The Over Lord : The New Phoenix Empress

The Over Lord : The New Phoenix Empress
keponakan


__ADS_3

Ayunan pedang logam pamor berwarna perak kebiruan yang di beri nama oleh sania Asa layn, berayun tegas terarah ke pada kakek Sihu. Tongkat kayu di tangan kurus berkeriput pun bergerak cepat untuk menangkis serangan Sania.


Suara denting terdengar keras, percikan api menyambar ketika mata pedang dan sisi tongkat kayu saling bersentuhan. Memang tongkat kayu yang di gunakan oleh kakek Sihu bukan sembarangan.


Dimana kayu dari Pohon Aszika yang sudah mencapai usia 500 tahun akan memiliki ketahanan setara logam Mytril. Terlebih lagi, meski bagian dahan telah terputus untuk di jadikan senjata, pertumbuhan tongkat itu masih ada.


Semakin lama senjata dari dahan pohon Aszika digunakan maka akan menjadi lebih kuat dari tahun ke tahun. Karena itulah banyak orang menganggap itu setara dengan senjata penguasa, satu tingkat lebih kuat dari senjata raja.


Berbeda dari kualitas logam pembuatan senjata tersebut, tingkatan Senjata terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu Senjata biasa, senjata kesatria, senjata raja, senjata penguasa, senjata saint, senjata immortal dan senjata dewa.


Namun di dunia antah berantah ini, orang-orang menyakini bahwa senjata terkuat berada di kategori senjata saint, sedangkan senjata immortal dan senjata dewa tidak lebih sebagai mitos yang tidak pernah ada.


Kakek Sihu sekilas melihat pedang Sania, dia merasa tertarik untuk bertanya..."Pedang yang anda gunakan terlihat menganggukkan, apa itu senjata raja nona ?."


"Pedangku ini adalah buatan dari seorang teman, dia pernah mengatakan bahwa senjata ini berada di atas senjata raja." Ucap Sania penuh kebanggaan tersendiri.


"Oh, luar biasa, hanya segelintir master tempa saja di benua ini yang bisa membuat senjata di atas tingkat raja." Kakek Sihu pun mengakuinya.


"Dia memang sangat luar biasa, jadi jangan heran kakek kalau aku mendapatkan ini secara cuma-cuma." Sania ikut setuju.


"Sungguh !!?." Kakek Sihu terkejut.


"Tentu saja." Jawab Sania.


"Aku yakin temanmu itu sangat menyukai mu." Itu yang kakek Sihu anggap.


Mendengar perkataan kakek Sihu, langkah kaki Sania yang hendak bergerak maju tiba-tiba saja tersandung dan jatuh.


"Apa yang kakek katakan." Sania bingung untuk menanggapi ucapan kakek Sihu.


Kakek Sihu tertawa senang..m"Memangnya perkataan ku salah. Jika ada seorang lelaki yang memberikan barang berharga itu kepada wanita, tentu ada maksud tersembunyi di dalamnya."


"Hmmm, aku tidak tahu..." Ekspresi wajah Sania berubah malu.


Tapi memang kenyataannya senjata raja sendiri sudah sangat mahal jika diperjual belikan oleh para ahli tempa, itu cukup untuk membuat mereka kaya dan tidak perlu bekerja selama setahun penuh tanpa merasa takut akan kekurangan uang.

__ADS_1


Pertarungan pun berlanjut semakin sengit, antara kakek Sihu dan Sania saling menyerang, menangis dan sesekali mengobrol hal yang membuat mereka tertarik.


Bagaimana pun tingkat kekuatan kakek Sihu berada jauh di atas Sania, ditambah lagi soal pengalaman menjadi ahli beladiri selama ratusan tahun, tentu membuat Kakek Sihu cukup mudah memberi perlawanan.


Sania memang belum serius, hanya melakukan gerakan pedang dari teknik sepuluh langkah harimau merah dan memberi aliran energi tenaga dalam untuk memperkuat serangannya saja.


Tapi dari pemahaman kakek Sihu, dia bisa menebak teknik milik Sania, bahkan seakan-akan dia begitu terbiasa dalam mengatasi setiap gerakan langkah harimau merah.


"Apa kau berasal dari klan harimau merah ?." Ucapnya dengan perlahan.


Sania sedikit bingung dan juga terkejut..."Itu benar sekali kakek, tapi kenapa kakek tahu ?."


"Aku sudah berulang kali bertarung melawan satu sosok luar biasa yang menggunakan teknik sepuluh langkah harimau merah." Jawab kakek Sihu terdengar begitu senang.


