdua saja." Balas Elonel.
"Lalu kenapa paman Rezar tidak menerima keinginan tuan Elonel sebagai penerus gelar penjaga benua." Kembali Sania bertanya.
Elonel mengangguk perlahan, dia seperti sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Sania...."Sekali dia mengatakan alasannya, bahwa dia sudah lelah untuk hidup di jalan beladiri, dia ingin hidup seperti orang biasa di desa kecil dan membangun sebuah keluarga bahagia tanpa perlu bertaruh nyawa lagi."
Sania memang sudah mendengar alasan itu dari ayahnya, bahwa setelah Rezar kembali ke klan harimau merah, dia memutuskan pergi tanpa mau mengambil posisi kepala keluarga di dalam klan.
Tidak ada yang berani menentang, mereka hanya bisa memahami keinginan Rezar, dan membiarkan dia hidup seperti apa pun itu.
"Di usia yang terbilang muda, Rezar telah membuat banyak hal hebat, dia membantu semua orang di mana pun, menyelesaikan tugas berat dan bermacam-macam konflik, kemampuannya dalam beladiri dan bertarung, memiliki potensi tinggi di masa depan, hanya saja...." Rumit Elonel untuk melanjutkan cerita.
"Hanya saja apa tuan Elonel..." Sania semakin penasaran.
"Suatu hari... Dia menghilang, tidak terlalu lama hanya dua atau tiga tahun, itu setelah peperangan melawan sekte tanah neraka usai, tapi ketika Rezar kembali, sifatnya yang dulu begitu ambisius dan penuh semangat untuk mencari kekuatan, seakan pudar, itu pula yang membuatnya berubah dan memilih hidup sederhana." Ungkapnya begitu serius.
Sania memikirkan tentang waktu beberapa tahun saat Rezar menghilang, itu tidaklah lama, tapi membuat seorang yang dulu begitu ambisius mencari kekuatan tiba-tiba saja berubah, tentu ada alasan dibalik perubahan sikap dari Rezar.
"Kalau boleh tahu, dimana paman Rezar menghilang ?."
__ADS_1
"Aku tidak tahu pasti tempatnya, tapi saat itu ada kabar jika orang-orang di kerajaan Sorazon, ujung barat benua angin biru, menemukan reruntuhan kuno dan Rezar coba mencari sesuatu di sana." Jawab Elonel.
Bisa di pastikan ada suatu kejanggalan yang terjadi dalam penelusuran Rezar di reruntuhan kota kerajaan Sorazon hingga membuatnya berubah, Sania ingin tahu alasan di balik semua ini.
'Bagaiamana menurut mu Wilea ?.'
'Aku hanya terpikir satu hal, reruntuhan kuno itu adalah salah satu tempat peninggalan dewa Askar, dan Rezar mengetahui suatu rahasia besar yang di sembunyikan di sana.'
'Apa kita perlu pergi ke sana ?.'
'Ya aku pun ingin tahu.'
'kalau begitu, mungkin nanti.'
Setelah cukup banyak Elonel bercerita tentang Rezar dan keinginannya menjadikan dia sebagai seorang murid, namun di tolak.
Tapi tidak terlihat sebuah penyesalan di wajah Elonel, hingga saat Sania mengatakan bahwa Rezar telah tewas dalam tragedi pembantaian desa Mahresa, sejenak Elonel diam dan memejamkan mata, seperti sedang menenangkan diri.
"Jadi tuan Elonel, apa anda bisa menebak siapa yang membunuh paman ku."
Menggeleng kepala Elonel...."Entahlah... Tapi yang jelas dia haruslah berada di atas tingkat kekuatan ahli beladiri Sovereign."
Sania tidak berharap banyak soal tragedi desa Mahresa yang membuat Rezar tewas, karena bisa dipastikan ini adalah dendam antara pamannya dan orang lain.
Tentang semua itu, Sania menyerahkan penyelesaian masalah pembantaian desa Mahresa kepada Raynor, dia adalah orang yang memiliki memiliki alasan demi membalas kematian kedua orang tuanya.
Dan kini, Sania pun meminta undur diri, dia masih belum menjawab permintaan tuan Elonel sebagai murid langsung.
Meski pun ada banyak keuntungan jika Sania mendapat posisi sebagai murid langsung pendekar pedang naga Elonel, tapi di akademi pedang suci, dia hanya anak kecil dan murid-murid lain tentu akan menaruh rasa iri.
Sania hendak kembali ke istana barat, tempat asrama murid perempuan, tapi karena ruangan Grandmaster Elonel ada di istana suci, sehingga Sania harus berkeliling ruangan terlebih dahulu.
__ADS_1
Hingga sampai di sebuah aula besar tempat banyak barang-barang terpajang di setiap sisi dinding ruangan. Ini membuat Sania sedikit takjub.
Dimana pemilik akademi pedang suci adalah pendekar pedang naga yang sangat terkenal seantero benua angin biru, tentu dia menyimpan hal-hal berharga **** itu sebuah pajangan dinding semata.
Namun dari sekilas pandang ketika Sania berkeliling untuk melihat setiap interior ruangan, ada satu benda yang membuat Wilea tertarik dan memintanya berhenti.
'Sania, aku ingin melihat patahan pedang di sana.' Wilea memberi arahan.
'Kenapa kau tertarik dengan patahan pedang.'
'Sudahlah, aku hanya ingin memastikan saja.'
Sania pun mengikuti keinginan Wilea, berada di pojok kanan dari tengah aula, ada mata pedang berkarat yang patah tanpa pegangan, benda itu terpanjang dalam sebuah kotak kaca dan tidak terlihat menarik bagi siapa pun.
Namun Wilea cukup serius memastikan, dia melihat dari pandangan jiwa Sania dengan ekspresi wajah tidak biasa.
Sebagai renkarnasi jiwa Phoenix biru yang sudah hidup milyaran tahun, tentu Wilea tahu mana benda berharga atau rongsokan semata.
'Tidak salah lagi, ini adalah patahan pedang milik dewa Askar.'
'Apa kau yakin ?.'
'ya aku yakin, hanya saja, pedang kelas Dewa harusnya tidak akan patah, berkarat atau pun kehilangan auranya, tapi ini....'
'Memang apa yang terjadi...'
'Satu-satunya kekuatan yang mampu menghancurkan pedang dewa, adalah pedang milik dewa lain, tapi itu pun masih belum cukup, kecuali, lawannya berada jauh di atas Dewa askar.'
Sania masih belum terbiasa saat Wilea menceritakan betapa menakjubkannya kisah hidup para Dewa, mereka adalah kehendak dari tuhan sejati yang menciptakan jagat raya.
'Jika pedang itu hancur di dunia ini, maka... Ada lawan setingkat dewa pernah bertarung dengan dewa Askar di sini.'
__ADS_1
Sekilas pikiran Wilea tertuju kepada satu eksistensi yang menjadi lawan kuat bagi dewa Askar, kaisar Kiamat.