
Hari keberangkatan pangeran Wersno menuju akademi pedang suci pun telah datang.
Dia tidak bisa lagi beralasan untuk kabur dari perkataannya, bahwa dia siap mengikuti pendaftaran murid baru di akademi pedang suci.
Terlebih lagi kakek Sihu, ayahanda Jonzar dan ibunda Caran sudah mempersiapkan segala keperluan selama perjalanan anak lelakinya itu dengan sekumpulan prajurit yang melakukan parade di sepanjang jalan kota kerajaan Fluel.
Sania pula mendapat tempat khusus bagi kakek Sihu dan kerajaan Fluel sebagai sosok keponakan dari sang pahlawan, Rezar.
Kakek Sihu secara khusus mengantar Sania sebelum pergi, bagi siapa pun, bahkan untuk Jonzar anaknya sendiri, cukup jarang kakek Sihu memberikan waktu seperti sekarang.
Di beberapa tahun ini, kakek Sihu sudah melakukan meditasi dan latihan setiap hari, ketika orang lain yang ingin bertemu harus membuat daftar tunggu sampai kakek Sihu dengan sendirinya keluar dari pelatihan tertutup.
Kakek Sihu memberi nasihat kepada Sania..."Sania, kau tidak perlu khawatir jika Wersno melakukan hal yang macam-macam, pukuli saja dia sampai babak belur, tapi tolong jangan berlebihan apa lagi membuatnya tewas."
"Aku akan mengingat perkataan kakek." Jawab Sania sopan dengan sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.
"Meski terlihat tidak berguna, tapi tetap saja dia cucuku." Lanjut kakek Sihu mengatakan kenyataannya.
Wersno yang mendengar ocehan kakek Sihu merasa tersinggung.
"Padahal aku cucunya, tapi kenapa terdengar seperti aku akan menjadi penjahat." Gumam Wersno tidak senang.
Menggunakan kereta kuda mewah dan para prajurit yang menjaga Wersno hingga sampai tujuan.
Sedikit menceritakan tentang Wersno, dia bukan sosok berbakat seperti halnya Sania, karena untuk sekarang pun, dia tidak lebih seorang ahli beladiri tingkat pencapaian surga tahap tengah.
Itu terbilang wajar bahkan cukup luar biasa, mengingat usia Wersno masihlah 16 tahun satu generasi seperti Sania dan bukan pula bakat yang buruk. Hanya saja jika harus dibandingkan dengan Sania yang sudah mencapai tingkat Raja tempur tahap tengah, Wersno masih belum ada apa-apanya.
__ADS_1
Semua karena bakat Sania sangatlah tinggi, ditambah lagi teknik meditasi dunia beku abadi yang diberikan oleh Raynor adalah teknik tingkat dewa.
Namun, bagi orang dengan bakat biasa saja di berikan teknik meditasi tingkat dewa akan percuma dan berakhir tidak berguna, karena mereka harus memiliki pemahaman yang sangat tinggi.
Tapi untungnya, Wersno terlahir di keluarga kerajaan, sehingga dia tidak perlu kebingungan mencari sumber daya di dalam peningkatan energi dalam tubuhnya.
Berada di dalam kereta kuda yang sama, Wersno dan Sania duduk saling berhadapan. Namun ketidaknyamanan bagi Sania karena sepanjang perjalanan dia harus melihat wajah Wersno tersenyum tanpa alasan.
"Nona Sania, kenapa kau ingin belajar di akademi pedang suci, bukankah itu akan percuma saja." Ucap Wersno yang membuka percakapan.
"Percuma seperti apa yang anda maksud ?." Sania membalas dengan berusaha untuk tetap sopan.
"Ya anda seorang wanita, bertarung adalah hal buruk yang mungkin berbahaya, bukankah menjadi istri dari lelaki kaya, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sepanjang hidup." Jawab Wersno tersenyum aneh penuh makna.
Tapi dalam ungkapan itu, secara jelas Wersno ingin membuat Sania sadar, bahwa dirinya terasa pantas untuk menjadi suami masa depannya.