"Siapa orang itu, kakek ?." Sania pun penasaran.


"Namanya Rezar Avya..."


"Ahhhh dia adalah paman ku." Sania menjawab begitu saja.


"Sungguh ini adalah hal menakjubkan , aku bertemu dengan keponakan dari orang yang luar biasa."


"Jadi kakek mengenal paman Rezar ?." Tanya Sania.


"Tidak hanya mengenal, Rezar adalah penyelamat ku, kami sudah berjanji untuk menjalin persaudaraan di masa lalu." Jawab Kakek Sihu penuh rasa kagum.


"Aku merasa senang karena kakek bersikap baik untuk hubungan persaudaraan dengan paman Rezar." Ungkap Sania dengan sopan.


"Baiklah, biar kita selesaikan pertarungan ini terlebih dahulu dan kita berbicara lagi."


"Aku mengerti kakek." Sania pun setuju.


Dari tongkat kayu di tangan kakek Sihu muncul api yang membakar, kobaran bertambah besar dan sangat panas, di tempat Wersno pun mengharuskannya pergi cukup jauh agar tidak terkena dampak serangan itu.


Sania tahu bahwa serangan kakek Sihu kali ini cukup serius, dia tidak mungkin menahan diri dan setengah-setengah, di alirkan energi dingin ke pedang Asa Layn, bunga-bunga es muncul di atas tanah tempat Sania berdiri.

__ADS_1


Keduanya mengayunkan senjata, letusan api menyembur kuat ke depan, namun tertahan oleh duri-duri es yang muncul. Dua energi saling menghantam, bertabrakan dan beradu kekuatan.


Hingga tidak lama ledakan energi besar pun pecah, pohon-pohon di sekitar terkena dampak dua serangan mereka, itu tampak kacau balau dimana separuh sisi terbakar dan separuh sisi membeku.


Berdatangan pula para prajurit serta raja Jonzar yang terkejut akibat ledakan sebelumnya.


"Kakek sudah aku katakan untuk tidak berlebihan saat berlatih, lihat sekarang, kebun kesayangan ku hancur." Jonzar terkejut dan marah.


"Jangan mempermasalahkan hal sepele, yang lebih penting, kau harus tahu jika nona muda ini adalah keponakan dari Rezar Avya." Ungkap Kakek Sihu kepada Jonzar.


"Itu memang mengejutkan, tapi tetap saja, lebih baik sekarang kakek pergi dan jangan merusak kebunku lagi." Jonzar tetap marah karena kelakuan kakek Sihu.


"Dasar anak tidak tahu diri." Kesal Kakek Sihu.


Kakek Sihu mengeluh dan membawa Sania untuk ikut masuk ke dalam istana. Dia sangat bersemangat ketika tahu bahwa Sania adalah keponakan Rezar.


Dia menceritakan tentang pertarungan mereka bersama raja kerajaan di benua angin biru melawan sekte tanah neraka yang membangkitkan sosok iblis untuk menguasai seluruh benua.


Ketika Jonzar masih belum naik takhta, dan kekuasaan kerajaan Fluel dipegang oleh kakek Sihu, Rezar menyelamatkan kerajaan Fluel selama peperangan melawan sekte tanah neraka di dalam kekacauan.


Karena kejadian itu Rezar di nobatkan sebagai saudara angkat kerajaan Fluel, dan memiliki status bangsawan tertinggi, tapi telah banyak waktu di lewati, sosok Rezar seakan lenyap dari dunia beladiri.


Namun ekspresi kakek Sihu berubah menjadi murung dan sedih ketika Sania berkata bahwa Rezar telah tewas di dalam tragedi pembantaian desa Mahresa.


"Itu tidak mungkin, bagaimana bisa saudaraku Rezar mati." Kakek Sihu tidak bisa menahan emosinya.


"Tapi itulah kenyataannya kakek, dan keluarga paman Rezar pun kini hanya tinggal anak lelakinya saja, dia adalah Raynor." Ucap Sania mengatakan tentang sosok anak dari paman Rezar.


"Dimana Raynor itu sekarang." Kakek Sihu penasaran.


"Raynor sekarang berada di sekte teratai api."


"Hmmm mungkin aku akan pergi mengunjunginya nanti."


Memang kematian Rezar membuat Kakek Sihu terpukul, dia tahu seberapa kuat Rezar sebagai seorang ahli beladiri tingkat Sovereign.

__ADS_1


Di benua angin biru nama Rezar sangat terkenal dan hanya ada beberapa orang saja mampu bertarung setara dengannya.


__ADS_2