
Sania duduk bersila di lantai kamar, memasuki konsentrasi penuh untuk mulai membacakan teknik meditasi dunia beku abadi.
Satu bait yang dia ucapkan membuat seluruh energi alam di sekitar penginapan bahkan lebih luas lagi, tiba-tiba saja bergejolak hebat, partikel-partikel cahaya putih kebiruan muncul, mengelilingi tubuhnya secara langsung dan diserap perlahan sedikit demi sedikit.
Beberapa waktu yang telah lewat, telah memberi cukup banyak sumberdaya energi alam untuk Sania, namun tidak pernah dia sangka, meski terlihat sedikit itu memberi kesempatan bagi Sania naik ke tahap tengah sebagai ahli beladiri tingkat Raja tempur.
Kenaikan tahap tingkat energi tenaga dalam itu menunjukan kuasanya, dimana selama proses Sania mencapai tahap tengah, langit di atas kota kerajaan Fluel berubah.
Awalnya di langit malam kota kerajaan Fluel sangat cerah, milyaran bintang tampak jelas di lihat oleh mata telan*jang, bulan biru melingkar sempurna dan sangat indah.
Tapi akibat energi dari tubuh Sania yang meluap naik, kini menarik awan-awan mendung berpusat di atas penginapan disertai pusaran angin.
Orang-orang yang menikmati waktu malam di luar rumah untuk sekedar bercengkrama bersama teman-teman atau menghibur diri di warung remang-remang. Merasakan keanehan atas perubahan cuaca begitu cepat.
"Bukankah tadi cerah, kenapa sekarang sudah mendung." Ungkap seorang lelaki yang tengah menikmati secangkir minuman hitam di dalam cangkir bambu.
"Memang apa masalahnya ?, Meski pun hujan atau badai semua akan baik-baik saja." Jawab teman di sampingnya sembari tertawa sendiri.
"Aku hanya ingat jika meninggalkan pakaian yang baru saja kering di luar rumah." Balasnya dengan wajah bingung.
"Itu hanya hal sepele, lupakan saja."
"Ya kau benar..." Dia pun menerima begitu saja.
Orang-orang seakan tidak peduli dan tetap saja melanjutkan kegiatan malam mereka bersama para gadis berpakaian tipis yang menari-nari di depan mata.
Tapi di dalam istana kerajaan Fluel, satu sosok lelaki tua berjanggut panjang hingga lutut, kini membuka mata dari meditasinya karena perasaan luar biasa itu muncul.
Dia seakan tahu jika perubahan cuaca ini bukan sekedar keanehan alam biasa yang akan membuatnya terganggu saat melakukan meditasi.
Berjalan keluar dari ruang kamar yang menjadi tempat meditasinya dan menuju balkon istana untuk melihat keluar.
__ADS_1
Namun di sana, satu sosok lelaki paruh baya sudah hadir dan mungkin memiliki firasat yang sama seperti dirinya. Dia adalah Jonzar Fluel, raja kerajaan Fluel.
Ketika Jonzar mengetahui jika lelaki tua itu datang menghampiri, dia membungkuk penuh hormat dan rasa patuh.
Dengan statusnya sebagai seorang raja yang rela dan sadar membungkuk di depan orang lain, tentu bisa dipastikan jika sosok lelaki tua di hadapannya bukan sembarangan.
Dan memang benar adanya, kakek tua itu adalah ayah dari Jonzar, Sihu Fluel.
"Ayah, tidak biasanya ayah keluar dari pelatihan tertutup untuk waktu dekat." Ucap Jonzar dengan suara sopan dan hormat.
"Aku merasa tertarik dengan perubahan alam yang tiba-tiba saja muncul, bukankah kau pun sama, Jonzar ?." Jawabnya dengan mata menatap ke atas langit.
"Eh... Iya, aku juga." Jonzar tertawa kecil dan terasa di paksakan.
Dia hanya mengaku-ngaku ketika merasakan hal yang sama seperti kakeknya. Padahal dia sekedar berjalan-jalan di sekitar balkon istana dan tanpa sengaja pula melihat keanehan di langit.
Sesungguhnya, Jonzar tidak seperti kakek Sihu yang mengabdikan diri dalam pelatihan beladiri untuk mencari kekuatan. Dia telah menyerah setelah berusaha sekeras mungkin dalam pelatihan, namun hasilnya tidak sesuai harapan.