"Selama suami nona Sania memiliki banyak uang, tentu ada pengawal yang bisa dibayar untuk melindungi anda." Wersno coba menjelaskan dengan wajah penuh rasa bangga.
Di dalam hati Sania dia merasa ingin menarik pedangnya dan menebas kepala Wersno, tapi dia menghormati perasaan kakek Sihu.
"Itu terdengar bagus dan sangat sederhana, namun saat kerajaan Fluel di serang oleh orang-orang jahat di masa lalu, siapa yang bisa menyelamatkan kerajaan Fluel, apa itu para prajurit yang dibayar, atau seorang ahli beladiri dermawan." Jawab Sania dengan nada serius.
Seketika Wersno terdiam, perkataan Sania mengatakan kenyataan yang terjadi di kerajaan Fluel. Di saat kerajaan mengalami kekacauan, rumah-rumah hancur dan semua prajurit pun tidak mampu melawan.
Atas munculnya Rezar itulah, kerajaan Fluel berhasil lolos dari kehancuran. Hal ini yang di tunjukan oleh Sania, bahwa dia belajar di akademi pedang suci bukan sekedar mencari kesenangan semata atau menyalurkan bakat terpendam.
Tapi demi melindungi orang-orang di sekitarnya dari bahaya. Hal ini pula mengingatkan Sania tentang kejadian yang menimpa desa Mahresa. Satu-satunya orang selamat hanya Raynor, sedangkan dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan nyawa keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Tuan Wersno, memang benar di dunia ini mereka yang memiliki kekayaan dan kekuasaan bisa mendapat segalanya, namun ketika kita tidak bisa melindungi semua, maka itu akan percuma." Tambah Sania dengan tatapan tajam.
Setelah jawaban Sania, Wersno hampir tidak tahu harus bagaimana memberi tanggapan, karena memang di dunia ini orang yang memiliki kekuatan jauh lebih di hormati.
Perjalanan dari kerajaan Fluel menuju pegunungan Soulland tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu tiga hari dua malam.
Hutan-hutan di wilayah benua bagian tengah pun tidak terlalu berbahaya seperti halnya ketika Sania melakukan perjalanan di sisi bagian timur benua yang harus melewati hutan besar Tuwahun.
Jarang mereka lihat ada Binatang iblis muncul di sekitar, sekali pun ada itu tidak lebih sekedar binatang iblis rusa tanduk api, serigala taring pedang, beruang cakar perak dan beberapa lainnya masih di dalam kategori biasa saja.
Sedangkan binatang iblis kategori tinggi, benar-benar tidak ditemukan, bukan berarti Sania berharap untuk mereka datang, tapi ini jelas membuatnya sedikit miris.
Bagaimana tidak, peradaban manusia yang semakin hari semakin bertambah besar terkadang terlalu rakus untuk memburu para binatang iblis di hutan, mereka mencari keuntungan, memperjual belikan dan menggunakannya sebagai hiburan dalam waktu luang.
Sedikit demi sedikit jumlah binatang iblis semakin berkurang, mereka melarikan diri dari wilayah mereka yang sudah di rusak oleh para manusia dan bersembunyi di bagian hutan terdalam.
Di malam kedua perjalanan mereka.
Sania, Wersno dan para prajurit lain beristirahat di pinggiran hutan untuk menyalakan api unggun dan membuat makan malam.
Tapi karena kejadian di hutan besar Tuwahun membuat Sania marah dan membunuh ketiga murid akademi pedang suci. Dia pun tidak segan-segan mengancam.
"Jika kau dan kalian semua melakukan sesuatu yang buruk, maka jangan salahkan aku kalau perjalanan ini berakhir." Ancam Sania.
"Aku tidak akan melakukan hal buruk." Wersno telah berjanji.
"Baguslah kalau begitu."
__ADS_1
Semua yang di perlukan dalam perjalanan Wersno sudah tersedia, para prajurit memberi pelayanan total dari mulai menyediakan baju, berburu, membuat makanan, bahkan ketika kaki Wersno pegal, para prajurit itu akan dengan senang hati memijat, padahal dari awal perjalanan dia selalu di dalam kereta kuda.