
Pada akhirnya Sania berhasil naik ke puncak di nomor urutan ke 4, itu terbilang mengesankan, bahkan sangat baik karena dia pun sudah merasakan sendiri aura tiga orang yang terlebih dahulu sampai bukan ahli beladiri sembarangan.
Dari penglihatan aura di mata Sania saja, sosok murid urutan pertama tidak lain dan tidak bukan adalah seorang ahli beladiri tingkat penguasa tempur tahap awal yang berusia 37 tahun.
Sedangkan lainnya, masih menjadi ahli beladiri tingkat raja tempur tingkat menengah dan akhir, tentu perihal kekuatan saja, sosok peringkat pertama memiliki kejeniusan di atas rata-rata.
Tapi berbeda dari semua orang, dia melangkahkan kaki di atas anak tangga seakan mudah, ringan dan hampir tidak terpengaruh oleh tekanan apa pun.
Sedangkan Sania dan lainnya sangat berjuang keras menahan tekanan mental yang hampir membuat mereka pingsan dan berjalan selangkah demi selangkah meski pun harus merangkak.
Tujuan akhir Sania adalah tanah lapang yang dimana sudah tampak lima istana besar dan megah dibangun di atas masing-masing puncaknya.
Saat Sania melihat betapa menakjubkannya istana-istana megah yang ada di depan mata. Putri Xiumin barulah sampai, dia mendekat ke arah Sania dengan wajah kesal dan di tunjukan tatapan mata tajam.
"Apa ?." Tanya Sania yang bingung melihat sikap wanita satu ini.
"Apa kau tidak punya sopan santun saat di hadapan ku." Kesal Xiumin bicara dengan nada tinggi.
Tapi tanggapan Sania berubah marah dan tersenyum mengejek ..."Memang kau memerlukan sopan santun dariku ?. Padahal kau sendiri tidak menunjukkan sopan santun kepada orang lain. Jadi untuk apa aku memposisikan diri lebih rendah."
"Apa kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang ?."
Sania tersenyum mengejek..."Sekali pun kau anak raja, anak kuli, anak pedagang, atau anak beban keluarga, aku tidak peduli."
"Berani-beraninya kau bicara seperti itu kepada ku, kau harus tahu, aku adalah Xiumin Gong, putri dari Dou gong, kepala keluarga klan Gong yang terkuat di daratan tengah." Sombong Xiumin membanggakan dirinya sendiri.
Sania tetap tidak mau peduli, bahkan dia merasa takut atau terancam, itu karena dia diajarkan oleh keluarga harimau merah untuk berani.
__ADS_1
Ketika berhadapan dengan orang yang berdiri sombong, jangan sekali pun menunduk, itu hanya akan menunjukkan kelemahan diri sendiri. Dan seorang manusia perlu menunduk hormat kepada di saat orang lain menunjukan etika baik, agar dia tidak melupakan bahwa dirinya tetap manusia.
Tanpa Sania sadari, telah berdiri pula satu sosok lelaki muda dan tampan yang kiranya masih berusia dua puluh tahun, secara langsung memandangi semua calon murid dengan senyum kecil serta anggukan kepala perlahan
Sania tidak bisa merasakan aura lelaki muda di sana, tapi bukan berarti sosok itu bukan seorang ahli beladiri, melainkan tingkat kekuatan berada jauh di atas Sania, sehingga dia kesulitan menilai tekanan auranya.
Tidak berselang lama, beberapa orang telah sampai ke puncak, total ada dua puluh dua orang dan sisanya mungkin sudah menyerahkan atau pingsan di tengah jalan.
Sania pun tidak melihat Wersno dan berpikir jika dia telah gagal, pada akhirnya Sania benar-benar tidak peduli soal lelaki itu.
"Hmmm seperti sudah cukup." Ucap lelaki muda di sana tersenyum sendiri.
Satu tepukan tangan dia lakukan, dan tiba-tiba saja muncul sosok-sosok lain yang tertinggal di ujian anak tangga. Begitu pun untuk Wersno, dia terkejut karena melihat sekumpulan orang di sekitarnya.