Sedangkan sang kakek Sihu telah mengorbankan banyak waktu dalam pelatihan, hingga kini mencapai tingkat penguasa tempur tahap akhir.
Hingga dia dihadapkan satu keanehan alam yang tidak diketahui, tentu membuat Jonzar bingung.
"Jadi kakek, apa yang sebenarnya terjadi dengan keanehan ini." Tanya Jonzar penasaran.
"Sebuah kenaikan kekuatan dari seseorang." Ungkap kekek Sihu selagi menyisir janggut panjangnya dengan tangan.
Jonzar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya...."Tidak mungkin, orang seperti apa yang mampu membuat alam menjadi aneh hanya karena dia naik tingkat."
"Asal kau tahu, Jonzar, memang tidak semua kenaikan tingkat dari seseorang akan mempengaruhi alam di sekitarnya. Tapi berbeda ceritanya jika sosok itu adalah pemilik bakat jenius atau tubuh ilahi, hanya sekedar kenaikan satu tahap saja, mampu membuat alam bergejolak." Balas kakek Sihu selagi menjelaskan.
Dan itu terjadi seperti sekarang.
__ADS_1
Kakek Sihu memang memiliki pengalaman jauh lebih banyak dari Jonzar yang hanya hidup di dalam kekuasaan takhta kerajaan.
Meski begitu, ketidakmampuan Jonzar dalam keahlian beladiri bisa dia tutupi dengan kecerdasannya sebagai seorang raja.
Dulu kerajaan Fluel tidaklah semakmur seperti sekarang, tempat itu hanya kerjaan kecil yang terhimpit oleh kerajaan besar dan mudah saja dihancurkan.
Tapi atas kemampuan Jonzar dalam bernegosiasi, berbisnis dan mengatur rencana untuk memberi keuntungan satu sama lain, menjadikan kerajaan Fluel menjadi lebih baik.
Jonzar mengelola pertambangan mineral yang kerajaan Fluel miliki untuk di jual ke kerajaan sekitar dengan harga di bawah pasar, sehingga mereka mau menerima tawaran kerja sama yang saling menguntungkan.
Kerajaan Fluel tidak akan dijadikan musuh, tidak perlu berperang dan hanya menikmati waktu sebagai penonton tanpa perlu ikut campur dalam permusuhan kerajaan lain.
"Apa kehadiran sosok ahli beladiri ini akan berakibat buruk untuk kerajaan kita." Jonzar merasa tidak nyaman.
"Entahlah, aku harap tidak akan terjadi hal buruk." Balas kakek Sihu dengan ekspresi wajah yang tenang.
Selagi kekek Sihu dan Jonzar masih melihat gejolak awan yang berputar di tengah kota, alur pembicaraan mereka berganti arah.
"Dimana cucuku itu, apa yang dia lakukan sekarang." Tanya kakek Sihu.
"Seperti biasa, dia hanya sibuk bermain dan bepergian saja." Jawab Jonzar tersenyum lemas.
Mengeluh kakek Sihu dengan ekspresi wajah yang lemas..."kau terlalu memanjakannya, Jonzar. Dia harus di didik dengan keras, bukankah sudah aku katakan untuk mengirimkannya ke akademi pedang suci milik master Elonel, tapi kenapa kau tidak melakukannya."
"Maaf ayah, bukan aku tidak melakukannya, tapi membujuk anak itu sangat sulit, dia hanya melakukan apa yang dia inginkan saja, jika aku paksa, maka Wersno akan memberontak dan berbuat seenaknya sendiri." Jonzar pun merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.
"Itulah kenapa aku ingin kau mengirim dia berlatih ke akademi pedang suci, aku yakin Wersno akan berubah menjadi lebih baik." Terdengar tegas dan marah kakek Sihu kepada Jonzar.
Jonzar tidak bisa membantah dan hanya mengangguk patuh...."Aku akan bicarakan itu lagi nanti ayah."
Tidak berselang lama, awan-awan mendung itu perlahan pudar, alam pun kembali normal seperti sediakala.
__ADS_1
Tapi kerumitan jelas terlihat di wajah Kakek Sihu, dia penasaran, tentang siapa sosok ahli beladiri yang mampu membuat alam bergejolak atas kekuatan energinya saja.