
Tentu semua orang bertanya-tanya, tentang apa yang terjadi, bagaimana bisa dia melewati dinding pembatas ciptaan pendekar pedang naga Elonel.
Mereka mulai berpikir jika ujian ini tidak mungkin dibuat mustahil untuk mereka selesaikan, dan pada akhirnya satu persatu mencoba cara yang dilakukan oleh sosok lelaki itu.
Begitu pun dengan Sania...
Dia mendekatkan diri di depan lapisan pelindung energi itu dan mengalirkan sedikit kekuatan tenaga dalam, ternyata memang ada sesuatu dibalik ujian ini.
Sania pun bertanya kepada Wilea..."Jadi apa menurut mu ?."
"Ini ujian jika kau bertanya kepadaku itu curang namanya, jadi lakukan sendiri, jangan bergantung dengan orang lain." Balas Wilea menolak tegas.
"Memang apa salahnya dengan meminta bantuan, pada akhirnya kau dan aku adalah satu di dalam tubuh, jadi bukan curang namanya meminta bantuan ke diri sendiri." Sania mencoba beralasan.
"Kau itu... Hmmm baiklah. Tapi aku hanya memberi sedikit bantuan yang bisa kau pahami dengan mudah." Balas Wilea.
"Apa itu..." Sania bersemangat.
"Bocah Elonel itu..." ungkapnya.
Sania tertawa mendengar panggilan Wilea kepada pendekar pedang naga Elonel, meski pun memang benar, karena siklus usia Phoenix biru sudah lebih dari jutaan tahun, sedangkan Elonel baru ratusan tahun.
Bagi Sania, Elonel sekali pun, hanya sebatas bocah ingusan yang baru lahir kemarin sore, tapi tetap saja itu terdengar lucu.
"kenapa kau tertawa ?." Wilea merasa aneh melihat sikap Sania.
"Tidak bukan apa-apa, lanjutkan..."
"Bocah itu, hanya membuat lapisan anti energi, jadi harusnya kau tahu bagaimana cara mengatasi ujian ini." Wilea sudah memberi informasi.
Sania pun paham, kenapa semua orang tidak bisa melewati dinding energi pembatas, itu karena didalam tubuh mereka masih terdapat energi tenaga dalam.
Atas bantuan dari Wilea, dia tahu cara menyelesaikan ujian kali ini, yaitu melenyapkan semua kekuatan tenaga dalam agar tidak terdeteksi oleh lapisan anti sihir.
__ADS_1
Secara perlahan namun pasti, Sania menekan seluruh aliran energi tenaga dalam di tubuhnya, semakin tipis hingga tidak ada lagi yang tersisa.
Ternyata itu berhasil, Sania menjadi orang kedua yang mampu melewati ujian kedua dan tanpa perlu menunggu orang lain, dia berniat untuk pergi.
"Ini sangat mudah ...."
"Jangan sombong, tanpa bantuan ku kau pasti membutuhkan waktu yang lama." Sindir Wilea melalui transmisi pikiran.
Di sisi lain dinding pembatas, Wersno terlihat murung karena Sania tidak mau memberi bantuan, mau bagaimana lagi, ini adalah ujian bagi masing-masing calon murid demi mengukur tingkat kemampuan mereka.
Sania melangkahkan kaki mengikuti jalan setapak yang memang di sediakan oleh akademi untuk para calon murid ke tempat ujian ketiga.
Apa yang Sania temukan di ujung jalan adalah sebuah arena luas dengan lantai berlapis batu marmer.
Di sana pula sudah ada satu lelaki urutan pertama berdiri diam selagi menatap ke sekitar puncak dengan istana-istana megah. Namun perhatian lelaki itu kini tertuju kepada Sania.
Di lihat dari ekspresi wajahnya, dia begitu tenang dan santai, seakan-akan tidak tertarik dengan kecantikan Sania yang selalu berhasil membuat para lelaki terkagum-kagum.
Meski terlihat biasa saja, Sania merasa kurang nyaman untuk berada di dekat lelaki bernama Yon itu, seakan ada suatu aura aneh yang muncul dan membuat Sania enggan mendekat.
"Jangan terlalu banyak memuji tuan, aku hanya beruntung." Jawab Sania tersenyum.