"Jadi untuk semua orang yang ada di sini, selamat kalian bisa memenuhi kriteria sebagai calon murid baru di akademi pedang suci." Ucap lelaki muda itu dengan suara yang terdengar keras.
Merasa bangga dan juga senang, Wersno melompat girang, padahal sebelumnya dia sudah ingin menyerah, akibat tekanan mental luar biasa yang hampir membuatnya pingsan.
"Kenapa kau menghindar Sania." Ucap Wersno sedih.
"Jangan berpikir hal seperti ini terlihat mengharukan dan aku akan begitu saja memeluk mu." Balas Sania.
"Setidaknya kau senang karena aku berhasil."
"Huh ?, Senang ?, Untuk apa?, Jika aku tidak membantumu, mungkin di pertengahan jalan kau akan menyerah dan gagal." Ungkap Sania.
Semakin lemas wajah Wersno..."Ya itu memang benar, tapi aku tidak berharap kau bersikap begitu dingin, padahal kita sudah bersama untuk waktu lama."
__ADS_1
"Hanya lima hari, kau bilang lama, bahkan jari di tanganku ada sepuluh." Sania tidak senang.
Lepas semua orang mengekpresikan diri penuh kebahagiaan, sosok lelaki di depan mereka kini memperkenalkan diri.
"Jadi apa kalian di sini sudah tahu siapa aku ?." Tanya lelaki di depan sana.
Tidak ada jawaban, semua saling tengok ke arah kiri dan kanan karena bingung. Ibarat bertanya-tanya tentang siapa orang yang begitu yakin bahwa dia adalah sosok terkenal dan mereka harus merepotkan diri untuk tahu.
"Baiklah aku anggap kalian tidak kenal denganku, jadi orang-orang biasa menyebutku sebagai pendekar pedang naga, atau biasa panggil Elonel." Ucapnya memperkenalkan diri.
Setelah mendengar nama itu, tentu semua orang terkejut bukan main, karena mereka sadar bahwa pendekar pedang naga bukan sosok sembarangan, dia adalah pelindung benua.
Sepak terjangnya begitu terkenal karena dulu dia sempat ikut andil bagian dalam peperangan melawan ras iblis dan juga menyegel benua langit hitam .
"Baik, untuk selanjutnya... Aku memberi apresiasi tinggi kepada yang sudah berjuang di ujian pertama, tapi ingat masih ada dua ujian lain, dimana jika kalian ingin masuk ke akademi pedang suci, maka kalian harus bisa melewatinya."
Seperti yang dikatakan pendekar pedang naga Elonel, ujian kedua sudah ada di depan mata mereka. Sebilah pedang merah berukir naga di keluarkan oleh Elonel, sudah banyak orang tahu alasan kenapa dia dikatakan sebagai ahli beladiri terkuat di benua angin biru ini.
Pedang itu sendiri berasal dari tulang naga dan juga telah memiliki roh kontrak seekor naga merah yang mendiaminya, tapi bukan berarti kekuatan sosok Elonel hanya mengandalkan pedang nada saja.
Dia telah menciptakan gerangan teknik beladiri pedang yang mampu meratakan gunung dan membelah lautan.
Dan kini Elonel menggores ujung pedangnya di tanah, sebuah garis lurus terbentuk jelas, namun selanjutnya adalah muncul lapisan energi yang terbentuk seperti sebuah dinding.
"Jadi untuk semua calon murid yang ada di sini, kalian harus bisa melewati dinding energi yang aku buat, tapi jangan pikir kalian bisa melakukannya dengan mudah."
Setelah mengatakan itu, sosok Elonel kemudian lenyap tanpa bekas, setiap murid pun mulai mencoba untuk melewati garis pembatas yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Mereka mulai berlari, berjalan santai, ada pula yang melepas serangan senjata. Tapi memang benar saja, ujian kedua tidak semudah yang mereka kira, karena masih belum ada satu orang pun berhasil melewati dinding pembatas.
Hingga satu orang urutan pertama di ujian sebelumnya ikut mencoba, dia hanya mengulurkan tangan di depan dinding, memejamkan mata dan berkonsentrasi. Namun itu berhasil, dia menembus dinding seakan mudah untuk dilakukan.