Keberuntungan Sania ada pada jiwa Phoenix biru di dalam tubuhnya, bagaimana pun juga, Wilea memiliki pengetahuan yang sangat banyak.
Selama perjalanan bersama dewa Askar berkeliling jagat raya, Wilea telah bertemu bermacam-macam kejadian dan mendapat pelajaran dari itu semua.
"Tapi tetap saja, tidak banyak gadis muda yang berbakat seperti anda."
"Aku anggap itu sebagai pujian, tuan." Balas Sania.
"Perkenalkan, aku adalah Yon Zerrnad, panggil saja aku Yon." Lanjut dia memperkenalkan diri.
"Baiklah tuan Yon, aku adalah Sania, Sania Avya." Begitu pun sania.
__ADS_1
"Avya ... Kah." Ekspresi di wajah Yon, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Apa ada yang salah dengan nama marga ku ?." Tanya Sania.
"Tidak-tidak, aku hanya mengingat satu orang yang memiliki marga yang sama dengan anda, dia juga menyandang marga Avya." Ucap Yon terlihat serius.
Seakan Sania paham..."Kemungkinan besar itu adalah paman ku, Rezar Avya."
Yon pun ingat soal sosok Rezar ..."Ya itu, pantas saja aku merasa tidak asing, kau adalah keponakan dari salah satu pahlawan."
Ada perasaan bangga ketika ada orang lain memberi pujian untuk pamannya Rezar, karena semua yang dia lakukan, membuat nama marga Avya dari klan harimau merah menjadi cukup terkenal di benua angin biru.
"Jadi anda juga tahu tentang peristiwa peperangan melawan sekte tanah neraka."
"Itu cerita yang cukup lama, tapi aku tahu, karena aku pun ada di sana saat peperangan terjadi." Jawabnya tersenyum sendiri.
Sania mendengar cerita yang digambarkan oleh Yon. Setiap orang memiliki ingatan berbeda tentang pamannya itu, namun bisa dipastikan inti dari semua cerita adalah kepahlawanan seorang Rezar.
Sekte tanah neraka, ada kemungkinan besar jika tragedi pembantaian di desa Mahresa di lakukan oleh mereka sebagai bentuk pembalasan dendam.
"... Aku bertanya-tanya, Kenapa ada manusia ingin membebaskan para iblis itu, sesungguhnya iblis sangat membenci manusia dan mereka ingin menguasai dunia." Sania bertanya karena dia merasa tidak enak jika hanya diam saja.
"Nona, iblis memiliki kekuatan yang murni, mereka adalah jelmaan dari kebencian, jadi bagi orang-orang yang gila akan kekuatan, bersekutu dengan iblis adalah satu cara agar bisa mendapat kekuatan lebih tinggi lagi." Jawabnya.
Semua pengikut dari sekte tanah neraka itulah orang-orang yang telah terhasut oleh rayuan iblis, mereka tentu tidak berpikir, bahwa iblis sudah memanfaatkan keinginan manusia akan kekuatan.
Cukup lama Sania dan Yon menunggu, hingga mulai berdatangan banyak calon murid yang datang dengan wajah kusut dan langkah kaki lemas.
Wersno pun demikian, dia terlihat tidak memiliki kekuatan untuk berjalan dengan benar, sekali berjalan tubuhnya akan oleng ke kiri dan kanan hingga ketika melihat Sania di sana, ekspresi wajah pun berubah cerah.
Dia menjadi kembali bersemangat, tanpa perlu ancang- ancang langkah kaki berlari cepat menuju ke arah Sania. Dan sekali lagi, saat Wersno melompat untuk mendapat pelukan, Sania menghindar, hingga membuat dia jatuh tersungkur kedua kalinya.
Ternyata sebagian besar dari para calon murid yang berhasil lolos ujian dinding penghalang itu mampu melewatinya karena kehabisan energi di dalam tubuh.
__ADS_1
Pada akhirnya, pendekar pedang naga Elonel, hanya ingin melihat dua hal dari para calon murid, kecerdasan mereka dalam mempelajari cara kerja suatu kemampuan orang lain, dan semangat untuk terus berjuang tanpa kenal lelah, meski pun harus menghabiskan energi.